Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
di titik nadir


__ADS_3

“Tolong mintakan tanda-tangan penggunaan ambulance jenazah ke bapak Luki Pratama, suaminya saudari Adelia Fitri, anaknya almarhum”


DAARRRR


“MAS BUUDD”


Ratna memekik kencang, saat ponsel yang dipegang Budi terjatuh, dan Budi limbung ke depan.


“TOLOOONG”


Reflek Ratna berteriak meminta tolong. Sekalipun Deni dan Bayu sudah melompat mendekatinya.


“Budiii”


Erika yang baru masuk kamar ikutan memekik. Dia ikut menghambur ke arah Budi.


“Mas Bud. Sadar, mas!” kata Ratna.


Dia panik melihat Budi yang bersimpuh seperti orang pingsan, tapi matanya masih terbuka.


“Bud. Sadar, Bud!” Erika ikut bersuara. Dia menepuk-nepuk wajah Budi.


“Istighfar, Bud! Astaghfirullohal ‘adzim” kata Bayu membimbing Budi beristighfar di telinga kanan Budi.


“Astahfirullohal ‘adzim” yang lain juga ikut membantu Budi beristighfar.


Cukup lama mereka berusaha menyadarkan Budi. Berbagai cara mereka lakukan. Tapi Budi masih belum bergeming. Mereka sempat panik dan hendak memanggil layanan darurat.


Beruntung, tepat disaat adzan ‘ashar berkumandang di salah satu ponsel, Budi meneteskan air mata. Berangsur-angsur dia menangis. Dan perlahan dia mulai bisa kembali diajak berkomunikasi.


Prosesi pemakaman jenazah pak Fajarpun dilakukan malam itu juga. Walau kepayahan, Adel yang telah sadarkan diri memaksa untuk ikut mengantarkan bapaknya menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Dia memaksa ikut walaupun untuk berpindah tempat sekalipun harus menggunakan kursi roda.


Keberadaan Luki yang selalu dekat dengan Adel membuat publik bertanya-tanya tentang hubungan mereka. Terutama di ranah media sosial, banyak sekali cuitan yang menanyakan status hubungan Adel dengan Luki. Tak sedikit pula yang menanyakan tentang kelanjutan hubungan Adel dengan budi.


Memang Adel telah meminta keluarga dan saksi-saksi untuk tidak berbicara terlebih dahulu mengenai status hubungannya dengan Luki yang kini telah resmi menikah. Sehingga belum ada keterangan scara resmi.


Di rumah sakit, Putri masih setia menemani sahabatnya yang masih dirundung duka. Madina masih terus menangis atas kepergian bapaknya. Kali ini Putri memusatkan perhatian, sepenuhnya untuk menguatkan hati sahabatnya.


Bukannya tanpa beban, hatinya sendiri sebenarnya sedang dilanda gelisah. Ponsel yang dia silent, berkali-kali menyala layarnya. Dari sudut matanya dia tahu, hanya satu nomor yang menghubunginya sedari tadi, kakaknya.


Putri sudah bisa menebak kalau kakaknya sudah tahu bahwa calon mertuanya telah meninggal dunia. Dan pasti mbak Adel juga tidak merespon panggilannya. Sambil memeluk Madina, Putri terus berpikir, bagaimana dia harus bersikap kalau kakaknya menanyakan keadaan Adel. Pasti pertanyaannya akan panjang, karena dirinya juga tidak kunjung merespon panggilannya.


Adel yang merasa tubuhnya masih lemah, mengajak Luki untuk pulang ke rumahnya. Dia bilang belum kuat untuk kembali ke rumah sakit itu. Sekalipun ibu dan adiknya masih dirawat di sana. Luki menuruti permintaan Adel. Dia membawa Adel pulang. Tak peduli orang berkasak-kusuk di belakangnya.


“Mas. Maafin Adel, ya! Adel belum siap menjalankan kewajiban Adel sebagai istri” kata Adel dalam isak tangisnya, setelah berada di dalam kamarnya.


“Iya, nggak papa. Aku belum kepikiran soal itu. Yang penting sekarang, Adel istirahat aja! Masih ada ibu sama Madin yang butuh Adel” jawab Luki sambil tersenyum.


“Mas. Aku harap kamu sabar, ya. Bakal butuh waktu buat Adel mengubur semua kenangan Adel sama mas Budi. Ibarat kayu, ukirannya udah terlalu dalem. Butuh perjuangan buat mengubah alur ukiran itu, sampai berbeda sama sekali” pinta Adel.

__ADS_1


“Buat wanita hebat bernama Adelia Fitri, aku siap ngelakuin apa aja. Aku mungkin nggak sebaik Budi. Tapi aku akan selalu berusaha menjadi suami yang bisa Adel banggain”


“Makasih ya, mas”


Adel mencium tangan Luki, sebagai wujud terimakasihnya. Di dalam hati dia mengakui, bahwa dia belum siap untuk bersentuhan fisik lebih dari itu. Sekalipun Luki telah memilikinya secara sah.


***


Semenjak makan siang terakhir kemarin, Budi sama sekali tidak menyentuh makanan. Dia mengurung diri dikamar semalaman. Sama sekali tidak merespon saat pintu kamarnya diketuk-ketuk. Sampai-sampai Ratna merasa ketakutan dan memaksa Erika untuk meminta bantuan pengelola apartemen. Bersama pengelola itu, mereka mencoba membuka pintu kamar Budi dengan kunci darurat.


“Loh, Bud?”


Erika berteriak karena terkejut. Ternyata Budi tidak terlihat di dalam kamarnya. Ranjangnya masih rapi, seolah tidak tersentuh siapapun. Ratna berlari ke arah balkon.


“Di sini”


Ratna berteriak memberitahukan posisi Budi berada. Ya, Budi memang sedang berada di kursi balkon. Dia tidur sambil duduk. Ponselnya terlihat jatuh ke lantai.


Ratna memungut ponsel itu. Ketika sensor geraknya mengaktifkan layar, terlihat notifikasi pesan singkat dari Farah. Beberapa pesan berjajar seolah tidak berbalas.


“Ya ampun, Bud. Kamu kenapa disini?” komentar Erika. Tapi Budi belum bergeming.


“Dia ketiduran, mbak. Sepertinya dari kemarin sore mas Budi nelponin orang rumah terus”


“Tahu dari mana?” sahut Deni.


“Bud. Budi. Bangun, Bud!” kata Erika sambil mengguncang-guncangkan tangan Budi. Tapi masih tidak bergeming.


“Bud, Budi. Bangun, dong!” kata Erika lagi.


Dia guncangkan lebih kencang tangan Budi. kali ini usahanya membuahkan hasil. Budi terbangun dari tidurnya.


Matanya mengerjab-ngerjab dan perlahan mulai membuka mata. Dia sempat bingung saat mengetahui ada banyak orang di sekitarnya.


“Bud. kamu nggak papa, kan?” tanya Erika.


“Astaghfirullohal’adzim” sahut Budi sambil menghela nafas berat. Seperti ada kekecewaan di hatinya.


“Bud?” panggil Erika. Dia seperti mau bertanya, tapi dia urungkan”


“Kirain beneran pergi bareng bapak. Nggak tahunya cuman ngimpi” keluh Budi.


“Astaghfirulloh, mas. Kalo ngomong diayak dulu, dong! Serem, ih” tegur Ratna.


“Emang aku abis ketemu bapak. Kirain nyata. Padahal aku udah seneng banget. Rasanya tuh plong banget. Mana rumah bapak mewah banget, lagi. Taman-tamannya itu gaes, bikin lupa segalanya. Udah nggak kepikiran lagi sama yang biasanya aku pikirin” jawab Budi.


Suaranya lemah, khasnya orang menahan lapar. Tapi ada senyum merekah di bibirnya. Senyum itu malah membuat Ratna menitikkan air mata.


“Kita makan dulu, yuk! Hilda udah masak buat kita semua. Jangan ditolak, ya!” ajak Erika.

__ADS_1


Budi menoleh padanya. Mereka sempat beradu pandang. Tapi Erika bingung dengan maksud tatapan mata Budi. Tatapan yang setengah kosong itu memberikan gambaran kepada Erika, kalau pikiran Budi sedang mengembara. Semangatnya juga sedang berada di titik nadir.


“Mau mikir strategi, lu butuh tenaga” kata Erika. Budi mengernyitkan keningnya.


“Mau berantem, lu butuh tenaga. Mau apa juga lu butuh tenaga” lanjut Erika. Budi jadi terfokus padanya.


“Tapi lu manusia Bud, bukan curut-curutan kecil, yang ditarik buntutnya terus ngacir” lanjut Erika lagi.


“Hempf. Ha ha ha ha ha”


Ratna dan yang lain tertawa mendengar kelakar Erika. Ada senyum tipis yang mengembang di bibir Budi. Dia juga merasa geli, diperbandingkan dengan mainan curut yang bisa lari.


“Lu butuh makan, Bud” lanjut Erika sambil tergelak.


Budi memandangi satu persatu wajah rekan-rekannya. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba muncul. Mungkin mereka maklum dengan apa yang sedang dia alami, tapi dia merasa kalau tidak seharusnya dia terlalu mengumbar kesedihannya sampai membuat rekan-rekannya hawatir seperti ini.


Ya Alloh, terlalu hinakah diri hamba sampai Engkau timpakan kenyataan yang begitu pahit? hamba masih berharap kalau hamba ini sedang bermimpi. Hamba masih berharap kalau apa yang hamba dengar ini hanyalah olok-olok biasa. Hamba masih berharap hamba bisa mempersunting kekasih hati hamba, ya Alloh


“Bud?” tegur Erika.


“Hem?” reflek Budi menjawab.


“Sarapan dulu, yuk!” ajak Erika.


Ya Alloh. Nggak ada dari mereka yang bilang kalo Farah kemarin bohong. Nggak ada yang bilang kalau yang hamba dengar dari Farah itu hanya intrik. Apa itu artinya kabar pernikahan itu benar adanya ya Alloh? Apa mereka benar-benar udah nikah?


“Bud. Ayo, dong!” ajak Erika lagi.


“Apa mau aku ambilin?” Hilda akhirnya ikut bicara.


“Ide bagus” jawab Erika.


“Sarapan di sini aja” celetuk Deni.


Yang lain menoleh ke arah Deni. Sesaat kemudian, mereka ganti menoleh ke arah Budi.


“Gimana, bud?” tanya Erika.


Budi tak langsung menjawab. Dia menatap mereka lagi, satu per satu. Beberapa saat kemudian, dia menganggukkan kepalanya.


“Yeei” seru Ratna.


“Thank you mister, for your help” kata Hilda kepada pengurus apartemen itu.


“Anything, anytime. Just call us if you need help” jawab bule jerman itu.


“Thank you”


Terdengar langkah mereka keluar dari kamar Budi untuk mengambil masakan di kamar Hilda. Erika menghela nafas cepat saat melihat Budi kembali melamun.

__ADS_1


__ADS_2