
Di sebelah Budi, Erika ikut berlinang air mata. Kalau Stevani punya kemudahan untuk menunjukkan jati dirinya, dan mudah untuk mendapatkan pengakuan dari bu Ratih, Erika merasa, dirinya tidak punya kemudahan itu. Dia merasa, akan banyak sekali pertanyaan tentang dirinya, yang entah, apakah boleh dia jawab atau tidak.
Di satu titik, dia merasa ada yang memperhatikannya. Dan memang, saat dia menegakkan kepalanya, matanya langsung bertemu dengan mata bu Lusi.
Seorang ibu, yang beberapa waktu belakangan selalu berada dalam pengawasannya. Ingin dia memeluknya, tapi dia tidak tahu, bagaimana menjelaskan siapa dirinya.
“Kenapa kamu ngeliatin ibuku kaya gitu?”
Suara Adel menyentakkan lamunannya. Adel tampak menatapnya dengan tatapan kurang suka.
“Nduk” tegur bu Lusi.
“Kenapa, bu? Ibu mau mau mengakui dia anak ibu? Kok baru sekarang?” tanya Adel pada ibunya.
“Mbak. Kok gitu sih, sama ibu? Nggak sopan, ih” tegur Madina.
Suasana berubah menjadi tegang. Bu Lusi seperti kebingungan juga, bagaimana menjelaskan masa lalunya itu. Karena pastinya, dia malu mengungkap aibnya itu. Adel juga seperti tersadar setelah ditegur Madina.
“Ibu emang nggak pernah cerita, nduk. Karena itu aib” kata bu Lusi lirih, beberapa saat kemudian. Semua mata tertuju padanya.
“Secara nasab, ibu harus mengakui, kalo memang, kalian punya kakak perempuan” lanjut bu Lusi.
“Dari mana ibu tahu, kalo kakak perempuan Adel, adalah Erika?” tanya Adel, masih belum terima. Bu Lusi tampak tertegun.
“Iya, sih. Memang bukan Erika, nama yang ibu kasih” jawab bu Lusi.
“Susi Fitriana Sugeng?” celetuk Erika.
“Apa?”
Bu Lusi terkejut mendengar ucapan Erika. Nama yang menyentakkan hati buat bu Lusi.
“Ibu. Ibu kenapa?” tegur Adel, melihat ibunya syok.
Bu Lusi terpaku menatap Erika. Mulutnya ternganga. Seperti tidak percaya, nama itu akan disebut Erika.
“Susi?” gumam bu Lusi.
“Dari mana kamu tahu nama itu?” tanya bu Lusi pada Erika.
“Dari ibu angkat saya, bu. Karlina Fatmawati” jawab Erika.
“Anakku”
“IBUU”
Adel terkejut melihat ibunya merosot turun hingga berlutut.
“Ibu. Ibu nggak papa?” tanya Adel, panik.
“Nduk” panggil bu Lusi, lirih. Suaranya hampir sperti berbisik.
Tatapan mata bu Lusi lurus ke depan, menatap Erika, yang kini ikut bersimpuh. Erika ingin mendekat, tapi masih sungkan dengan Adel.
“Nduk” panggil bu Lusi lagi. Sepertinya bu Lusi ingin Erika mendekat. Dan Erikapun beranjak.
“Tunggu!” seru Adel. Sontak Erika terpaku.
“Kalo emang kamu anaknya ibu, sesuai sama yang dibilang Handono, terus kenapa kamu bakar bengkelnya ibu? Kamu tahu kan, kita makan dari situ?” tanya Adel masih emosi.
Erika tak segera menjawab. Banyak sekali kata yang berebut ingin keluar dari kepalanya. Tapi Erika sendiri bingung, harus dari mana mengawalinya.
“Jawab! Kenapa diam?” desak Adel. suaranya lantang, mengejutkan semua orang.
“Del. Kamu nggak pernah diajari sopan santun, ya?” tegur Sephia.
“Buat apa sopan sama orang yang udah bikin hidup kita sengsara?” sahut Adel.
“Coba jelasin!” seru Adel lagi. Kini matanya menatap tajam ke arah Erika.
“Del. Kamu harus inget! Kamu masih hidup sampe sekarang, itu ada andil Erika di belakang kamu”
“Andil apa? Dua kali lho bengkel kita kebakar” tolak Adel. Merah padam muka Sephia.
“Huuuffft. Kenapa orang-orang busuk macam Luki, Zulfikar, pinter banget dapet tempat. Sedangkan orang baik macem kamu Ka, bertaruh nyawa juga nggak ada yang liat” komentar Sephia penuh kekesalan. Adel menatapnya, bingung.
“Kalo aku punya adek nggak tahu diri kaya gini, aku biarin aja masuk penjara. Buat apa kamu nyabung nyawa, kalo akhirnya cuman dimaki-maki kaya gini? Mending tidur, Ka” lanjut Sephia.
Budi menatap Sephia penuh keheranan. Sephia yang dia lihat kali ini, sangat berbeda degan Sephia yang dia kenal. Sephia sekarang seperti orang lain. Atau sephia sedang menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.
“Apa? Nggak suka? Emangnya cuman lu aja yang bisa mencak-mencak?” sentak Sephia, saat Adel menatapnya tajam.
“Phia!” tegur Erika. Sephia menoleh padanya.
“Udah!” pinta Erika, lembut.
*TIIIIT TIIIT TIIIIT*
__ADS_1
“Ada sinyal, mas. Mau dilanjut, nggak?” seru Sephia pada Budi.
“Lanjut” jawab Budi.
Sephiapun beranjak masuk ke dalam bengkel kayu, setelah menatap kesal pada Adel.
“Yuk!” ajak Budi pada Erika.
Dia membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya. Erika sempat tertegun.
Ada keraguan dalam hatinya untuk menyambut uluran tangan itu. Dia merasakan takut. Karena cinta yang tumbuh di dalam hatinya untuk Budi, bukanlah bagian dari misi. Cinta itu tulus, bukan karena skenario.
“Iya”
Pada akhirnya, Erika menyambut uluran tangan Budi. Baginya, uluran tangan Budi tak ubahnya sebagai ungkapan hati Budi, yang masih menyimpan kepercayaan padanya.
Bu Lusi juga ikut berdiri. Mereka hanya saling menatap. Erika ingin sungkem, tapi masih sungkan dengan Adel. Dia hanya menganggukkan kepalanya, tanda hormatnya, saat berjalan melewati bu Lusi. Air matanya jatuh tanpa bisa dia bendung.
“Sinyalnya bukan dari pabrik itu, mas” seru Sephia. Semua mata tertuju padanya.
“Dari mana?” tanya Budi. Dia mengajak Erika mendekati Sephia.
“Dari sebuah rumah. Sekitar dua ratus meter dari lokasi” jawab Sephia. Dia menunjukkan layar monitornya.
“Oh. Di situ?” celetuk Erika.
“Kamu tahu sesuatu?” Tanya Budi.
“Ya” jawab Erika singkat.
“Cobra, masuk!” perintah Budi dari handy talky.
“Ka?”
Budi menegur Erika, saat Erika justru menjauh dari meja.
Tanpa menghiraukan teguran Budi, Erika berjalan menuju tumpukan kotak berisi amunisi dan senapan. Erika memilih salah satu kotak. Dia buka sekilas penutupnya.
Setelah memastikan sesuai dengan apa yang dia inginkan, dia membawa kotak itu ke meja di belakang Sephia. Meja besar untuk memotong kayu gelondongan menjadi bentuk yang diinginkan. Ada mata gergaji bulat di ujung seberang.
Braak
Terlihat berat, kotak yang dibawa Erika. Sampai berbunyi nyaring saat dia meletakkannya di meja tersebut. Sephia mendekatinya.
“Ka. Lu mau ngapain?” tanya Sephia.
“Ka. Tugas lu di sini belum kelar. Lu bilang aja sama si Cobra, apa yang mesti dilakuin!” tegur Sephia lagi.
“Gua mau bikin perhitungan”
Erika menjawab dengan masih terus asyik dengan kesibukannya. Dia merakit bagian demi bagian dari senapan itu.
Di seberang sana, Adel menatapnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Kepiawaian Erika merakit senjata, membuat Adel berpikir ulang. Seingatnya, Sandi belum pernah merakit senjata, sekalipun laras pendek. Tidak mungkin Erika diajari Sandi.
“Perhitungan apa? Lu jangan main jalan sendiri aja!” tanya Sephia.
Suaranya yang lantang membuat semua orang memperhatikan mereka. Erika menghentikan kesibukannya sebentar. Dia menatap mata Sephia.
Dari depan kamarnya, Putri menggerakkan kursi rodanya mendekati Erika. Bu Ratih sempat mencegahnya, tapi Putri nekad. Madina bangkit dari dudunya dan membantu Putri.
“Mbak Rika” tegur Putri pelan.
Tapi Erika tidak mengindahkannya. Dia tetap menatap Sephia dengan lekat.
“Gua nggak suka dibohongi” kata Erika, menjawab pertanyaan Sephia.
Dia kembali meneruskan merakit senapan laras panjang itu. keberadaan Putri tak lantas membuatnya segan. Budi merasa takjub dengan kebisaan Erika merakit senapan serbu.
Seperti Adel, dalam hati dia berkata, tidak mungkin Erika belajar pada Sandi. Dia saja harus belajar pada si Cobra.
“Lu tahu? Gua masih nggak terima, papa gua dikata bandar narkoba. Gua pengen teriak, kalo papa gua bukanlah penjahat” kata Erika.
Klak klak kraaak
Putri merinding, mendengar logam beradu, saat Erika memasang bagian demi bagian senapannya. Namun dia masih ingin menegur Erika lagi.
“Tapi fakta berkata lain. Papa gua ternyata emang bandar. Sakit banget tahu nggak, sih?” lanjut Erika, sambil terus merakit. Sephia terkesiap.
“Bertahun-tahun gua nganggep papa itu super hero. Sekalipun gua pernah berseteru sampe kabur dari rumah, tapi buat gua, papa itu masih yang terbaik, terlembut, tergentle. Bangga gua, sama papa gua. Tapi ternyata apa? Kamuflase” lanjut Erika lagi.
“Ka. Setiap orang tua punya caranya masing-masing buat nunjukin kasih sayangnya. Sepupu gua, ibunya PSK. Tapi ibu mana yang mau anaknya jadi PSK? Sama kaya papa lu. Gua tahu papa lu tuh sayang banget sama lu. Makanya dia nggak nunjukin jati dirinya. Biar lu nggak nerusin jejak dia” sahut Sephia.
Tiba-tiba Erika menghentikan kesibukannya. Lantas dia melirik Sephia. Dia seperti menemukan kata-kata yang aneh menurutnya.
“Kalo lu tahu, kenapa lu nggak ngasih tahu gua?” tanya Erika lirih.
Meski begitu, ekspresi Erika sudah cukup sanggup membuat Sephia gelagapan.
__ADS_1
“Heh, si Bule, ya? Lu dilarang sama si Bule? Kenapa? Ada main apa si Bule?” lanjut Erika.
“Si Bule cuman nggak mau lu ilang fokus, Ka. Tugas kita di sini adalah ngelindungi bu Ratih, Putri, Budi” jawab Sephia.
“Ow. Gitu? Ngerti banget dia tentang gua? Bener banget tebakannya. Emang sekarang gua beneran ilang fokus, Phia” sahut Erika. Sephia terdiam.
“Udahlah. Gua udah nggak peduli sama si Bule. Papa gua udah nunjukin jati dirinya. Sekalian aja gua tanya, apa maunya”
“Emang lu yakin, papa lu ada di rumah itu?”
“Enggak” jawab Erika. Dia kembali meneruskan merakit senjatanya.
“Terus?” tanya Sephia, bingung.
kraaak
“Itu jalan masuknya” jawab Erika, setelah memasang magazine peluru.
“Mbak” tegur Putri lagi.
Kali ini Erika menoleh. Dia menatap Putri dengan tatapan sendu. Luka yanng Putri derita saat ini, dia rasakan sebagai akibat dari keterlambatannya merespon keadaan.
Dia merendahkan tubuhnya, bertumpu pada lutut kanannya. Matanya berkaca-kaca. Banyak hal yang ingin dia bagi dengan calon iparnya itu.
“Iya. Ada apa sayang?” respon Erika.
Putri merasakan kalau Erika yang sedang dihadapinya ini sama sekali berbeda dengan yang dia kenal selama ini. Terasa lebih keibuan, mengayomi, dan dewasa.
“Apa harus embak sendiri yang turun tangan? Kan ada si Cobra dan yang lain” tanya Putri. Suaranya terdengar menahan tangis.
“Hempf. Putri, Putri” Erika tergelak melihat Putri melo begitu. Madina bingung dengan sikap Erika.
“Kalo kamu nggak sakit, pasti kamu yang pertama nenteng senapan ini” lanjut Erika.
“Hempf”
Dalam sedihnya, Putri tergelak juga, mendengar kelakar Erika.
“Tapi ibu nggak pengen mbak Rika kenapa-napa” celetuk Madina.
Erika menengadahkan kepalanya, menatap ke arah Madina. Dia tersenyum.
“Apa aku keliatan sakit?” tanya Erika.
“Enggak” jawab Madina.
“Yap. Aku baik-baik aja, dan akan selalu baik-baik aja” sahut Erika.
Keduanya saling menatap. Tampak kalau keduanya ingin saling memeluk, tapi masih canggung. Terlebih ada kenangan tidak mengenakkan, juga penolakan dari Adel.
“Jaga ibu sama mbak Adel ya, Din! Kamu cocok jadi polwan” pinta Erika. dia berusaha tersenyum, meski matanya berkaca-kaca.
“Mbak, please. Jangan pergi, ya! Jangan bikin ibu sedih!” pinta Madina.
“Aku nggak kemana-mana, kok. Aku cuman mau ngasih tahu seseorang. Aku nggak suka sih, kalo lagi enak-enak sama mas Budi, terus diganggu” jawab Erika, berusaha melucu.
“Embak bakal pulang, kan?”
“Pulang, lah” jawab Erika.
“Emang boleh, aku nginep sama mas Budi?” goda Erika pada Putri.
“Eeeh. Belum sah. Nggak boleh” sahut Putri, heboh.
Erikapun tertawa. Dia senang, kelakarnya mengena pada Putri. Madinapun tergelak, melihat sahabatnya senewen.
“Emang mas Budi ikut?” tanya Madina.
“Oh, iya. I don’t know” jawab Erika.
“Mbak. You are not soldier. You don’t have necessary to do it your self” kata Putri.
“Right. I’m not soldier. But, i’m your sister. Just like your brother, i will never let anyone hurt you” jawab Erika.
Putri tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya air matanya yang menceritakan kesedihannya. Dia tahu betul rasanya tertembus peluru. Dan Erika malah menantang peluru-peluru sebangsa dan senegara dengan yang menembus tubuhnya. Erikapun berdiri.
“Just, go back one piece!” pinta Putri.
Klak klak
“Sure” jawab Erika, setelah mengokang senjatanya.
Kini dia siap untuk beraksi. Tapi saat menoleh ke arah meja komando, Erika kehilangan Budi.
Dia menyebarkan pandangan ke seluruh penjuru. Dan terlihat di ujung depan, Budi sedang berdiskusi dengan Cobra dan kang kang Sukron.
Di tangannya juga sudah tergenggam senjata yang sama. Lengkap dengan peredam suara. Di tangan kanannya, sebuah kunci mobil juga sudah tergantung di jemarinya.
__ADS_1
Erika terpana melihat Budi berjalan menghampirinya. Budi jauh lebih gagah dengan senjata itu di tangannya. Tak kalah keren dibanding Cobra. Tapi dia juga bertanya-tanya, apakah budi terlatih menggunakannya?