Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
putri ketembak


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban, Budi langsung berlari kembali ke pabrik. Dengan susah payah Erika mengejar Budi. Tanpa peduli tatapan orang yang melihatnya berlari bersama Erika, Budi terus berlari sampai ke pabrik. Dia juga langsung mengambil motornya.


“Pak. Mau keluar dulu, darurat” pamit Budi pada scurity yang berjaga.


“Oke” jawab scurity itu.


Erika yang menunggu di pos, langsung membonceng. Dan Budi langsung tancap gas.


Di tempat lain, Putri masih terus meliuk-liukkan motornya. Menyalip satu per satu kendaraan di depannya. Dia berusaha membuat jarak untuk kabur dari kejaran kedua orang tak dikenal itu.


“Put. Kamu punya apa?” tanya Stevani.


“Emang mereka udah deket?” Putri balik bertanya.


“Seratus meteran” jawab Stevani.


“Aku nggak punya senjata” kata Putri, menjawab pertanyaan Stevani.


“Lagian mereka pake pistol. Gimana ngelawannya, Van?” lanjut Putri.


*TAARRR*


“AWW”


Mereka berdua terkejut bukan main, saat spion kanan Putri tiba-tiba pecah. Sempat motor Putri oleng. Beruntung, Putri masih bisa menguasai motornya.


*Nguuuuuung*


Putri semakin menambah kecepatan, hendak menyalip mobil di depannya.


*TAAARR*


“Aawww”


Mereka terkejut lagi, kaca spion mobil yang mereka salip, pecah, tepat saat mereka berada di samping spion itu. lagi-lagi masih beruntung, Putri masih bisa mengendalikan motornya. Kejar-kejaranpun masih terus terjadi.


Putri sempat berbelok menuuju jalan kecil, berharap kedua pengejarnya kehilangan jejak, karena masih tertutup beberapa kendaraan.


“Kayaknya mereka kehilangan kita, Put” komentar Stevani.


Tapi Putri tidak melambatkan motornya sedikitpun. Dia ingin segera mencapai jalan besar yang ramai, dan menuju kantor Polisi.


“Put. Ati-ati! Truk masuk” tegur Stevani.


“Aaahh”


Putri mengeluh, sekaligus khawatir. Dengan sangat terpaksa, dia melambatkan laju motornya. Dia meminggirkan motornya, karena badan truk itu memenuhi hampir seluruh badan jalan.


“Pegangan!”


Putri berseru saat truk itu sudah melewati mereka. Reflek, Stevani memegang baju Putri. Tepat saat Putri tancap gas. Dia ingin memanfaatkan kesempatan, menghilang di lebarnya badan truk.


“Bismillah”


Tiba di ujung jalan, Putri harus belok ke kiri. Itu karena jalannya satu arah. Itu artinya, ada kemungkinan dirinya akan terlihat oleh kedua orang tadi.


*Cleeep*


“AAAHHH”


“PUTRII”


*GUSRAAAAKKK*


Putri terjatuh setelah gagal mengendalikan motornya. Sesuatu yang panas dia rasakan menusuk lengan kirinya. Rasa sakit teramat sangat seketika dia rasakan bersamaan dengan rasa didorong, sesaat sebelum terjatuh.


“AAAAAAHHHHH”


Putri mengerang kesakitan, merasakan kaki kanannya terjepit motor.


“Putri?”


“TOLOOONG”


Stevani berteriak meminta tolong. Beberapa warga bergegas mendekati mereka. Tapi kedua orang yang mengejar mereka, tampak tidak takut dengan kedatangan para warga sekitar.


Mereka tetap mendekati Stevani dan Putri. Dengan gerakan gesit, orang yang di belakang, mengulurkan tangannya, hendak menangkap Stevani.


“HOEE”


*sreeett*


“TOLOONG”


Stevani terseret oleh tangan orang yang mengejarnya.


“WOIII. CULIIIIIK” para warga berteriak dan berusaha mengejar.


*BRUAAAAKKKK*

__ADS_1


“AAAWWW”


Dari awah belakang, ada sebuah motor yang menabarak kedua pengejar Stevani. Kontan mereka terjengkang dan terjatuh. Dan Stevani terlepas dari cengkeraman mereka.


“HAJAR MEREKAAA!”


Para warga berteriak dan menghampiri kedua orang itu. Walaupun mereka sempat mau melarikan diri, tapi kali ini mereka terlambat.


*Bak bug bak bug bak bug*


Dengan senang hati para warga memberi mereka berdua pelajaran. Sedangkan beberapa warga yang lain, bergegas menolong Stevani.


“Van. Kamu nggak papa?”


“Putri, Bud. Putri ketembak” seru Stevani.


“Apa?”


Budi langsung berdiri lagi dan berlari ke arah motornya Putri. Tapi Putri sudah tidak ada disana. Ternyata Putri sudah ditolong warga. Dia berada di teras rumah salah seorang warga.


“Putri” teriak Budi.


“Kita bawa ke rumah sakit, mas” seru salah seorang warga.


Tampak Putri hendak dimasukkan ke dalam mobil si tuan rumah.


“Iya, pak. Tolong adik saya ya, pak” jawab Budi.


“Mas Budi ikut aja!” katasi tuan rumah. Ternyata dia mengenali Budi.


“Iya, mas. Biar motor mas sama motor adiknya, ditaruh di sini aja” jawab wanita di belakangnya.


“Terimakasih ya pak, bu. Terimakasih” jawab Budi. Dia hampir menangis, melihat Adiknya bersimbah darah.


“Saya boleh ikut?” sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.


“Astaghfirulloh, Ka. Kamu nggak papa?” tanya Budi. Baru tersadar dengan keberadaan Erika.


“Nggak papa, kok” jawab Erika.


“Ayo mas Budi! Sekalian kita bawa mbaknya yang di depan tadi” ajak si tuan rumah.


“Baik, pak. Mari” jawab Budi.


Merekapun segera berangkat. Budi berada di sebelah kanan, menjadi bantal untuk kepala Putri. Putri sedang tidak sadarkan diri. Terlihat bekas benturan di kepalanya.


Sampai malam menjelang, Putri belum sadarkan diri. Tapi sebenarnya tidak ada cedera parah pada kepalanya, selain kehilangan banyak darah karena luka tembak di lengan kirinya.


Luka di kepalanya itu hanya baret-baret saja, karena helmnya pecah. Tapi beruntung, helmnya berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Sehingga Putri tidak megalami gegar otak.


Proyektil peluru dilengannya juga sudah diangkat melalui operasi. Budi langsung menyetujui segala bentuk tindakan medis terhadap adiknya itu.


Namun, Dokter sempat mengatakan kalau pergelangan kaki kanan Putri sempat dislokasi. Sudah dilakukan penanganan. Dan diperkirakan akan membutuhkan waktu antara dua minggu sampai satu bulan untuk bisa kembali berjalan dengan normal.


Budi masih menunggui Putri diruang ICU pasca operasi. Di luar, Erika masih setia menemani. Termasuk membantu semua yang dibutuhkan bu Ratih.


Pak Paul juga sempat menjenguk sore tadi, setelah mendapat kabar dari Erika. Dia datang bersamaan dengan datangnya bu Lusi dan Madina.


Madina sendiri sempat diijinkan Budi untuk masuk ruang ICU dan melihat keadaan Putri. Tapi hanya sebentar. Karena, melihat posisi tempat Putri di rawat, mengingatkannya pada almarhum bapaknya. Kesedihannya seketika memuncak. Tangisnya tak terbendung. Dan dia diminta menunggu di luar oleh suster jaga, setelah dihibur beberapa saat.


Zulfikar sempat datang menjenguk, tapi hanya sebentar. Walau sebenarnya berat untuk pergi lagi, tapi sebagai aparat, dia berkepentingan untuk melihat kedua pelaku pengejaran itu. Dia juga ditugaskan atasannya untuk ikut mengusut tuntas kasus ini.


Rasa kantuk yang kian mendera, karena tubuh yang lelah, seharian ke sana-kemari mengurusi Putri dan Stevani, membuat mata Budi terpejam. Tanpa sadar dia tertidur sambil duduk. Persis seperti saat menunggui Erika.


“Emh”


Dia tidak tahu kalau Putri mulai siuman.


“Aduh”


Putri mengeluhkan rasa sakit di kepalanya. Tapi saat akan menggerakkan tangan kirinya, dia juga merasakan rasa nyeri yang tak kalah hebatnya. Untuk beberapa saat, Putri berusaha mengenali tempatnya berada saat ini. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi.


*Ya Alloh, alhamdulillah. Terimakasih ya Alloh, Engkau telah berkenan menyelamatkan hamba. Nggak kebayang kalo kena kepala*.


Putri menghela nafas. Sambil terus mengucapkan hamdalah. Beberapa saat dia pejamkan lagi matanya.


Walau tubuhnya terasa sakit, tapi hatinya penuh dengan rasa syukur. Entah sudah berapa kali dia ucapkan hamdalah, sampai akhirnya dia putuskan untuk membuka matanya kembali.


*Masya Alloh. Kamu sampek ketiduran gitu, mas. Emang bener-bener titisan bapak kamu, mas. Pantesan, mbak Rika yang kata mbak Ratna galak, bisa takluk sama mas*.


Budi masih anteng. Tidak seperti saat menunggui Erika, yang terus terbangun saat Erika siuman.


*Aduh. Kepengen pipis. Tapi gimana ke toiletnya? Uuuh. Kakiku sakit ya Alloh. Kenapa ini kaki? Apa yang ketiban motor, ya*?


“Ssstt. Aduuh, sakit banget ya Alloh” keluh Putri, saat berusaha untuk duduk. Saat itu, Budi merasa ada yang berisik di telinganya. Dan dia mulai terbangun.


“Putri?”


Seperti saat menunggui Erika, Budi tidak langsung tersadar secara penuh.

__ADS_1


“E eh. Mau ngapain?” tanya Budi, kaget.


Dia mencegah Putri untuk bergerak lagi.


“Kalo udah siuman kenapa nggak nyolek aku?” tanya Budi lagi.


Putri hanya meringis menahan sakit, saat mengembalikan posisinya seperti semula.


“Putri mau pipis, mas” kata Putri, menjawab pertanyaan Budi.


“Pipis? Oh, itu. Pispotnya di situ” respon Budi.


Sambil menguap, dia mengambilkan pispot yang tergeletak di toilet ICU.


“Nih” kata Budi, sekembalinya dia di ranjang Putri.


“Putri sama suster aja, mas. Bisa tolong panggilkan?” tanya putri.


“O oh, iya. Putri udah gede, ya? Bego banget, gua” komentar Budi sambil tergelak, disertai tepukan tangannya ke jidatnya sendiri.


Diantara rasa sakit yang dia derita, Putri masih sempat tergelak, melihat kelakuan kangmasnya. Sampai Budi menghilang di balik tembok, mata Putri masih mengikuti langkahnya.


*Bener-bener kaya bapak mas, kamu. Nganggep Putri masih kecil aja*.


Tak lama kemudian, Budi kembali dengan seorang suster dan seorang dokter jaga. Suster itu segera mempersiapkan uritori.


“Mas” tegur Putri.


“E eh. Aduh, ya Alloh, si bego. Orang Putri mau pipis, kenapa pake ngikut?” sahut Budi. Lagi-lagi dengan menepuk jidat. Lalu dia balik kanan.


“Jaka sembung makan soto” kata Budi sembari beranjak pergi.


“Hem?” si dokter, bingung.


“Bego” kata Budi, melanjutkan pantunnya.


“Hempf”


Bu dokter, suster, dan Putri sendiri tergelak, mendengar pantun lucu Budi. Bu dokternya bahkan butuh waktu satu menit lebih untuk menghentikan tawanya. Dia belum pernah terpikirkan ada pantun yang pendek, tapi out of the box.


“Mas. Kok cengar-cengir gitu? Kenapa? Putri udah siuman?” tanya Erika, begitu Budi keluar dari ruang ICU.


“Udah” jawab Budi singkat. Masih ada senyum geli tersisa di bibirnya.


“Adekmu gimana, ngger?” tanya bu Ratih.


“Wah. Budi belum nanya, bu” jawab Budi.


“Lha kok malah cengar-cengir gitu?” sentak bu Ratih.


Budi terkejut mendengar suara ibunya menyentak cukup lantang.


“Ya maaf, bu. Budi sih ngetawain kebegoan Budi sendiri. Bukannya ngetawain Putri” jawab Budi.


“Maksud mas?” tanya Erika.


“Ya kan Putri bilang pengen pipis. Reflek kan aku ambilin pispot. Di pikiranku tuh ya biasa. Kalo Putri nggak bisa, aku siap bantu” jawab Budi.


“Kan adekmu udah gede” sahut bu Ratih.


“Itu dia bu. Budi lupa. Orang masih ngantuk, sih. Belum konek”


“Terus?”


“Ya si Putri minta dipanggilin suster” jawab Budi.


“Di situ Budi udah mulai konek. Makanya ketawa” lanjut Budi.


“Udah dipanggilin susternya? Ada dokter jaga juga di dalem”


“Sudah bu. Tadi Budi langsung panggilin mereka”


“Terus, mas ikut balik ke Putri lagi? Mau bantuin lagi?” tanya Erika.


“Iya” jawab Budi sambil tergelak.


“Dih. Udah konek kenapa balik lagi?”


“Itu dia” seru Budi.


“Makanya, kata aku, jaka sembung makan soto” lanjut Budi.


“Apa tuh?” tanya Erika sambil tergelak.


“Bego” jawab Budi.


“Hempf”


Bu Ratih tergelak kali ini. Dia tertawa mendengar pantun putranya. Sama seperti dokter tadi. Pantun pendek itu terdengar lucu di telinganya.

__ADS_1


__ADS_2