
Malam, selepas maghrib, mereka bertiga baru saja menyelesaikan makan malam. Hanya bertiga, yang lain sudah pulang menjelang maghrib tadi. Bu Ratih terus menatap putra sulungnya. Perasaan aneh itu masih terus menghantuinya. Pertanyaan kenapa, masih belum mendapatkan jawaban. Bukannya tidak tahu, Budi masih mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan ibunya itu.
“Budi mau kerumah Adel, Bu” kata Budi membuka suara.
“Apa?” justru Putri yang merespon dengan kencangnya.
“Ya. Mas Budi mau ke sana” jawab Budi.
“Mas, jangan konyol, deh. Ngapain juga ke sana?” tanya Putri.
“Mas mau nanyain maunya Adel. Kalo emang udah benci sama mas Budi, ya udah. Bubar aja. Just it”
“Udah dimaki-maki kaya gitu, mas masih mau nanyain status? Masih mau nanyain maunya dia, apa?”
“Put” tegur bu Ratih.
“Ya kesel, Putri. Mbak Adel itu udah keterlaluan, mas. Masalah belum jelas duduk perkaranya, udah main ngata-ngatain orang aja. Apa masih kurang, kebencian yang dia tunjukin? Lepas aja kenapa, mas?”
Budi menghela nafas berat. Wajar kalau Putri marah. Apa yang dia katakan ada benarnya. Begitu yang dipikirkan Budi. Tapi hati memang sering tidak tersambung dengan logika.
“Mas pengen denger langsung, Put” jawab Budi.
“Itu sama aja cari perkara, mas. Bisa jadi kedatangan mas Budi mereka jadikan alasan buat merkarain mas Budi. Bakal panjang urusannya mas”
“Ya. sekeras-kerasnya penjara, mas udah pernah ngerasain. Dan mas yakin, mas bisa bertahan”
“Mas” potong Putri.
“Tapi kamu harus tahu, Put, mas kesiksa sama perasaan model begini. Mas Budi kacau, Put. Banyak yang nggak bener dari kemarin-kemarin. Paling kacau, hari ini. Bener-bener, sering banget mas Budi ngeblank” lanjut Budi memotong ucapan Putri. Putri terkesiap.
“Mas Budi nggak bisa minta yang lain buat maklum terus. Nggak selamanya juga pak Paul bakal ngasih mas Budi kelonggaran.” Lanjut Budi lagi.
Putri memandang ke arah ibunya. Meminta pendapat lewat tatapan matanya. Budi sendiri menutup mukanya karena mulai merasakan pusing.
“Mas Budi nggak akan anarkis, kok” kata Budi. Putri dan bu Ratih menoleh ke arahnya.
“Mas Budi cuman butuh ucapan dari Adel. Ibarat pernikahan, ada talak. Udah” lanjut Budi.
“Huffftt. Kok Putri nggak yakin, ya?”
“Kok Bisa?”
“Mas Sandi udah di sana, mas” jawab Putri.
“Sandi? Darimana Putri tahu?”
“Kalo Madin aja pulang dikawal sama si Palu. Masa iya, mas Sandinya masih kontra sama mbak Adel? Pasti udah di sana, lah”
“Jangan Su’udhon!” tegur Budi.
“Ih. Mas Budi ya, bener-bener” sungut Putri sambil beranjak dari duduknya.
“Awas aja kalo sampe tepar dikeroyok, jangan nyariin Putri!” ancam Putri sambil memakai sendalnya, hendak pergi.
“Ibu juga bakal Putri larang buat ngerawatin mas Budi. Biar tahu rasa” lanjut Putri.
“Putri! Nggak boleh gitu!” tegur bu Ratih.
“Bodo amat” tukas Putri keras. Dia berlalu menuju galery.
Budi termenung. Bukannya menyepelekan apa yang dikatakan adiknya. Tapi perasaan itu terlalu menyiksa untuk dia tahan. Sebuah kata putus sudah cukup baginya. Atau kalau memang mau bermain hukum, dia juga siap.
Walau entah bagaimana caranya. Tapi itu cukup buat Budi sebagai penanda, bahwa Adel sudah tidak menginginkannya.
“Pergilah, ngger! selesaikan baik-baik. Jangan ada tonjok-tonjokan yang nggak perlu!” kata bu Ratih.
Budi mendongakkan kepalanya, begitu mendengar ucapan itu. wajahnya berbinar, mendapat dukungan dari ibunya.
“Mohon doa restunya, Bu” kata Budi sambil sungkem seperti tadi sore.
“Restu ibu selalu bersamamu, ngger”
Budi memeluk bu Ratih. Tangisnya pecah lagi. Terlalu penat batinnya harus bersikap sok kuat. Padahal sebenarnya sedang hancur-hancurnya.
Di balik pintu belakang galery, Putri juga sedang menangis. Dia begitu menghawatirkan keselamatan kakaknya. Dia memang marah. Itu karena dia tahu, kalau kakaknya tidak akan mau mengikuti sarannya.
Tapi jauh di lubuk hatinya, dia bangga dengan keteguhan hati kakaknya itu. Dan dia mulai mempersiapkan skenario terburuk. Salah satunya dengan menghubungi Ratna. Putri berlari kembali ke tangga depan, saat melihat Budi berjalan menuju gallery.
“Put. Mas Budi berangkat, ya?” pamit Budi. Dia sodorkan tangannya kepada Putri.
“Sono! Nekat aja, terus!” jawab Putri.
“Awas lho kalo nyariin Putri” lanjutnya. Dia menerima sodoran tangan kakaknya.
“Loh, eh?” Putri terkejut saat kakaknya malah mencium tangannya. Seharusnya kan dia.
“Maafin mas Budi, ya! Mas Budi selalu bikin Putri repot” kata Budi. Putri memalingkan wajahnya.
“Semoga ini menjadi yang terakhir” lanjut Budi.
Putri terbelalak. Kalimat terakhir itu sontak menghadirkan kehawatiran dalam hatinya.
Baginya, seorang Budi pantang mengatakan kalimat bernada menyerah. Walau artinya harapan untuk tidak merepotkannya lagi, tapi dimana ada manusia yang tidak merepotkan orang lain? Kecuali orang mati.
__ADS_1
Putri baru memalingkan wajahnya kembali saat Budi sudah keluar dari halaman bengkel kayu. Air matanya meluncur seketika. Buru-buru dia berdiri, untuk kembali ke dalam bengkel kayu.
“Ibu?”
Langkahnya terhenti saat melihat orang yang dia tuju sudah ada di ambang pintu galery.
“Ibu. Mas Budi, aneh banget, sih? Putri jadi takut, ih” kata Putri.
“Kita sholat, yuk! Kita mohon sama Alloh, agar kangmasmu selalu diberikan perlindungan” ajak bu Ratih.
“Tapi bu, mas Budi, ”
“Kita mohon sama Gusti Alloh”
Putri tak menjawab lagi. Bibirnya masih bergerak-gerak, seolah mau protes. Tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti ajakan ibunya.
***
Setibanya di rumah Adel, budi di hadang oleh beberapa preman yang dia belum kenal. Entah anak buahnya Sandi atau bukan.
Budi menjelaskan maksud kedatangannya dengan perlahan. Merendahkan diri di hadapan preman yang sok jagoan itu. Tapi ada satu preman yang berinisiatif menanyakan permohonan Budi ke dalam. Betapa terkejutnya Budi, saat preman tadi keluar kembali, ada Sandi yang datang mengekornya.
“Malem, Bud. udah sehat?” sapa Sandi.
“Ndi. Lo di sini?” tanya Budi.
“Ya. Why not?”
“Huuuffft. Oke. Aku minta ijin sama kamu, buat ketemu Adel. Sebentar aja” kata Budi.
“Sorry, Bud. Adel udah nggak mau ketemu lo lagi” jawab Sandi.
“Oke, no problem. Abis ini gua nggak akan nemuin dia lagi. Gua cuman pengen denger keputusan Adel”
“Adel udah mutusin lo” kata Sandi.
“Oke. Ijinin gua denger langsung dari dia!” pinta Budi.
“Udah cukup dari gua” jawab Sandi.
“Ndi. Cewek gua itu Adel, bukan lo” komentar Budi sambil tergelak.
“Gua juru bicaranya Adel. Dan gua pelindungnya Adel, sekarang”
“What?”
“Mendingan lo pulang deh, dan lupain Adel! Cerita kalian udah bubar” perintah Sandi.
“Gua cuman butuh denger dari Adel langsung. Paling lima detik doang”
“Apa? mau nonjok gua?” potong Budi sambil tersenyum.
“Gua nggak pernah nonjok lo Ndi, sekalipun lo terbukti ngumpanin gua ke dalam bahaya yang lo sendiri nggak mau terjun ke sana. Ini gua belum terbukti salah, Ndi. Yang lo bilang Bukti-bukti itu masih bisa gua bantah. Lo udah ngejudge gua seolah lo udah bener, aja” lanjut Budi.
“Bud. Sampe detik ini gua masih respect sama lo. Buruan pulang sebelum gua berubah pikiran!”
“Gua juga masih respect sama lo,Ndi. Makanya gua memohon. Lima detik, nggak akan ngerugiin lo, nggak akan ngerugiin Adel”
“Dengan segala hormat, Bud. pulang!”
“Dengan segala hormat juga, Ndi. Tolong panggilin Adel!”
“Bener-bener keras kepala lo, Bud” komentar Sandi.
“Oh, ya. Kalo gua gampang nyerah, lo nggak akan berdiri segagah ini, Ndi” jawab Budi.
“BANG***. HYAAAAA”
BAK BAK BAK BAK
Duel dua sahabat penguasa preman kota ini tak dapat dihindarkan. Saling lempar tonjokan, saling lempar tendangan, saling menangkis, dan juga saling menghindar.
Preman-preman lain yang menonton, minggir. Halaman rumah pak Fajar berubah menjadi arena duel dua jagoan. Dari sudut pandang ini, Budi terlihat mampu menekan Sandi.
“HYAAAAT”
DUK DAK DAK DUK PAKK PAKK PAKK DUAAKK
Luput pisan keno pisan. Itu lah ungkapan jawa yang menggambarkan mereka. Sesekali berhasil menghindar, tapi sesekali juga telat. Berbuah tonjokan maupun tendangan.
“HYAAAAA”
Saat Sandi mulai kewalahan, muncullah preman-preman lain ikut menyerang. Dimulai dari yang kroco-kroco.
Berbekal badan dan tampang saja, tak cukup mampu menekuk seorang Budi. Bahkan hanya dengan satu gerakan, satu per satu dari mereka bertumbangan langsung pingsan.
BAK BAK... BAK BAK... BAK BAK
PRATAK... BRAAAKKK.... DAK DAK DAK DAK
Muncul lagi beberapa preman dengan menggunakan senjata. Sekalipun balok kayu itu keras, tapi tak cukup untuk menumbangkan Budi.
Malah merekalah yang bertumbang. Patah tangan, patah kaki, langsung pingsan, bermacam-macam.
__ADS_1
Begitu terus. Saat Budi hendak mencapai teras rumah, selalu ada preman yang muncul dari arah bengkel kayu pak Fajar. Sepertinya ada sangat banyak orang di belakang sana. Dan Budi malah bersemangat untuk terus menumbangkan mereka.
Sudah lebh dari dua puluh orang berhasil dia tumbangkan. Yang tidak pingsan segera melarikan diri karena tulangnya ada yang patah. Tinggal beberapa preman andalan, yang dulu sering menjadi kawan berlatih Budi. Termasuk si Palu dan kaleng.
Di dalam rumah, pak Fajar sudah ketar-ketir. Dia hawatir melihat kondisi saat ini. Dia takut kalau yang terakhir ini juga bisa Budi tumbangkan.
Adel tidak bergeming melihat jalannya pertempuran itu. Walaupun Madin terus mendesaknya untuk menemui Budi barang sesaat. Tapi kebenciannya telah mengalahkan nuraninya.
Pak Fajar mengambil inisiatif untuk menelepon polisi. Mengabarkan bahwa ada orang stress yang mengamuk dan mencoba memasuki rumahnya. Dari kepolisian mengatakan akan mengirimkan anggotanya untuk menetralisir keadaan.
Budi masih berjibaku melawan preman-preman yang sama-sama kombatan. Kini dia mulai kepayahan. Sudah lebih dari sepuluh serangan dia dapatkan secara beruntun. Tapi Budi masih bisa berdiri lagi.
Pada serangan selanjutnya, Budi menemukan momen langka. Kelengahan salah satu dari lawannya. Dengan gerakan cepat dan penuh tenaga dalam, Budi meninju muka si kaleng. Si kaleng langsung tumbang tak sadarkan diri.
Perlahan tapi pasti, moral preman-preman itu mulai kendor. Terlebih saat si Palu juga berhasil ditumbangkan Budi.
Dengan kondisi cukup parah. Tangan kanan patah, dan dengkulnya bergeser. Teriakan kesakitannya, menurunkan secara drastis moral dua preman sisanya.
Tanpa Budi sangka, mereka berdua malah kabur dari medan laga. Tersisalah Sandi sendirian.
Budi yang mulai dirasuki perasaan tidak suka, semakin enjoy dengan pertempuran ini. Dia meladeni Sandi dengan rileksnya. Dia tetap tersenyum sekalipun tojokan keras sukses menghantam dirinya.
Satu tonjokan dia balas dengan satu tonjokan. Berkali-kali Sandi menjatuhkannya, tapi Budi selalu berdiri lagi. Bahkan kembali menyerang dengan lebih gesit lagi.
Lama kelamaan tenaga Sandi mulai terkuras. Dia mulai kelelahan. Ini momen yang Budi tungu-tunggu. Dia sengaja membiarkan Sandi melampiaskan kesenangannya memukuli dan menendanginya. Dengan begitu, dia lebih banyak mengeluarkan tenaga dibanding dirinya yang bertahan.
Sekarang dia balik. Setiap pukulannya, selalu berhasil membuat Sandi terhuyung-huyung. Setiap tendangannya, jegalannya, selalu sukses membuat Sandi terjatuh.
Di satu momen, seperti mengeluarkan tenaga terakhirnya. Dia menyerang dengan lincahnya. Sampai Budi harus ekstra waspada. Tapi tenaga Budi masih lebih banyak. sehingga mudah bagi Budi untuk berkelit dan balik menyerang.
Dan lama kelamaan serangan Sandi kembali mengendur. Kesempatan ini dimanfaatkan Budi untuk menyerang dengan lebih gencar. Pukulan-pukulan cepat ala kungfu dia sarangkan ke sekujur tubuh Sandi. Sehingga Sandi limbung.
“HYAAAAAAT”
Budi menarik tangan kanannya jauh-jauh ke belakang. Menyiapkan pukulan pamungkasnya.
DUAAAARRRR
CLEEPPPSSS
“AAAKKK”
Sebuah letusan keras menggema dari arah belakang Budi. Dan seketika tubuh Budi terdiam kaku. Di dalam rumah, Madina histeris saat seorang polisi menodongkan pistolnya ke arah Budi, dan letusan itu menyalak. Membuat kaos putih Budi seketika berubah merah karena darah. Budi perlahan tumbang, oleh terjangan sebutir peluru panas.
“Aaakkhhh”
Budi hanya bisa meringkuk di tanah. Sandipun ikut tumbang, walau tanpa diserang.
“GOB***. KENAPA DITEMBAK BANG***”
Terdengar suara Sandi berteriak memaki-maki polisi.
Dia berusaha bangun untuk menghampiri Budi. Tapi tenaga dia terlalu kecil untuk bergerak seketika. Dalam kondisi lemah, Budi mengambil sesuatu dari dalam katong celananya. Membuat polisi yang mendekat, waspada. Ternyata Budi mengambil ponselnya.
“PERGI BANG***! SIAPA YANG NGUNDANG KALIAN? POLISI GOB***” teriak Sandi lagi. Dia masih berusaha bangun.
“Eekh.. Huk huk huk” Budi mulai terbatuk.
Dalam buramnya pandangan matanya, Budi berusaha menekan satu nomor yang telah dia persiapkan. Di dalam rumah, Madina terkejut merasakan ponselnya berdering. Dia ambil ponsel itu.
“Mas Budi?” gumamnya. Dia terima panggilan telepon itu.
“Halo. Mas, nyerah aja, mas! Jangan diterusin, mas!” kata Madina sambil menangis.
“Din. Huk... Huk... Huk”
“Entar aja ngomongnya. Mas Budi ikut mereka aja, dulu! Biar dirawat” seru madina lagi. Tak ada yang melarang Madina. Semua seperti terpaku akibat letusan senjata api tadi.
“Mbak Adel ada?” tanya Budi. Suaranya melemah.
“Ini di samping Madin” jawabMadina.
“Tolong kencengin suaranya. Eekkhh... mas pengen ngomong satu hal sama mbak Adel”
“Iya. iya, mas” jawab Madina. Dia tekan tobol pelantang suara. Adel menoleh ke arah Madina.
“Udah, mas” kata Madina. Adel menaruh perhatiannya pada ponsel adiknya itu.
“Rodhitu billahi robbah. Wabil islamidina. Wabimmuhammadin nabiyyau wa rosuulah”
Adel terbelalak mendegar kalimat itu. Seketika ingatannya memutar momen di saat dia berjanji akan patuh pada kalimat itu.
Teringat pula momen-momen indah sebelumnya. Juga momen dimana dia mengatakan kalau mereka akan terkena fitnah. Dan meminta Budi untuk memberikan sebuah kalimat pamungkas. Sebuah kode yang menyatakan kejujuran dan keseriusan.
Berputar juga ingatan tentang penjelasan Budi,mengapa kalimat itu yang dia pilih. Yaitu tentang kepasrahan Budi akan takdir Alloh. Dan kepasrahan dirinya menerima semua keputusan yang akan Adel ambil.
“Bram” gumamnya.
Tubuh Adel bergetar saat melihat tubuh Budi diangkat polisi itu. Darah bersimbah di halaman. Pandangan matanya sesekali kabur. Dunianya serasa berputar.
“MBAK ADEEL”
Pak Fajar terkejut mendengar teriakan Madina. Reflek dia melompat mendekat dan menangkap tubuh putri sulungnya yang jatuh ke belakang, tak sadarkan diri. Bu Lusi hanya bisa berteriak histeris melihat Adel pingsan. Dengan bantuan tetangganya, pak Fajar melarikan Adel ke puskesmas.
__ADS_1
***