Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bahagia itu sederhana


__ADS_3

“Mas, bakso dua ya. Es tehnya juga, dua” kata Adel memesan, saat sudah sampai warung bakso.


“Bakso dua, es teh dua” jawab tukang baksonya, menirukan kata – kata Adel.


Mereka berdua memilih tempat duduk di pojok belakang. Cukup ramai siang ini. Terlebih memang jamnya makan siang.


“Selamat ya, Bud. Aku ikut lega, kamu dapet kerja lagi” kata Adel.


“Iya, makasih ya, Del. Berkat info dari kamu”


“Aku cuman kasih info. Kamu sendiri penentunya. Kalau sekarang kamu langsung dapet seragam, itu berarti kamu memang layak dapet seragam itu. Nggak ada hubungannya sama aku”


“Kamu segitu terharunya Del? Kan kita kenal juga baru. Kamu juga belum tahu, aku ini emang anak baik atau bad boy” tanya Budi.


“Ha ha. Bad boy insyaf” celetuk Adel.


“Ha?”


“Ha ha ha” Adel hanya tertawa.


“Eh, iya makasih” kata Adel, saat bakso yang dia pesan datang.


“Kamu, tetanggan sama Hanin, ya?” tanya Adel.


“Hanin?"


“Hanin Ramadani”


“Oh, iya. kamu kenal? Kenapa?”


“Em”


Adel tak langsung menjawab. Dia terdiam beberapa saat. Wajahnya kembali sendu.


“Dia cerita banyak soal kamu” jawab Adel. Matanya berkaca – kaca saat memandang Budi.


“What?”


“Dia cerita tentang kamu dulu semasa sekolah. Ha ha ha, bad boy. Suka tawuran”


“Hadeh, kenapa harus itu yang dijadiin pembuka?” keluh Budi.


“Ha ha ha. Tapi dia juga ngungkapin rasa salut dan kagumnya atas perubahan diri kamu saat ini” lanjut Adel.


“Bohong”


“Beneran”


“Jam tanganku udah lama ilang” kata Budi lirih.


“Maksudnya?” tanya Adel bingung.


“Aku nggak bisa berubah lagi, jadi ultramen” Jawab Budi sambil tergelak.


“Hmpfh. Ha ha ha. Suek ah, Bud. Kirain apaan” sungut Adel.


“Ha ha ha ha. Gitu dong, senyum. Jelek ah, kalo cemberut”


Sejenak perbincangan terhenti. Es teh yang dipesan Adel sudah tiba. Adel menerima dan langsung menyedotnya beberapa tegukan.


“Emang dia cerita apa aja?” tanya Budi, setelah meneguk es teh juga.

__ADS_1


“Dia cerita tentang kasusmu dengan tetangga – tetanggamu” jawab Adel. Budi terkesiap, meski sudah menduganya.


“Aku nggak kuat buat cerita, Bud. Denger dia cerita aja, aku nggak kuat” lanjut Adel.


“Kok dia bisa cerita gitu sama kamu?”


“Kan kita sekampus, cuman beda jurusan aja”


“Tapi nggak nyambung juga, Del. Emang yang sekampus sama dia cuman kamu? Pasti ada sebab khusus. Lagian, darimana dia tahu kalau kamu temenan sama aku?”


“Semua tentang aku tuh, cepet banget nyebarnya, tahu. Dia ternyata ngefans sama aku. Dia suka ikuti info tentang aku. Pas dia denger kabar burung, kalo aku kenal sama kamu, nah, itu”


“Dia nyamperin kamu buat cerita itu?”


“Ya”


“Tujuannya?”


Adel terkesiap mendengar pertanyaan itu. Dia diam beberapa saat, menyelesaikan kunyahan baksonya dulu.


“Dia minta aku supaya jangan phpin kamu” jawab Adel agak terbata – bata.


“Em?”


“Intinya begitulah. Yang bikin aku nangis, adalah cerita dia tentang kamu. Kamu yang rela kerja apa aja, demi ibu dan adikmu. Kamu yang, ah”


Adel tak mampu menyelesaikan kata – katanya. Cerita tentang Budi yang dihina sedemikian rupa, disiram kotoran, padahal hanya mau bekerja, membuat hatinya sedih bukan kepalang.


“Kok malah baper?” tegur Budi. Dia mencoba mengusap tangan kiri Adel. Adel masih menangis untuk beberapa saat.


“Makanya aku lega banget saat lihat kamu pake seragam itu” jawab Adel, setelah reda tangisnya.


“Aku pengen teriak, Bud. Aku pengen teriak di depan muka mereka, bilang kalo Budi itu cowok terhormat. Bukan seperti apapun yang mereka katakan” lanjut Adel.


Budi berinisiatif mengambil tisu di meja, dan menyeka air mata Adel. Adel seperti terhipnotis. Dia tidak bergerak saat pipinya diseka Budi dengan tisu. Sampai air matanya tidak lagi membasahi pipinya.


“Aku nggak akan nyia – nyiain koin emas yang udah kamu kasih ini. Aku akan buktikan kalau aku bukanlah pecundang”


“Ya, ya. Buktikan, Bud. Kasih lihat mereka. aku akan selalu dukung kamu dari belakang”


Budi menyeka lagi air mata Adel. Adel tersenyum melihat perhatian kecil itu. Tak ada lagi perbincangan. Mereka kompak memutuskan untuk menikmati hidangan makan siang kali ini.


****


Saat acara makan siang sudah selesai, Adel lantas memesan dua porsi lagi. Kata dia, untuk bu Ratih dan Putri. Budi hanya mengangguk saja. Tak lama kemudian, mereka beranjak dari tempat duduk mereka.


“Berapa semuanya pak?” tanya Budi.


“Bud, kan aku yang ngajakin. Akulah yag bayar” tegur Adel.


“Jadi tiga puluh dua, dek” jawab si tukang bakso.


“Ini pak” saut Adel.


Dia berniat membayar bakso itu, tapi merebut uang lima puluh ribuan Adel, dan mengganti dengan uang yang sama miliknya.


“Bud, kok dituker?” protes Adel.


“Udah, simpen aja” jawab Budi. Dia memasukkan uang itu di saku depan celana jeans Adel.


“Ish, enggak ah. Aku yang ngajakin juga” elak Adel. Dia merogoh kantongnya.

__ADS_1


“No!” tolak Budi. Matanya tajam menatap mata Adel. Adel terkesiap.


“Its order” lanjut Budi.


Lagaknya sudah seperti gibbons saat berdebat dengan xander cage. Matanya masih menatap lekat, tegas, tapi bibirnya tersenyum. Adel tambah terdiam.


“Ini kembaliannya, dek” kata si tukang bakso.


Adel tersentak. Budi sempat tersenyum sebelum kemudian menerima uang kembalian itu.


“Makasih pak” jawab Budi.


Mereka berjalan beriringan. Saat hendak menyeberang jalan, Budi menggandeng tangan kanan Adel. Lalu – lintas jalan memang sedang ramai. Dia tidak mau terjadi apa – apa dengan Adel. Adel tersenyum mendapat perlakuan unik itu.


“Hei, senyam – senyum sendiri” tegur Budi.


“Dih, siapa yang senyam – senyum sendiri?” kilah Adel.


“Lha itu, senyum” tunjuk Budi pada bibirnya.


Adel tidak menjawab. Dalam hati dia mengakui, kalau dia memang sedang tersenyum.


Dia merasa geli melihat budi menggandeng tangannya, seolah dia adalah anak kecil, yang belum bisa menyeberang jalan. Tapi dia juga mengakui, kalau dia terkejut saat Budi berani bersikap tegas padanya, saat akan membayar bakso tadi.


Seumur – umur belum ada satu lelakipun yang berani membantah perkataannya. Rata – rata, mereka terlalu takut kehilangannya. Makanya mereka selalu memaklumi dan mengalah. Bahkan untuk hal sepele seperti membayar bakso tadi.


Jauh di lubuk hatinya, dia ingin sekali ada seorang laki – laki yang yang berani membantahnya. Laki –laki yang berani mendebatnya, dan membuatnya terdiam. Dan Budi sukses melakukan itu padanya. Ya, walaupun untuk hal yang sangat sepele. Tapi dia suka itu.


“Baru juga ditraktir bakso, senyumnya nggak berhenti – berhenti” celetuk Budi.


“Apa sih, jangan GR deh” kilah Adel sambil tergelak.


“Semoga aku cepet bisa beliin rumah”


“Buat?”


“Buat kita, lah”


“Dih, siapa juga yang mau serumah sama kamu? GR banget sih”


“Aduh” Budi memekik kesakitan, dicubit Adel.


“Lha itu, senyam – senyum mulu. Bayangin apa, coba?” tanya Budi.


“Eh, aku tuh geli sama sikap kamu tadi. Pengen ketawa, tahu” jawab Adel.


“Yang mana?”


“Yang kamu gandeng tangan aku tadi, waktu nyeberang jalan. Kamu pikir aku bocah, nggak bisa nyeberang jalan?”


“Oh, ha ha ha. Abisnya, aku nggak rela kalo cewek secantik ini, tergores kulitnya. Mending mobilnya aja yang tergores. Penyok juga nggak urusan. Kaleng ini” jawab Budi.


“Hmpf. Ha ha ha”


Adel hanya tergelak mendengar jawaban lucu Budi. Dia tidak bisa berbohong pada dirinya sediri, kalau dia suka diperlakukan begitu.


Terlalu sering dia berada di sebuah mobil saat berjalan bersama laki – laki. Belum pernah dia merasakan kepanasan berdua di jalanan ramai seperti ini. Terasa monoton, dan mudah ditebak gaya pacaran dengan mereka. Kalau tidak berbelanja, ya ke cafe. Kalau tidak, ya ke tempat wisata terkenal.


Memang, kalau dikalkulasi dengan logika, hidupnya akan lebih nyaman dengan mereka yang sudah kaya. Tapi sanubarinya selalu merasakan kehampaan. Tidak ada petualangannya.


Budi, menawarkan itu semua. Selain wajahnya yang ganteng, dan tubuh atletis. Dia punya kehidupan yang sama sekali berbeda. Kalau dihitung dengan logika, Adel masih bertanya – tanya. Apakah kehidupannya akan terjamin kalau dia bersama Budi?

__ADS_1


Tapi hatinya merasa nyaman. Hatinya tenang. Hatinya mulai merasakan bahagia dalam arti yang dia belum pernah rasakan. Dan hatinya juga mulai merasakan sedih yang belum pernah dia rasakan pula. Termasuk was – was berujung kelegaan yang susah untuk dia jabarkan dengan kata – kata.


“Loh, itu kenapa, rame – rame?” celetuk Budi.


__ADS_2