
Semenjak saat itu, Budi bertekad untuk menata hatinya. Tidak mudah memang, masih sering dia tertegun sendiri. Sering juga dia hilang konsentrasi disaat mengerjakan pekerjaannya. Beberapa kali juga dia tidak menangkap disaat Aldo menjelaskan perkembangan produksi lewat panggilan video.
Tapi tidak ada yang protes apalagi meledek Budi. Semua rekan kerjanya memaklumi keadaan Budi sekarang. Dan beruntungnya, mereka selalu menebar senyum dan candaan. Sehingga Budi sesekali bisa tergelak.
Bagi Putri, keadaan kakaknya saat ini merupakan tanggung jawabnya. Dia tidak ingin melewatkan satu momenpun yang dilalui kakaknya. Dia tidak ingin kakaknya berulah lagi. Maka dari itu, dia selalu menelepon dan menanyakan keadaan kakaknya. Dia juga suka menanyakan kabar tentang Erika, Ratna, dan yang lain untuk memancing candaan. Biasanya suasana akan menjadi cair kalau kebetulan ada Deni di dekat Budi.
Dia selalu bertanya tentang Putri. Bahkan dia pernah menyatakan terang-terangan kalau dia tertarik pada Putri. Sontak saja Budi menolak dengan tegas. Tentunya penolakan itu hanyalah bercandaan semata. Dan terciptalah gelak tawa yang menghangatkan suasana.
Hilda juga melakukan hal yang serupa. Dia selalu dihantui perasaan bersalah, sekalipun bukan kesalahannya jika Budi sampai nekat seperti itu. Terlebih saat dia mendapatkan kabar tentang huru-hara malam itu. Dia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Budi. walaupun hanya bertegur sapa lewat pesan singkat. Setiap jawaban yang dia terima, terasa sangat berarti buatnya.
Dan selama masa-masa sulit itu, hampir bisa dipastikan ada Erika di sebelah Budi. Ketika Budi bengong, hanya Erika yang berani menegurnya. Ketika dia tidak bersemangat bekerja, hanya Erika yang sanggup membuatnya beranjak dari ranjangnya.
Tanpa dia sadari, sebenarnya ada yang berusaha mencuri perhatian padanya. Tapi usaha itu tidak begitu terlihat oleh Budi karena tertutup oleh keberanian Erika, yang secara terang-terangan terus berada di dekatnya. Dia suka protes kalau Erika mengajak Budi yang aneh-aneh.
Seiring bergantinya hari, Budi semakin serius mengobati luka hatinya. Dia tahu, tidak setiap saat dia bisa keluar dari apartemen. Sedangkan dia butuh aktivitas lebih untuk menyibukkan pikirannya. Melihat Deni dan Hilda hendak pergi berbelanja, Budi merasa seperti mendapat ide.
Dia menggunakan pengaruhnya sebagai ketua tim. Dia mengambil alih tugas belanja itu dari Deni. Karena itu perintah, Deni hanya bisa patuh. Ketika Budi mau berangkat, Erika menahan mereka. Dia juga menggunakan kekuasaannya sebagai kepala divisi HRD untuk mengambil alih tugas Hilda. Dan Hilda tidak bisa menolak.
Ratna, Hilda, Deni, dan Bayu sudah maklum kalau Erika selalu mengekor kemanapun Budi pergi. Walaupun diprotes seperti apa juga, tetap saja Erika menempel ketat Budi. Dan seperti itu terus setiap harinya.
Pada dasarnya, semuanya senang, karena mereka kini hanya tinggal makan saja. Urusan belanja dan masak, sudah diurus Budi dan Erika. Di samping itu, mereka juga senang, karena perlahan Budi mulai bangkit. Memang masih suka keingat dan suka sedih. Tapi sekarang Budi jadi lebih suka menumpahkan kesedihannya dalam sholatnya.
Tak ada yang berani mengganggunya kalau dia sudah mendirikan sholat sunnah. Sekalipun satu sujudnya bisa sampai setengah jam.
“Eh, Na. Kamu beneran suka sama Budi?” tanya Hilda, saat mereka hanya berdua di kamar.
“Siapa sih yang nggak suka sama mas Budi? Stevani yang high class aja suka sama dia” jawab Ratna diplomatis.
“Serius, lu? kirain gimik doang”
“Emang kenapa kalo aku suka sama dia? Nggak ada yang salah, kan?”
“Ya nggak ada, sih” jawab Hilda.
“Eh, tapi kamu jangan jadi kaya Isma, ya!” lanjutnya.
“Ih. Amit-amit. Somplak itu sih, namanya. Kalo pengen sama mas Budi sih, langsung aja deketin orangnya. Nggak usah pake drama segala. Apalagi dramanya kriminal gitu” potong Ratna.
“Nah, itu. Kamu punya paras yang nggak kalah cantik dari Erika. Body kamu juga nggak kalah hot, lho. Bisa lah, bersaing”
“Ha ha ha. Aku pengen kaya mbak Adel aja. Anggun”
“Itu sih jangan diomong! Beda kelas, lah”
“Ha ha ha” Ratna tertawa mendengar komentar Hilda.
“Tapi menurut kamu, Erika cocok nggak sih, jadi penggantinya mbak Adel?”
“Heeeeh. Aku sih milih mbak Liza aja, mbak” jawab Ratna.
“Liza? Siapa, tuh?” tanya Hilda bingung.
“Sepupuku”
__ADS_1
“Oh, yang orang Jakarta itu? Yang bawain hacker buat Budi?”
“Iya”
“Cantik juga, lho. Tapi kan dia ketemu Budi cuman sekali, itu juga atas permintaan kamu. Mana Budi ngelirik?”
“Kalo nggak ngelirik, gimana bisa pacaran?”
“Hem? Pacaran? Kamu ngomong apa sih? bingung aku”
“Mbak Liza itu mantannya mas Budi, mbak. Mereka kerja di pabrik yang sama, dulu”
“What?” Hilda terkejut mendengar jawaban itu.
“Kebetulan banget, ya? Sempit banget dunia ini”
“Wah, sainganmu ganda, dong?”
“Kok ganda?”
“Iya, lah. Bisa jadi sepupumu masih cinta sama Budi. Aduh, complicated deh”
“Biasa aja, kali!” seru Budi.
“HWAAAA”
Ratna dan Hilda terkejut saat tanpa mereka duga, tiba-tiba ada suara Budi di pintu mereka. Budi yang baru akan masuk, juga terkejut mendengar teriakan keduanya.
“Lu gimana sih, Bud? Bilangnya mau masak bareng, kok masuk kamar Hilda?”
Terdengar suara Erika di luar kamar mereka. Mereka masih saja tegang.
“Salah kamar. Kurang sepintu. Ha ha ha” jawab Budi sambil tertawa.
Ratna menghela nafas lega. Hilda juga melakukan hal yang sama, sambil tergelak. Mereka tertawa terbahak-bahak, menertawakan ekspresi mereka masing-masing.
***
Setelah sebulan lebih tidak bisa meninggalkan Jerman, hari ini mereka mendapatkan kabar gembira. Pemerintah Jerman telah membuka lock down. Penerbangan dari dan ke luar negeri telah diijinkan untuk beroperasi.
Tapi disaat Deni menanyakan soal jadwal kepulangan mereka, Budi tampak tidak bersemangat. Dia kembali teringat dengan kisah cintanya yang kandas. Dia tidak punya tujuan besar untuk pulang secepatnya.
Mengerti akan keadaan Budi, Erika berinisiatif menggantikan tugas Budi. Dia yang aktif menghubungi pak Paul untuk membicarakan kepulangan mereka. Tentu saja pak Paul langsung memerintahkan Farah untuk menyiapkan tiket untuk mereka. Tak mau buang waktu lagi, mereka sepakat untuk pulang kembali ke Indonesia esok hari.
Di tempat lain, Adel terlihat melamun di balkon rumahnya. Setelah dua minggu ikut Luki tinggal di Solo, menghindari kemungkinan serangan lain dari Budi, dia mengajak suaminya itu untuk pulang menjenguk ibunya. Sekaligus ada beberapa hal yang ingin Adel selesaikan. Mulai dari kuliahnya, job menyanyinya, dan pastinya urusan mebel dengan PT.PRAM. Tadi sore dia menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke makam bapaknya. Cukup lama dia duduk di sana. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Seperti berbicara dari hati ke hati.
“Hai”
Sebuah sapaan membuyarkan lamunannya. Saat dia menoleh, ternyata suaminyalah yang menyapanya.
“Kok bengong?”
Luki bertanya sambil menyodorkan secangkir teh hangat. Adel tersenyum lalu menerima pemberian suaminya itu.
__ADS_1
“Adel keinget aja, sama momen-momen bersama bapak. Rasanya masih belum percaya aja, kalo bapak udah nggak ada” jawab Adel.
Luki menatap mata istrinya lekat-lekat. Dia tahu, ada hati yang belum sepenuhnya iklas menerimanya sebagai suaminya.
“Aku juga sama” kata Luki.
Adel terkesiap saat mendengar ucapan Luki. Dia yang sedang meminum teh itu, jadi tertahan dan tidak dia teruskan.
“Tapi ada satu yang aku sesali. Papi pergi dengan keadaan yang gila harta. Berbeda dengan bapak. Keliatannya doang bapak begitu. Tapi selalu yang dipikirannya, cuman Adel dan Madina” lanjut Luki.
“Mas” panggil Adel lirih.
“Hem?” sahut Luki.
“Makasih, ya”
“Buat?”
“Buat kesabaran yang udah mas Luki tunjukin”
“Yang mana? Adel kan selalu baik, sama aku. Adel juga udah nggak segan buat bilang kalau aku ini suami Adel. Kok sabar? Yang ada aku seneng banget. Berasa terbang, tahu”
Adel tersenyum mendapat pujian itu. Sebagai wanita, dia suka mendengar kebaikannya diapresiasi. Tapi ini juga yang dia khawatirkan.
“Tapi mas Luki belum mengambil apa yang seharusnya menjadi haknya mas Luki” Jawab Adel.
Luki terkesiap. Memang itu menjadi ganjalan tersendiri buatnya. Dia memang tidur sekamar dengan Adel, seranjang juga. Tapi Adel belum mau disentuh, sampai saat ini.
“Ya. Memang, sih. Tapi tenang aja! Kenyamanan Adel, jauh lebih penting bagiku” kata Luki.
“Udah dua minggu, mas. Udah dua minggu mas Luki bener-bener menghormati Adel. bahkan setelah drama waktu itu, yang pasti bikin mas Luki jadi nggak nyaman. Adel jadi takut, kalau Adel terlalu lama menunda-nunda kewajiban Adel”
“Maksud Adel?” tanya Luki.
Dia ingin memastikan apakah dia tidak salah dengar.
“Adel udah siap, mas. Adel udah iklas. Adel udah sepenuhnya ridho jadi istrinya mas Luki”
“Serius? Aku nggak salah denger, kan?”
“Enggak, mas. Adel serius. Tapi pelan-pelan, ya!” jawab Adel.
“Alhamdulillah. YEESSS” kata Luki mengucap syukur, dilanjutkan dengan berseru girang.
“Kenapa, ngger?”
Bu Lusi yang sedang di halaman depan terkejut dengan seruan Luki.
“Oh. Enggak, bu. Nggak papa” jawab Luki cengengesan.
“Hempf. Hi hi hi” Adel tertawa melihat suaminya salah tingkah.
***
__ADS_1