Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
hampir saja


__ADS_3

PUTRI, LARIII” teriak Adel.


Putri menoleh ke belakang. Air banjir yang tadinya hanya kecil saja, mendadak bergulung-gulung, dan tingginya, nyaris sanggup menelan tubuhnya. Putri pun lari sekuat tenaganya.


BRUUUUUSSSSS


Air banjir itu menerjang dengan kencangnya, menabrak pondasi gedung serbaguna. Kencangnya arus banjir itu, membuat airnya sampai melompat ke teras gedung.


“AAAAA”


“PUTRIII”


Bu Ratih berteriak, melihat air banjir itu menyambar anaknya. Putri sempat terdorong ke depan oleh lompatan air banjir itu, dan nyaris terseret ke timur. Untungnya, Adel berdiri tepat di depannya. Sehingga dia bisa menangkap Putri, dan menariknya masuk ke dalam gedung. Tubuh mereka berdua basah kuyup.


“Kamu nggak papa, nduk?” tanya bu Ratih. Dia memeriksa setiap bagian tubuh Putri.


“Nggak. Nggak papa, bu. Basah doang” jawab Putri.


Beberapa orang juga ada yang limbung karena dorongan kuat dari air banjir itu. Beruntung kaki-kaki mereka cukup kuat untuk mempertahankan diri mereka.


Beruntungnya lagi, pondasi gedung serbaguna itu sudah ditinggikan satu setengah meter lebih tinggi dari jalan raya. Sehingga tidak ada lagi gelombang air yang menerjang teras gedung itu. Dan Gedung itu, masih aman untuk mengungsi.


Semua mata terpaku dengan air banjir yang mengalir deras ke arah lingkungan rumah mereka. Terlebih Putri. Dia baru menyadari kalau apa yang dikatakan kakaknya benar-benar menjadi kenyataan.


Kalau arusnya berasal dari utara, dan sebegini derasnya, mustahil bagi mereka yang di selatan bisa berenang keluar menuju jalan raya.


BRUUAAAAAKKK


Sebuah bangunan kecil di samping kanan gedung ini, tiba-tiba jebol. Runtuh begitu saja, tak bersisa. Sontak para warga yang berada di gedung itu terkejut dan tak percaya.


Mereka semakin hawatir dengan keadaan rumah mereka. Terutama juga dengan mereka-mereka yang belum sempat dievakuasi. Cukup lama mereka terpaku karena syok.


Setelah beberapa lama terpaku, mereka kembali ke tempat masing-masing. Putri membantu Adel untuk membuat teh hangat. Melihat tas ransel di matras bu Ratih kempes, Adel menduga kalau bekal logistik mereka sudah habis dibagi-bagikan ke pengungsi lain. Adel berinisiatif memberikan roti untuk Putri dan bu Ratih.


“Silakan bu, dimakan. Seadanya ya, bu” kata Adel, saat memberikan roti itu.


“Makasih ya, mbak Adel” jawab bu Ratih saat menerima roti itu.


Bu Ratih tidak menunjukkan sikap jaim, saat Adel memberikan roti itu. Langsung dia makan, sekalipun Adel sudah memutar badan, meninggalkannya.


Adel juga memberikan Budi roti yang sama. Sisanya, Adel bagi-bagikan untuk pengungsi yang lain. Ternyata, walau sudah mendapatkan makanan dari bu Ratih semalam, mereka merasakan lapar lagi.


Bekal logistik yang semula hanya untuk bu Ratih dan keluarga, kini habis untuk semua yang mengungsi. Itu juga karena bu Ratih yang meminta. Adel hanya bisa menurut.


“Bram, perabotan rumah, sudah aman semua?” tanya Adel.


“Udah”jawab Budi.


“Kasur, pakaian, tivi, laptop?”


“InsyaAlloh aman. Udah aku amanin. Semoga, nggak bergeser dari posisinya” jawab Budi sambil tersenyum.


“Amin” kata Adel mengaminkan perkataan Budi.


Putri terlihat sibuk membuatkan makanan cepat saji dari bahan yang dibawa Adel. Adel baru menyadari kalau ada Hanin di sana. Dia ikut bergabung, dan membantu proses penyajian. Sedangkan Budi, bersama warga lain, tetap siaga di teras gedung.


Sampai matahari terbit, arus banjir dari utara masih sama kencangnya. Belum ada tanda-tanda akan berhenti atau berkurang. Padahal sudah satu jam lebih, banjir dari utara menerjang. Dan sampai saat ini juga, belum ada bantuan dari pemerintah. Padahal kedatangan perahu karet bermesin sangat dibutuhkan.


Di tempat lain, Madina baru saja mandi, dan sedang membuat nasi goreng untuk sarapan. Di ruang depan, tampak bu Lusi sedang celingukan mencari putri sulungnya. Dia bertanya kepada suaminya, tapi suaminya tidak tahu. Suaminya malah berkomentar kalau dirinya heran, sepagi ini sudah keluar rumah. Ada urusan apa?


“Din, embakmu kemana?” tanya bu Lusi.


Madina tidak segera menjawab. Dia meneruskan memasak nasi gorengnya, sampai dia menuangkan nasi goreng matang itu ke atas tiga piring yang sudah dia siapkan.


“Tadi sih, Madin dengernya, embak mau ke rumah mbak Tati” jawab Madina. Pastinya, dia berbohong.

__ADS_1


“Mau ngapain? Apa nggak liat, ujan kaya gini? Nggak bisa entar-entaran aja?” tanya bu Lusi lagi.


“Ya tadi sih, reda, ujannya. Ibu aja, bangunnya siang. Kompak lagi, sama bapak” jawab Madina sambil tergelak.


“Kenapa ketawa?”


“Aduh, aduh. Sakit, bu. Main cubit aja” keluh Madina kesakitan, dicubit pinggangnya.


“Kamu sih, ketawanya ngeledek ibu banget”


“Ha ha ha” Madina malah tertawa lagi.


“Bilangin tuh, embakmu! Suruh dia pulang dulu! Pagi-pagi udah ngelayap aja”


“Kalo ada sinyal, nggak usah disuruh, bu” jawab Madina.


“Ih, perawan satu itu, bener-bener ya. Bikin senewen orang tua aja”


Madina tidak menjawab. Dia hanya tertawa saja, melihat ibunya marah-marah. Bu Lusi keluar dari dapur, masih sambil marah-marah. Dalam hati, Madina punya rasa hawatir akan keadaan kakaknya. Karena belum ada kabar sampai saat ini. Dan tidak ada yang bisa di hubungi di tempat tujuan Adel.


Sekitar pukul delapan, ada perahu karet yang melintas. Ada dua perahu karet yang datang. Dan beruntungnya, salah satunya bermesin. Mereka mendapat sorakan dari warga yang berada di pinggir jalan. Karena kedatangan mereka sangat terlambat.


Walau begitu, pada dasarnya, para warga juga mengerti, kalau menerjang arus sekuat ini, bukanlah perkara Mudah. Satu perahu karet yang tidak bermesin itu, dikelilingi tak kurang dari enam orang, untuk menjaga agar perahu karet itu tidak hanyut saat melintasi pertigaan jalan.


“AGUNG”


Budi memanggil sebuah nama. Dan ternyata ada orang yang mempunyai nama yang dipanggil Budi. orang itu mengenali Budi. Dia mengajak temannya untuk membawa perahu karetnya mendekati Budi. Mereka adalah tim dari TNI.


“Apa kabar sersan?” sapa Budi, setibanya orang itu di gedung serbaguna.


Dia memberikan tali untuk menambatkan perahu itu. Seseorang menerimanya, dan menambatkan tali itu ke salah satu tiang.


“Bud, rumah kamu gimana?” tanya orang itu tanpa basa-basi.


“Ada yang terjebak Gung, dari semalem” lanjut Budi.


“Di mana?”


“Itu drone masih nyala?” Budi ditanya malah ganti bertanya.


“Masih” jawab sersan Agung.


“Terbangin! Pinta Budi.


Sersan agung memerintahkan rekannya untuk menerbangkan drone itu. Drone kecil tapi berkualifikasi militer itu mulai terbang. Baling-balingnya yang berjumlah empat buah, membuatnya bisa mengambang di udara.


Budi langsung memberitahukan titik-titik rumah yang penghuninya terjebak sejak semalam. Budi juga memberitahukan kondisi kontur dasar dan kedalaman, serta arah dan kekuatan arus.


Dari informasi Budi inilah, kemudian dibuat suatu rencana. Rencana gabungan dengan tim dari kepolisian. Ternyata tim kepolisian menambahkan mesin pada perahu karet mereka. Jadilah kedua perahu karet itu mempunyai mesin.


Mereka langsung bergerak sesuai dengan arahan dari sersan Agung. Budi menyediakan meja dan kursi untuk sersan Agung dan rekannya, si operator drone. Teras ini menjadi pusat komando mereka.


Budi ikut memantau proses evakuasi. Dan sesekali memberikan masukan kepada temannya itu, tentang halangan dan rintangan yang mungkin akan ditemui saat mendekat ke sasaran.


“Kamu kenapa senyam-senyum sendiri, mbak Adel?” tanya bu Ratih, sambil menepuk pundak Adel.


“Haa” Adel terkejut, dan memekik pelan.


“Oh, enggak” jawab Adel.


Dari senyumnya bisa dibaca, kalau dia merasa malu, ketahuan sama calon mertuanya. Tapi bu Ratih memainkan alisnya, tanda menuntut jawaban yang lebih dari itu.


“Adel bangga bu, punya cowok hebat” lanjut Adel. Bu Ratih tersenyum sambil mengangguk-angguk.


Kisaran satu jam lamanya mereka berjibaku dengan arus banjir, akhirnya tiga keluarga yang terjebak di rumah, bisa dievakuasi ke balai desa.

__ADS_1


Adel bergerak maju dan membantu keluarga-keluarga itu. Dengan sigap dia menerima balita dari seorang ibu muda yang hendak turun dari perahu karet. Sedangkan Budi dan yang lainnya, membantu para orang dewasa dan lansia yang juga hendak turun dari perahu karet itu.


Di dalam gedung, Putri dan Hanin juga sigap, mempersiapkan tempat. Mereka memaksimalkan alas yang ada, agar mencukupi untuk semua pengungsi.


Si ibu dari bayi yang Adel gendong, sempat bingung dan bertanya tentang siapa yang menggendong si bayi ini. Dengan wajah bersemu merah, Adel memperkenalkan diri sebagai kekasihnya Budi. Beberapa pujian keluar dari bibir ibu muda itu untuk Adel, juga untuk bu Ratih dan keluarganya.


Para personel tim evakuasi tadi pamit undur diri. Mereka akan menuju dusun lain yang mungkin masih perlu bantuan evakuasi. Adel tak menyia-nyiakan momen dimana mereka berbincang-bincang sebelum berpisah. Beberapa foto dia ambil sebagai kenang-kenangan.


“Bram, perbekalan udah abis. Gimana nih?” tanya Adel.


Untuk beberapa saat, Budi tidak langsung menjawab. Dia sedang berpikir, dimana dia bisa mendapatkan logistik.


“MAS AGUNG, SEBENTAR!” teriak Budi.


“KENAPA?” tanya tentara tadi, juga dengan berteriak. Mereka memutar arah, kembali ke gedung serbaguna.


“Kita mau cari logistik. Bisa bawa kita ke depan minimarket?” tanya Budi.


“Hayu” jawab Sersan Agung.


Dua orang laki-laki langsung menaiki perahu karet. Dilanjut Budi yang menjadi orang ke tiga.


“Ikut” kata Adel. Dia hendak naik ke perahu itu juga.


“Del, kamu di sini aja! bahaya” cegah Budi.


“Ikut” kata Adel, dengan sorot mata tegas. Budi mengalah.


Berempat, mereka dibawa ke depan minimarket. Walau genangan banjir mencapai pinggang, tapi arus di sini tidaklah kuat. Inilah mengapa Budi memilih untuk turun di sini.


“Terus, kita kemana, Bram?” tanya Adel.


“Kita ke kantor polsek dulu, yuk! Semoga mereka punya sesuatu buat di makan” jawab Budi.


“Kenapa nggak ke Masjid aja?” tanya tetangganya.


“Iya, rencananku juga gitu. Kali, udah ada yang di taruh di polsek” jawab Budi.


“Oke. kalo emang harus ke masjid, aku aja yang nyeberang”


“Sip”


Merekapun berjalan beriringan. Budi memegangi tangan kanan Adel, takut kalau dia terseret arus banjir. Adel sempat tersenyum, karena teringat momen menyeberang jalan, yang juga digandeng Budi seperti ini.


“Pak, udah ada kiriman dari dapur umum apa belum, ya?” tanya Budi, setibanya di kantor Polsek.


“Waduh, belum, Bud” jawab pak kapolsek.


“Dapur umum juga, baru mulai masak” lanjut pak kapolsek. Mereka menghela nafas bersamaan.


“Dek, ini ada, tapi sedikit. Gimana?”


Seseorang berseru dari arah belakangnya Budi. Sontak Budi memutar badan. Seorang perempuan menghampiri mereka dengan membawa kantong plastik sedang berwarna hitam.


“Aku nggak tahu ini cukup apa enggak, tapi aku punyanya cuman segini. Sementara” lanjut ibu itu. Dia menyerahkan kantong plastik itu kepada Budi.


“Alhamdulillah. Makasih bu Sita. Lumayan, daripada nggak ada sama sekali. Kasihan yang punya bayi”


“Iya. nanti kalau udah ada kiriman dari masjid, aku bilangin, buat ngarah ke balai desa juga”


“Makasih bu Sita” kata Budi sambil menyalami ibu itu.


Adel dan tetangganya Budi juga melakukan hal serupa. Lalu mereka pamit untuk kembali ke gedung serbaguna.


“Ngomong-ngonong, kita nyeberangnya gimana, Bram?” tanya Adel.

__ADS_1


__ADS_2