Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
erika vs sukron


__ADS_3

“Kalo jaringan lu nggak tahu, tebakan gua sih, itu orang-orangnya Budi”


“Heem. Bisa jadi, sih”


“Terus? Lanjut? Bisa ada biaya tambahan nih, kalo mereka sampe nguber orang gua”


“Lanjut! Terserah gimana caranya, pokoknya, ikutin orang itu! Kaya rencana semula. Mereka juga pasti nunggu dulu. Wait and see. Dan seperti kata gua tadi, kalo orang lu ketangkep, pasrah aja! Gua yang urus”


“Tawaran gua masih berlaku, Ka. Sekalian aja, kita ringkus sampe ke akarnya”


“Ha ha ha. Segitu ngebetnya lu sama gua”


“Uuuh. Emang lu primadona gua banget, Ka”


“Tapi sori. Rencana gua nggak kaya gitu. Lakukan aja apa yang udah kita sepakati!”


“Makin lu nolak, makin gua penasaran, Ka”


“Ha ha ha. Udah ah, bikin gua ge er aja. Jangan sampe gagal! Jangan sampe nyakitin orang lain!”


*Tuuut*


Tanpa menunggu jawaban, Erika langsung menutup sambungan telepon itu. Dia menghela nafas berat. Lalu dia menyiapkan jaket kesayangannya, juga sepatu andalannya. Tak lama kemudian, dia pergi lagi mengendarai mobilnya.


Erika berkendara menuju bengkel kayu Budi. Tapi bukan lewat jalur utama, melainkan melewati jalur melingkar yang buntu di hutan kecil di belakang bengkel kayu itu. Dia parkir di pinggir jalan. Dengan pistol berperedam suara terselip di pinggangnya, dia berjalan menuju hutan.


Di sisi seberangnya, kang Sukron dan ketiga kawannya tengah fokus mengamati keadaan di bagian belakang bengkel kayu Budi. Sesekali dia memonitor status kawan-kawanya yang lain menggunakan handy talky. Salah satu rekannya tampak seperti terkejut. Dia menoleh ke belakang dengan cepat.


“Ada apa?” tanya kang Sukron lirih.


“Aku denger orang berjalan di belakang sana, kang” jawab rekannya.


“Periksa! Eksekusi, jika membahayakan!” perintah kang Sukron.


“Siap, kang” jawab rekannya itu.


Orang itu langsung berjalan ke arah suara yang dia dengar. Dengan kewaspadaan penuh dia memeriksa sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda adanya orang lain yang memasuki hutan kecil ini. Diapun bersiap untuk kembali ke posisi.


“Haa”


Dia memekik lirih. Di depannya, ada seorang wanita sedang menodongkan pistol ke arahnya.


“Ups. Gua nggak akan lakuin itu, kalo gua jadi lu” kata wanita itu, saat anak buahnya kang Sukron itu hendak meraih belati di pahanya.


“Kepala lu bisa pecah, tanpa ada yang tahu. You will die for nothing” lanjut wanita itu.


Anak buah kang Sukron itu urung menarik belatinya. Kini dia hanya diam mematung.


“Balik ke posisi lu tadi, tanpa ada keributan!” perintah wanita itu.


Dia melipir ke kanan untuk menggiring anak buah kang Sukron agar laki-laki itu berjalan mendahuluinya.


Bagi anak buah kang Sukron, tak ada pilihan lain selain patuh. Karena wanita itu memamerkan pistol lain di pinggangnya. Diapun berjalan kembali ke posisinya.


“Jangan bersiul!”


Wanita itu menegur lagi. Anak buah kang Sukron itu jadi bingung. Seolah wanita itu sudah hafal cara kerjanya. Tapi dia tidak mengenal wanita itu.


“Gimana?” tanya kang Sukron. Tentu saja anak buahnya itu tidak lekas menjawab.


*Sreek*


Dua orang anak buahnya yang lain, bersiap dengan pisau komandonya, saat melihat ada wanita di belakang rekan seperjuangan mereka. Tapi keduanya tidak berani beraksi, karena wanita itu masih menodongkan pistol ke arah rekan mereka.


“Erika?”


Ketiga anak buah kang Sukron bingung, mendapati bos mereka kenal dengan wanita itu.


“Hoee”


Mereka panik, saat wanita itu ganti menodongkan pistolnya ke arah kang Sukron.


“Tenang, Ka! Ada apa? Apa maksudnya nodongin pistol kaya gitu?” tanya kang Sukron.


“Ada apa?” Erika balik bertanya. Seringai sinisnya keluar.


“Lu gila jadi orang” komentar Erika.


Kang Sukron bingung mendapat komentar itu. Dia mengernyitkan keningnya.


“Lu nggak inget karena siapa, lu masih idup, ha?” lanjut Erika, pelan tapi penuh amarah.


“Ya bos Budi” jawab kang Sukron dengan lugasnya.


“Bukan Sandi, kan? Harusnya lu inget itu!”

__ADS_1


“Apa hubungannya sama Sandi?”


“Oh. Mau playing victim, ha? Pura-pura nggak tahu? Pura-pura bego?”


“Ya Maksudnya apa? Gua bener-bener nggak ngerti, Ka” kang Sukron mulai terpancing emosinya.


“Apa maksud lu nyebar orang di sini?” tanya Erika.


Dia memutar telunjuk kirinya di udara.


“Ya ngamanin galeri, lah”


“Galeri apa base camp?”


Kang Sukron semakin bingung dengan pertanyaan Erika.


“Base camp apa?”


“Nggak usah pura-pura bego, deh!”


“Eh, Ka. Gua disuruh bos Budi buat jaga di sini. Maksud lu apa, ngomong begitu?”


“Ya ya ya. Lu emang yang paling bisa. Paling bisa manfaatin keadaan. Elu yang punya mau, pas banget, elu yang di suruh jaga. Aman deh, transaksi lu”


“Eh, Ka. Jaga bacot lu, ya! Justru elu yang mencurigakan. Jangan lu pikir gua nggak tahu tingkah busuk lu! Apa perlu gua bongkar semua kebusukan lu, ha?”


“Eh, bang*** , “


*BUAAKKK*


“Hooee”


Erika menjejakkan kakinya di dada kang Sukron. Ketiga anak buahnya kang Sukron sontak bereaksi. Tapi mereka mundur lagi saat ditodong pistol. Terlebih Erika juga menarik pistol satunya.


“Sebelum lu bongkar siapa gua, mending lu bilang sama gua! Lu kerja sama siapa, ha?”


Kang Sukron yang sedang terjengkang itu, langsung diinjak dadanya oleh Erika. Dengan ditodong pistol, dia tidak bisa langsung melawan.


*Sret kraaakk*


“Aaah”


Dengan dua gerakan mengejutkan, kang Sukron berhasil merebut pistol yang diacungkan Erika. Erika sempat kesakitan waktu tangannya terpuntir. Tapi dia seperti tidak terkejut. Dan dia mengacungkan pistol yang satunya.


Kini mereka saling menodong. Tapi kang Sukron tidak bertindak lebih. Dia merasakan keanehan pada senjata api yang berhasil dia rebut itu.


*Tek*



*Wuuukk*


“Ha ha ha ha”


Ternyata senjata itu palsu. Bentuknya saja pistol, tapi sejatinya benda itu adalah korek api. Kontan saja Erika tertawa.


“Lu kira gua goblok? Gua udah hafal gaya lu” kata Erika masih dengan tertawa.


“Lu tinggal bilang, lu kerja sama siapa, bang***” lanjut Erika. Kini matanya melotot penuh kemarahan.


“Kalo lu mikir gua bermain sama pengedar-pengedar yang sekarang lagi ngacauin bos Budi, lu salah, Ka” sahut kang Sukron.


“Jangan bikin gua habis kesabaran!” kata Erika pelan, tanpa menggerakkan giginya.


“Gua orang paling loyal sama bos Budi. Gua udah hampir matiin lu, kalo nggak dicegah sama si Supri” jawab kang Sukron tak kalah garangnya.


“Cih. Gaya lu. Loyal mata lu sobek”


“Oke. Lu boleh nuduh gua. Tapi kalo lu nggak bisa buktiin, jangan panggil gua Sukron, kalo lu nggak membusuk di penjara!”


“Cih. Lu butuh bukti? Bangun, lu!” sentak Erika.


Dia mengangkat kakinya, tapi masih tetap menodongkan pistolnya. Kang Sukronpun bangun dari terlentangnya.


“Buka mata lu, dan lu liat tempat sampah bikinan lu itu!” perintah Erika, sambil menunjuk ke arah bengkel kayu Budi. Kang Sukron melakukan apa yang diperintahkan Erika.


“Apa yang lu liat?” tanya Erika.


“Ya tempat sampah, lah. Apa lagi?” jawab kang sukron kesal.


“Yakin, lu?”


Erika mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi streaming satelit yang diberikan orang bayarannya tadi.


“Lu liat, nih!” perintah Erika.

__ADS_1


Dia memberikan ponselnya kepada kang Sukron. Agak terkejut kang Sukron melihat tampilan layar Erika. Seseorang sedang terlentang di dalam bak sampah itu.


“Kapan video ini diambil?” tanya kang Sukron.


Dia tahu, itu adalah citra satelit. Dulu dia pernah melihat Sephia menggunakan aplikasi semacam itu.


“Kapan? Coba aja lu lambaikan tangan ke atas!” sahut Erika.


Kang Sukron memerintahkan ketiga anak buahnya untuk mengangkat tangan mereka ke atas. Dan Erika memperkecil zoom pada layarnya. Dan ternyata, mereka berlima tertangkap oleh pencitraan satelit itu. Artinya citra satelit itu real time. Kang Sukron sempat menggeser tangkapan satelit itu, dan orang yang di bak sampah tadi, masih ada di sana.


“Lu butuh bukti apa lagi Sukron?”


“Apa hubungannya orang itu sama gua?” kang Sukron tidak terima dituduh.


“Masih belum ngaku? Oke. Kita liat, mau ngapain sih, orang itu nunggu lama di bak sampah?” sahut Erika.


Tiba-tiba mereka melihat ada kedipan lampu dari lantai dua bengkel kayunya Budi.


“Siapa itu?” tanya Erika.


“Madina” jawab kang Sukron.


“Ngapain itu anak?” keluh Erika.


“Siap-siap! Dia udah beraksi” kata kang Sukron pada anak buahnya. Sekalipun tidak mendapat tanggapan. Mereka bertiga masih bingung dengan situasi mereka.


“SOS?” gumam Erika.


“Dia diperintahin bos Budi, buat kasih tanda Flash, kalo si Brandon beraksi”


“Beraksi apa?”


“Kemungkinan semacam sirep, pembiusan, atau semacamnya” jawab kang Sukron.


Erika menatap kang Sukron dengan kening berkerut.


“Bos Budi udah menebak, kalo akan ada yang menyusup masuk, dengan bantuan si Brandon. Kalo semua orang tertidur kan, gampang buat ngebuka gerbang juga.


“Kok gua nggak yakin, ya?” komentar Erika.


“Maksud lu?” tanya kang Sukron.


Erika memperlihatkan lagi layar ponselnya. Dan terlihat orang di dalam bak sampah itu, memasang sebuah besi letter L ke tembok belakang bengkel kayu Budi. Lalu orang itu menariknya seperti membuka sebuah laci.


“Ha?”


Kang Sukron terkejut melihat tembok itu bisa ditarik, dan menciptakan sebuah jalan masuk rahasia.


“Kok lu kaget? Kan elu yang bikin” sindir Erika.


Kang Sukron melotot dituduh begitu. Tapi otaknya juga sambil berpikir, siapa kiranya yang membuat lubang itu. Pasti sudah sejak awal dibangun.


“Astaga” keluh kang Sukron.


Dia baru ingat, dulu, waktu membangun bengkel ini, ada salah satu kulinya yang mengabarkan kalau istrinya sedang sakit, dan tukang itu mengatakan kalau istrinya memintanya untuk pulang.


Tapi ternyata istrinya tidak meminta dirinya buat pulang. Meskipun pada akhirnya, istrinya senang melihat kang Sukron pulang. Jadi ada yang merawat dirinya.


Kang Sukron jadi lupa dan tidak mempermasalahkan perkataan kulinya itu. Namun selama ini dia tidak menyadari kalau itu hanyalah intrik dari si kuli itu. karena dia baru teringat, kalau kuli itu juga mantan anak buahnya Sandi.


“Kenapa? Lu lagi mikirin, siapa yang bisa lu kambing hitamin?” sindir Erika dengan senyum sinis.


“Kang. Itu siapa?”


Salah seorang anak buah kan Sukron menegur. Dan memang benar, ada satu orang lagi yang berjalan mendekati bak sampah itu.


“Jangan macem-macem! Itu orangku”


Erika kembali menodongkan pistonya ke arah kang Sukron.


“Cih. Ternyata” komentar kang Sukron.


Erika tidak menyahut. Setelah kang Sukron kembali menatap ke arah bak sampah itu, Erika kembali memperhatikan layar ponselnya.


“Orang itu masuk juga, bos” kata anak buah kang Sukron.


“Ya. Biarin aja! Cukup tahu aja” jawab kang Sukron.


“Orangku cuman mau liat, apa yang orang tadi lakuin di dalem sana. Sebentar lagi dia akan bikin keributan. Dan dia aku tugasin buat ngelumpuhin orang tadi. Lu boleh deh jadi hero. Lu tangkep orang itu” kilah Erika.


“Ha ha ha ha. Pinter banget lu, sembunyi di belakang gua” ledek kang Sukron.


“Ngapain gua sembunyi di belakang lu? Emang selama ini gua sembunyi?” kilah Erika.


“Ya ya ya. Kita liat aja, siapa yang akan dipercaya bos Budi” sahut kang Sukron

__ADS_1


__ADS_2