
“Kembalilah, ngger! Jalankan kewajibanmu! Nggak usah mikirin urusannya Gusti Alloh! Nggak bakal nyampe, otakmu”
Budi tergelak mendengar akhir ucapan bapaknya. Dia juga manggut-manggut setuju. Karena memang benar, tidak akan sampai pikiran kita, memikirkan ilmunya Gusti Alloh.
“Tuh, udah dijemput”
Sontak Budi menoleh ke arah yang ditunjuk bapaknya.
PLAK
“AAA”
Budi terkejut mendapat tamparan di pipi kirinya. Dan seketika pandangan matanya menjadi gelap.
“AAAA”
Budi merasa seperti meluncur turun dari atas langit. Tapi tak terlihat sama sekali, dia ada dimana, meluncur kemana, di bawahnya ada apa juga tidak terlihat.
“Heeeeeekkkk”
Terdengar suara tarikan nafas berat.
“Alhamdulillah” seru Erika, bersyukur.
Serta-merta dia memeluk tubuh Budi. Tangisnya pecah, mendapati Budi bisa bernafas lagi.
“Ka. Jangan dikekepin dulu! Masih ngap-ngapan, dia”
Suara Sephia sontak membuat Erika menarik diri. Dia lantas memindai tubuh Budi dengan kedua matanya.
Budi tampak bingung, melihat semua pasukannya berkumpul mengerumuninya. Dia juga bingung, mengapa Erika menangis. Di kepalanya Erika juga dia lihat banyak goresan dan sayatan yang belum diobati.
Butuh beberapa saat buat Budi untuk mengingat apa yang baru saja terjadi.
“Astaghfirulloh, Ka. Kamu nggak papa, kan? Nggak tembus, kan?” tanya Budi panik, saat sudah mengingat apa yang telah terjadi.
Dia ingat, ada sebutir peluru menyasar dada Erika sebelum mobil yang mereka kendarai terbalik. Sampai terduduk saking kagetnya.
“Ya Alloh, mas. Kok mikirin aku, sih? Kan mas Budi yang dari tadi nggak ada napasnya. Aku pikir, aku pikir, huuuuuuuu”
Erika memeluk Budi lagi. Tangisnya pecah lagi di pundak Budi.
“Udah. Aku nggak papa, kok” hibur Budi, sambil mengelus-elus punggung Erika.
“Eh. Sniper tadi, apa kabar?” tanya Budi.
“Baik. Nitip salam, dia. Entar malem minta ditahlillin”
Budi menoleh ke orang yang menjawab itu. Wajah yang belum terlihat semenjak pagi. Ya, dialah si Petir. Dia tergelak saat Budi tersenyum.
Budi mencoba berdiri. Dia sebar pandangan ke seluruh penjuru mata angin. Rasa sedih, marah, ingin teriak, ingin mengumpat, berkumpul menjadi satu di dadanya.
Mengapa harus dia yang merasakan ini semua? Itulah pertanyaan terbesar di kepalanya. Hatinya semakin sedih saat menatap galerinya.
Dari depan, tampak galeri sudah hancur. Semua yang dipajang, sudah tak berbentuk lagi. Tembok depannya runtuh, bahkan tembok belakang galeri banyak yang berlubang akibat diterjang peluru helikopter. Budi tertegun melihatnya.
Dari jauh, terdengar sirine dari iring-iringan mobil. Tampak mobil kepolisian mendekat. Ada juga mobil bercat hijau khas angkatan darat.
Lagi-lagi Nungki. Dia selalu hadir. Dia mendekat bersama perwakilan dari kodim kota ini. Si cobra yang menyambut mereka. Dia yang menjelaskan apa yang baru saja terjadi di tempat ini.
Walaupun ikut bertanya banyak, tapi Nungki juga rupanya membantu si Cobra, saat komandan kodim itu menanyakan banyak hal tentang ketidakwajaran tugasnya. Pada akhirnya komandan kodim itu mengerti.
__ADS_1
“Dimana para mutiara?” tanya komandan kodim itu.
“Di tempat perlindungan, pak” jawab si Cobra.
“Keluarkan!” perintah komandan kodim itu.
Si cobra meminta persetujuan Budi. Budi mengangguk setuju. Cobrapun memerintahkan Hind untuk menjemput bu Ratih dan yang lain. Tak lama kemudian mereka telah berkumpul di halaman depan.
“Lebih baik, kalian ikut kami ke kodim. Tempat kalian sudah tidak layak. Kami punya beberapa mes yang belum ditempati” saran komandan kodim itu.
“Maafkan saya, komandan. Bukannya saya menolak tawaran komandan. Tapi berkaca dari kejadian ini, maafkan saya jika saya sulit percaya sama orang lain” sahut Budi.
“Ya ya ya. Lalu kamu mau tempatin keluargamu ini dimana? Di kodim lebih aman. Aku nggak ada urusan sama bandar-bandar itu”
“Bapak benar. Tapi bapak tidak mungkin melawan atasan, kan? Apa selevel bapak bisa mengirimkan heli serbu, lengkap dengan pasukan setingkat raider?” tanya Budi.
Komandan kodim itu terkesiap. Di dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan Budi.
“Terus, kalian masih akan tinggal di sini? Dengan tempat yang tidak layak ini? Belum lagi, akan banyak wartawan maupun masyarakat yang akan datang. Pasti nggak nyaman”
“Tawaranku juga masih berlaku, mas Bud” sahut Nungki.
“Dengan segala hormat komandan, bukan maksud saya membusungkan dada” lanjut Nungki, tertuju pada komandan kodim itu.
“Nggak papa. Goalnya kan membantu mereka. Aku cuman khawatir kalo mereka masih tetap di sini” jawab komandan kodim itu. Nungki mengangguk tanda setuju.
“Terimakasih atas tawarannya, komandan. Dengan segala hormat. Bukan bermaksud kurang ajar, tapi saat ini, saya masih lebih percaya pada rekan saya ini, ndan” kata Budi.
“Ya nggak papa. Silakan aja! Aku nggak tersinggung, kok. Aku pernah ngerasain ketakutan yang sama semasa di Aceh dulu” sahut komandan kodim itu.
“Kamu hebat. Tapi ini semua menyalahi aturan” lanjut komandan itu sambil menunjuk dua senapan mesin berat di depan bengkel kayu Budi.
“Maaf Ndan, ” sela si Cobra.
“Bangunan, bisa dibangun lagi. Tapi karir kalian, belum tentu. Cari aman aja! Toh nanti mereka akan evakuasi ke polres” potong komandan kodim itu.
Cobra menatap Budi, meminta persetujuannya. Budipun menganggukkan kepalanya, pertanda setuju.
Merekapun akhirnya membereskan semua senapan mesin berat yang ada di bengkel kayu Budi. Mereka masukkan kembali ke atas truk.
Di depan galeri, tim dari kodim dan polres bekerjasama membereskan mayat-mayat dari tentara yang menyerang bengkel kayu Budi.
Banyaknya wartawan yang datang membuat Nungki meminta Budi untuk segera melakukan evakuasi. Dengan berat hati, Budi harus mengiyakan permintaan Nungki.
“Aku nggak bisa ikut, mas” kata Erika lirih.
“Kenapa?” tanya Budi bingung.
Erika tidak menjawab. Tapi dari sorot matanya, Budi tahu apa yang dia maksudkan.
“Kita ngobrol di save house”
Perhatian mereka teralihkan oleh suara Nungki.
“Save house?” tanya Budi, bingung.
“Tempat paling aman” jawab Nungki.
Budi tidak langsung menyahut. Dia merasa aneh dengan jawaban itu. Rasa curiganya kembali menghinggapi hatinya.
“Jantungku di kiri, mas. Sama seperti Erika” lanjutnya.
__ADS_1
Erika melotot mendengar ucapan terakhir Nungki. Tapi dia tidak protes. Karena dia paham, itu sama saja dengan ungkapannya, bahwa Nungki tidak sedang menjebak mereka.
“Good idea, baby” komentar Budi.
Erikapun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Menjelang maghrib, mereka semua dievakuasi dari bengkel kayu Budi.
***
Bukannya ke polres, ternyata mereka dievakuasi menuju desa sidodadi. Nungki telah menyewa rumah salah satu warga desa itu. Dan ternyata pemilik rumah itu adalah adiknya bu Maryati, alias buleknya Icha.
Rumah itu bersanding dengan rumahnya Hasan, mantan pimpinan sayap timur di masa Budi berkuasa. Membuat Budi sedikit merasa lebih aman. Terlebih Hasan masih menyatakan kesetiaannya pada Budi.
Setelah sholat maghrib, Erika tampak gelisah. Di wajahnya tergambar kemarahan yang dia tahan. Dia mondar-mandir di teras rumah. Teguran dari petugas jaga tak dia hiraukan.
“Kamu kenapa, Ka? Gelisah banget, keliatannya”
Suara Nungki membuatnya berhenti mondar-mandir.
“Aku harus pergi dari sini, Nung. Aku masih punya urusan” jawab Erika.
“Tugasmu itu di sini, bukan nindak yang di sana” kata Nungki mengingatkan.
Dari belakang, Budi mendekat dengan perlahan.
“Pertahanan terbaik adalah menyerang. Kamu tahu itu”
“Udah ada yang ditugasin buat itu”
“Nggak” sergah Erika.
“Ini urusannya nyangkut sama urusan pribadiku. Selama ini kalian jahat sama aku. Masalah segede ini kalian sembunyiin dari aku. Dan sekarang kamu masih pede ngatur aku?” lanjut Erika.
“Terus, mau kamu apa? Ke sono sendirian, nyetor nyawa, gitu?”
“Whatever”
“Istighfar, Ka! Jangan grabag grubug! Yang bakal kamu adepin, lebih dari yang tadi kalian adepin. Mustahil kamu slamet kalo sendirian”
“Huufffttt”
Erika menghela nafas berat. Dia merasa gusar dengan kenyataan yang dia hadapi.
“Udahlah, Ka! Biarin yang lain yang nanganin si Bejo! Kamu diem di sini, tenangin diri! Kalo kamu mau, aku bisa siapin pernikahan kalian”
Erika tersita perhatiannya mendengar kata pernikahan. Tapi dia segera menyadari, bahwa itu hanyalah trik Nungki untuk menenangkannya.
“Kenapa nggak kamu masukin aku ke ‘yang lain’ itu?” tanya Erika. Nungki mengernyitkan keningnya.
“Kalo ‘yang lain’ itu ada satu SSK, cukuplah” lanjut Erika.
“Oke oke oke oke. Kamu di sini dulu! jangan aneh-aneh!” jawab Nungki.
Lalu Nungki pergi keluar halaman rumah, lalu belok kanan ke arah jalan utama di depan sana.
Tanpa dia sadari, Budi mendekatinya. Di belakangnya, Putri dan Madina mengikuti. Dia terkejut, saat balik kanan, dan hampir menabrak tubuh Budi.
Adel mengawasi mereka dari dalam rumah, dan merasa aneh dengan gelagat Erika.
Erika bertanya-tanya dalam hati, sudah berapa lama Budi ada di belakangnya? Apakah Budi mendengar semuanya? Mereka saling menatap untuk beberapa lama.
“Identifie your self!” perintah Budi.
__ADS_1