
Sesampainya di pasar, terlihat Putri dan ibunya sudah duduk manis di warung kopi di dekat blok ikan laut. Lapak ibunya juga sudah rapi, terbungkus terpal. Keduanya sedang asyik menyeruput kopi hitam.
“Yah, telat deh, aku. Sisain dikit, kenapa, dek” komentar Budi saat menghampiri adik dan ibunya.
“Wa’alaikum salam” sahut Putri menyindir. Budi terkesiap. Dia paham, dia lupa kesunahan kalau bertemu sesama muslim.
“Assalamu’alaikum adek, ibu” kata Budi memberikan salam. Dengan lagak setengah kesal.
“Wa’alaikum salam” jawab Putri dan bu Ratih dengan tergelak.
Budi mendekat dan menyalami ibunya. Tak lupa dia mencium tangan beliau. Terbalik kalau dengan Putri. Tangannya yang dicium.
“Tumben mas, lebih sore?” tanya Putri.
“Em, tadi mas harus bikin laporan dulu. Ya, rutin sih, seperti biasa” jawab Budi.
“Oh. Tiap hari, gitu ya mas? Laporan kaya gimana sih?” tanya putri lagi. Dari raut wajahnya, tampak dia penasaran.
“Ya, laporan kinerja sehari – hari. Kaya ibu ni, misal. Misalkan targetnya sehari satu kwintal. Nah, sampe sore, terjualnya berapa. Hitungannya berapa persen tuh? Terus, kalau nggak tercapai, ada kendala apa? Terus ada ide apa buat mecahin kendala itu? Apa rencana buat besok? Semacam itu” jawab Budi.
“Kalo di resto, gimana, mas?” tanya Putri lagi.
“Mas Budi sih, maennya ke warteg. Belum tahu deh kalo urusan resto” jawab Budi sambil tertawa.
“Ish, mas Budi, ih. Ditanya beneran juga”
“Ya, mas Budi juga benera. Coba tanya ibu!”
“Kok ibu?” kilah bu Ratih.
“Kan ibu pernah mandorin pembangunan resto” jawab Budi.
“Resto apa?” tanya bu Ratih bingung.
“Restoko” jawab Budi.
“Ha?”Mereka berdua saling pandang dan berpikir keras beberapa saat.
PLAK
“Itu sih tangga, mas Budi” seru Putri sambil menepuk pundak kakaknya.
“Tangga?” tanya Bu Ratih belum paham.
“Itu RIS, pake i. Tulisannya juga dipisah. Ris - toko, artinya tangga toko. Clundakan” lanjut Putri dengan mimik muka kesal.
“Hmpf. Ha ha ha ha ha” Budi tertawa lepas, mendengar leluconnya mengena.
“Putri nanyanya, retoran. Bukan ris – toko. woo” kata Putri lagi.
Bu Ratih ikut tertawa mendengar kelakar itu. Putri juga akhirnya ikut tertawa. Dia tidak menyangka, kakaknya akan menghubungkan kata resto dengan ris – toko.
“Kapan, ibu pernah mandorin orang bikin tangga toko? Aneh – aneh aja kamu, Bud” komentar bu Ratih sambil tertawa.
Bu ratih menawari Budi kopi, tapi Budi menolak. Karena memang dia baru saja minum kopi. Tapi dia tidak menceritakan dengan siapa dia minum kopi. Putri juga tidak menanyakan hal itu. Minum kopi merupakan hal yang tak terpisahkan dari Budi. Jadi bukan hal yang aneh kalau mau pulang kerja juga, masih menyempatkan menyeduh kopi.
Ketika mimpimu, yang begitu indah. Tak pernah terwuju, ya sudahlah.
Suara Bondan Prakoso mengalun merdu dari ponsel Budi. Budi segera mengambil ponsel yang ada di kantong saku bajunya.
Adel?
Wajah cantik dengan sanggul berbingkai bulat terpampang di layar ponselnya. Budi tersenyum.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam. Udah pulang / belum, Bud?” tanya Adel.
“Udah, tapi mampir pasar dulu"
“Oh, masih di pasar? Sibuk nggak?”
“Enggak. Udah kelar duluan tadi, sama si Putri. Kenapa?”
“Oh, syukur deh, kalo nggak ganggu. Gini, malem ini ada acara, nggak?”
“Belum tahu, sih” jawab Budi.
“Bu, entar malem ke gudang, nggak?” tanya Budi ke ibunya.
“Enggak, ngger. Masih lengkap” jawab Bu Ratih. Budi terkesiap mendengar jawaban itu. Itu berarti, hari ini sepi pembeli.
“Baru aja di drop, ngger. Bukannya sepi” lanjut bu Ratih, menanggapi keterdiaman Budi.
Alhamdulillah
__ADS_1
“Kayaknya sih, longgar” kata Budi menjawab pertanyaan Adel.
“Aku boleh minta tolong nggak?”
“Apa?”
“Aku mau minta anter, sama kamu”
“Oh, boleh. Boleh banget. Dari rumah?”
“Enggak. Entar ketemu aja di rumah temenku. Rumahnya nggak jauh kok dari rumah kamu. Aku nggak bawa motor. Tadi aku cabut bareng dia”
“Temen?”
“Iya, Feni”
“Feni yang mana ya?”
“Udah, intinya dia cewek. Entar aku share lok”
“Oke”
“Pamit sekalian sama ibu”
“Loh, kemana emang?”
“Ya biasa. Ke fishbed cafe. Tapi aku pengen ditemenin kamu, sampe kelar”
“Oh, gitu. Iya deh” jawab Budi, paham.
“Tapi urusan foto – foto sama tanda tangan, aku nggak ikut – ikutan, ya. Pajaknya mahal” lanjut Budi.
“Siapa juga yang mau minta tanda tangan kamu, mas? GR banget sih” seru Putri dari belakang.
“Ha ha ha ha” Adel tertawa mendengar kelakar Putri.
“Lagian, mana ada pajak tanda - tangan? Bisa aja kamu” komentar Adel.
“Ha ha ha ha. Oke deh”
“Ya udah, abis isya’ ya"
“Sip”
“Makasih. Salam buat Ibu sama Putri”
“Eh, Put, ibu. Dapet salam dari Adel” kata Budi menyampaikan.
“Wa’alaikum salam” Jawab Putri dan Bu Ratih.
“Tuh, udah aku sampein” kata Budi.
“Ha ha ha, alhamdulillah. Ya udah. Sampe nanti ya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
Tuuut
Setelah komunikasi telepon terputus, mereka segera bergegas untuk pulang. Matahari sudah hampir tenggelam. Sinarnya sudah mulai kuning kemerahan.
Bu Ratih tersenyum terharu, melihat kedua anaknya berebut untuk mengantarkannya pulang. Sampai si ibu warung memuji mereka berdua.
Akhirnya, bu Ratih memutuskan untuk membonceng Putri. Dengan pertimbangan, Budi masih memakai seragam. Budipun mengalah, dan mempersilakan adiknya untuk jalan lebih dulu.
****
Selepas isya, Budi sudah berbenah. Bersiap untuk mengantarkan sang pujaan hati. Tapi dia agak ragu dengan pakaian yang dia punya.
Semenjak tinggal dengan Liza, praktis Budi tidak memikirkan lagi mengenai pakaian. Sehingga tidak pernah memperbaharui pakaian lamanya. Hanya beberapa potong pakaian saja yang dia beli. Ya, dari yang terbaru itu, dia memlih yang menurutnya masih pantas digunakan untuk mendampingi calon super star.
*Ketika mimpimu, yang begitu indah. Tak pernah terwuju, ya sudahlah*.
Ponselnya berdering. Seseorang mengajaknya untuk melakukan panggilan video. Dari layarnya, terpampang nomor tanpa identitas. Fotonya juga tidak dibubuhkan.
Siapa ya?
Budi berpikir sejenak, apakah itu nomor Adel yang lain? Kalau iya, apakah ada sesuatu?
“Halo, assalamu’alaikum” sapanya.
“Hai. Wa’alaikum salam” jawab yang di sana. Seorang wanita yang tak kalah cantik dari Adel.
“Oh, kamu, Van? Kirain siapa” kata Budi.
Kali ini, Stevani tampil dengan pakaian yang membuat Budi sedikit terkejut. Bagaimana tidak, dengan pakaian tadi sore saja, kaos putih ketat dan celana jeans panjang, sudah menonjolkan lekuk – lekuk tubuhnya. Ini dia hanya memakai tank top.
__ADS_1
Sebagian dari yang dia tutupi tadi sore dengan kaos ketat, sekarang terlihat jelas tanpa perlindungan. Memamerkan kulit putih yang tampak glowing terkena sinar lampu kamar.
“Iya. Tadi aku lupa nggak kontek kamu. He he”
“Makanya aku bingung”
“Eh, kamu mau jalan ya? Udah keren gitu. Kemana?” tanya Stevani. Budi terkesiap.
“Waduh, iya. Aku lupa Van. Yah, terlanjur bikin janji deh”
“Ih, kamu mah. Masa aku dilupain?”
“Bukan ngelupain, tapi beneran lupa”
“He he, iya, nggak papa. Ngomong –ngomong, mau jalan kemana, nih?”
“Itu, ada yang minta tolong, diaterin”
“Anterin doang? Kok keren gitu outfitnya?”
“Keren dari mananya? Cuman begini doang, masa keren?”
“Ya keren, lah. Beda banget tahu, sama kamu yang pake seragam kerja”
“Masa sih? Alhamdulillah”
“Jadi, beneran nih, nggak bisa hang out sama aku?” tanya Stevani.
Dia meletakkan ponselnya di seuah tempat. Dan dia berdiri agak menjauh. Tampak di bawah tank top itu, ada pusar yang tidak tertutupi. Kemudian dia menarik sebuah kursi. Mungkin ponselnya ada di meja riasnya.
Saat hendak duduk, apa yang tidak sepenuhnya sanggup ditutupi oleh tank top itu, terpampang sepenuhnya dari arah kerah tank top itu sendiri. Budi sempat terbelalak sesaat, mendapati pemandangan tak terduga itu.
“Ya, maaf aja Van, aku udah terlanjur janji”
“Cowok apa cewek?” tanya Stevani lagi. Budi mulai risih ditanya model begini.
“Cewek” jawab Budi.
“Oh” respon Stevani pendek.
“Dia pernah berjasa bagi keluargaku. Aku nggak enak kalo mau bilang, enggak” kata Budi menjelaskan.
“Oh. Oke. Maaf ya, udah ganggu waktunya”
“Aku yang minta maaf, beneran lupa kalo kamu tadi nanya gitu”
“Ya udah, met malem minggu ya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
*Tuuut*
Saluran ponsel terputus. Budi masih termenung, dia masih belum bisa menyimpulkan gelagat dari Stevani tadi.
Hanya bisa berasumsi, kalau Stevani sedang berusaha menggodanya.
Dia tersenyum. Dia mengangguk – angguk sebagai pernyataan pada dirinya sendiri, bahwa Stevani berhasil menggoda dirinya.
**** >>>>>>
“Ih, kesel deh. Bener – bener si Budi ya. Bisa – bisanya malah bikin janji sama cewek lain”
Di kamarnya, Stevani merasa kesal diacuhkan oleh Budi. Dia melempar ponselnya ke atas ranjang. Dia memandangi tubuhnya sendiri dari pantulan cermin.
“Gila si Budi. Udah aku pamerin penuh gini, masih juga nggak ngefek. Secakep apa sih, cewek itu, sampe Budi nggak tergoda sama aku?”
Dia berjalan ke sana – kemari tak jelas. Terlihat kalau dia tidak suka mendengar Budi sedang malam jalan dengan wanita lain. Sekalipun Budi bilangnya mau mengantarkan saja. Tapi Stevani tahu, kalau itu adalah bahasa halus dari kencan.
“Aku masih pake kaos tebel tadi aja, si Aldo mepet – mepet mulu. Ini udah aku buka, malah. Ufft”
Dia merebahkan dirinya ke atas kasur. Sebentar miring, sebentar telungkup. Sebentar bangun, sebentar rebahan lagi.
“Bud, kamu nggak ngerasa, apa ya? Aku suka sama kamu. Sejak pandangan pertama waktu itu. Tapi kamu selalu cuek sama aku”
Kali ini dia senyum – senyum sendiri. Diletakkannya telunjuk kanannya di bibir, lalu dia gigit – gigit kecil. Seperti orang gemas.
“Aku nggak bisa lupain kamu, Bud. Tiap malem rasanya pengen cepet – cepet pagi dan ketemu kamu lagi”
Dia tersenyum lagi. Lebih lebar dan lebih indah. Dia juga berguling – guling ke sana – kemari.
“Tadi sore, aku udah seneng banget waktu kamu bilang kalo kamu itu nggak pacaran sama si Erika. Aku juga sempet mupeng tahu, waktu kamu deketin wajah kamu. Aku pikir kamu mau terusin. Ah, malah ditarik lagi. Huft”
Kali ini tidak jelas. Apakah dia akan tersenyum atau akan mendengus. Raut wajah itu berubah – ubah dalam waktu yang cepat.
“Tapi aku masih mau berharap sama kamu, Bud. Kamu berbeda dari yang lain. Kamu spesial”
__ADS_1
Dia memejamkan matanya. Tapi bibirnya tersenyum. Ya, dia menghayalkan kalau dialah yang sedang diantar Budi dengan motornya. Memeluk Budi dari belakang dengan penuh kehangatan. Tapi ya, baru hayalan.