Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
paska pemeriksaan


__ADS_3

Barulah setelah maghrib, bu Ratih dan Putri keluar dari gedung satres narkoba. Keharuanpun mengiringi pertemuan mereka. Bu Ratih dan Putri tampak stress setelah diminta keterangannya seharian penuh.


“Mari bu, Rika antar ke rumah” tawar Erika.


“Kayaknya kita ke watu karung dulu, mbak” sahut Putri.


“Loh, kenapa, Put?” tanya Erika.


“Barusan mbak Hanin ngasih tahu, kalo ada bude Kusno di depan rumah. Putri lagi nggak mau ribut dulu, mbak” jawab Putri.


“Bagaimana, bu?” tanya Erika pada bu Ratih.


“Ke watu karung aja, mbak Rika” jawab bu Ratih.


“Silakan, bu!” kata Erika mempersilakan bu Ratih untuk jalan lebih dahulu ke parkiran.


Karena tidak membawa kendaraan, Madina ikut serta di dalam mobil Erika. Rasa cemburunya sempat menyeruak saat melihat Budi duduk berdua di depan bersama Erika. Tapi segera dia tepis, karena dia yakin itu hanya bisikan setan.


Sesampainya di galeri, bu Ratih langsung merebahkan diri ke lantai di belakang meja kasir. Mengerti akan kondisi ibunya, setengah berlari Budi pergi ke belakang, dan kembali dengan kasur lengkap dengan bantal dan selimut.


“Bu. Budi gelarin kasur dulu” tegur Budi.


Bu Ratih beringsut tanpa bicara. Budi memposisikan kasur itu agar nyaman ditiduri. Dan bu Ratih kembali rebahan, sekarang di atas kasur itu.


“Rebahan dulu aja put, kalo emang capek!” saran Budi.


“Iya, mas. Nggak papa ya, Putri tinggal rebahan dulu? Sumpah, lebih capek daripada jagain galeri” jawab Putri.


“Iya. Istirahat aja dulu! Ngobrolnya bisa besok pagi” jawab Budi.


Putripun segera merebahkan diri di sebelah ibunya. Budi mengelar selimut untuk menutupi tubuh ibu dan adiknya. Dia tidak sadar kalau Madina dan Erika telah keluar dari galeri. Diapun bangkit dan berjalan menuju teras.


“Mikirin apa, ka?” tanya Budi.


Erika menoleh, begitu juga dengan Madina yang duduk tak jauh darinya.


“Mikirin Sandi, mas” jawab Erika.


Madina langsung menoleh, mendengar jawaban aneh Erika.


“Kenapa?” tanya Budi. Dia tahu, yang dimaksud Erika adalah soal teknis.


“Udah dua kali kalian bersitegang karena hoak. Yang ketiga kemarin malah parah. Yang jadi pertanyaan, otaknya kemana? Kok nggak mikir gitu? Terlalu reaktif buat seorang pemimpin geng, penguasa kota ini” jawab Erika.


“Ngeremehin Sandi, kamu” komentar Budi.


“Loh. Kalo emang dia bukan orang remeh, beneran visioner, kok segampang itu dia bilang nggak mau ketemu mas Budi? Dan juga, sejak kapan dia percaya sama polisi? Sejauh yang aku tahu, dia kan selalu lebih percaya sama mas Budi ketimbang polisi. Kalo rasa percayanya sama mas Budi hilang, apalagi sama polisi. Kalo bener dia keluar gedung itu terus marah-marah sama mas Budi, nggak masuk akal gitu loh” jawab Erika.


Budi manggut-manggut membenarkan kata-kata Erika. Cukup aneh juga baginya.


“Kalo menganalisa waktunya yang spontan itu, aku kok ngerasanya, dia udah marah duluan sejak awal”


“Marah duluan?”


“Ya. Kaya mas Budi kemarin, yang ribut di lapangan” jawab Erika.

__ADS_1


Budi mengernyitkan keningnya. Madina tak kalah bingungnya. Ribut soal apa lagi, pikirnya. Karena penyebab ributnya kan sudah didepak.


“Ngerti kan, yang aku maksud, mas?” lanjut Erika.


“Ya” jawab Budi singkat.


“Tapi karena apa? Jangan main feeling kalo soal ini! Beneran, nggak laku di pengadilan” lanjut Budi.


“Tapi mas Budi selamet, karena feelingnya mbak Rika”


Suara Putri sontak mengejutkan mereka.


“Loh Put, kok bangun lagi?” tanya Erika bingung.


Putri hanya tersenyum dan merendahkan tubuhnya. Dia hidangkan teh hangat dan cemilan yang dia bawa untuk kedua tamunya. Termasuk untuk kakak dan untuk dirinya sendiri.


“Ibu lagi mimpiin bapak” jawab Putri.


“Ha? Terus?” tanya Budi kaget.


“Nggak papa. Cuman aneh aja meluknya. Ya udah, Putri ambilin guling aja” jawab Putri sambil tergelak.


“Masa sih?” sahut Budi sambil bangkit dari duduknya.


“Eeh. Jangan masuk dulu!” tahan Putri.


“Iya ih, mas. Kepo banget, sih?” seru Erika.


“Ha ha ha”


Ya, Budi hanya tes ombak saja, berharap bisa menjadi kelucuan. Dan usahanya berhasil. Walaupun dirinya harus menjadi subyek ceng-cengan para gadis itu.


Mereka akhirnya berbincang-bincang ringan. Putri menceritakan pertanyaan apa saja yang diajukan para penyidik.


Seperti tebakan Budi, Putri ditanya soal keseharian mas Eko. Tentang usaha yang dijalani sepupunya itu, tentang tempat belanjanya.


Putri menceritakan semua yang dia tahu. Tapi ada satu pertanyaan yang menurutnya sangat tidak berhubungan. Yaitu kontrak antara mas Eko dengan Sandi. Pertanyaan itu membuat Putri bingung dan sempat terdiam.


Penyidik terus mencecarnya, karena Putri berhubungan baik dengan Sandi, sebagaimana Budi. Putri menceritakan kalau disitu dia benar-benar dibuat bingung.


Kalau saja yang ditanyakan adalah kakaknya, dia punya banyak sekali jawaban. Tapi kalau yang ditanyakan adalah mas Eko, dia sama sekali tidak pernah melihat mas Sandi mendatangi mas Eko, apalagi menyepakati sebuah kontrak.


Soal mobil bak itu juga ikut dipertanyakan. Soal pengadaannya, pembiayaannya. Putri bercerita kalau dia sama sekali tidak tahu. Yang dia tahu hanya jenis-jenis ikan yang didrop, harganya berapa, dan jumlah beratnya berapa. Soal beli dimana, bawanya pakai apa, dia tidak tahu. Karena seringnya dia sudah berangkat sekolah waktu ikan itu datang.


“Berarti masa lalu mas Budi nggak ditanyain, Put?” tanya Erika.


“Eeem. Ada sih, satu” jawab Putri.


“Apa?”


“Ya soal hubungan mas Budi sama barang haram kaya gitu” jawab Putri.


Erika mengernyitkan keningnya. Begitu juga Budi.


“Ya Putri jawab apa adanya. Ibu penyidik pasti lebih tahu daripada Putri. Yang Putri tahu, mas Budi sempat bertengkar sama mas Sandi gara-gara ngomongin barang haram”

__ADS_1


“Lah. Pantesan panjang, Put” komentar Budi.


“Enggak, mas. Itu sih pas mau udahan”


“Terus?” tanya Madina ikut penasaran.


“Ya Putri cerita, kalo mas Budi itu nggak pernah bohong sama ibu-bapaknya. Dia selalu bilang apa aja yang sudah dilakukannya. Tapi selalu menolak dengan keras saat ditanya soal minuman keras, apalagi narkoba”


“Terus, penyidiknya percaya?” tanya Madina.


“Kali. Dia cuman bilang, confirmed” jawab Putri.


“Mas Budi harus bener-bener ninggalin dunia geng-gengan kaya gitu, mas” saran Putri.


“Hem? Kenapa? Maksud aku, Putri liat apa?” tanya Budi.


“Banyak yang peduli sama mas Budi. Tapi juga banyak mata yang lagi ngawasin mas”


“Wow. Udah mulai jeli nih, adik aku. Tahunya dari mana, Put?”


“Inget mbak Nungki, yang oneng itu?”


“Oneng?” gumam Madina sambil tergelak. Erika juga begitu.


“Ya, udah ngobrol lama, masa nggak tahu kalo ibu itu ibunya mas Budi. Apa nggak oneng, namanya?” kata Putri menanggapi gumaman Madina.


“Hempf” Madina tergelak.


“Kenapa sama Nungki?” tanya Budi.


“Dia yang nginterogasi Putri, mas”


“Apa?” Budi terkejut mendengar jawaban Putri.


“Nama aslinya, Salma” kata Putri.


“Putri nggak tahu apa keputusannya itu asli karena fakta di lapangan sesuai dengan apa yang Putri sampaiin, atau karena dia pernah deket sama mas Budi” lanjut Putri.


Erika menatap lekat wajah Budi. Ada raut cemburu di wajahnya. Belum hilang cemburunya pada Adel, juga pada Liza, kini muncul lagi mantan Budi yang lainnya, polwan lagi.


“Apapun itu, Putri rasa itu keberuntungan kita. Putri harap, mas Budi jangan berhubungan sama mantan anak buah mas Budi lagi. Udah baik mas Sandi menjauh. Nggak usah dicari ya, mas! Kasihan ibu. Sampe stres gitu, pasti lebih berat pertanyaannya” lanjut Putri lagi.


“Iya, Put. Mas usahain” jawab Budi.


“Kalo toh emang ini perbuatan mas Sandi, biarin aja, mas! Selagi nggak nyentuh kita lagi, yang tadi nggak usah diungkit!”


“Iya, Put”


“Putri nggak mau mas Budi celaka lagi”


Mata Putri berkaca-kaca saat mengatakan kalimat terakhir itu. Budi terkesiap. Dia tahu apa yang dimaksud Putri.


Dia menganggukkan kepalanya dengan mantap. Dia juga merengkuh Putri ke dalam pelukannya, lalu menciumi kepala Putri.


***

__ADS_1


__ADS_2