Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
perbekalan yang membingungkan


__ADS_3

Setelah beberapa lama berkendara, tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berbelok dari jalur yang seharusnya. Budi sempat waspada dan bertanya pada si Cobra lewat telepon.


Si Cobra mengatakan kalau mereka akan menjemput seseorang terlebih dahulu. Saat ditanya siapa, si Cobra tidak menjawab. Membuat Budi semakin waspada.


*Tok tok tok*


Kaca pintu belakang sebelah kiri diketuk dari luar. Tampak seseorang memakai gamis, berjilbab lebar dan memakai masker berdiri tepat di samping pintu. Budipun menurunkan kaca pintunya.


“Masih ada kursi kosong?”


Wanita itu bertanya sambil menurunkan maskernya. Seulas senyum tersungging di bibirnya.


“Isma?” seru Erika, lirih.


“Masuk!” jawab Budi.


Budi membukakan pintu untuk wanita itu. Dan wanita itupun masuk, langsung mengambil posisi di jok paling belakang.


“Kok?”


Begitu mobil berjalan lagi, Erika langsung memutar badannya menghadap ke belakang. Dia bingung, Erika bisa semudah itu keluar dari penjara, dan ikut bersama mereka.


“Sersan dua, Nabila Oriza. Nick name, Isma Damayanti. Kopassus” kata Budi, menjawab kebingungan Erika.


“Ha?”


Erika menutupi mulutnya yang ternganga, saking kagetnya. Dia tidak menyangka, kalau orang yang selama ini sekantor dengannya adalah prajurit pasukan khusus yang menyamar.


“Apa kabar, Ka? Denger-denger, masuk juga itu rotan?” sapa Isma.


“Em? Oh, rotan buat ekspor? Ya. Resti kalah pamor sama yang lebih senior” jawab Erika.


“Sesangar apa, efek narkotikanya?”


“Ya, kalo buat jomblo sih, boleh juga” sahut Budi.


“Adow”


Sebuah cubitan manja mendarat di pinggangnya. Dan Erika tersenyum sambil melotot manja pada Budi.


“Hempf” Isma tergelak melihat tingkah keduanya.


“Jomblo juga nggak perlu pake itu keles” komentar Isma.


“Hi hi hi. Pake pentungan sipir” gumam Budi setelah tertawa.


“Erika itu sih” sahut Isma.


“Dih. Kurang kerjaan. Yang jomblo kan mbak Isma” seru Erika heboh.


Mereka sempat ceng-cengan, membuat suasana lebih cair dan akrab. Sepanjang jalan, terjadi obrolan serius pula.


Mereka saling jujur tentang jati diri masing-masing. Dan Budi mulai memahami lebih jauh situasi yang dia hadapi.


Di kesempatan itu pula, Isma memberikan saran strategi berdasarkan info intelejen yang dia punya. Karena misi ini adalah bagian dari misi besar yang harus dia selesaikan.


Setelah berkendara cukup lama, dan banyak sekali informasi yang mereka bagi, akhirnya mereka sampai di tujuan pertama.


Rumah yang ada di titik koordinat itu tampak besar dan megah. Tapi tak seperti layaknya rumah seorang konglomerat, tampak depan rumah itu malah terlihat seperti sebuah kos-kosan kelas atas.


Tercermin dari parkirannya yang luas, dengan sebaris shelter yang terisi penuh dengan mobil. Mengisyaratkan kalau yang menghuni rumah itu tidak hanya satu keluarga.

__ADS_1


Konvoi berhenti beberapa meter dari rumah besar itu. Nungki meminta sopir Budi untuk mendahului, membuka jalan untuk yang lain.


Di pos scurity, Budi menunjukkan kartu berwarna hitam itu. Siluet gambar garuda yang sedang terbang itu, membuat si scurity yang berjaga terperanjat.


Buru-buru dia menelepon sambil menatap ke arah rumah. Tak lama kemudian, Budi dan rombongan dipersilakan masuk. Scurity itu mengarahkan mobil Budi untuk perkir tepat di depan pintu utama. Budi keluar diikuti Erika dan Isma. Begitu juga Nungki dan yang lain, mengikuti dari belakang.


“Mas?”


Erika mencolek tangan Budi, saat dia melihat, ada seorang wanita muda keluar dari pintu utama rumah itu.


Pakaiannya yang serba terbuka, membuat Erika curiga. Bagaimana tidak curiga, wanita itu hanya memakai hotpants yang biasa dipakai sebagai dalaman. Di atasnya hanya memakai tanktop dengan warna hampir senada dengan kulitnya. Belum lagi usianya yang Erika perkirakan masih sembilan belasan tahun.


“Oh. Ini orangnya?”


Dari dalam rumah, muncul lagi seorang wanita. Usianya mungkin seumuran Erika. Pakaiannya tak kalah menggoda dengan wanita yang pertama tadi.


Jubah tidur satin berwarna merah muda, tanpa bawahan, dan hanya mampu menutupi setengah pahanya.


“Wah. Banyak juga cowoknya. Mau pesta, kita?”


Satu wanita lagi keluar sambil berseru. Membuat Erika mulai terbakar cemburu. Kaos dalam pria, yang kedodoran sampai setengah paha, dengan tanpa celana yang terlihat, pastilah membuat mata belekan jadi seger. Di sebelahnya, Isma juga berpikir keras, dengan apa yang ada di hadapan mereka.


“Mas Bud. Kamu nggak salah tempat?”


Nungkipun sama bingungnya. Dan dia orang pertama yang tidak mampu menahan rasa penasaran. Budi tidak segera menjawab. Karena dia sendiri juga bingung.


“Welcome home, guys”


Wanita pertama, yang memakai hotpants, berjalan menuruni tangga dan mendekati mereka. Semua mata terpaku mengamati gaya berjalannya yang anggun.


“Come in! I have nice place to take a rest” kata wanita itu sambil menggerakkan tangan kirinya menunjuk ke arah rumah. Senyumnya sanggup membuat semuanya terpesona.


“Tapi kita ke sini bukan buat istirahat” celetuk Erika.


“Hayuk!”


“Mas?”


Dan sepertinya tebakan itu benar. Budi mengajak Erika untuk mengikuti sang tuan rumah.


Walau sempat diprotes, tapi Budi tidak menggubris. Dia berjalan mendahului yang lainnya.


Mau tak mau, Erika beranjak juga, mengikuti sang kekasih. Isma, Nungki, dan yang lain juga mengikuti langkah Budi. Tersisa para sopir.


Memasuki rumah itu, lebih banyak lagi wanita yang terlihat berseliweran. Mereka sedang asyik menonton drakor di ruang tengah.


Sejenak mereka memperhatikan kedatangan Budi dan yang lain. Tapi tak lama kemudian, mereka beranjak pergi dari ruang tengah. Masing-masing pergi ke kamar yang berbeda.


Ada banyak kamar di rumah ini. Rumah bergaya eropa ini memiliki sepasang sayap, yang difungsikan sebagai kamar tidur. Di atasnya, ada lantai maizenin, dengan sebuah tirai. Tampak juga seseorang mengintip dari balik tirai itu. Rupanya lantai maizenin itu juga difungsikan sebagai kamar.


Belum lagi yang berada di lantai dua, juga di lantai atap, di bawah genteng. Tak kurang dari sepuluh kamar di rumah itu. Sangat layak kalau disebut kos-kosan elit.


“Silakan duduk dulu! Aku ambilin minum dulu, ya” kata wanita anggun berhot pants itu.


“Eeem. Kami ke sini hanya untuk mengambil perbekalan” sahut Erika.


Budi sempat menoleh dan bingung dengan ucapan Erika. Tapi dia tidak berkomentar, dan akhirnya, dia mengalihkan pandangannya ke wanita tadi. Sebagai isyarat kalau dia setuju dengan Erika. Wanita itu tersenyum.


“Oke” kata wanita itu.


Senyumnya semakin lebar, seolah-olah dia ingin mengatakan, ‘sudah aku duga’.

__ADS_1


“Come with me!” ajak wanita itu.


“Shella”


Terdengar seseorang memanggil dari arah kamar atas. Mereka semua menoleh ke arah tangga.


“Yang berkumis tipis itu, buat aku, ya?”


Seorang wanita, menggunakan piyama tipis berwarna ungu, berjalan dengan anggun menuruni tangga. Tangannya menunjuk kepada si Cobra, namun mata dan senyumnya terarah pada wanita berhot pant itu.


“Aku sama yang di depanmu ya, Shel?”


Dari arah kamar sayap kanan, seorang wanita juga berseru. Tangannya menunjuk pada Budi, namun matanya mengarah pada wanita yang sama.


“Kamar atas, siap” seru seseorang dari lantai dua.


“Mau semi terbuka juga siap” yang tadi mengintip dari balik tirai lantai mezzanine juga ikut berseru.


“Wo ho ho ho” si Hind tertawa setengah menggoda Erika. Tentu saja Erika langsung melotot padanya.


“Aku nyari kamar ‘Diajeng Ratri’ “ kata Budi. Erika langsung menoleh dan melotot pada Budi.


“Mas?”


Tak kuasa Erika menahan untuk tak bertanya. Budi bukannya fokus pada tujuannya, malah menanyakan kamar seorang wanita. Terlebih disaat wanita yang dipanggil Shella itu tersenyum semakin lebar pada Budi.


“Liar juga seleramu” komentar Shella.


Senyum si Shella semakin mengobarkan api cemburu di hati Erika.


“Maksudnya apa, mas?”


Akhirnya Erika protes juga. Tak tahan dia berlama-lama bersabar.


“Kamarnya ada di belakang” celetuk Shella, menjawab pertanyaan Budi, tadi.


“Come!” lanjutnya, sambil berlalu menuju bagian belakang rumah ini.


“Mas. Apa-apaan ini?” protes Erika, saat Budi hendak beranjak. Budi tergelak melihat tingkahnya.


“Ikuti saja, Ka! Nggak usah protes!” jawab Budi.


“Ya nggak bisa gitu, dong. Perbekalan apa kayak gini?” tolak Erika. Budi tergelak lagi.


“Kamu nggak lulus ujian ini, Ka” komentar Budi.


“Maksudnya?”


“Aku juga pasti nggak lulus” kata Budi, tanpa menjawab pertanyaan Erika.


“Tapi ini perintah bapak. Nggak mungkin bapak merintahin anaknya buat nakal” lanjut Budi.


Erika masih tidak terima dengan jawaban Budi. Namun kali ini dia tidak tahu harus bilang apa lagi.


“Aku pikir ini semua hanya pengalihan, Ka” celetuk Nungki.


“Ya. Kaya yang di kantor, waktu itu” timpal Budi.


“Hem?” Erika belum mengerti.


Tapi Budi sudah keburu menggandeng tangannya sambil tersenyum, sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut. Nungki dan yang lain mengikuti Budi dan Erika dari belakang.

__ADS_1


Beberapa wanita tampak mengintip dan cekikikan dari balik pintu kamar, sepanjang lorong menuju bagian belakang rumah.


__ADS_2