Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tak hadir bukannya boleh tak mau tahu


__ADS_3

Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...


Tiba – tiba, sebuah panggilan, masuk ke ponsel Budi. Sebuah panggilan video. Budi tersenyum membaca nama yang tertera pada layar. Nama yang sedari tadi dia tunggu, tapi belum juga muncul sampai sekarang.


“Halo, assalamu’alaikum, Bud” sapa orang di seberang telepon.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


“Loh, udah di rumah, Bud? kapan pulang?”


“Udah, Del. Belum lama” jawab Budi.


“Ya Alloh, maafin aku, Bud. aku nggak bisa cancel jadwal ini. Mana di luar kota lagi. Nggak bisa dadakan”


“Iya, nggak papa. Ada Erika, sama orang – orang kantor tadi, yang nganterin”


“Oh, ya? Alhamdulillah. Syukur, deh kalo gitu”


“Kamu cantik banget dandannya. Yang hajatan, pejabat, ya?” goda Budi.


“Ye, emang biasanya aku nggak cantik, gitu?” tanya Adel dengan gaya merajuk.


“Ini lebih cantik, del. Sumpah deh, ini beda. Cantik banget, suer” jawab Budi.


“Aw, makasih” kata Adel manja.


“Eh, ibu mana?” lanjutnya.


“Oh, ada. Bentar”


Budi masuk ke dalam rumah, dan memberikan ponselnya kepada ibunya. Adel langsung pecah tangisnya begitu melihat senyum bu Ratih. Bu ratih malah bingung, mengapa Adel menangis?


Adel meminta maaf, tidak bisa menjenguk saat bu Ratih akan pulang. Putri membisikkan sesuatu pada ibunya mengenai Adel. Dan langsung ditanggapi Adel dengan tersipu malu.


Bu Ratih manggut – manggut dan tertawa kecil. Gantian Adel yang kebingungan, dengan apa yang dibisikkan Putri. Tapi apapun itu, adel mengatakan kalau sekarang dirinya bisa lega. Mengetahui bu Ratih sudah berada di rumah dengan selamat.


****


Pagi ini, Budi belum masuk kerja. Dia meminta ijin pak Paul untuk mengurusi dagangan ibunya yang kemarin ditinggal begitu saja. Ijin diberikan.


Menjelang siang, Budi baru selesai melakukan perhitungan dagangan dengan juragan penyuplai ikan. Walau sempat berseteru dengan Sugondo, tapi Budi tetap membayarkan apa yang menjadi kewajiban ibunya terhadap juragan ikan yang satu itu.


Pun begitu dengan dengan tanggungan ibunya kepada sepupunya. Saat dia ke rumah sepupunya itu, ternyata mereka malah pergi ke rumahnya, untuk menjenguk ibunya. Tinggallah pak Janto, yang baru pulang dari tulungagung.


Budi menumpang beristirahat sebentar di rumah sepupunya. Saat sedang beristirahat, dia teringat dengan pekerjaannya. Dia berpikir, walau tidak bisa hadir secara fisik, bukan berarti tidak bisa mengetahui perkembangan terkini.


TUUUUT


Dia menelpon Aldo, orang yang memposisikan diri sebagai atasan di PPIC.


“Halo assalamu’alaikum” sapa Aldo


“Wa’alaikum salam”


“Gimana kabar ibu kamu, Bud? udah sembuh kan?”


“Alhamdulillah, udah bisa menikmati makanan. Udah nggak pahit katanya”

__ADS_1


“Alhamdulillah”


“Eh, Do. Hari ini ada info apa dari sales?”


“Lah, kamu ngapain mikirin sales? Emang udah kelar urusan di rumah?”


“Belum sih, masih satu lagi. Orang aku samperin, tuan rumahnya malah ke rumahku. Nggak ketemu, deh”


“Loh, ha ha. Kok bisa?”


“Ya, karena nggak janjian, sih”


“Oh, gitu. Ya udah, kelarin aja dulu. Insya Alloh, masih terkendali”


“Terkendali? Wah, delay lagi nih. Kemarin delay berapa lama?”


“Siapa yang bilang delay?” kilah Aldo.


“Halah, kaya baru kenal kemarin aja, Do. Level tertinggimu kan, aman. Kalo terkendali itu, ya ketutup sih, targetnya. Cuman delay. Awal – awal kan gitu”


“Ha ha ha, jeli juga, kamu. Jangan – jangan, sizenya Stevani kamu ngerti, lagi?”


“Ha ha ha, hubungannya apa size Stevani sama delay? Kita produksinya kursi, bukan kutang” kilah Budi.


“Ha ha ha ha. Bisa aja lu ngelesnya. Eh tapi emang, sih. Kemarin agak keteter. Pesanan buat ke mandalika, baru tercover jam delapanan”


“Yang ekspor?”


“Yang ekspor aman. Aku duluin. Ngorbanin yang buat mandalika”


“Terus sekarang?”


“Semuanya?”


“Ya. Kan segeng. Lagian, mana berani mereka ngelawan perintah Dino”


“Oke. Mengenai mereka, biar aku yang urus. Tapi aku boleh liat progress di frame nggak? Kamu pegang, kan?”


“Oh, iya, ada. Share WA, ya?”


“Sip, aku tunggu ya. Makasih. Assalamu’alaikum”


“Yo, sama sama. Wa’alaikum salam”


Budi memutuskan sambungan telepon. Tak seberapa lama kemudian, ada sebuah pesan masuk. Pesan berisi data tentang progres produksi pagi ini. Menurut perhitungan Budi, kalau kinerjanya konsisten begini terus, akan ada delay yang lebih lama lagi.


Tanpa Budi sadari, ternyata pembicaraan mereka didengarkan oleh banyak orang. Karena ternyata, Aldo sedang dalam acara meeting dengan para division head. Dan tentunya, ada Pak Paul juga, yang bertindak sebagai penyelenggara.


Tindakannya menelepon Aldo, dijadikan contoh oleh pak Paul. Bahwa, berhalangan hadir bukan berarti berhalangan untuk tahu situasi terkini di tempat kerja. Pertanyaannya adalah, seberapa peduli orang itu kepada tugas dan pekerjaannya.


Saat pak Paul asyik menjelaskan, di tempat lain, Budi sedang sibuk menyiapkan bahan untuk berdebat dengan gengnya Dino.


Pertama – tama, dia meminta bantuan pada Ratna, untuk memberikan data keluarga mereka. Untungnya Ratna kooperatif. Jadilah dia punya bahan untuk mendesak Dino dan kawan – kawannya.


*TUUUUUT*


“Halo, berani banget lu nelpon gua. Ada apa?” sapa Dino dengan nada tinggi.

__ADS_1


“Wee, langsung diangkat. Pasti lagi mainan handphone, ya?” jawab Budi.


“Apa urusannya sama lu? Urus aja ibu lu noh. Modar, aja, nangis lu” hardik Dino. Budi mulai terpancing emosinya. Tapi masih berusaha kalem.


“Ini juga lagi ngurusin ibu. Cuman tadi dapet kabar kurang enak dari pabrik. Ternyata bener”


“Suka – suka gua lah. Lu aja bisa libur. Kenapa gua nggak bisa rehat?"


“Aku sih nggak mikirin kamu. Tapi bapaknya Salwa, Zidan, Sofia, dan Inka”


“Eh, kenapa lu nyebutin anak – anak kita, ha? lu mau main kotor? Banci, lu” sahut temennya Dino, itu suaranya Pujo.


“Ha ha ha, di loud speaker ya”


“Eh jawab, banci!” teriak Pujo lagi.


“Hem, pantes, mas Pujo ada di urutan teratas”


“Urutan apa?” tanyanya masih sengak.


“Urutan orang yang akan di PHK” jawab Budi. Untuk sesaat, mereka terdiam.


“Eh, siapa yang berani mecat kita, ha?” tanya Dino.


“Ya perusahaan, lah. Perusahaan yang punya duit. Masa aku?’


“Terus, maksud lu apa, ngasih tau kita, ha? lu pikir kita takut? Pecat aja! nggak takut, gua”


“Ya, sih. Aku tahu itu. Perutmu cuman satu. Makan pisang sebiji juga kenyang. Tapi masa sih Salwa, Zidan, Sofia, sama Inka, mau dikasih pisang rebus mulu? Apa nggak nyromet tu, ibunya?” jawab Budi.


“Enggak bakalan, banci” sahut Budi.


“Yah, emang ibu mereka, istri kamu? Kok kamu bisa pede gitu ngomong nggak bakalan?”


“Ya pede lah. Lagian apa alasan perusahaan ini mecat kita, ha? apa alasannya Paul mecat kita?”


“Pendapatan perusahaan turun, gara – gara kalian” jawab Budi.


“Ha ha ha ha. kapan emang si Paul pernah bilang untung?”


“Kemarin”


“Kemarin kapan? Kemarin lu nggak ada juga”


“Itulah bedanya aku sama kamu. Pak Paul sih kalo sama aku, nggak perlu nunggu aku di pabrik. Di rumah juga bisa. Tapi percuma juga sih aku bilangin. Intinya aku mau kasih tahu itu aja. Kalo sama aku aja, pak Paul udah curhat begini, artinya bukan main – main. Delay kemarin, udah bikin seret pemasukan perusahaan. Kalo diitung setahun, nggak bakal ada untungnya" kata Budi. Mereka tidak menjawab.


"Kalo hari ini sama besok delay lagi, perusahaan bisa kena penalty. Besaran penaltynya, sama dengan gaji setengah karyawan. Kalo sampe itu terjadi, lusa akan dimulai pengurangan karyawan bertahap. Dan mas Pujo ada di urutan pertama. Disusul mas Dirman, Sapta, dan Erik" lanjut Budi. Belum ada tanggapan dari mereka. Tapi sudah ada gerakan gelisah.


"Aku harap mas pujo cs mikirin Salwa, Zidan, Sofia, sama Inka. Mereka belum ngerti urusan ego dan harga diri. Mereka tahunya cuman jajan sama main. Jangan sampe mereka nangis cuman gara – gara bapak – bapak nggak bisa beliin jajan apa mainan. Alamat disewotin dari pagi sampe malem. Percaya deh!” lanjut Budi lagi.


“Kenapa Dino nggak kamu sebut? Dia nggak masuk daftar?” tanya Dirman.


“Ha ha. sebenernya dia nomor satu, mas Pujo nomer dua. Tapi karena perutnya cuman satu, jadi nggak aku sebut. Aku sebut mas Pujo duluan, karena perutnya udah tiga. Apalagi mas Erik. Mau empat, kan?”


“Oh, iya” suara Erik terdengar pelan.


“BANG***”

__ADS_1


TUUUUT


__ADS_2