
Tiba di rumah aman, ternyata Nungki telah kembali. Tampak dia sangat ingin bertanya padanya, tapi keberadaan sang ibu di sebelahnya, membuat Nungki menahan diri.
“Apa itu, mas?”
Erika yang terlebih dahulu bertanya. Dia reflek mengulurkan tangannya, sekedar ingin tahu, benda apa yang dibawa Budi. Namun Budi menarik kotak di tangannya ke arah berlawanan. Sebagai isyarat, kalau Erika tidak boleh memegangnya. Erikapun terkesiap.
“Sori” kata Budi, menanggapi ekspresi wajah Erika.
“Oh. Ya. Nggak papa, kok” sahut Erika.
“Bud” panggil Nungki.
“Ya?” sahut Budi.
“Bisa minta waktunya sebentar?”
Budi tertegun mendengar pertanyaan itu. Di pikirannya justru berkelebat sekian pertanyaan. Tema besarnya, ada apa, selama dia tinggal?
“Oh, ya” jawab Budi singkat.
“Dimana? Di dalam?” Budi ganti bertanya.
“Ya” jawab Nungki.
“Oke”
Erika bergeser ke samping, memberikan jalan bagi Budi untuk lewat.
“Mbak Ning kemana?” tanya Budi.
“Mbak Ning?” Erika bingung mendengar Budi mempertanyakan nama yang asing.
“Eh, ini di sini” seru Budi, saat sudah melewati pintu depan.
Tampak matanya tertuju pada Stevani. Putri, yang sedang berbincang dengan Stevani juga bingung, mendapati kakaknya menyebut nama ‘mbak Ning’ untuk merujuk pada Stevani.
“Kok Stevani dipanggil, Ning?” tanya Erika penuh kebingungan. Budi tergelak.
“Nama Stevani kurang cocok buat anak keturunan jawa. Mahening Suci lebih cocok” jawab Budi.
“Enak banget, ganti nama orang nggak tumpengan” seru Erika.
Budi malah tertawa mendengar ucapan Erika. Dia mendekati Stevani, lalu memberikan selembar kertas padanya. Lalu berlalu pergi mendekati Nungki. Erika masih tertegun menatap kertas yang dipegang Stevani.
“Mahening suci?” gumam Stevani.
“Itu foto, mbak” kata Putri. Stevanipun membalik kertas yang dia pegang itu.
“Ha”
Stevani memekik lirih. Dia menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya. Dia terkejut melihat apa yang tergambar dalam foto itu. dia langsung bisa mengenali, siapa yang ada dalam foto tersebut. Dia adalah ibunya. Dia sangat yakin akan hal itu.
Dan, dengan Bidan di sebelah ibunya, sedang memeriksa perut ibunya, Stevani jadi yakin, kalau bidan itu sedang memeriksa kandungan ibunya. Itu berarti, itu adalah jejak awal kehadirannya di dalam perut ibunya. Tak kuasa Stevani membendung air mata keharuannya.
“Ka!” panggil Budi.
Sontak Erika menoleh. Tak hanya Erika, Stevanipun langsung menghapus air matanya. Erika mendekat ke meja, dimana budi berada.
“Kang Sukron kemana?” tanya Budi.
“Sama si Cobra, tadi” jawab Erika.
“Cobra?” gumam Nungki, bingung.
Erika langsung menelepon kang Sukron, sekalipun Budi tidak memerintahkannya.
“On the way” kata Erika.
“Oke” sahut Budi.
“Kayaknya kamu nggak perlu bertindak, Ka” kata Nungki.
__ADS_1
Sontak ucapan Nungki itu menarik perhatian Budi dan Sephia.
“Kenapa?” tanya Erika.
“Zulfikar sudah bergerak. Membawa satu SSK bersamanya” jawab Nungki.
“SSK dari mana?” tanya Budi.
Nungki menoleh sambil tersenyum. Seolah-olah pertanyaan Budi itu aneh buatnya.
“Apa perlu aku jawab pertanyaan itu?”
Nungki malah membalikkan pertanyaan itu pada Budi.
“Oke”
Budi manggut-manggut mengerti. Pasukan yang didapat Zulfikar itu adalah polisi-polisi yang tunduk padanya dan melindungi peredaran narkobanya.
“Assalamu’alaikum”
Terdengar salam dari arah pintu depan.
“Wa’alikum salam” jawab semua yang ada di dalam rumah.
Dan tampaklah, kang Sukron berada di paling depan. Diikuti si Cobra, Hind, Apache, dan Alligator. Keempatnya tak lagi memakai seragam polisi, melainkan pakaian biasa.
“How can you be here, guys?” tanya Nungki.
“Justru kalo nggak bisa ke sini, itu yang jadi pertanyaan” sahut Budi. Cobra dan yang lainpun tergelak.
“Oke. Kalo kalian lelah, bisa istirahat di sekitaran sini. Aku juga bisa siapkan satu tempat lagi buat kalian” kata Nungki setengah meledek.
“Emang udah tuntas, mbak Nungki?” tanya kang Sukron.
“Ya. Zulfikar udah menuju ke sana. Satu SSK dia bawa. Udah terkonfirmasi juga di monitornya Sephia. Mereka lagi konvoi ke markasnya Moreno. Jadi, kita tinggal duduk manis, dan menikmati hasilnya” jawab Nungki.
“Kamu nggak perlu nyusahin teman-temanmu juga, Ka” lanjut Nungki pada Erika.
“Kalo kamu ngerasa kesusahan, kamu nggak perlu ngebantu. Pulang aja, tidur! Besok, siap-siap naik pangkat” lanjut Erika.
“Wow. Jawaban yang mirip banget sama Budi. Jodoh emang suka gitu, sih” komentar Nungki.
“Tapi buat apa, Erika? Kan udah ditanganin sama Zulfikar? Udahlah, jangan bikin si bule ngamuk!”
“Sejak kapan si bule peduli sama aku? Dan juga, sehebat apa Zulfikar? Apa persiapannya udah mateng, apa grasak-grusuk, karena takut dibenci mas Budi?” tanya Erika.
“Aku pikir dia grasak-grusuk”
Suara Budi sanggup mengalihkan perhatian mereka berdua.
“Escuse me?” sahut Nungki.
Budi tidak menyahut. Dia mengeluarkan kertas A0 bergamar denah tadi, dan menggelarnya di atas meja. Sephia nampak menyingkirkan laptop dan benda-benda lain yang ada di atas meja.
“Kalo dia mengaku bukan anak buah si Bejo, ada benarnya juga” komentar Budi.
“Maksud mas?” tanya Erika.
Dia merasa aneh dengan pernyataan Budi. Seolah dia sudah kembali pro dengan Zulfikar.
“Kalo dia memang anak buahnya si Bejo, pasti dia tahu, ada penjagaan super ketat, bahkan sejak lima kilometer dari markas mereka” jawab Budi, sembari menunjuk pada bangunan-bangunan pada peta A3 yang dilingkari merah.
Semuanya mendekat dan menyaksikan dengan seksama, apa yang tergambar pada peta tersebut. nungki terperanjat. Dia seperti baru mengetahui apa yang disampaikan Budi.
“Kalo si Panjul membawa orang-orang dari kepolisian, berarti sama aja dia nyalain alarm mereka sejak dari tempat mereka berangkat” kata Budi lagi.
“Apa jantungmu masih di kiri, Nung?” tanya Budi pada Nungki.
Sontak Nungki terperanjat. Dia seperti menghadapi sebuah persidangan.
“Jangan khawatir, mas!" sahut Nungki. Dia menggantung kalimatnya
__ADS_1
"Budi Jatmiko utomo, adalah ayahku” lanjut Nungki.
“Apa?”
Budi terkejut mendengar jawaban Nungki. Terlebih, saat Nungki meminta laptop Sephia, dan dia membuka laman dukcapil. Saat dia mengetikkan nomer kartu keluarga miliknya, muncullah namanya sebagai anak dari Budi Jatmiko Utomo.
Itu artinya, Nungki alias Salma itu, adalah anak dari rekan pak Rouf, yang gugur terbakar saat dititipi berkas bukti-bukti yang asli.
“Nung?”
Budi tidak bisa berkata-kata. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan Nungki, saat mengetahui kebenaran dari sejarah orang tuanya.
Erika bingung melihat Budi terperangah seperti itu. Seperti ada yang terlewatkan dari perhatiannya.
“Nggak usah berpikir aku bakal berkhianat, mas” kata Nungki. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Nyawa ayahku, nggak bisa disandingkan dengan apapun juga di dunia ini. Apalagi hanya dengan uang mereka yang nggak seberapa itu. Nggak akan aku jual jiwaku seharga uang recehan, mas. Lebih baik aku mati terbakar seperti ayahku, ketimbang aku menjual jiwaku semurah itu” lanjut Nungki. Air matanya tak lagi bisa dia bendung.
“Aku cuman khawatir sama keselamatan kalian berdua” kata Nungki lagi.
“Hem? Kita?” tanya Budi bingung. Dia juga menoleh pada Erika. Erika sama bingungnya.
“Erika pernah bilang sama aku, betapa besar rasa cintanya sama mas Budi. Andai aja, bukan karena terbentur wasiat pak Fajar, Erika ngaku rela, kalo sepulang dari jerman dulu, mas Budi langsung nikahin Adel. Karena Erika juga mengakui, betapa sayangnya dia sama adiknya itu” jawab Nungki.
“Nung?” gumam Erika. Walau lirih, tapi Nungki mendengar gumaman itu. Diapun menoleh ke arah Erika.
“Menurut Erika, pengorbanan terbesar dari rasa cinta itu adalah, membiarkan orang yang sangat dicitainya itu bahagia. Meskipun tidak bersama dirinya” lanjut Nungki. Air mata Erika meleleh mendengarnya.
“Dan. Karena takdir menyatukan kalian, aku pikir, tidak selayaknya kalian menempuh bahaya” kata Nungki, sambil menunjuk Erika dan Budi.
“Sudah cukup kalian menantang maut. Saatnya untuk beristirahat, dan biarkan para abdi negara, yang memang dipersiapkan sebagai penindak, untuk melanjutkan pekerjaan ini” lanjut Nungki, sambil menunjuk ke arah Cobra dan kawan-kawan.
“Tapi aku punya caps lebih banyak daripada kamu, Nung” sahut Budi. sontak semua mata tertuju padanya.
“Kamu masih mainan bekel, aku udah berantem” lanjut Budi sambil tergelak, seolah berkelakar. Nungki jadi tergelak mendengar ucapan Budi.
“Mereka aja masih main betengan, " kata Budi lagi, merujuk pada si Cobra dan yang lain.
“Aku udah dikeroyok bocah sekampung” lanjutnya. Cobra dan yang lain tergelak mendengar kelanjutan ucapan Budi.
“I’m punisher” kata Budi, menirukan kata-kata dalam sebuah film.
Si Cobra malah tertawa mendengar ucapan Budi dengan ekspresi layaknya super hero. Dia tahu, Budi memang bercanda. Tapi dia juga tahu, Budi serius dalam hal jam terbang.
“Nilai menembakku juga lebih tinggi dari kamu, Nung” kata Erika.
Kini perhatian semuanya teralihkan padanya. Nungki tersenyum penuh arti.
“Three kils with gun, one headshot. Apa masih kurang?” tanya Erika.
Nungki tersenyum saat si Apache tergelak tanpa suara. Terlebih saat melihat Hind tertawa tanpa suara. Erikapun sampai menoleh.
“Huuufft”
Nungki menghela nafas berat. Seolah ada kekecewaan dalam hatinya.
“Nung?” panggil Erika, sambil mendekat.
“Lu tahu nggak sih, itu jawaban paling ngeselin yang pernah aku denger” kata Nungki. Kini tak ada seulas senyumpun yang menghiasi wajahnya. Erika terkesiap.
“Kalo aja, si Bule nggak nugasin gua ke densus delapan-delapan, gua nggak akan ngelepasin mas Budi. Terus lu mau nantang maut? Lu nggak ngehargain gua? Gua aja masih ngarep, Ka” lanjut Nungki dengan suara lirih.
“Bukannya gua nggak ngehargain lu, Nung. Tapi gua nggak bisa hidup menanggung malu. Nggak bisa disangkal lagi, si Bejo itu ternyata papa gua”
“Dia udah nggak nganggep lu sebagai anaknya” potong Nungki.
“Justru itu. Gua paling nggak suka, kalo lagi enak-enak, diganggu” jawab Erika. jawaban yang terdengar selengehan, tapi wajah Erika terlihat serius.
“Jadi gua harus beresin mereka. Gua nggak mau, anak-anak gua harus ngalamin apa yang kita alamin hari ini” lanjut Erika. wajahnya masih terlihat serius.
“Lagipula, kematian itu ditangan Tuhan, bukan di tangan si Bejo” lanjut Erika lagi. mereka semat terdiam dan saling menatap
__ADS_1
“Oke. Dasar keras kepala. Nggak bisa mas Budi aja apa, yang keras?” sahut Nungki, sambil berkelakar. Erika melotot mendengar kelakar Nungki. Tapi senyumnya mengembang juga.