
Ini bukan kali pertama Erika membonceng ke Budi. Momen pertamanya adalah ketika dia diantar pulang setelah makan siang bersama, setibanya dari Jerman. Walau bukan yang pertama, tapi Erika merasakan debaran lain di dalam hatinya.
Kenapa sekarang gua kaya bocah, ya? Deg-degan gini hati gua
Erika memandang ke arah spion kiri Budi. berharap dia bisa melihat wajah tampan dengan senyum misterius itu. Tapi naas, ternyata Budi juga sedang melihat ke arah spionnya.
Niat hati ingin melihat kondisi jalan di belakangnya, Budi malah kaget karena malah wajah Erika yang muncul. Sontak dia tergelak, melihat Erika menarik kepalanya, bersebunyi di balik helmnya.
*Ya Alloh. Mungkinkah dia jawaban atas keluh kesahku belakangan ini? Apakah Engkau hadirkan dia untuk menggantikan yang telah pergi? Tapi ingatanku pada dia yang telah pergi masih terlalu pekat, ya Alloh. Ringankanlah rasa sakit di hatiku ini, ya Alloh! Hanya Engkau sebaik-baik penyembuh*.
Erika tertegun saat melihat kembali ke arah spion. Dia melihat Budi fokus melihat jalan, tapi dia merasa kalau sebagian pikiran Budi melayang entah kemana.
Kernyitan keningnya terlalu terlihat, menandakan dia sedang memikirkan sesuatu. Diapun memeluknya.
Budi tersentak merasakan pelukan di tubuhnya. Dia melihat ke arah spion. Ada sebuah senyum merekah di bibir Erika. sejurus kemudian, Erika mengelus-elus dadanya. Dia menghela nafas berat. Dia merasa tidak enak hati mengetahui Erika menyadari kegalauannya.
Sesampainya di tujuan, Erika menelepon pak Paul. Dan dia diarahkan untuk menuju ke halaman belakang resort itu.
Sejenak Budi termenung. Ingatannya kembali melayang pada momen pembukaan resort ini. Adel yang mengajaknya ke sini. Dan mereka berduaan di halaman belakang menikmati mentari pagi.
*Ya Alloh. Harus berapa kali lagi aku menghadapi kenanganku sama dia, sampai aku terbiasa dan merasa biasa saja*?
“Mas?” tegur Erika.
“Oh. Ya. Sori” jawab Budi tergagap.
Erika menepuk-nepuk pelan pundak Budi, lalu menggandengnya untuk berjalan menuju tempat yang ditunjuk pak Paul.
*Aku akan selalu di sampingmu, Mas. Di setiap kenanganmu dengan Adel, akan ada aku di sana. Dan perlahan, aku akan penuhi benakmu dengan hal-hal indah bersamaku*.
Beberapa kali Erika melirik ke arah Budi. Dan setiap kali itu pula Budi juga melirik ke arahnya. Dia berikan Budi senyuman indahnya. Yang pada akhirnya berbalas senyum juga.
“Loh?”
Budi terkejut saat sampai di tempat yang dituju. Karena bukan hanya pak Paul yang ada di sana, melainkan ada ibunya, adiknya, dan juga Zulfikar. Mereka melambaikan tangan padanya. Setali tiga uang dengan Budi, Erika juga merasa kaget sekaligus bingung.
*Ada apa ini*?
Pak Paul datang menghampiri keduanya. Dia mempersilakan keduanya untuk masuk ke sebuah saung. Walau masih kebingungan, tapi Budi tidak bisa menolak perintah halus itu.
“Kok bisa ada ibu sama kamu, Put? Kamu juga, Zul?” tanya Budi setelah menyalami semuanya.
Dia duduk di sebelah kanan ibunya. Erika mengambil tempat di kanannya, pak Paul berada di sebelah kanan Erika, berhadapan dengan bu Ratih. Dan Putri berhadapan dengan kakaknya, berdampingan dengan kekasihnya.
“Memang sengaja, Bud. Mumpung lagi pada bisa” sahut pak Paul.
Budi menoleh ke big boss nya dengan tatapan penuh tanya. Sedangkan pak Paul tersenyum melihat Budi menuntut jawaban lebih.
“Pak Paul ini, pengen berkenalan lebih jauh dengan keluarga kita, Bud” bu Ratih angkat bicara.
“Maksud ibu?” tanya Budi semakin tak mengerti.
“Eem” bu Ratih bingung harus dari mana menjelaskannya.
__ADS_1
“Lebih tepatnya sih ibu, mas” sahut Putri.
Budi termenung beberapa saat,mencoba menganalisa ucapan Putri.
“Hempf”
Budi tergelak menyadari maksud dari kalimat Putri.
“Gitu amat, ketawanya?” seru bu Ratih, sambil mencubit pinggang Budi.
“Ha ha ha ha”
Budi malah semakin kencang tertawanya. Membuat yang lain juga ikut tertawa. Mereka paham mengapa Budi tertawa geli.
“Ini aku yang punya inisiatif, Bud. Aku yang pengen kenal dengan ibumu” kata pak Paul.
Kalimat itu sontak menghentikan tawa Budi. Namun masih menyisakan senyum lebar.
“Kaya kamu dulu. Aku sampe nggak bisa tidur. Dua malem” lanjut pak Paul.
“Nah loh. Abis dikelonin juga, pak? Ha ha ha ha” sahut Budi.
“Dikelonin siapa?” tanya bu Ratih terkejut.
“Mbak Kun” jawab Budi asal, sambil tertawa lebih lepas.
“Mbak Kun Siapa?” tanya bu Ratih lebih serius lagi. Pak Paul jadi salah tingkah.
“Kuntilanak, bu” celetuk Erika, menengahi ketegangan bu Ratih dan pak Paul.
“Ha ha ha ha”
Budi terus tertawa. Dia merasa semakin geli melihat ekspresi wajah ibunya.
“Kok bisa kuntilanak? Gimana ceritanya?” tanya bu Ratih lagi. Tapi kali ini sambil dengan tertawa.
“Mas Budi, pernah telat kerja, bilangnya ada yang menghantui. Kata Aldo, dihantui kuntilanak. Ha ha ha” jawab Erika.
“Loh. Emang kapan kamu telat kerja, ngger?” tanya bu Ratih.
“Pas kita tinggal dulu itu kali, bu” sahut Putri.
“Oh. Yang abis subuh tidur lagi itu?”
“Iya” jawab Budi sambil tersenyum malu.
“Emang rumah kita ada hantunya?”
“Bukan hantu, ibu” seru Putri.
Semua tertawa mendengar seruan Putri.
“Kenapa ibu jadi polos lagi, sih?” lanjut Putri.
__ADS_1
“Ya terus?” tanya bu Ratih.
“Itu sih maksudnya, “ kata Putri menggantung.
“Ah, sudahlah! Ibu mana ngerti. Orang polos lagi, sih” lanjut Putri.
“Zul. Jewerin, Zul! Udah bisa ngeledek ibunya, sekarang” perintah bu Ratih.
“Eits. Berani?” seru Putri saat Zulfikar hendak menjewernya.
“Hempf. Ha ha ha ha”
Erika tak kuasa menahan tawanya. Melihat Zulfikar tak berkutik di hadapan Putri. Sampai beberapa saat kemudian, mereka masih saling menggoda.
“Ya kalo hanya sekedar kenalan sih, nggak papa, pak. Tapi kalo mau berlanjut lagi, ada satu perbedaan yang nggak mungkin bisa disatuin” kata Budi.
“Wah. Tumben intelnya mas Budi kalah sama intelnya mas Zul” komentar Putri.
Budi terkesiap. Sepertinya ada yang terlewat olehnya. Tapi buatnya itu wajar, karena pak Paul bukan subyek berbahaya yang perlu perhatian ekstra.
“Iya, deh” sahut Budi sambil tersenyum lebar.
“Eh. Kuliah dulu, lho! Kerja dulu, lho! Baru nikah, lho” lanjut Budi.
“Kok malah bahas Putri? Kan lagi bahas mas Budi. Iih, sebel” seru Putri. Sontak semuanya tertawa.
“Eh. Intel tadi, maksudnya gimana, put?” tanya Budi.
“Pak Paul udah mualaf, mas” sahut Zulfikar.
Budi terkejut mendengar jawaban itu.
Dia menatap pak Paul yang tersenyum. Tapi tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
“Allohu Akbar. Seriusan, pak?” tanya Budi.
“Iya, Bud” jawab pak Paul pendek.
“Tapi bukan semata-mata karena ibu kan, pak?"
Suasana jadi berubah kaku saat Budi melontarkan pertanyaan itu. Pak Paul tampak sedikit canggung mendengar pertanyaan spesifik itu.
“Bukan. Aku udah lama goyah di keyakinanku yang dulu. Sering aku membandingkan ajaran agamaku dulu dengan ajaran Islam. Banyak hal yang aku pertanyakan, justru malah para kyai yang bisa menjawabnya. Bukan dengan dalil lho, baru pakai logika saja. Saat logika itu aku tanyakan pada pemuka agamaku dulu, yang ada aku cuman disuruh nerima. Kalo dulu saat aku masih jadi kamu, denger orang bilang suruh nerima aja, aku selalu bilang kalo orang itu punya kesalahan. Paling tidak, dia tidak punya jawaban atas pertanyaanku. Dan di kemudian hari, terbukti kalo orang itu memang bermasalah. Kalo satu orang, mengaku ahli agama, ditanya hal-hal dasar tentang agamanya tidak bisa menjawab, kan aku jadi bertanya-tanya, Bud. Bener nggak sih, yang aku yakini ini? Dan pada akhirnya, aku mantep untuk jadi mualaf. Kemarin sore, di masjid raya kabupaten” jawab pak Paul panjang lebar.
“Alhamdulillah” ucap Budi senang. Dia menyalami pak Paul sebagai ekspresi senang.
“Jadi bukan semata-mata karena ibu ya, pak?” tanya Budi.
“Bukan” jawab pak Paul.
“Alhamdulillah”
“Saya hanya takut aja, pak. Kalau pada akhirnya bapak nggak berjodoh dengan ibu saya, bapak balik lagi ke agama bapak yang sebelumnya, ibu saya bisa kena getahnya, pak. Saya nggak mau itu, pak” lanjut Budi.
__ADS_1
“Iya, Bud. Aku paham, kok”