Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sebelumnya, Masih di pagi setelah pertemuan dengan Sephia.


__ADS_3

“Oke. Di rumah cowokku, nanti siang. Skenarionya, aku mau beli ikan matang lagi seperti sebelumnya. Aku belum inget sama cowokku, aku cuman inget sama bu Ratih, sebagai penjual ikan. Di sana, cowokku juga belum inget sama aku ” jawab Adel


“Calon iparmu, dan cowoknya, pastikan ikut juga, ya!”


“Hei, calon iparku baru seumuran adikku. Mau buat apa, dia?”


“Aku nggak datang buat nyelakain siapapun. Apa kamu masih butuh bukti lain? Apa darahku masih kurang, buat nunjukin kalo aku setia sama Sandi?”


Adel menarik nafas, mendengar jawaban itu. dia sadar, kalau tetesan darah yang masih dia bawa itu, adalah bukti tertinggi yang pernah dia dapat. Bukti identitas dan kesetiaan dari setiap orang yang sandi kirimkan padanya.


“Oke. aku usahain” jawab Adel.


“Sip. Sampai nanti”


“Tuuuut”


Sambungan telepon diputus dari seberang. Adel merasa tersinggung dibuatnya. Dia merasa kalau Sephia punya rasa cemburu padanya. Tapi itu hanya sebentar. Dia langsung menghubungi Budi untuk menyampaikan berita itu. Budi menyanggupi permintaan Adel, walau sempat berdebat terlebih dahulu.


Siangnya, setelah membuat sekian skenario, Adel akhirnya bisa keluar dari rumah. Beruntung dia mempunyai adik yang pengertian, dan mau membantunya. Dia langsung menuju ke rumah Budi, dengan alasan ingin membeli ikan matang. Bedanya, kali ini, dia tidak mempedulikan lagi siapa-siapa saja yang ada di sekitaran rumah Budi.


“Mbak Adel, mau beli ikan mateng lagi, ya?” sapa seorang warga. Dia cukup terkejut mendapat sapaan itu.


“Iya mbak” jawabnya. Dia berhenti sebentar di dekat rumah orang yang menyapanya itu.


“Kebetulan banget, baru aja bu Ratih pulang. Tuh motornya Putri juga udah ada”


“Wah, emang jodoh kalo gitu. Tadi sih niatnya ngecek aja. Kalo belum pulang, mau saya samperin ke pasar” jawab Adel.


“Iya. Pasarnya sepi, kata bu Ratih. Eh begitu sampe rumah, dateng pembeli. Udah dua orang lho, yang ngantri. Siap-siap aja nunggu!” kata embak-embak itu.


“Oh, pantes. Baru juga mau nanya”


“Iya. Itu motor orang yang beli ikan gorengnya bu Ratih”


“Dari mana mbak, mereka?”


“Bilangnya sih, yang satu dari gunung limo. Yang satu wisatawan jakarta”


“Wuih, orang jauh semua, ya?”


“Emang ikan gorengnya bu ratih itu beda. Apalagi Putri juga pinter. Dagangan ibunya dipasarin di market place. Ya nggak aneh, kalo yang dari gunung limo juga sampe ke sini”


“Wuih, bener itu. Internet sih nggak punya batas”


“Betul”


“Ya udah, mbak. Saya ngantri dulu. Takut keduluan lagi” pamit Adel.


“Oh, nggeh. Monggo! Kalo bosen di sana, ke rumah saya juga boleh. Kita lanjut ngobrolnya” jawab warga itu.


“Nggeh, mbak. Terimakasih. Pareng”


“Monggo, silakan!” jawab embak-embak itu.


Adelpun segera masuk ke halaman depan rumah bu ratih. Dia parkirkan motornya berjajar dengan dua motor yang sudah parkir lebih dulu.


“Assalamu’alaikum” sapa Adel.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka.


Aroma ikan goreng semerbak memenuhi rumah. Terlihat ada Budi, Putri, Zulfikar, dan juga Sephia. Mereka tampak asyik berbincang selayaknya orang mengantri ikan goreng. Bahkan, agar terlihat alami, sephia benar-benar memesan ikan goreng bu Ratih.


Yang berbeda, Budi menggeser kursi tamunya menjadi mendekat ke ruang keluarga, tepat di depan tivi. Dengan skenario, dia sedang memperbaiki kabel listrik di atas plafon.


“Oke, karena proses menggoreng ikan nggak butuh seharian, langsung aja! kamu punya ide apa, Del?” tanya Sephia.


Adel duduk di tempat yang ditinggalkan Putri. Dia lantas mengungkapkan ide yang ada di kepalanya. Mereka berbicara dengan suara pelan. Berbaur dengan suara televisi yang sedikit lebih kencang dari suara mereka.


Budi menguji ide Adel dengan beberapa pertanyaan. Dia juga mengutarakan ide yang ada dalam kepalanya. Budi juga terbuka untuk mengkombinasikan idenya dengan idenya Adel.


Setelah melewati perdebatan yang nyaris tanpa suara, akhirnya didapatlah satu keputusan. Dan rencana itu akan dilaksanakan dalam waktu dekat.


Adel tampak kurang setuju dengan keputusan itu. Dia takut terjadi sesuatu terhadap Budi. Kata-katanya sanggup membuat Budi terpana. Dia merasa tersanjung, mendapatkan perhatian yang besar dari kekasihnya itu. Dia juga berseloroh, kalau dia ingin cepat-cepat menghalalkannya. Semuanya tertawa mendengar seloroh itu.


***


Present night


Adel duduk di kursi yang dibawakan oleh Sephia. Tepat di depan Dino. Hanya berjarak dua meteran saja.


“BANG***, DASAR LON** NGGAK TAHU TERIMAKASIH. GUA UDAH NOLONG ELU, BEGO. MAKSUD LU APA NYEKAP GUA, HA?”


“Nolong? Nolong siapa? Aku? Ha ha ha ha”


“SIAPA LAGI, PER***?”


“Ow, ow, ow, ow. Dia berpikir, aku masih amnesia, Phia. Hempf. Ha ha ha ha” kata Adel ke Sephia.

__ADS_1


Dino terkesiap. Dia mengerti dengan apa yang dimaksudkan Adel. Dia sebenarnya masih mau marah. Dia masih merasa dongkol, merasa dihina oleh Adel. Tapi dia juga mulai gentar.


“Kamu kerja sama siapa?” tanya Adel.


Dia tersenyum ramah. Seperti biasanya. Seperti tidak ada kemarahan dalam hatinya. Ya, menyaksikan orang yang mencelakainya terikat seperti ini, sudah merupakan kesenangan tersendiri baginya.


“Tenang, aku nggak akan nyakitin kamu, kok. kamu udah berjasa nolongin aku waktu aku terkena musibah. Aku cuman mau bikin perhitungan sama yang nyuruh kamu. Siapa?” lanjut Adel. Meledek.


“Tarantula, The Beast, Cobra?” Adel menyebutkan beberapa nama gengster terkenal di kota ini.


Dino masih juga belum menjawab. Dia masih mencoba untuk diam.


“Oke Phia. Bisa tolong habisi si Jangkar, Tarantula? Dan letakkan ini di dekat mayatnya!” kata Adel kepada Sephia. Dia memberikan sebuah kalung padanya.


“AN**** LO. LO MAU ADU DOMBA GUA SAMA KAKAK GUA, HA?”


“Kenapa? Takut banget? Demi orang yang udah ngebayar mahal. Harusnya kamu udah tahu, mesti ngapain”


“BERENTI BANG***!” teriak Dino, saat melihat Sephia melenggang pergi. Tapi Sephia tierus melangkah pergi. Bahkan dia memainkan kalung milik Dino. Dia putar-putar seperti baling-baling.


“OKE. LO MENANG. LO MENANG. PUAS?” teriak Dino lagi.


Sephia menghentikan langkah kakinya. Dia balik kanan, dan menunggu apa yang akan dikatakan Dino selanjutnya.


“Kalo lo udah nggak amnesia, kenapa lo masih nanya sama gua?” tanya Dino. Suaranya kini merendah.


“Aku pengen denger dari kamu. Aku pengen denger semuanya. Apa, siapa, kapan, bagaimana, kenapa. Aku cuman lihat satu hal. Tapi kamu, lihat banyak hal. Ada apa dengan aku? Dan ada urusan apa, kamu sama aku?” jawab Adel.


Flash back


Ingatan Dino melayang kembali ke sore itu. Sore dimana dia dan teman-teman segengnya harus kerja lembur. Kerja lembur yang dia sangkakan karena ulah Budi.


Dia tak habis pikir waktu itu, apa yang Budi katakan kepada kepala pabrik itu, sampai menungguinya terus saat lembur itu. Barulah saat menjelang pukul tujuh malam, kepala pabrik itu kembali ke kantornya.


Saat itu kemarahannya sudah memuncak, dan dia lepaskan peralatan kerjanya, dan berjalan menuju ruangan paling pojok yang dia jadikan markas di pabrik itu. Keempat temannya mengikutinya untuk beristirahat.


“Kepa***. Berani belagu sekarang” umpat Dino.


“Iya. mesti gimana kita, Din? Masa kita mau ditindas terus?” tanya Pujo.


“Haah. Malah tambah bikin pusing aja. Bikinin kopi kenapa” sahut Dino.


Dari ujung lorong, muncul sesosok wanita dengan perawakan tinggi semok. Tatapan wanita itu fokus melihat mereka. Sampai tidak menyadari saat ada dua orang karyawan ekspedisi menyapanya. Bahkan saat Pujo berpapasan dengannya, juga tidak dia perhatikan.


“Di sini rupanya” celetuknya.


“Eh, nggak usah sok galak lo ya! lo pikir lo masih punya taring, apa?”


“Banyak bacot juga ini per**” Dino bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita itu.


“Eh, tanpa kakak lo, lo tu sampah, kecoak”


“Beneran cari mati lo, Van?”


“Heh. Berani sentuh gua, ngandang lo sama kakak lo” bentak Stevani tak kalah galaknya.


Mendengar Stevani mengatakan ‘ngandang sama kakak’, membuat nyalinya menciut. Dia merasa belum siap mental untuk masuk penjara. Diaterdiam beberapa saat.


“Gua ke sini mau nawarin kerja sama. Kalo lo masih mau terlihat berwibawa, mending lo ikut gua!” kata Stevani lirih di dekat wajah Dino.


Tanpa menunggu jawaban, Stevani pergi meninggalkan Dino. Dia tampak sangat yakin kalau Dino akan mengikutinya. Dia berbelok ke kiri, menuju garasi ekspedisi.


Tempat itu sudah sangat sepi, karena memang jarang ada yang lembur sampai jam tujuh malam. Pekerjaan yang ada, lebih diutamakan dikerjakan di jam normal. Terkecuali ada pekerjaan mendesak.


Seperti hari ini, mobil Stevani sedang dibetulkan di garasi ini oleh tim maintenance, sehingga ada di garasi. Saat dia memasuki mobilnya, tak lama kemudian seseorang juga ikut memasuki mobiilnya. Ya, orang itu adalah Dino. Stevani langsung melajukan mobilnya keluar dari pabrik.


“Lo benci sama Budi, kan?” tanya Stevani sambil mengemudi.


“Apa peduli lo?” sahut Dino ketus.


“Ckk, masih sok yes” komentar Stevani sambil tersenyum sinis.


“Lo mau apa kalo gua benci sama Budi? lo mau pengaruhin si tua bangka itu buat mecat gua, ha? Biar nggak ada yang gangguin Budi kan? Lo suka kan sama dia, ha?”


“Sebenernya gua nggak ada urusan sama bercandaan kalian. Lo mau tonjok-tonjokan sama dia, silakan aja” jawab Stevani. Senyum sinisnya terlihat lagi.


“Ckk”


“Kalo ditanya, apa gua suka sama Budi, ya gua suka sama dia. Gua udah mulai jatuh cinta sama dia” lanjut Stevani.


“Cih. Malah curhat. Wedus gembel” sungut Dino.


“Tapi gua punya saingan. Lo tahu Adelia Fitri, kan? Penyanyi yang lagi naik daun di kota ini”


“Oh, itu pacarnya Budi? Ha ha ha ha”


“Ya, itu. Gua muak liat muka dia. Sok cantik banget”

__ADS_1


“Ha ha ha ha. Oke. Terus?” Dino tertawa mendengar pengakuan Stevani.


“Kalo lo masih pengen nyaman kerja sambil ngopi-ngopi di PRAM, lo bantu gua bikin Adel kapok berduaan sama Budi!”


“Ha ha ha ha. Wedus gembel. Lo pikir lo siapa? Anaknya Paul?” tanya Dino mengejek.


“ Oh. Bisa jadi sih. Anak dari lont** mana?” lanjutnya.


*PLAAAKK*


Sebuah tamparan mendarat dengan sukses di pipi Dino. Dino sendiri tercengang, tidak percaya kalau Stevani bisa memutar tubuhnya untuk mengayunkan tangan kanannya. Dan mobilnya masih berjalan lurus sekalipun kemudinya tidak dipegangi.


“Gini aja deh, gua kasih dua pilihan. Males gua bertele-tele. Lo mau rehat dipenjara apa rehat di hotel? Penjara ke kanan, hotel ke kiri. Mumpung pak Paul lagi di polres sama kakak lo” kata Stevani penuh amarah.


“ Lo yakin kakak lo bisa lindungin lo?” lanjut Stevani.


Dino terdiam lagi. Kalau saja kakaknya bisa melindunginya, pasti dia tidak akan nurut waktu disuruh lembur.


“Gimana caranya? Berduaan kan bisa dimana aja”


Akhirnya Dino memberikan jawaban yang diinginkan Stevani. Stevani tersenyum senang.


“Gua denger, Budi itu banyak musuhnya. Selain ganteng, cerdas, dia punya masa lalu yang buruk”


“Hem, ya. Kata orang sih, emang dia jago berantem. Tapi itu dulu, jaman SMA”


“Adelia Fitri, artis yang identik sama motor merahnya marunnya. Cih, mana sama persis lagi sama motornya Budi”


“Apa hubungannya sama motor Adelia?”


“Gua denger, grup campursarinya bakal ada jadwal undangan di tempat yang sangat jauh. Di hari itu, sabot motornya, supaya nggak bisa jalan”


“Itu doang? Lha dia bisa ngojek kali. Ngasih pelajaran sih orangnya, Vani”


“Pake otak dikit kenapa? Masa nggak bisa baca arah omongan gua?”


“Nggak usah berbelit-belit deh!”


“Cih, dasar gob***” komentar Stevani.


“Dia pasti bakal tetep berangkat, sama siapapun itu. Tapi pulangnya, aku yakin Budi pasti nawarin tumpangan. Nah, kalo itu udah pasti, tugas kamu cuman gampang. Saat gelap, pepet mereka di jalan yang gelap dan sepi! Hajar Budi sebisamu! Bikin dia lemes!”


“Kalo nggak lemes-lemes?”


“Cih, si bego” ledek Stevani.


“Butuh berapa orang buat bikin dia nggak berdaya?” tanya Stevani.


Dino terdiam. Dia merasa harga dirinya sedang dipertanyakan seorang wanita. Sebuah tantangan untuk membuktikan.


“Bawa orang sebanyak yang kamu butuhin. Aku bayar semuanya” lanjut Stevani.


“Wow”


“Tapi inget, cuman bikin dia lemes dan pingsan. Jangan sampe celaka!”


“Gampang itu. Terus abis itu?”


“Bikin Adel pingsan juga!” jawab Stevani.


“Lalu bawa Budi ke alamat yang entar aku kirim! Lalu pancing pengguna jalan lain buat nolongin Adel!” lanjut Stevani.


“Abis itu, pasti geger. Apalagi korbannya artis. Pasti Budi bakal dicap nggak becus jagain cewek. Pasti bapaknya Adel ngamuk-ngamuk, dan ngasih bodyguard buat Adel. Jadi si tengik Budi itu nggak bisa deketin Adel lagi”


“Nah, kalo pinter gitu kan asyik” puji Stevani.


“Kapan waktunya?” tanya Dino.


“Antara seminggu ini. Gua pastiin lagi. Lo, siapin orang aja! Jangan bertindak sebelum gua suruh!”


“Lagian bertindak juga butuh modal keles”


“Cih. Oke”


“Dan gua minta depenya”


“What?”


*SRIINGG*


“Jangan pura-pura lupa, lo!” kata Dino pelan tapi penuh penekanan. Sebuah pisau tergenggam erat di tangan kanannya, terhunus ke leher Stevani.


“Hotel di sebelah kiri, Van” lanjut Dino. Stevani mengurangi kecepatan mobilnya.


“Mau belok kanan, boleh. Tapi aku pastiin, leher ini putus dari pemiliknya” ancam Dino.


“Cih” Stevani tersenyum sinis.

__ADS_1


Di perempatan jalan, Stevani mengarahkan mobilnya ke kanan. Memutar arah untuk kembali ke posisi hotel berada.


__ADS_2