Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
keputusan dalam kepasrahan


__ADS_3

“Apa perjanjian antara Adel sama ibu masih berlaku?” bu Lusi ganti bertanya.


“Apa?” Adel tersentak.


Dia sama sekali tidak menyangka kalau ibunya akan mengingat perjanjian itu. bagaimanapun juga, perjanjian itu belum pernah mereka rubah. Sekarang ibunya bisa berubah menjadi pribadi yang santun. Wajar jika ibunya menagih janji itu.


Adel tidak bisa menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, diiringi tangisnya yang semakin pecah. Dia ingin menolak, tapi dia juga merasa tidak mungkin mengingkari janji yang sudah dia ucapkan dulu. Terlebih yang dia berikan janji adalah ibu kandungnya sendiri.


“Lalu gimana dengan janji Adel sama Abram, bu?” tanya Adel di sela tangisnya.


Bu Lusi tidak segera menjawab. Dia sedang merangkai kata yang tepat untuk dia ucapkan.


“Ibu sudah cerita sama bu Ratih. Ibu udah memintakan ampun, ibu sudah memintakan maaf buat Adel. Dan bu Ratih memahami situasinya. Bu Ratih tidak marah, bu Ratih sudah memaafkan Adel. Jadi Adel tidak mengingkari janji apapun” jawab bu Lusi.


“Lalu apa arti semua drama ini, bu? Apa arti dari pengorbanan Adel, pengorbanan Abram, bu?”


“Nduk. Kita ini cuman wayang. Semua tergantung kehendak Gusti Alloh”


Jawaban itu membuat Adel menangis lagi. Bu Lusi berdiri dan memeluk putri sulungnya. Dia membiarkan putri sulungnya itu menumpahkan kesedihannya untuk beberapa saat.


*Ya Alloh, apakah engkau akan memanggil bapak kembali padaMu ya Alloh? Apakah ajal bapak sudah dekat? Apakah Engkau tidak merestui hubungan hamba dengan Abram ya Alloh*?


“Nduk, kita harus segera menunaikan permintaan bapak” tegur bu Lusi.


Adel tersentak dan bergerak menjauh. Sorot matanya menggambarkan kalau dia tidak suka dengan teguran ibunya itu. Baginya, seolah-olah ibunya akan mengatakan kalau bapaknya akan segera meninggal. Dan itu dia tidak suka.


Bu lusi tahu apa makna sorot mata putri sulungnya itu. Diapun merasa serba salah. Dia mengalihkan pandangannya ke wajah suaminya. Air matanya meleleh tanpa dia coba untuk sembunyikan.


“Pak. Maafin Adel, ya! Dia punya pilihan sendiri. Jangan dikenang nakalnya, ya! Kenang aja gimana lucunya dia saat masih balita!”


Bu Lusi pergi ke luar tanpa pamit, hatinya hancur lebur menghadapi kenyataan ini. Dia seperti menghadapi buah simalakama. Dia ingin sekali membahagiakan suaminya, mungkin untuk terakhir kalinya. Tapi dalam prosesnya, ada hati yang tersakiti. Dan itu termasuk hati putri sulungnya sendiri.


Adel kembali merenung. Dia tidak habis pikir dengan apa yang ibunya katakan. Bukannya menyemangati agar cepat sembuh, malah mengatakan kalimat bernada perpisahan.


Dia perhatikan wajah bapaknya. Ingin dia curahkan kekesalan hatinya atas sikap ibunya. Tapi dia pikir, percuma. Bapaknya sudah tidak merespon sama sekali.


*Heeeekkk.. Kookkhhhh... keeeekhh*



*Tit tit tit tit*

__ADS_1


“Astaghfirulloh. SUSTEEERRR”


Adel berteriak memanggil suster. Tak hanya suara tenggorokan bapaknya saja yang mengejutkannya, peralatan penunjang kehidupan di dekat ranjangpun ikut berbunyi instens.


Beberapa suster datang membawa peralatan yang sama seperti sebelumnya. Salah satu dari mereka memperhatikan monitor alat pendeteksi tanda vital manusia. Raut wajahnya tegang dan dia berbicara kepada rekannya dengan suara lirih. Yang diajak bicara tadi tiba-tiba balik badan dan berlari keluar.


Rasa takut tiba-tiba hinggap di hati Adel. Terlebih saat seorang dokter datang dengan tergopoh-gopoh dan memeriksa tanda-tanda vital bapaknya. Dokter itu juga memberikan tindakan yang lebih dari sekedar menyedot lendir di tenggorokan. Entah apa sebutannya Adel tidak tahu.


*Ya Alloh, ringankanlah penyakit bapak hamba, ya Alloh! Apakah dosa dan kesalahan bapak sudah terlalu membuat Engkau murka, sehingga Engkau timpakan penyakit seberat ini, ya Alloh? Hamba mohon, angkatlah penyakitnya bapak, ya Alloh*!


Cukup lama dokter dan para suster itu melakukan penanganan. Sampai pada akhirnya, kondisi pak Fajar berangsur stabil. Saat dokter itu menatapnya, Adel merasa kalau dokter itu ingin mengatakan hal buruk padanya.


“Dokter. Gimana kondisi bapak saya, dok?” tanya Adel serta-merta.


“Eeem”


Dokter itu tidak segera menjawab. Dia masih merancang kalimat yang sesuai untuk disampaikan ke Adel.


“Dok?” tanya Adel lagi.


“Apa embak yakin, mau mendengarnya langsung?”


Dokter itu malah melemparkan pertanyaan. Bergetar hebat hati Adel mendengar pertanyaan itu. Hanya ada satu kabar yang sangat ditakutinya.


“Baik” sahut dokter itu. Dia kembali merangkai kalimat.


“Kondisi pasien sudah sangat lemah. Usaha kami sudah pasti akan terbatasi oleh kehendak Tuhan”


“Maksud dokter?”


“Hanya Tuhan yang yang bisa memberikan keajaiban. Tapi secara medis, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain memberikan perlatan penunjang kehidupan. Karena kemungkinan pasien untuk sembuh sudah terlalu kecil”


“Apa?”


Untuk kali kedua Adel merasa seperti disambar petir. Kabar yang sangat dia takuti akhirnya dia dengar juga. Ingin dia mengingkari, dengan dalih bahwa dokter juga manusia. Tapi hatinya mengatakan kalau dokter juga merupakan kepanjangan tangan dari Tuhan.


“Dok, apa nggak ada rumah sakit lain yang bisa melakukan tindakan yang lebih baik?” tanya Adel masih belum menerima kenyataan itu.


“Saya sudah bertanya ke jogja, surabaya, bahkan ke jakarta. Tapi semua dokter seniornya bilang, sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Gerakan jari tadi juga saya sampaikan. Andaikan gerakan jari tadi semakin menguat, jakarta siap membantu tindakan. Tapi kenyataannya, bahkan sekarang tidak ada gerakan sama sekali”


“Artinya?”

__ADS_1


“Artinya, hanya tinggal organ dalam yang masih bekerja. Dan itupun terus mengalami penurunan kinerja. Tinggal urusan waktunya, seberapa lamanya organ itu bisa bertahan, itu yang kami tidak bisa memastikan”


“Astaghfirulloh”


Tubuh Adel merosot hingga berlutut. Kesedihannya membuncah menghadapi keyataan burukini. Dokter itu meyempatkan diri menghibur Adel beberapa saat. Dan karena ada pasien yang menunggu, dokter itupun pamit.


Di luar, sempat terjadi tanya jawab antara dokter itu dengan bu Lusi. Dokter itu menyampaikan hal yang sama. Bu Lusi tampak lebih tegar, walau air matanya pecah juga. Dia minta ijin untuk masuk, menemui anaknya. Suster jaga di belakang dokter itu mengijinkan.


“Nduk”


Bu Lusi setengah berlari menghampiri putri sulugnya. Serta merta dia ikut bersimpuh seperti Adel.


“Ibu” gumamnya.


“Nduk, kamu nggak papa?” tanya bu Lusi. Dia peluk Ade dan dia elus-elus kepalanya.


“Adel takut, bu” jawab Adel sambil menangis.


“Nduk. Nggak ada yang bisa mengelak dari maut. Kita juga akan mengalaminya. Bukannya ibu nggak sayang sama bapak. Tapi yang terbaik buat bapak sekarang adalah, mengiklaskan keadaanya. Kita harus iklas jika memang sudah waktunya untuk bapak pulang ke hadirat Tuhannya” kata bu Lusi menjelaskan.


Adel semakin kencang menangis. Dia seperti kehabisan kata-kata. Dalam pikirannya, berputar kembali kenangan masa-masa kecilnya. Masa-masa dimana dia merasa bahagia bersama bapaknya. Digendong, dipanggul, dibopong terbalik bagaikan superman terbang. Sangat terasa kasih sayang bapaknya. Dan sebenarnya dia masih merasakan itu hingga dewasa seperti sekarang. Walaupun caranya sangat berbeda dibanding dulu.


“Apa semuanya udah siap, bu?” tanya Adel, setelah reda tangisnya.


Sontak bu Lusi terkejut dan melepaskan pelukannya.


“Nduk? Apa kamu udah iklas nerima permintaan bapak?” tanya bu Lusi. Dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.


“Iya, bu. Demi bapak, Adel akan lakukan apapun” jawab Adel.


“Tapi pernikahan bukan mainan seperti pacaran”


“Adel tahu, kok. Adel tahu, ibarat kata seumur hidup Adel akan sengsara, kayaknya belum cukup mengganti kasih sayang bapak selama ini. Apalagi sama ibu. Enggak janji aja, ”


“Ibu nggak mau maksa kamu lagi, nduk. Pikirkan dulu mateng-mateng!” potong bu Lusi.


“Time is running out, mom” tegur Adel.


Bu Lusi terkesiap. Tatapan mata putrinya itu terasa sangat berbeda. Dia merasa ada kepasrahan di dalam sorot mata itu.


“Iya, iya. kalo gitu, kita jemput penghulunya” jawab bu Lusi.

__ADS_1


Bu Lusipun mengajak Adel keluar dari ruang rawat. Bu Lusi ingin Adel mengistirahatkan tubuhnya. Sudah terlalu letih tubuh itu dipaksa menghadapi berbagai kenyataan pahit. Adel menuruti permintaan ibunya. Dalam hati dia mengakui kalau tubuhnya terasa lemas.


__ADS_2