
Jam dinding baru saja menunjukkan pukul delapan belas lewat tiga puluh menit. Tapi Adel sudah bersiap di ruang tamu. Mikrofon yang tadi sore diambil dari tukang servis, dia masukkan ke dalam tas slempangnya.
Jaket tebal juga tak lupa dia siapkan. Udara di luar pasti sudah dingin. Apalagi kalau harus mengendarai motor. Bagi yang belum terbiasa, bisa menggigil kedinginan.
Diapun mematut sekedarnya dengan cermin di wadah bedaknya. Toh tidak pakai make up juga, dia sudah cantik. Merasa sudah siap, Adel lantas berdiri. Dia menoleh ke belakang, mencari ibu dan bapaknya. Dia cari sampai ke dapur, juga tidak ada.
Kemudian terdengar suara mereka ada di workshop kayu milik bapaknya. Adel langsung kembali ke depan. Dia bawa tas dan juga jaketnya. Lalu berjalan keluar rumah untuk pamitan terlebih dahulu.
“Loh, mas Luki. Nyari bapak, mas?” tanya Adel.
Dia terkejut, saat baru saja melangkahkan kaki melewati pintu depan, dia melihat laki – laki yang semalam menemuinya.
“Ya nemuin kamu, lah. Masa nyariin bapak”
Terdengar suara pak Fajar dari samping kiri rumah. Dia baru saja dari workshopnya.
“Tapi aku mau pergi, mas” kata Adel
“Latihan nyanyi? Aku anter, ya”
Adel terkesiap, dalam hati dia bertanya, kok bisa tahu? Pasti ibunya yang memberitahunya.
“Nggak usah, kita kalau latihan suka sampe larut malem. Bakal boring deh kayaknya” tolak Adel halus
“Nggak papa, nduk. Kan sanggar senimu bentuknya pendopo. Mas Luki masih bisa lihat kamu latihan” sahut pak Fajar.
Luki tersenyum senang, ada yang membelanya. Adel jadi salah tingkah. Mau bilang apa lagi kalau kartu jokernya sudah dibuka bapaknya sendiri.
“Iya deh” jawab Adel mengalah.
Pak Fajar tersenyum lebar mendengar keputusan putri sulungnya itu. Begitu juga dengan bu Lusi. Dia tampak mau berteriak kegirangan, saking senangnya. Tapi masih dia tahan.
__ADS_1
Dengan sikap gentlement, Luki membukakan pintu depan kiri mobilnya untuk Adel. Adel yang sedang memakai jaketnya, terkesiap. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Dia merasa tersanjung, diperlakukan bak seorang putri. Mereka berpamitan, sesaat sebelum mobil melaju.
Berdua di dalam satu mobil, bersama orang yang masih asing, membuat Adel kaku. Otaknya yang biasanya encer dalam hal membuka pembicaraan, dalam hal memancing perhatian, saat ini serasa beku.
Di sisi lain, Luki juga tengah berkonsentrasi dengan jalan yang sudah mulai memasuki tanjakan curam. Jalan yang sempit terasa baru buatnya. Belum lagi, beda ketinggian antara jalan dengan kebun dan ladang di sebelahnya cukup jauh. Sudah bisa disebut jurang. Jadilah mereka hanya diam tanpa ada percakapan.
“Masih jauh, del, sanggar senimu?” tanya Luki membuka suara.
“Oh, enggak. Itu, di depan, ada jalan ke kiri. Masuk aja ke jalan itu” jawab Adel.
“Oh, oke” kata Luki.
Hanya itu saja percakapan mereka. sekalipun jalan sudah datar sejak dua ratusan meter sebelumnya. Bahkan sampai tiba di sanggar senipun, Luki tidak lagi melontarkan satu pertanyaanpun.
“Nggak usah, mas. Bakal jadi heboh, kalo kamu bukain aku pintu” cegah Adel saat Luki hendak turun mendahuluinya.
“Oh, oke” jawab Luki. Dia mengurungkan niatnya. Dia baru turun setelah Adel turun terlebih dahulu.
“Wooeee. Kita sambut, artis fenomenalnya Jawa Timur. Adelia, Fitri”
Hal itu tak lain karena Adel datang dengan diantar seorang laki – laki menggunakan mobil SUV papan atas.
Sembari cipika – cipiki, berbagai pertanyaan terlontar dari rekan sesama penyanyi. Adel hanya bisa tersenyum, berkacak pinggang, dan geleng –geleng kepala. Karena tidak tahu, pertanyaan mana dulu yang harus dia jawab.
Tapi tampaknya, pimpinan grup campursari ini telah mendapatkan jawaban lebih dulu. Dia langsung berbincang dengan sumber kehebohan, Luki. Karena sudah diawali sama yang paling tua, praktis yang lain ikut nimbrung. Terjadilah perbincangan hangat disertai sorak – sorai, sesekali.
Pimpinan grup memberikan tempat duduk untuk Luki. Adel menepuk jidat. Dia tahu, kehebohan masih akan berlanjut. Karena bapak pimpinan mempoisikan Luki di tempat dimana biasanya warga sekitar menonton.
“Gokil kamu, del. Kemarin dapet yang ganteng, sekarang udah dapet lagi yang tajir” komentar Tati.
Mendengar komentar itu, seketika ingatan Adel melayang kepada Budi. Sejenak dia merasa bersalah. Merasa bermain di belakangnya. Kalau Budi sampai tahu, citranya akan runtuh seketika.
__ADS_1
Tapi kan kita belum jadian, belum ada ikatan. Belum tentu juga dia suka sama aku. Jalanin aja dulu. Kalo emang jodoh, pasti bersatu kok
“Hei, malah bengong” tegur Tati.
Adel tersentak, tapi masih diam tanpa komentar. Sejenak tatapan matanya beradu dengan tatapan Luki. Dia tersenyum melihat Luki melempar senyum padanya.
“Udah, nggak usah bingung. Buat aku aja” kata Tati lagi.
“Apa?” sahut Adel.
“Budi, buat aku aja. Kamu sama mas tajir. Demi kamu, aku rela kok dapet yang low profile” jawab Tati.
“Hmpf, low profile” Adel tergelak.
“Awas kamu kalo ngatain dia kere” ancam Adel.
“Siapa yang bilang gitu?”
“Hmpf, ha ha ha ha ha” Mereka tertawa menginget kekonyolan mereka sendiri.
Tak lama kemudian, latihan campursari dimulai. Adel mendapatkan giliran lebih dahulu. Tembang yang dia sudah hafal, tapi dengan aransemen baru. Yang pastinya berbeda dengan versi saat dia menghafal tembang itu.
Tak butuh waktu lama, kolaborasi pengiring, dan penyanyi itu sudah terdengar menyatu. Adel sudah merasa nyaman dengan aransemen itu. Bahkan bisa berimprofisasi, dengan menggoda luki yang sedang diajak berbincang seorang wanita. Tak pelak terjadi kelucuan yang mengundang derai tawa.
Di sisi lain, Luki juga semakin terpesona dengan penampilan Adel. Merdu suara dan lenggak lenggok tubuhnya, menumbuhkan gairah tersendiri buatnya. Saat tadi di goda, Luki sempat terdiam. Karena dia belum mengerti bahasa jawa halus yang dipakai Adel. Dia merasa bahasa itu berbeda dengan bahasa jawa halus pada umumnya. Kebingungannya itulah yang mengundang gelak tawa.
Tepuk tangan meriah mengiringi akhir dari penampilan Adel. Dia membeli minum dari warung sebelah, lalu berjalan mendekati Luki. Saat sudah dekat, Adel tertawa lagi saat teringat raut wajah bingung Luki.
Diberikannya satu botol air mineral untuk Luki.
Dia mengambil tempat di kursi yang tadi diduduki ‘wanita lain’. Saat wanita itu kembali, terjadilah lagi kelucuan yang mengundang gelak tawa. Karena wanita itu berlagak seolah – olah pacarnya diambil oleh Adel.
__ADS_1
Adel menggelayut manja di pundak Luki. Seolah memanas – manasi wanita itu. Dan berderailah lagi gelak tawa dari semua yang menonton. Bahkan Tati yang sedang menyanyipun sampai tidak konsentrasi dibuatnya.
Lama kelamaan, Adel merasa nyaman. Setelah menjalankan sholat isya’, dan menyerahkan segala urusan tentang jodohnya kepada Gusti Alloh. Dia tidak lagi mengambil sikap menolak. Sesekali selama latihan itu, Adel menyempatkan untuk mendekati Luki. Walau sekedar menyapa dan basa – basi.