
Seperti perjumpaan sebelumnya, kali ini Adel selesai lebih awal. Dia tidak menjadi bagian dari penutupan. Walau begitu, antusias pengunjung masih tetap tinggi, sekalipun bintang utamanya sudah turun dari panggung.
Budi masih setia menemani Adel. Menunggunya yang sedang beberes di ruang ganti. Sambil menunggu, Budi tampak menikmati lagu dangdut yang sedang mengalun merdu. Lagu gala – laga milik haji Roma Irama, sukses mengajaknya bergoyang tipis – tipis. Adel yang telah kembali, tergelak melihat Budi bergoyang tipis – tipis.
“Jaim amat goyangnya”
“Hoe”
Budi terkejut saat Adel menyapanya dengan tiba – tiba, tepat di telinga kanannya, lagi. Sampai hampir lompat, Budi, dibuatnya. Adel tertawa melihat reaksi Budi. Tawa lepasnya itu sukses mengundang rasa gemas di hati Budi. Budipun menyorongkan tangannya ke pinggang Adel.
“Aduh, iya. ampun, ampun, geli” kata Adel sambil menjauh.
Budi sukses membalas kejahilan Adel dengan menggelitiki pinggangnya. Sampai lagu gala – gala selesai dibawakan, Adel masih tertawa, mengingat keterkejutan Budi. Budi hanya geleng – geleng kepala saja.
“Pulang, yuk” ajak Adel.
“Udah siap?” tanya Budi.
“Udah, semua udah di tas” jawab Adel
“Oke. Yuk”
Mereka beranjak menuju parkiran. Banyak mata memandang padanya. Sayup – sayup Budi bisa mendengar pujian dari pengunjung atas sikap Adel yang selaras, antara di atas panggung dengan kehidupan nyatanya.
Dia membicarakan perjuangan, dia memperlihatkan keadaannya yang juga sedang berjuang. Ada juga yang yang salut padanya, karena tidak malu berjalan dengan orang yang sedang berjuang.
“Eh, Bud. kita ke rumah Sinta ya” ajak Adel.
“Loh, ngapain? Udah malem masa mau bertamu?” tanya Budi.
“Aku udah janjian sama dia, aku mau nginep di rumah dia” Jawab Adel.
“Oh, besok mau gowes lagi?”
“Nggak juga sih. Emang mau nginep aja. Dina juga di sana”
“Dina?”
“Adekku”
“Oh. Oke. Berangkat”
Budi melajukan motornya diiringi tawa merdu Adel. Walau Adel masih menjaga jarak, tapi Budi sudah merasa senang sekali, bisa berduaan dalam satu motor di malam minggu begini. Satu sejarah yang mungkin akan selalu membekas di dalam sanubarinya.
****
Setelah mengantar Adel sampai di rumah Sinta, Budi segera pamit pulang. Walau besok adalah hari minggu, tapi tidak berarti untuk ibunya.
Beliau tetap akan pergi ke pasar. Itu artinya, dia harus tetap menyiapkan badan untuk membantu ibunya membuka lapak.
Dia melajukan motornya dengan santai saja, sambil menginagat kembali momen – momen membahagiakan tadi. Dia suka tersenyum kalau ingat betapa dia terpukau melihat setiap penampilan Adel.
Sampai di jalan yang jauh dari penerangan, Budi melihat sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depannya. Dia masih santai saja. Toh hak setiap pengguna jalan, mau santai atau melaju kencang.
PYAAAAKKKK
Budi terkejut bukan main, saat tanpa dia duga, orang yang mengendarai motor di depannya itu melemparkan sesuatu kepadanya. Dan tepat mengenai kaca helmnya. Entah cairan apa itu. Yang pasti, pandangan mata Budi tertutup sama sekali. Untungnya dia berkendara dalam kcepatan rendah. Sehingga langsung bisa menepi dan menghentikan kendaraannya.
Astaghfirulloh
Ternyata yang dilempar orang tadi adalah kotoran sapi. Budi hanya bisa geleng – geleng kepala, dia bisa menebak, siapa dalang di balik pelemparan ini.
Dia bersihkan helmnya memanfaatkan dedaunan dari semak belukar di pinggir jalan. Walau tidak bersih, memang.
Diletakkannya helm itu di pijakan kaki, lalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Baru juga akan menyalakan mesin motor, dari arah depan muncul lagi sebuah motor yang melaju kencang. Walau lagi – lagi itu hal yang wajar, tapi kali ini Budi bersikap waspada.
Dia berpura – pura masih membersihkan helmnya. Motor tadi berjalan semakin ke tengah, dan akhirnya melewati as jalan. begitu sudah dekat, Budi turun dari motornya.
Kecurigaan Budi ternyata benar. orang yang duduk di belakang, terlihat mengayunkan tangan kanannya. Budi melemparkan helmnya ke arah pengendara motor itu, sambil berkelit menghindari kotoran itu.
DAAAAKK
SRAAAAAAAKKK
Lemparan helm Budi tepat mengenai sasaran. Kedua pengendaranya jatuh tersungkur. Walau begitu, naas, Budi tidak bisa sepenuhnya mengelak dari kotoran sapi yang terbang tadi. Dan jaketnya menjadi korban ke dua. Tapi Budi tidak peduli dengan jaketnya. Dia langsung berlari mengejar si pelempar yang hendak kabur.
“HYAAAAA”
Budi melompat ke udara. Melayang beberapa saat sambil mengayunkan tinjunya.
BAAAAKKK
“AAAAHHH”
Orang itu langsung jatuh tersungkur lagi. Budi tak mau melewatkan kesempatan. Dia berlari dan menendang lagi, saat orang itu mencoba bangkit lagi. Dia balikkan tubuh orang itu, lalu dia hadiahkan pukulan bertubi – tubi ke wajahnya. Sampai orang itu pingsan tak berdaya.
“HYAAAAA”
__ADS_1
Dari belakang, ternyata si pengendara sudah bisa berdiri dan menyerang Budi.
BUUKKKK
Bukan suara tubuh Budi, melainkan tubuh si pelempar kotoran tadi yang terkena pukulan dahan pohon. Si pengendara itu terkejut, melihat temannya tak berdaya. Dia mengira temannya pingsan karena pukulannya yang salah sasaran.
BAAKK BUUK BAAKK BUUKK BAAK BUUKK
Gantian si pengendara itu yang mendapatkan bogem mentah dari Budi. Si pengendara itu sempat melawan dan menangkis serangan Budi.
Terjadilah jual beli serangan antara keduanya. Tapi karena berbeda kemampuan, orang itu kelelahan. Saat dia mulai lemas itulah, Budi memanfaatkan momentum. Dia hajar orang itu sampai tak berdaya.
NGEEEEENG
Baru juga selesai dengan yang dua ini, muncul lagi motor lain yang melaju tepat ke arahnya. Kali ini, sepertinya tidak hanya ingin melemparinya dengan kotoran, tapi sudah mengarah pada ingin mencelakainya. Budi bersiap siaga. Dia mengambil ancang – ancang menyambut datangnya serangan motor itu.
“HYAAAAAA”
Budi berlari menghampiri, lalu melompat dua langkah sebelum motor itu.
DAAAAKKKK
SRAAAAAAAAKKKK
Kedua orang itu langsung jatuh tersungkur, tanpa sempat melempari Budi dengan kotoran. Tapi sepertinya mereka telah bersiap. Mereka bisa langsung bangkit dan menyerang Budi secara bersamaan.
Kedua orang ini mempunya ilmu bela diri yang cukup mumpuni. Membuat Budi harus bekerja ekstra untuk menangkis dan juga melancarkan serangan.
Butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk Budi bisa menumbangkan kedua orang itu. Budipun harus menanggung sekian banyak pukulan dan tendangan. Tapi pukulan dan tendangan itu tak lantas mampu menumbangkannya.
NGEEEEENG
Suara motor dua tak yang iconic dengan preman atau penjahat kembali terdengar. Kali ini dari arah berlawanan. Sepertinya mereka adalah dua orang yang sempat sukses melemparkan kotoran tadi.
Terlihat orang yang ada di belakang bersiap kembali untuk melempari Budi dengan kotoran. Budi tersenyum. Dia bersiap lagi untuk melepar helmnya.
WUUUUSSS
BLEDAAAKK
SRAAAAAAAAAAKKK
Seperti nasib kedua temannya tadi, mereka tersungkur dan meluncur di atas aspal. Naas, kotoran yang sedianya dipersiapkan untuk melempari Budi, malah mengguyur tubuh mereka sendiri.
Satu ember tanggung kotoran tumpah tanpa sisa. Menutupi sebagian besar tubuh mereka. terutama di bagian wajahnya. Tanpa harus mengeluarkan tenaga lagi, Budi berhasil menumbangkan kedua orang itu. Tapi dia penasaran dengan mereka. kalau keempat orang tadi, Budi tidak mengenali.
Jelas sudah sekarang, siapa yang menjadi dalang dari semua kejadian ini. Budi tersenyum. Dia biarkan saja semuanya tergeletak di jalan. Sebagai balasan, dia pungut ember yang masih berisi kotoran sapi, lalu dia tuangkan pada tubuh keempat orang tadi. Termasuk sebagan wajah mereka. Lalu dia pulang dengan tergelak.
Sesampainya di dekat rumah, dia kaget melihat banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Saat dia mendekat, suara sorakan sontak membahana.
Tapi Budi yakin, itu bukan sorakan apresiasi. Karena ada budenya juga di sana. Beberapa orang yang masih setia dengannya juga ada. Emosi Budi terpancing.
Jangan sampai aku tahu kalo kalian udah menghina ibuku. Kalo aku sampe tahu, nggak peduli kamu adalah budeku, aku akan bikin perhitungan.
“ Weeee, yang baru pulang kencan. Hebat, kencannya sama artis sekarang, ya” seru bu Kusno.
“Iya. udah nggak level kali, bu, sama Hanin” sahut Bu RT.
“Eh, tapi kok bau busuk, sih?” sahut ibu – ibu di sebelah bu RT.
“Iya. Bau eek sapi ini sih” sahut Bu RT.
“Haduh Budi, Budi. Kamu itu abis ngedate sama artis, apa sama sapinya pak Rahmat?” tanya bu Kusno.
“Ha ha ha ha” mereka tertawa mendengar kalimat bu Kusno.
“Kayaknya sih, bu. Si Budi, ngajak si artis tadi mampir ke peternakan sapi noh, deket laut. Kan sepi” sahut seorang laki – laki.
“Gelap lagi ya?” sahut bu Kusno.
“Itu dia, juragan ibu” jawab laki – laki itu.
“Nah, pas lagi mau nyosor, eh, si cewek minggir” lanjutnya.
“Nyosor kebo dong?” sahut Bu Kusno.
“Ha ha ha ha” mereka tertawa lagi.
“Makanya ada kotoran sapi nempel di jaketnya. Main nyosor aja sih lu. Emang enak, nyusruk di eek sapi?” kata laki – laki itu.
“Ya mending sih, daripada si Adi” kata Budi mulai menjawab.
“Eh eh eh, dia berani ngejawab, bu ibu” seru Bu Kusno.
“Ha ha ha ha”
“Bawa – bawa si Adi, lagi” sahut Bu RT.
__ADS_1
“Eh, kunyuk. Si Adi sih nggak perlu nyosor – nyosor cewek sampe nyusruk di eek sapi gitu. Perawan juga banyak yang nyosor sama dia. Pake bawa – bawa Adi, lagi” kilah Bu Kusno.
“Udah lah Bude. Nggak usah pura – pura nggak tahu. Mending sekarang keluarin mobil, jemput noh si Adi”
“Ha ha ha ha. Makin nggak jelas nih jawabannya” kata bu Kusno.
“Ha ha ha ha”
“Eh, Bud. mending masuk deh, terus mandi. Udah konslet tuh otak kamu, kebanyakan gas metana” kata laki – laki itu.
“Ha ha ha ha”
“Ya udah, kalo nggak ada yang peduli sama dia. Bagus malah buat saya” jawab Budi.
“Maksud kamu apa?” tanya bu kusno masih dengan cengengesan.
“Ya nggak papa, bude. Cuman ngasih tahu aja. Tapi kalo bude nggak mau, ya nggak papa. Tapi kalo besok ada kabar si Adi kelindes truk, jangan bilang Budi nggak ngasih tahu, ya!”
“Emang juragan muda lagi diman, Bud?” tanya laki – laki itu. Raut wajahnya sedikit berubah.
“Noh, lagi terkapar di jalan, di atas lapangan sono” jawab Budi sambil menunjuk suatu arah.
“Eh, Bud. kalo ngarang cerita yang bagus dikit, kenapa? Ngapain si Adi terkapar di jalanan? Orang mabok di rumah juga nggak papa” sahut bu Kusno.
“Itu, itu. Kalo mau ngerjain Budi, jangan pake mabok dulu. Pake gaya – gayaan mau nyiram Budi pake eek sapi. Naik motor aja nggak lurus. Ujung – ujungnya, nyusruk”
“Eh, Bud. kamu pikir, si Adi itu anak kemarin sore, mabok ampe nggak bisa bawa motor?” tanya bu Kusno.
“Budi ngomong apa adanya, bude. Mau percaya, monggo. Enggak juga, nggak papa. Malah bagus, musuh Budi berkurang satu” jawab Budi sambil menghidupkan kembali motornya. Lalu melajukannya masuk ke halaman rumahnya. Mereka masih tertegun, tidak ada yang berkomentar.
“Eh, Bud. kalo cerita lu bener, kenapa juragan muda nggak lu tolongin?”
“Ogah. Sebadan – badan eek sapi semua. Hii” jawab Budi.
“Yang kena aku cuman segini. Padahal bawanya seember gede. Gara – gara nyusruk tuh” lanjut Budi.
“Keluarin mobil!” perintah bu Kusno setengah berteriak.
“I, iya juragan ibu” jawab laki – laki itu.
Mereka langsung bubar dari depan halaman rumah Budi. Mereka mengikuti kemana bu Kusno melangkah. Bu Ratih dan Putri keluar dari dalam rumah.
“Kamu nggak apa – apa, ngger?” tanya bu Ratih.
“Enggak, bu. Budi nggak papa kok” jawab Budi.
“Mas, itu pipinya?” tanya Putri dengan nada berbisik.
Budi tidak menjawab. Dia hanya mengedipkan matanya sambil tersenyum. Lalu mengajak Putri dan ibunya masuk ke dalam rumah.
“Beneran apa yang kamu bilang tadi, ngger?” tanya Bu Ratih.
Budi tidak menjawab, tapi memperagakan orang sedang bertinju. Bu ratih paham. Dia dan Putri saling memandang.
“Put, siapin washlap sama es batu!” pinta bu Ratih.
“Kamu bebersih dulu ya ngger, abis itu ibu kompres!” lanjut bu Ratih.
Putri langsung pergi mengambilkan apa yang diminta ibunya. Budi langsung pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan mandi. Setelah itu, dia menghampiri ibunya, yang sudah siap untuk mengompresnya.
Sebenarnya Budi tidak merasa sakit. Ya hanya rasa yang biasa dia rasakan kalau latihan. Tapi dia juga tidak enak, menolak perhatian dari ibunya sendiri.
“Yang sabar ya, ngger!” kata bu Ratih saat mulai mengompres lebam di pipi Budi. Budi terlihat nyaman, tiduan menyamping, berbantal paha ibunya.
“Insya Alloh, bu” jawab Budi.
“Bu, mbok Putri di doain” celetuk Putri.
“Doain apa, Put?” tanya Bu Ratih.
“Doain, biar Putri dapet jodoh yang hebat, seperti mas Budi” jawab Putri.
Terdengar suaranya bergetar di akhir kalimat. Budi bangun dari tidurannya, lalu menghadap ke arah Putri. Ya, Putri sedang berlinang air mata. Antara sedih, terharu, dan bangga. Budi lantas membuka kedua tangannya. Dan putri segera menubruk tubuhnya. Mereka berpelukan. Tangis Putri pecah di dada kakaknya.
“Mas doain, semoga putri dapet jodoh yang jauh lebih baik dari mas Budi” kata Budi.
“Asal jangan lebih ganteng ya” lanjut Budi.
“Apa?” tanya Putri belum menangkap maksud Budi. Karena Budi mengatakannya setengah berbisik.
“Enggak, nggak jadi” jawab Budi.
“Apaan sih, mas? Pasti ngaco deh” tanya Putri sambil tertawa.
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa mengingat kelakarnya sendiri. Dan tawa itu sukses menular kepada ibu dan adiknya. Membuat suasana sedih, berubah menjadi ceria.
__ADS_1