
Sejak di daulat manjadi ketua tim ekspo eropa, Budi menjadi lebih sibuk. Sebelumnya saja sudah menjadi sangat sibuk karena mendapat limpahan pekerjaan dari Erika, sekarang mendapat satu tugas tambahan lagi. Belum lagi sekarang bengkel kayunya sendiri juga sudah mulai beroperasi.
Sudah beberapa hari ini Budi selalu bangun jam tiga pagi. Alih-alih sholat malam, Budi malah sibuk membersihkan rumahnya. Dia kerjakan apa yang menjadi tugas adiknya. Termasuk menyiapkan perbekalan yang akan dibawa ibunya ke pasar.
Saat adzan subuh berkumandang, saat adik dan ibunya terbangun, semua sudah selesai dia kerjakan. Selesai sholat subuh, dia langsung pamitan. Dia serahkan tugas mengantar dan membantu ibunya di pasar kepada Putri.
Bu Ratih sempat terharu melihat semangat putranya. Keinginan Budi untuk mengibarkan bendera sendiri tak lantas membuatnya lupa dengan tanggung jawabnya terhadap ibunya. Dia rela mengurangi jam tidurnya demi menyicil tugas hariannya.
Keberangkatan Budi selalu teriring dengan doa dari ibu dan adiknya. Bukan ke pabrik, masih terlalu pagi untuk pergi ke pabrik. Ya, tujuan pertamanya adalah bengkel kayunya sendiri, di watu karung. Dia ingin memastikan langsung, bahwa apa yang dihasilkan hari kemarin sesuai dengan yang diinstruksikannya.
Setelah memastikan pekerjaan kemarin berjalan sesuai rencana, dia lantas membuat perencanaan untuk target-target yang harus diselesaikan. Target besar yang menyita banyak tenaga dan pikiran adalah produk yang akan dia ikutkan seleksi, bersaing menuju pasar luar negeri.
Ketika jam menunjukkan pukul tujuh, kang Supri dan kawan-kawan datang. Budi langsung memimpin briefing pagi. Dia sampaikan apa yang menjadi targetnya hari ini.
Sedari awal, Adel selalu melibatkan diri di bengkel kayu ini. Termasuk dalam hal briefing pagi. Walaupun dia tidak hadir secara fisik, tapi dia selalu mengikuti secara daring. Dia memposisikan diri sebagai sales / marketing. Biasanya agak siangan dia baru datang untuk membuat foto atau video promosi.
Budi selalu menyampaikan kepada kang Supri dan yang lain agar sopan terhadap Adel.
Pagi ini kang Supri memuji Adel. Kata dia, Adel sudah cocok sekali menjadi istrinya. Punya kesamaan visi dan strategi untuk mencapai visi itu. Adel juga dinilai punya rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memajukan bengkel kayu ini. Segala bentuk promosi dia buat. Termasuk berkeliling untuk mempromosikan secara langsung produk-produk yang sudah jadi. Dan setiap kembali ke bengkel kayu, selalu dia memiliki minimal satu kesepakatan dengan salah satu pemilik resort.
Tiba di pabrik, dia langsung berpacu dengan waktu. Dia menargetkan, bahwa semua strategi proses produksi sudah berjalan maksimal di jam sepuluh pagi. Karena dia sudah mematok, dua jam berikutnya akan dia gunakan untuk mengkoordinasikan tim ekspo.
Tim yang dibentuk Budi dan Farah, langsung disetujui pak Paul. Hari itu disetujui, hari itu juga mereka langsung bekerja. Budi langsung melakukan pembagian tugas dan merancang agenda kerja berdasarkan informasi-informasi yang telah didapatkan oleh tim marketing.
Dia membangun kerangka kerja stage demi stage seperti sebuah game. Dimulai dari stage pertama, syarat yang harus dipenuhi jika ingin ikut mendaftar ekspo tersebut. Berlanjut ke hal-hal yang lebih kompleks.
Tugasnya sebagai HRD sama sekali belum bisa dia pegang. Beberapa masalah di lapangan membuatnya harus bolak-balik mengurusi dua hal sekaligus. Barulah setelah jam kerja selesai, dan semua target pengiriman tercapai, Budi bisa mulai mengerjakan pekerjaannya sebagai HRD. Tak cukup satu jam atau dua jam untuk menyelesaikannya.
Seperti biasa, sampai malam menjelang, Budi masih berkutat dengan komputernya. Sama sekali dia tidak merasa iri, sekalipun kedua temannya sudah sedari sore pulang duluan.
KRIEEET
“Loh, Bud. Belum balik?” Sebuah teguran mengalihkan perhatiannya.
“Nyapa apa nyindir?” sahut Budi, setelah tahu siapa yang bertanya.
“Udah tiap hari kan sekarang, pulang malem?” lanjut Budi.
“He he. Iya, sori. Aku pikir udah balik. Emang masih ngerjain apa?”
“Ya, biasa. Laporan buat mbak Rika” jawab Budi.
“Kemarin perasaan udah sampe laporan buat pak Paul deh, jam segini?” tanya Erika sambil melihat jam tangannya.
“Tadi mesin lasnya trouble. Orang maintenance udah dikasih tahu orang produksi, nggak buru-buru disamper. Mentang-mentang yang bilang cuman helper. Ya lama, down timenya. Aturan udah langsam, aku bisa pegang paper, ini masih pake segala ngudak-ngudak orang maintenance” jawab Budi.
“Wah, nggak bener itu. Jadi catatan itu, Bud” komentar Erika.
“Udah gitu mbak, gergaji pake segala abis. Pake beli dulu. Tahu sendiri mbak Isma orangnya gitu, pake diomelin dulu. Aku nggak tahu apa-apa, aku yang disemprot” lanjut Budi.
“Ha ha ha ha”
__ADS_1
Erika tertawa mendengar kelanjutan cerita Budi. Seperti kemarin-kemarin, kalau malam masih di kantor, dia melepas baju seragamnya.
Tapi kali ini dia tampak lebih berani. Bukan kaos lagi, kali ini dia hanya menggunakan tanktop sebagai pelapis seragamnya. Warna hitam tank top itu terlihat sangat kontras dengan putih mulusnya kulit tubuhnya.
“Udah dapet duitnya, pick upnya jalan, udah dapet, eh kena razia gabungan. Dikandangin, deh” lanjut Budi lagi.
“Loh, bukannya lengkap surat-suratnya?” tanya Erika kaget.
“Ya. Pajak STNK masih aman, tapi KIR? Kelewat seminggu” jawab Budi.
“Astaga. Kok bisa teledor gitu, sih?” komentar Erika.
“Alasannya udah ngajuin, tapi duitnya belum ada”
“Kapan ngajuinnya?”
“Minggu kemarin” jawab Budi sambil tergelak.
“Lah, sama aja boong”
“Itu dia, mbak. Makanya aku belum kelar, nih”
“Ya udah, aku bikinin kopi, ya?” tawarnya.
“Aduh. Makasih mbak, nggak usah. Takut keterusan” tolak Budi, halus.
“Halah, nggak tiap hari ini” sanggah Erika.
Dia tetap pergi membuatkan kopi untuknya dan juga Budi. Budi tersenyum. Dalam hati dia malah senang mendapatkan perhatian dari atasannya. Jarang-jarang ada atasan baik seperti ini.
“Hem?”
Budi yang sedang fokus dengan laporannya, tidak mendengar sepenuhnya apa yang dikatakan Erika. Tapi melihat cangkir mengepul di hadapannya, membuatnya paham.
“Makasih, mbak” kata Budi. Dia raih cangkir itu lalu menyerupunya sedikit.
“Gimana statusnya mengenai pengembangan doktrin?” tanya Erika.
Budi menoleh padanya. Erika yang hari ini menggunakan rok span dua senti di atas lutut, memberikan pemandangan yang menyegarkan mata. Terlebih dengan posisi dia bersandar ke belakang, dan kaki kanan disilangkan di atas kaki kirinya. Walau sedikit, tapi paha mulusnya sukses menggoda mata Budi.
“Eem”
Budi tampak berpikir dulu. Ingatannya tentang doktrin itu sempat terpendam. Dan butuh beberapa saat untuk memanggilnya keluar.
“Buat aku, yang paling penting untuk ditanamkan dalam keseharian masing-masing karyawan adalah communication dan sense of urgention” jawab Budi.
“Eemm. Dasar banget, itu” komentar Erika.
Gerakannya sukses mengacaukan fokus penglihatan Budi. Pupil Budi bergerak turun-naik.
“Ya. Aku pikir skema pelaporan problem, pengadaan barang, dan tindakan terkait itu, sudah berjalan otomatis. Nggak tahunya masih acak adul”
__ADS_1
“Gokil. Yang kaya gitu aja masih kamu bilang acak adul?”
Komentar itu Erika barengi dengan gerakan memperbaiki posisi duduk. Gerakannya yang terkesan reflek seperti ingin tertawa, ingin lompat, malah menjadi blunder.
Tak hanya sedikit. Walau hanya sepersekian detik, tapi keseluruhan kaki jenjangnya terekspos dengan vulgarnya. Sampai secarik kain nan jauh di sana juga terlihat jelas di mata Budi.
“Satu lagi yang berkaitan, ownership” kata Budi. Dilanjutkan menyeruput kopinya lagi.
“Ownership? Rasa memiliki seperti halnya pemilik perusahaan” sahut Erika. Kali ini dia membungkuk. Dia sedang memperbaiki tali sepatunya.
“Ya” jawab Budi.
Karena Erika hanya memakai tanktop, praktis apa yang sedari tadi dia sembunyikan dibaliknya, seolah tumpah ingin keluar. Menjadi sajian penyegar mata berikutnya.
“Harusnya semua karyawan memiliki rasa memiliki, seolah apa yang menjadi tanggung jawabnya adalah hartanya sendiri, bukan harta perusahaan gitu lho. Area kerjanya adalah perusahaannya. Dan proses selanjutnya adalah customernya” lanjut Budi.
“Hem. Ya, itu emang belum membumi di sini” komentar Erika. Tubuhnya kembali tegak, dan kakinya kembali bersilang.
“Kalo mereka tahu gimana rasanya dimaki-maki customer, pasti mereka nggak akan ngebiarin waktunya hilang tanpa ada hasil” kata Budi. Gerakan sensual Erika semakin mengganggu pikirannya.
“Maksudnya?”
“Ya. Kalo terjadi masalah sama mesin atau alat yang mereka pakai untuk bekerja, kalo mereka tahu rasanya dimaki-maki orang, pasti mereka bakal ngejar sama orang yang tugasnya ngebenerin mesin dia. Kalo perlu tungguin. Atau bahkan mencak-mencak kalo disepelein kaya tadi. Bukannya kesenengan. Karena dia pasti mikir, kalo sampe nggak achieved, pasti dimaki-maki lagi”
“Oke” komentar Erika sambil tersenyum lebar.
Senyum itu kini menggetarkan hati Budi. Dia merasa aneh, setelah beberapa kali menyeruput kopi tadi, badannya jadi terasa panas dingin. Ada yang perlahan menegang.
“Begitu juga sama operator bench saw. Normalnya, dia kejar terus PIC consumable. Kasih jedanya lima menit aja. Tanyain terus tiap lima menit. Biar orangnya tu aware . Biar dia tahu kalau barangnya itu darurat banget”
“Iya, bener itu” komentar Erika.
“PIC consumablenya juga harusnya bisa ngebaca, satu mata gergaji itu bisa kepake berapa lama, proses permintaan itu berapa lama, sampe barang dateng itu berapa lama. Selama ini keenakan karena ternyata dikasih prioritas nomer satu terus sama mbak Isma. Kapan aja minta, duitnya udah disiapin. Giliran prioritasnya digeser, kalang kabut”
“Oh, ya? baru tahu, aku”
“Truk juga gitu. Mentang-mentang dishub belum pernah razia KIR, main sepelein aja. Harusnya PIC nya kan punya jadwal dari tiap-tiap mobil. Kapan bayar pajak, kapan KIR, kapan servis. Itu kan cuman pengulangan rutin. Gitu juga, dol semua. Nggak ada jadwal sama sekali. Gimana kalo armadanya ada seratus?”
“Ha ha ha ha” Erika tertawa mendengar kata, dol.
“ Temuan yang bagus, Bud” komentar Erika sambil menulis pada buku catatannya.
“Gimana kalo tanggal ini kita meeting lagi buat ngebahas ini?” lanjut Erika sambil menggeser kursinya mendekat ke arah Budi.
Budi terkesiap. Syahwatnya yang sedang meninggi malah mendapat godaan seorang wanita cantik nan seksi. Semakin panas dingin dia merasakan hawa harum parfum bercampur aroma keringat dari tubuh Erika. Terlebih saat Erika menunjukkan catatannya, gunungan itu terlihat lagi dari atas.
“Hei. Kok bengong?” tegur Erika.
“Ha? Oh, emm, eng, enggak” jawab Budi tergagap. Erika tertawa. Budi garuk-garuk kepala karena malu tertangkap basah.
“Biasa aja keles!” seru Erika, masih dengan tertawa.
__ADS_1
“Eem, eee” Budi hanya bisa nyengir tanpa tahu harus menjawab apa. Erika mendekatkan wajahnya ke wajahnya Budi.
“Emang Adel nggak pernah kasih liat?” godanya.