Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bu ratih ikut diperiksa


__ADS_3

“IBUUU, IBUUU”


Bu Lusi, yang sedang berbincang dengan Adel di bengkel kayu, terkejut mendengar teriakan Madina.


“Ada apa, nduk?” tanya bu Lusi heran.


“Bu Ratih, bu. Bu Ratih” jawab Madina, terengah-engah.


“Ya Alloh. Bu Ratih kenapa?” tanya bu Lusi, agak panik.


“Bu Ratih, diperiksa polisi, bu”


“Kok bisa?” tanya Adel, terkejut.


“Kata Putri, mobil ikannya mas Eko, kena Razia gabungan. Terus, ditemuin ada narkobanya”


“Narkoba?” seru bu Lusi.


“Iya, bu. Untung aja, kata Putri, mas Budi nggak jadi bawa itu mobil”


“Maksudnya gimana?” tanya Adel bingung.


“Kata Putri, kemarin itu, mas Eko minta bantuan mas Budi buat nyetirin mobilnya, ngirim ikan ke ponorogo. Mas Budi nyanggupin. Tapi untungnya mas Budi dapet telepon dari kantor, buat masuk kerja. Akhirnya digantiin sama tetangganya mas Eko, “


“Udah, udah, udah! Ceritanya dilanjut nanti aja! sekarang bu Ratih dimana, Din?”


“Di polres, bu”


“Ya udah. Siapin motor! Ibu ambil dompet dulu” perintah bu Lusi.


“Pake mobil aja bu! Udah panas” saran Adel.


“Ibu nggak bisa nyetir, Adel. Ngeledek mulu, senengnya”


“Ya Adellah, yang bawa” jawab Adel.


“Oh. Ya udah, siapin!” perintah bu Lusi, sebagai keputusan akhir.


Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil, meluncur menuju polres.


Budi sendiri sudah tiba terlebih dahulu di polres. Dia langsung menuju tempat dimana dia diinterogasi pagi tadi. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menemui ibu dan adiknya.


“Sabar, mas! Aku yakin, mereka baik-baik aja” hibur Erika.


Budi tidak menjawab. Dia masih khawatir dengan keadaan ibu dan adiknya. Dia hanya bisa berdoa, semoga para penyidik masih menghormati ibunya sebagai orang yang lebih tua. Sehingga tidak menggunakan kekerasan dalam proses interogasi.


“Mas Bud”


Seseorang memanggil dari arah lorong. Dia berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arah Budi.


“Zul. Ibu gimana?” tanya Budi, mengetahui siapa yang mendatanginya.


“Tenang, mas. Ibu nggak papa, kok. Penyidiknya hormat kok sama ibu” jawab Zulfikar.


“Alhamdulillah” komentar Budi mengucap syukur.


“Terus, berapa lama lagi?” tanya Budi.


“Assalamu’alaikum"


Terdengar seruan salam dari arah jalan. Mereka semua menoleh ke arah suara itu.


“Wa’alaikum salam”


Zulfikar menjawab salam itu, mewakili Budi dan Erika yang masih terkejut, melihat siapa yang datang.


“Bud. Ibumu kenapa?”


Bu Lusi bertanya setengah berseru. Membuat Budi tersentak.


*Wa’alaikum salam*


“Ibu lagi dimintai keterangan, bu”


Budi menjawab sambil sungkem ke bu Lusi. Erika cemburu dibuatnya. Terlebih, saat dia melihat ada Adel juga di belakang keduanya. Rasa tidak suka langsung tergambar jelas di wajahnya.


“Kok bisa kebawa-bawa, gimana ceritanya, ngger?” tanya bu Lusi lagi.


“Saya sendiri kurang tahu, bu. Saya juga masih nungguin kabar dari dalam” jawab Budi.


“Mas Zul, Putri masih lama ya, diperiksanya?” Madina ikut angkat bicara.


“Eeem. Tergantung penyidik, sih” jawab Zulfikar.


“Bisa jadi sampe sore”lanjutnya.


“Entar jam makan siang, gimana? Aku boleh ngajak ibu makan siang dulu, kan?” sahut Budi.

__ADS_1


“Tenang, mas! Pihak polres udah nyiapin konsumsi. Pokoknya, ibu sama Putri, aman” jawab Zulfikar.


“Kok ibu dibawa-bawa sih, Zul? Mana ibu tahu, ikan itu dari mana” tanya Erika.


“Namanya juga penyelidikan, mbak. Semua yang berkaitan, pasti akan diminta keterangannya. Tapi tenang aja! Ibu sama Putri itu hanya diperiksa sebagai saksi. Penyidik hanya ingin tahu keseharian dari terduga” jawab Zulfikar.


“Ya udah Zul. Makasih infonya. Kalo kamu harus bertugas lagi, aku nggak bisa nahan” kata Budi.


“Maaf ya mas, aku nggak bsia bantu banyak. Bukan ranah aku” jawab Zulfikar lirih.


“Iya” sahut Budi singkat.


Zulfikarpun pergi setelah mengucapkan salam. Meninggalkan dua keluarga yang terlihat kaku, karena sejarah mereka.


Dan, tiba-tiba saja ponsel Erika berdering. Dia meminta ijin pada Budi untuk menjawab telepon itu. Diapun menjauh, setelah Budi memberikan ijinnya.


“Kamu yang sabar ya, Bud! Apa yang dibilang Zulfikar pasti bener” hibur bu Lusi.


“Iya, bu. Makasih ya bu, sudah nyempetin waktu buat nengokin ibu”


“Pastilah, Bud. Ibu nggak bisa bantu apa-apa, ibu cuman punya tenaga. Kalo ada yang bisa ibu lakukan, pasti ibu lakukan” jawab bu Lusi.


“Tapi kayaknya kita nunggunya di rumah aja, bu”


Suara Adel mengalihkan perhatian mereka. Budi termenung melihat Adel berdiri tak jauh darinya.


“Kok di rumah?” tanya bu Lusi.


“Kan ibu belum sehat betul. Biar Madin yang nemenin mas Budi”


“Loh, ibu abis sakit?” tanya Budi kaget.


“Kok kamu nggak bilang, Din?” lanjut Budi.


“Eeem” Madina takut ditodong pertanyaan begitu.


“Ya sudah, gini saja bu. Benar apa kata Adel. Ibu nunggu saja di rumah! Biar ibu cepet fit lagi” kata Budi memberi saran.


“Sama aja kali, Bud” tolak bu Lusi


“Bantu Budi dengan doa ya, bu! Budi yakin, doa ibu dalam sujud ibu, nggak akan ditolak oleh Gusti Alloh”


*Hemm. Bud, pantesan Adel nggak bisa move on dari kamu. Emang beda banget kamu sama Luki. Kalo aja bukan karena wasiat bapaknya Adel, pasti aku masih milih kamu buat jadi menantuku*.


“Bu. Maaf, Budi udah lancang sama ibu. Maaf” kata Budi. Dia merasa bersalah, setelah melihat bu Lusi tertegun memandanginya.


“Enggak Bud, bukan gitu. Aku kepikiran ibumu aja. Rasanya kok nggak sopan, aku nunggunya di rumah”


“Hempf”


Madina tergelak mendengar akhir dari ucapan Budi. Adel juga tergelak. Hanya saja dengan angan yang berbeda.


“Mas”


Erika datang menyapa, setelah selesai menerima panggilan telepon.


“Ya?” sahut Budi.


“Eeem” Erika merasa tak enak hati.


“Kenapa? Dicari pak Paul?” tanya Budi.


“Iya, mas” jawab Erika.


“Gimana? Aku bingung” lanjut Erika.


“Ya ke sana aja!” jawab Budi.


“Tapi, mas?”


Budi tersenyum melihat kegundahan di hati Erika. Dia bisa merasakan kekhawatiran dan kecemburuan di suaranya.


“Udah, nggak usah mikir berat! Kerjain apa yang harus dikerjain! Aku nggak papa, kok. Toh, ini di kota, bukan di hutan. Gampang kok, nyari makan dan sebagainya” kata Budi.


Butuh beberapa saat untuk Erika menenangkan hatinya. Rasa cemburu itulah yang sangat mengganjal perasaannya.


“Ya udah kalo gitu. Telpon ya mas, kalo ada apa-apa! Aku pasti akan ke sini” kata Erika kemudian.


“Iya” jawab Budi sambil tersenyum.


Erikapun pamit untuk kembali memenuhi kewajibannya. Dia juga berpamitan dengan bu Lusi dan Madina. Tapi dia lewatkan Adel, dengan gaya mendapatkan pesan singkat penting dari bosnya. Budi tersenyum melihat kelakuan Erika. Bu Lusi juga tergelak.


“Bu. kita pulang, yuk!” ajak Adel. Semua mata tertuju padanya.


“Ibu harus istirahat. Jangan sampe terlihat sakit pas ketemu bu Ratih” lanjut Adel.


“Betul itu, bu” sahut Budi, membenarkan perkataan Adel.

__ADS_1


“Jangan sampe rambut Budi jadi gimbal” lanjut Budi sambil tergelak. Bu Lusi ikut tergelak.


“Ya udah. Ibu wakil sama Madin ya, Bud?” tanya bu Lusi.


“Iya, bu. Terimakasih” sahut Budi.


“Kalo butuh bantuan, telepon aja! Adel juga nggak kemana-mana” pinta bu Lusi.


Budi terkesiap. Sejenak tatapan matanya bergeser kepada Adel. Sempat mereka beradu pandang. Dan rasa yang sama kembali menyeruak. Tapi Budi segera menepis rasa itu.


“Baik, bu. Terimakasih” jawab Budi kemudian.


“Ya sudah kalo begitu. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Bu Lusi balik kanan meninggalkan Budi. Kembali pandangan Budi beradu dengan Adel. Sesaat kemudian, Adel menganggukkan kepalanya, isyarat kalau dia memohon ijin undur diri. Budipun ikut menganggukkan kepalanya. Dia berikan seulas senyum sebagai penghormatan. Tinggallah berdua, dia dengan Madina.


***


Sampai menjelang sore, bu Ratih belum juga terlihat keluar dari gedung satuan narkoba. Hal ini membuat Budi semaki gelisah.


Terlebih, belum lama tadi dia melihat Sandi keluar dari dalam gedung yang sama, dan langsung marah pada dirinya. Sandi mengatakan dengan keras, kalau dia tidak mau bertemu Budi lagi.


Budi tanggap, ini pasti ada hubungannya dengan kasus narkoba itu. Hanya saja dia masih bingung, kapan Sandi masuk gedung itu, dan apa yang telah terjadi di dalam.


Dia juga bingung, bagian mana yang membuat Sandi marah kepadanya. Seolah-olah, kasus ini bukanlah perbuatan Sandi. Dan dia malah tidak suka, karena anak buahnya terbawa-bawa, sehingga merusak citranya.


“Assalamu’alaikum”


Terdengar suara Erika memberi salam.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi dan Madina.


“Eh. Madina masih di sini?” tanya Erika.


“Iya, mbak. Ngewakilin ibu” jawab Madina.


“Ibu belum keluar, mas?” tanya Erika pada Budi.


“Belum” jawab Budi singkat.


“Itu tadi Sandi, bukan?”


Budi terkesiap. Dia merasakan ada yang aneh dalam nada bicara Erika. Walau otaknya belum bisa menganalisa, apa yang aneh itu.


“Iya”


“Loh. Kapan masuknya? Dan kok bisa keluar duluan?”


“Nggak ngerti. Tahu-tahu keluar, aja”


“Mas Sandi marah-marah ke mas Budi, mbak” celetuk Madina.


“Kok bisa?” tanya Erika bingung.


“Nggak tahu. Madin juga bingung. Yang kepala preman kan dia, ya? Bicaranya tuh, seolah-olah mas Budi yang kepala preman, terus seolah-olah mas Budilah yang berbisnis barang haram itu, dan seolah-olah anak buah mas Sandi jadi kebawa-bawa. Dan dia bilang nggak mau ketemu mas Budi lagi” jawab Madina.


“Lah. Mabok apa, itu orang?” komentar Erika, tak habis pikir.


“Tapi baguslah. Nggak perlu pusing-pusing ngehindar dari dia” komentar Erika.


“Hem?” Madina bingung dengan komentar Erika.


“Mas udah makan?” tanya Erika. Budi hanya menganggukkan kepalanya.


“Mana bisa makan mbak, kalo pikiran kalut begitu?” celetuk Madina.


Erika menatap Budi penuh tanda tanya. Apa maksudnya menganggukkan kepala, kalau aslinya berbeda?


“Kamu juga belum makan, Din?”


“Eeemm”


Madina tidak cukup berani untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Ya udah, aku beliin makanan dulu. Mas harus makan!” kata Erika tegas.


Lagi-lagi Budi hanya menganggukkan kepalanya. Dan Erikapun pergi membeli makanan. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa jajanan pasar. Madina tertawa melihat jajanan pasar itu.


“Kirain mau beliin pecel lele, Ka” kometar Budi. Madina tertawa lagi.


“Nggak liat apa, ada banyak petugas di ruangan itu? Emang mas bisa makan kalo diliatin banyak orang kaya gitu? Aku pikir ini cukup buat ganjel laper.” tanya Erika.


“Oh. Iya, bener. Tapi jangan banyak-banyak juga kali! Dikata selepan beras?”


komentar Budi. Madina jadi urung memakan lemper pemberian Erika, karena tertawa, mendengar kata selepan beras.

__ADS_1


“Ya antisipasi aja, mas. Siapa tahu pada minta” jawab Erika.


Madina tertawa lagi mengingat kata selepan tadi. Dan benar apa yang menjadi dugaan Erika. bermula dari satu orang, bertambah menjadi dua, tiga dan seterusnya, para petugas yang berada di ruangan terdepan gedung itu meminta jajanan pasar itu. Sampai akhirnya ludes semua jajanan sekresek besar itu.


__ADS_2