Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
man vs machine gun


__ADS_3

Budi kembali menenangkan diri sejenak. Dia menghela nafas panjang, berusaha menyingkirkan dulu, segala yang dia dengar dari Handono. Termasuk tentang Erika. Dia setuju dengan ucapan ibunya. bisa jadi itu semua hanyalah akal-akalan Handono, untuk membuatnya kacau.


“Siapin SMBnya! Tapi jangan dinaikin dulu! Tapi begitu naik, harus siap tembak. Hind gunnernya” perintah Budi pada kang Sukron. Perhatian semua orang teralihkan padanya.


“Siap bos” jawab kan Sukron.


“Apa perlu saya habisi dari sini, bos?”


Terdengar suara dari handy talky. Handono terkejut mendengarnya. Ternyata Budi punya juga, orang di luar, yang siap menghadang. Dia ingin menoleh ke belakang, tapi tidak bisa.


“Kembali ke posisi tadi aja!” jawab Budi.


“Ka. Pake rompi! Kita sambut mereka” perintah Budi.


Erika sempat tertegun. Pikirannya kacau. Perasaan bersalahnya menyeruak tak bisa dia bendung.


Tapi saat Budi mengacungkan rompi itu, dia tersentak. Diapun berusaha fokus. Dia tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan yang masih Budi berikan padanya.


“Handono?” tanya Erika.


“Pastinya, kita ajak” jawab Budi.


Erika memakai rompi itu, lalu dia lapis dengan baju. Budi juga melakukan hal yang sama. Erika memberikan pistol sengatan listrik pada Budi, untuk berjaga-jaga kalau si Handono berulah.


Budi juga meminta pistol berpeluru tajam pada kang Sukron. Keduanya lantas membawa Handono pergi ke teras depan galeri. Sedangkan penghuni lain, diungsikan ke parit evakuasi.


“Petir on position” kata Petir menginfokan.


“Hornet one, ready” lapor Cobra.


“Hornet two, ready” lapor Alligator.


“Bravo one and Bravo two, ready for backup” lapor orang suruhannya pak Paul.


“Sayap timur, defeated. East and north front proseed to heading us” lapor Sephia.


“Wait for my mark!” sahut Budi lewat handy talky. Tapi kali ini, Budi menggunakan head set. Begitu juga dengan Erika.


Budi dengan tenangnya merokok di sebelah Handono. Dia ingin melawan permainan psikologis Handono. Dia ingin terlihat biasa saja dengan semua yang telah Handono katakan.


Dia juga ingin menunjukkan bahwa dia sudah bisa fokus lagi, setelah tadi sempat meleng. Itu juga karena Handono telah mereka ikat seluruh tubuhnya. Dia tidak akan bisa kabur. Dia hanya bisa duduk di tangga bersama Budi dan Erika. Erika sendiri tampak menerima pesan singkat dari seseorang.


“Pertunjukan apa lagi ini, Ka? Aku harap bisa terhibur seperti dulu. Hi hi hi”


Erika tidak menjawab. dari sudut matanya, dia memperhatikan Budi. Budi masih asyik merokok. Seulas seringai tersungging di bibirnya.


“Sattelite four and Five has been on orbit” kata Erika melaporkan.


Handono bingung dengan apa yang diucapkan Erika. Dipikirannya berkelebat banyak sekali asumsi tentang kata sattelit itu. Banyak sekali hal yang bisa menjadi rujukan.


Bisa senjata kendali jarak jauh, bisa pasukan dari tempat lain, bisa juga benar-benar sattelite. Diapun mendongakkan kepalanya ke atas. Budi tersenyum. Dia senang bisa membuat Handono bingung.


“Ada pasukan hitam mendekati gerombolannya Bejo” lapor Sephia.


“Pasukan hitam?” tanya Budi.


“Brimob” jawab Sephia.


“Ho ho ho. Nice” komentar Budi.


Handono menatap Budi dengan penuh tanya. Budi hanya tersenyum setengah tergelak. Dia yakin sekali, kalau pasukan brimob itu ada hubungannya dengan Zulfikar. Entah dia langsung yang memerintahkannya, atau lewat orang lain. Sepertinya Zulfikar benar-benar bucin pada Putri.


“One minute to contact”


Suara Sephia terdengar di handy talky. Budi tersenyum semakin lebar. Dia yakin, tak lama lagi si Nungki dan si Fathoni akan muncul. Dan dia juga yakin, aslinya mereka akan terlihat di saat bertemu dengan Handono.


*DAR*.......



*DAR DAR DAR DAR DAR DAR*


“Ho ho ho ho”


Budi tertawa dibuat-buat, saat terdengar suara tembakan gencar. Dia memprofokasi Handono. Kakaknya pak Paul itu terlihat tegang. Dia tampak tak percaya, seorang Budi bisa mempunyai benteng sekuat mafia. Sekalipun kekuatan utama Budi, yaitu Sandi, telah dikuasai si Bejo.


“Bos. Pasukan brimob yang ini keliatan terlatih banget buat penyergapan. Pasukannya Bejo tinggal dikit” lapor Sephia.

__ADS_1


“Apa?”


Erika terkejut melihat reaksi Budi. terkejutnya Budi seolah-olah pasukan Brimobnya yang kalah. Dan keterkejutan Budi itu membuat Handono tersenyum merendahkan.


“Udahlah, Ka! Dengerin saranku! Sekalipun kamu lupa, tapi aku pernah ngerawat kamu. Respati itu sayang banget sama kamu. Jangan bikin dia kesel! Beneran, deh!” kata Handono memprovokasi.


“Confirmed, bos. Tinggal sepuluh biji” sahut si Petir.


“Oke. Let see, wether bejo’s troop dare to hurt Handono, or not” jawab Budi dengan nada tenang.


Handono tertawa meremehkan. Seolah-olah ucapan Budi hanyalah lelucon anak SD.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Ponsel Budi berdering, mengalihkan perhatian ketiganya. Budi masih tidak tersenyum, seolah-olah memang sedang pusing.


“Harga sewa udah deal”


Terdengar suara sephia di telepon Budi.


“Kontek juragan kayunya, udah siap angkut apa belum!” perintah Budi.


Mendengar Budi malah membicarakan soal kayu, Handono tampak berpikir. Dia belum bisa menebak, kartu apa yang sedang dimainkan Budi.


“Satu truk, terdiri dari lima gelondongan besar dengan diameter sama” kata Sephia.


“Satu fuso kuat?” tanya Budi.


“Kuat, bos” jawab Sephia.


“Oke. Segera kirim truk fusonya! Kita harus cepet ambil kayu jatinya. Pesanan kusen harus cepet dikirim”


“Siap” jawab Sephia.


Tanpa salam, Budi langsung memutuskan sambungan teleponnya.


“East front datang dari belakang, bos”info Sephia dari handy talky.


“Hind. Lumpuhkan!” perintah Budi.


Handono terkejut. Dia terus bertanya-tanya, permainan apa yang sedang dia hadapi.


“Yap” jawab Budi singkat.


“Siap”


Di dalam bengkel kayu, Hind segera menyiapkan senapan mesin beratnya. Berkoordinasi dengan Sephia.


*BERRRRRRRRTTTT*


“AAAAAAAA”


*BERRRRRRRRTTTT*



*GROSAAAKKK*



*BERRRRRRRRTTTT*



*BRAAAKKK PRAAAKK*


“AAAAAAA”


Wajah Handono terlihat sangat tegang. Dia tidak menyangka kalau Budi memiliki senjata berat. Dari tadi dia didalam, dia tidak melihatnya. Itu karena oleh kang Sukron, posisi yang di belakang, kembali dikamuflasekan menjadi sebuah kamar.


“Mereka telah dilumpuhkan, bos. Tidak ada korban jiwa” lapor Hind, lewat handy talky.


“Good. Biar mereka diurus sama Fathoni” jawab Budi.


Budi bisa melihat wajah terkejut Handono. Walau Handono berusaha menyembunyikannya, tapi perubahannya masih terlihat. Erika juga menyadari hal itu. Membuatnya berasumsi, kalau ada sesuatu antara Handono dengan Fathoni. Mungkin soal dongle, begitu pikirnya.


“North front, apa kabar?” tanya Budi.

__ADS_1


“Mereka berhenti sebelum masuk kota. Mereka memutar menghindari polisi. Sementara waktu mereka sibuk, bos” jawab Sephia.


“West front mendekat, bos” lapor si Petir.


“What?” tanya Budi kaget. Kali ini di benar-benar kaget.


“Tinggal lima belas orang, tapi kayaknya bukan orang sembarangan. Pasukan hitam, tumbang” jawab si Petir.


“Dua menit, bos” lapor Sephia, merujuk waktu kedatangan west front.


“Oh, ya. Harga kayu tadi, berapa jadinya?” tanya Budi.


Lagi-lagi si Handono kebingungan. Dua kali Budi terkejut, seolah pasukannya kalah, tapi tak lama kemudian malah mengurusi hal lain yang tidak berhubungan.


“Hampir seribu, bos. Bakal kerja keras kita, buat balikin modal” jawab Sephia.


Budi mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir seribu orang, memang akan menguras energi. Tapi dia yakin, ibunya telah berdoa untuknya, dan akan terus berdoa untuknya. Dari doa-doa itu, Budi yakin, akan ada bantuan-bantan lainnya.


“Bos. Anti huru-hara mendekat. Sepertinya mereka dapet info tentang aksi kita di belakang” info Sephia.


“Bagus. Jadi kita nggak perlu capek-capek ngurusin orang-orang lumpuh itu” jawab Budi.


Jawaban yang mampu menyita perhatian Handono. Dia bertanya-tanya, siapa lagi yang akan datang.


*Ngueng ngueng ngueng ngueng*



*Beerrrrmmm Beerrrrmmm Beerrrrmmm



Beerrrrmmm Beerrrrmmm*


Terdengar suara motor meraung-raung di jalan depan garasi. Semua yang berada di belakang, membawa senjata laras panjang. Dan mereka semua menodongkan senjata mereka ke arah galeri.


“Hind, waspada!” kata Erika lirih, mengingatkan Hind.


“Ready to pop up”jawab Hind.


“Nggak usah buang-buang peluru! Pandanganku masih jelas dari sini”


Terdengar suara si Petir dari handy talky. Budi tersenyum mendengarnya.


“Tetap waspada, Hind! On my mark” kata Erika lagi, lirih.


Suatu hal yang aneh terjadi. Para pemotor itu hanya diam dan tidak melakukan penyerangan. Padahal sama sekali tidak ada yang menghalangi bidikan mereka dari Budi dan Erika.


Laser pointer mereka juga sudah mengarah tepat pada jantung keduanya. Dan tak hanya satu, mereka seolah terbagi menjadi dua tim, yang siap mengeksekusi keduanya.


Budi tak mau kalah. Dia menodongkan pistolnya ke kepala Handono. Sontak para penembak yang mengarahkan pointernya ke dada Erika, mengalihkannya ke kepala Budi.


“Haih, Respati” celetuk Handono. Sontak Erika menoleh.


“Masih sayang aja sama anak pungutnya” lanjut Handono. Kali ini Budi ikut menoleh.


“Mumpung masih ada kesempatan Ka, pergilah! Jangan sampe bapak angkatmu hilang kesabaran” saran Handono.


Dia menoleh ke arah Erika. Dan pandangan mata mereka bertemu. Handono memberikan senyum penuh arti pada Erika. Sedangkan Erika sendiri malah tertegun.


“Kalo kamu ngeyel, kamu akan jadi anak paling menyedihkan di muka bumi. Udah nggak diakui sama bapak kandung, harus mati pula di tangan bapak angkatnya” kata Handono, memprovokasi Erika.


“Bos. Truk fuso kita udah sampe. Lagi persiapan loading” info Sephia. Budi tidak segera menjawab.


“Ada Nungki, bos. Dia bawa tim kecil. Tapi aku nggak tahu, mereka brimob atau apa. Seragam mereka beda” lanjut Nungki.


“Wow” komentar Budi. Handono menoleh. Dia menyangka Budi sedang mengomentari ucapannya.


“Mereka mendekat ke depan, bos” lapor Sephia lagi.


“Five seconds” lanjutnya.


“JANGAN BERGERAK!”


*DAAARR*


“AAAAA”

__ADS_1


“ERIKAA” teriak Budi.


__ADS_2