Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pasca sidang pertama


__ADS_3

Di tempat lain, salju kembali turun menjelang jam makan siang. Membuat jalanan yang sepi karena lock down menjadi semakin sepi. Budi masih merenung sendiri di sudut ruangan. Dia masih belum beranjak semenjak selesai persidangan tadi.


“Bud. Makan dulu!”


Sebuah suara mengalihkan perhatiannya. Erika datang membawa dua piring nasi dengan sayur oseng-oseng buncis dan lauk tempe tepung. Dia meletakkan kedua piring itu di meja yang dipakai Budi.


“Gimana aku bisa makan, mbak?” sahut Budi dengan muka kusut. Dia usap muka kusut itu dengan kedua tangannya.


“Hei. Pikiran boleh kacau, tapi makan tetep harus” kata Erika sambil tersenyum.


Budi terpana dengan tatapan mata Erika. Di hatinya terasa teduh. Rekan-rekan yang lain hanya bisa melihat tanpa berani menegur.


“Gimana kamu bisa mikirin semua masalah kamu, kalo otak kamu nggak dapet nutrisi?” tanya Erika.


Budi masih belum menjawab. Dia masih menatap Erika. Kali ini bukan tatapan terpana, kali ini lebih ke arah tatapan kosong.


“Kamu tahu kan, aku ini jomblo. Jadi aku nggak mungkin ngasih saran sama orang yang punya pacar, tentang gimana caranya menjaga hubungan di masa sulit. Doesn't make sense” lanjut Erika.


Budi tergelak mendengar kalimat itu. Dia sebenarnya tahu apa maksud sebenarnya dari kalimat itu.


“Jadi aku cuman bisa masakin makan siang, dan maksa kamu untuk segera makan” lanjut Erika lagi.


Budi tergelak lagi. Kali ini dia melirik makanan yang terhidang di depannya. Dia menghirup aromanya. Di dalam hati dia memuji aroma masakan itu, cukup menggoda.


“Ini masakan mbak Rika? Wow” tanya Budi.


“Lu kata gua nggak bisa masak?” sahut Erika berlagak tersinggung.


“Ha ha ha. Emang aku belum pernah lihat mbak Rika masak”


“Haaah. Kalo nggak di sini, mana bisa aku masakin kamu, Bud? bisa dibecek-becek aku sama Adel”


“Ha ha ha” Budi tertawa mendengar keluhan Erika.


“Eem. Tapi, “ kata Budi menggantung.


“Come on, Bud. Yang lain udah makan, lho” sahut Erika.


Budi tahu maksud Erika. Erika seolah mau membantah kecurigaannya, tentang makanan itu. Membantah kecurigaan kalau makanan itu sudah dibubuhi sesuatu. Walau Erika mengatakannya tidak secara eksplisit. Dengan membawa rekan-rekan lain, seakan-akan dia ingin mengatakan, kalau memang ada perangsangnya, yang lain pasti juga kena.


Budi tersenyum. Dengan mengatakan hal itu, seolah Erika mengakui, kalau dia memang membubuhkan perangsang pada kopi yang dia buatkan untuknya.


“Oke. Kayaknya enak, sih” kata Budi setuju.


“Emang enak, lah” sahut Erika.


“Yang lain juga lahap, tuh” tunjuknya pada yang lain.


“Deni sih, takut di skors” celetuk Bayu.


“Ha?” Deni terkejut mendengar celetukan Bayu.


“Hempf. Ha ha ha ha” sontak semuanya tertawa mendengar keterkejutan Deni.


Erika hanya melotot sambil berkacak pinggang.


Setelah acara makan selesai, Adel teringat dengan proses produksi di bengkel kayu bapaknya. Sebelum kembali ke rumah sakit, Adel meminta ijin ke luki dan yang lain untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Dia ingin memastikan kondisi bengkel kayu bapaknya. Bagaimanapun juga, pengiriman ke empat tetap harus dijalankan.


“Apa nggak bisa video call aja, Del?” tanya Nike.


“Iya, Del. Kamu perlu istirahat, lho” sahut Tati.

__ADS_1


“Gimana aku bisa istirahat, kalo atiku belum tenang?” tanya Adel. semuanya terdiam.


“Aku harus mastiin dulu kondisi di bengkel. Kalo aman, ya udah. Aku bisa istirahat” lanjut Adel.


“Ya udah. Aku anter, ya?” tawar Luki.


“Justru aku perlu mas Luki buat ngasih tahu ibu. Pasti ibu akan langsung tenang. Beda kalo sama Tati. Pasti akan banyak pertanyaan” jawab Adel.


“Oh” komentar Luki pendek.


Sebenarnya dia kurang suka dengan jawaban Adel itu. Tapi dia tahu, tidak ada gunanya ngeyel sama Adel.


“Ya udah kalo gitu. Ati-ati ya, jalannya! Kalo emang butuh subcont, jangan sungkan buat bilang! Aku pasti bantu, kok” kata Luki.


“Iya, mas. Terimakasih ya, buat hari ini” jawab Adel.


Merekapun berpisah di parkiran. Adel meminta Shinta untuk menemani Luki kembali ke rumah sakit. Para pengacaranya Luki pergi ke arah yang berbeda. Walau merasa aneh, tapi Adel tidak ambil pusing. Dia kembali memejamkan matanya begitu Tati melajukan mobilnya.


Sesampainya di depan rumah, Tati memberi tahu Adel, kalau ada mobil lain di halaman rumahnya. Adel hanya merespon singkat. Dia tahu mobil siapa itu. Dan benar, yang punya mobil berdiri tak jauh dari bengkel kayu bapaknya.


“Udah lama, mbak?” sapa Adel sambil menyalami Farah.


“Belum. baru juga lima menit” jawab Farah.


Seseorang datang menghampiri mereka. Ya, itu Aldo. Diapun menyalami Adel.


“Gimana mas Aldo, ada temuan?” tanya Adel.


Dengan wajah yang masih terlihat sangat kacau, dia masih berusaha ramah terhadap tamunya.


“Oh, nggak ada. Alhamdulillah, masih on target” jawab Aldo.


Adel tertarik dengan jawaban Aldo itu. senada dengan tujuan utamanya pulang ke sini, adalah untuk memastikan semuanya berjalan dengan semestinya.


“Aduh, maaf ya mas, mbak, malah saya cuekin” kata Adel menyadari kekhilafannya.


“Nggak papa, mbak Adel” jawab Aldo sedikit canggung, melihat raut wajah Adel.


“Kalo gitu, kita ngobrol di teras, yuk!” ajak Adel. Farah hanya mengangguk saja.


“Aku bikinin teh, ya?” kata Tati, setengah berbisik.


“Iya. Makasih ya, Ti” jawab Adel lirih. Nike terlihat mengikuti Tati.


Merekapun berpindah posisi ke teras. Adel mempersilakan kedua tamunya untuk duduk. Sementara dirinya masuk ke dalam untuk meletakkan tasnya.


“Tadi ada bawahannya Isma lho, mbak” kata Adel, sekembalinya dari dalam.


“Oh, ya? berapa orang?”


“Total lima orang sama pak Paul. Ditambah pengacaranya tiga. Emang mbak Farah nggak tahu?”


“Saya ditugasin nemuin calon pelanggan, seharian ini. Baru juga balik, diajakin Aldo ke sini” jawab Farah.


“Oh” respon Adel singkat.


“Kalo boleh tahu, tadi gimana sidangnya, mbak?” tanya Farah hati-hati.


“Wuuh. Pengacaranya si Isma, gila. Satu orang juga pinternya nggak kira-kira. Pinter banget berkelitnya. Malah nyerang balik aku. Suwek banget itu orang”


“Terus, mbak Adel gimana?”

__ADS_1


“Untung pengacara aku juga nggak kalah pinter. Data dia lengkap. Ditambah data-data dari Abram. Bisa ngelak, deh. Kalo enggak, beneran masuk perangkap”


“Subhanalloh” komentar Farah, terkejut.


“Kalo Dino, mbak?” tanya Aldo.


“Dia yang paling kasihan” jawab Adel.


“Kok kasihan?” tanya Farah.


“Maksud aku, diantara kita semua, yang nggak pake pengacara, cuman dia” jawab Adel. farah dan Aldo mengangguk-angguk.


“Aku yang dibantu tiga pengacara aja masih pontang-panting ngadepin Isma. Gimana nggak pake?” lanjut Adel.


“Kalo yang itu mbak, sepupunya Budi, gimana?” tanya Aldo lagi.


“Dia sih pakai pengacara. Ortunya juga dateng, tadi. Tapi ya, namanya nerima kerjaan dari otak intelektual, tetep aja kejerat pasal. Berlapis lagi” jawab Adel.


“Oh” komentar Aldo pendek.


“Ibarat maling sama penadah. Sekalipun nggak ikut maling, tapi kan dia menerima hasil malingan itu. Pasti kena juga, lah” lanjut Adel.


“Tapi kok bisa seharian ya, mbak?” tanya Farah.


“Nggak tahu. Aku belum pernah ikut sidang. Tapi kata pengacaraku sih, emang ini maraton. Mungkin karena ada korona itu, jadi aturan tiga kali sidang, dibabat habis seharian ini. Udah gitu masih ada satu atau dua kali sidang lagi. Nggak kebayang gimana pusingnya”


“Demi keadilan, mbak. Mbak Adel harus tabah!” kata Farah menyemangati. Tapi Farah malah menatapnya dengan tatapan yang aneh buat Farah.


“Maaf, mbak. Bukannya saya bermaksud sok akrab. Saya hanya bisa kasih semangat” lanjut Farah.


“Iya, mbak. Maaf, ya? aku emang lagi kacau”


“Iya, mbak”


“Oh, iya, mbak. Sidang selanjutnya kapan, mbak?” tanya Aldo.


Adel mendelik lagi. Buru-buru Farah menginjak kaki Aldo, sebagai teguran keras.


“Maaf, mbak. Maksud saya, kalau nanti di rumah lagi nggak ada tuan rumahnya, saya mau minta ijin buat kontrol. Biar nggak disangka selanang selonong” lajut Aldo menjelaskan. Adel mengangguk-angguk, mengerti.


“Aku nggak tahu kapan sidang lagi. Aku nggak merhatiin, tadi” jawab Adel. suaranya seperti suara orang yang sedang meredam amarah.


“Tapi kalau mau kontrol sih, masuk aja, mas! Langsung sama tukangku juga nggak papa” lanjut Adel.


“Oh, siap” sahut Aldo.


“Permisi”


Perhatian mereka teralihkan pada sapaan Tati. Dia datang memawakan teh hangat. Di belakangnya, ada Nike yang datang membawakan makanan ringan. Mereka bergantian meletakkan hidangan itu di atas meja.


“Silakan mas, mbak!” kata Adel mempersilakan.


“Alhamdulillah. Makasih lho, mbak Adel. jadi ngerepotin” sahut Farah.


“Cuman air, mbak” jawab Adel. Dia berusaha tersenyum, walau hatinya masih kalut.


Menjelang maghrib, Farah dan Aldo pamit undur diri. Tawaran Adel untuk sholat maghrib terlebih dulu, ditolak dengan halus oleh Farah. Karena memang hanya basa-basi, Adel tidak mempermasalahkan penolakan itu.


Sehabis maghrib, Adel memeriksa semua catatan milik para tukangnya. Tak lupa dia juga memeriksa cctv. Dia manggut-mangut, semua yang sudah dia tetapkan semenjak kemarin-kemarin, masih dilaksanakan dengan baik, sekalipun tanpa pengawasannya.


Setelah sholat isya’ barulah dia mengajak Tati untuk kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


***


__ADS_2