Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
senyawa apa ya?


__ADS_3

Erika kembali harus menghela nafas berat, saat mengetahui Budi masih belum pulang kerja. Dia masih mengawasi proses uji coba mesin pembuat masker, yang menurutnya belum oke seratus persen. Itu artinya, sales cantik yang sedari pagi terlihat dekat-dekat dengan Budi juga masih ada di sana.


Tepat di saat adzan isya’ Erika dan pak Paul tiba di pabrik. Dan Erika terkejut melihat Budi masih ada di sana. Walaupun terlihat sudah selesai uji coba mesinnya, tapi kedua sales itu masih ada di sana juga.


Erika hanya menyapa sebentar, karena dia harus menyimpan berkas yang cukup banyak yang dia bawa di tangannya. Di kesempatan itu, dia sempat menatap Budi dengan tatapan cemburu berat. Budi hanya tersenyum menanggapi tatapan mata itu. Dia paham, Erika tidak suka dia berdekatan dengan sales itu.


Tak seberapa lama kemudian, Sumarni dan Zulfiana berpamitan. Besok mereka berencana untuk datang kembali untuk melaksanakan agenda pelatihan karyawan. Seusai melepas kepergian mereka, Budi langsung menuju kantor HRD. Dan terlihat Erika sedang merajuk.


“Gitu amat, cemburunya?” goda Budi. Dia mendekati Erika dan berjongkok di sebelahnya.


“Nggak ada kerjaan lain apa, selain ngawasin jalur itu?” sahut Erika. Tatapannya masih tajam penuh kecemburuan.


“Laporan harian, udah kelar?” lanjut Erika.


“Udah, mbak” jawab Budi pendek.


Mendengar sapaan ‘mbak’ membuat Erika tersentak. Seketika dia teringat akan momen dia menampar Budi karena cemburu yang memuncak. Dia segera menghela nafas berat. Dia tidak ingin kebodohannya waktu itu terulang kembali.


“Maafin aku, mas. Puyeng banget aku, seharian ini. Jadi kelepasan” kata Erika meminta maaf. Budi tersenyum.


“Lagian kenapa pake cemburu segala, sih? Masa sama mereka aja kamu nggak pede?” tanya Budi. Erika terkesiap.


“Cantikan juga kamu, Ka. Orang belekan juga tahu” lanjut Budi memuji. Erika tergelak mendengar kelakar Budi.


“Tapi dia kutilang darat, mas. Tipenya mas banget, kan?” sahut Erika.


“Lah. Sejak kapan aku menilai bentuk badan? Kalo emang tipe aku kutilang darat, mana mungkin aku tergoda sama si Vani?” jawab Budi dengan pertanyaan.


“Malah dia juga mas sebut. Aaah. Sebel, deh” protes Erika merajuk.


“He he. Waduh, malah tambah ngambek” komentar Budi.


*Bip bip bip bip*


Terdengar suara berulang dari pengeras suara di komputer Erika. Dan ada icon yang berkedip di layarnya.


“Apaan tuh?” tanya Budi.


Tanpa menjawab, Erika segera mengklik icon yang berkedip itu. Dan terpampanglah gambar jalur frame dari sudut pandang dari arah gerbang masuk.


“Itu kan CCTV yang kita pasang tadi pagi, kan?” tanya Budi.


“Iya” jawab Erika singkat.


“Baru nyadar, ada notifnya juga” komentar Budi.


“Kenal orang itu, mas?” tanya Erika, menunjuk pada layar komputernya.


“Enggak” jawab Budi.


Tampak seorang laki-laki sedang berjalan mengendap-endap mendekati rak material. Jejaknya, dia berasal dari arah belakang. Dia tampak melipir mepet ke tembok. Mungkin dia menghindari paparan sinar lampu dari jalur anyaman. Kebetulan lampu di jalur Frame sudah dimatikan.


“Dia ngambil rotan lagi, mas” kat Erika pelan.


Budi tidak menjawab. Dia masih fokus memperhatikan gerak-gerik orang itu. Dengan berhati-hati, orang itu mengambil salah satu rotan dari rak penyimpanan. Lalu dia memasang rotan itu di mesin pemotong.


“Gimana, mas? Apa perlu kita panggil Mike?” tanya Erika.


“Tunggu!” jawab Budi.


Dia mencoba fitur pembesaran pada perangkat lunak CCTV itu. Dia ingin mengenali wajah dari orang itu.


“Itu Basir, kan?” tanya Budi.


“Welder, itu” sahut Erika. Dia tidak tahu namanya, hanya ingat kalau orang itu adalah tukang las.


“Kenapa nggak ngambil stainlessnya, ya? Buat apa rotan sependek itu?” tanya Erika.


“Aneh, kan?” sahut Budi.


“Aku pikir, ada sesuatu pada rotan itu. Dalam artian, bukan sebagai fungsi aslinya” lanjut Budi.


“Maksud mas? Perdukunan, gitu?” tanya Erika.


“Entahlah. Yang pasti bukan buat anyaman” jawab Budi.


“Terus, gimana?”


“Sementara, biarin aja dulu. Aku bisa dapetin alamat dia, kan? Kita selidiki dulu aja, buat apa rotan itu”

__ADS_1


“Kenapa nggak kita ikutin aja, mas? Pasti dia bakal menuju tempat dia ngolah rotan itu” usul Erika.


“Ide bagus” jawab Budi.


“Ya udah, kita tunggu dia kelar dulu”


“Kamera yang lain, bisa diliat juga, Ka? Tanya Budi.


“Bisa” jawab Erika.


“Kamera gedung belakang kan ada dua tuh, kita liat mereka ke arah mana, baru kita ikutin”


“Pake tablet juga bisa” kata Erika.


Dia mengambil sebuah tablet dari dalam tasnya. Kemudian dia menghubungkan tabletnya dengan jaringan CCTV pabrik ini. Tak lama kemudian, dia sudah memegang kendali atas CCTV pabrik ini denga tabletnya.


“Udah masuk, mas. Gimana?” tanya Erika.


“Dia juga udah mulai beberes, mas” lanjut Erika.


“Ya udah. Biarin dia jalan dulu ke belakang! Abis itu, kamu ke depan dulu, sambil liatin kemana perginya! Aku ambil motor dulu di parkiran” jawab Budi.


“Udah mulai jalan, mas”


“Oke. Yuk!”


Erikapun memberesi mejanya. Dia biarkan saja tasnya masih tergeletak di atas meja. Budi sudah terlebih dahulu keluar kantor, tapi masih menunggu di belakang lobi. Sesuai rencana, Erika berjalan lurus menuju gerbang depan, sambil terus mengawasi pergerakan si Basir. Tak lama kemudian, Budi datang dengan motornya.


“Udah mau pulang, mas?” tanya scurity yang berjaga. Tapi bukan si Mike.


“Iya, pak” jawab Budi.


Scurity itupun memberi hormat pada Budi dan Erika. Mereka langsung pergi tanpa bicara lagi.


“Kita muter aja, mas. Kita lewat belakangnya pasar tengah” saran Erika.


“Oke” jawab Budi.


Dia percayakan arah motornya pada panduan dari Erika. Dalam hati dia berharap, Erika tidak sedang mengerjainya. Dia mengikuti setiap petunjuk yang Erika berikan. Sampai harus masuk ke gang sempit sebuah kampung.


“Kamu nggak salah liat kan, Ka?” tanya Budi lirih.


“Enggak, mas. Harusnya belum jauh. Kita taruh sini aja, motornya, mas” sahut Erika.


“Oke” jawab Budi.


Dan benar apa kata Erika. DI balik tikungan ke kanan itu, dia masih bisa melihat Basir di ujung jalan. Dia berbelok ke kiri. Dengan langkah cepat, Budi dan Erika mengikutinya. Beruntungnya, sedang tidak ada warga yang berada di depan rumah.


Di ujung jalan, Basir terlihat masuk ke dalam sebuah rumah. Keduanya berdiskusi bagaimana kelanjutannya. Budi mengajak Erika melakukan pengamatan terlebih dahulu.


Ternyata di antara rumah yang dituju si Basir dan rumah di sebelahnya ada jarak satu meter. Budi mengajak Erika masuk ke dalam celah itu.


“Dapet, Sir?”


Samar-samar terdengar suara orang berbicara di dalam rumah itu.


“Dapet. Jangan berisik!”


Suara yang kedua ini, mereka pastikan sebagai suara si Basir. Posisi suara itu seperti berada di balik jendela di atas Budi.


*Takk*



*Klek*



*Takk*



*Klek*


Terdengar sesuatu sedang dipotong. Dari suaranya terdengar seperti patahan kayu.


*Rotannya dipotong lagi, mas*


Erika berbicara tanpa suara kepada Budi. Dan Budi mengangguk setuju.

__ADS_1


“Jangan langsung diabisin! Aku nggak selalu bisa ngambil. Untung yang jaga seharian ini bukan yang manusia katak”


“Iya. Kemarin kan rame-rame, Sir”


Terdengar percakapan lagi di dalam rumah itu. Mereka berdua saling pandang.


“Jangan pernah lagi ngajak orang lain! Sekali lagi lu ngajak orang lain, gua bunuh lu”


Terdengar si Basir mengancam temannya. Dan terdengar temannya itu tertawa kecil.


“Nggak usah sok galak lu, Sir! Selagi lu masih doyan goyangan nyokap gua, woles aja!”


“Tapi gua bisa mati, bego, kalo sampe ketahuan” suara Basir agak emosi.


“Iya. Ini juga gua diem-diem aja”


Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Budi jadi penasaran. Dia mencoba mencari pijakan untuk mengintip.


Sebuah pijakan dan pegangan dia dapatkan. Sebuah celah diantara daun jendela dan kusennya sudah cukup untuk dia mengintip kedalam rumah.


Tampak Basir dan temannya sedang mengiris rotan itu menjadi lebih tipis lagi. Lalu mereka menuangkan sebuah minuman dari sebuah botol ke dalam gelas berisi selembar irisan tipis rotan tadi. Basir mengaduk rotan yang terendam minuman keras itu.


Budi sempat terkejut mendapat tarikan kecil dari bawah. Ternyata Erika mengacungkan ponselnya. Dia paham, Erika meminta Budi untuk merekam aksi Basir di dalam kamar.


Budipun merekam perbuatan Basir dan temannya. Mereka menengak minuman keras rendaman rotan itu. Seperti layaknya orang minum, hanya satu sloki tiap orangnya. Tapi efeknya lebih dari orang mabok kebanyakan minum.


Teman basir yang telah meminum takaran ke dua, terlihat senyam-senyum sendiri. Matanya terpejam, tapi dia seperti melihat sesuatu.


Tangannya juga dia bentangkan seperti hendak menari. Basir yang meminum takaran ke dua juga menunjukkan efek serupa. Kini keduanya seperti menari bersama.


Tapi ekspresinya seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Entah mules, entah kebelet pipis, atau apa. Budi masih belum bisa menebaknya.


*Taakkk*


Sebuah suara keras mengejutkan mereka. Erika memberi tanda kepada Budi untuk segera turun. Walau sebenarnya Budi merasa tanggung, tapi dia juga tidak mau ambil resiko. Dia menuruti permintaan Erika.


Dengan langkah pelan mereka keluar dari celah sempit itu. Dan dengan langkah biasa, mereka kembali ke mushola tempat mereka memarkirkan motor Budi.


“Coba liat, mas!” pinta Erika, sesampainya di parkiran mushola.


Budi memberikan ponsel yang sedari tadi dia pegang. Dan Erika tampak serius menyaksikan video hasil rekaman tadi.


“Emang rotan punya senyawa apa, mas? Masa iya, efeknya kaya rebusan pembalut?” tanya Erika lirih.


“Itu yang perlu kita selidiki, Ka” jawab Budi tak kalah lirih.


“Kalo cuman rotan sih, aku pikir nggak ada efeknya” lanjut Budi.


“Apa cuman sugesti mereka aja, mas? Tapi si Basir bilang, bisa mati kalo ketahuan. Nggak mungkin yang dia maksud itu ketahuan sama kita. Jadi, kayaknya bukan deh, kalo itu sugesti. Vodka dua sloki juga nggak bakal langsung bikin halusinasi kaya gitu, mas. Kayaknya ada sesuatu deh, sama rotan yang itu”


“Aku pikir juga begitu”


“Terus?”


“Kita harus cek rotan itu ke laboratorium. Ada channel?”


“Ada, mas. Yang di kota ini”


“Oke. Besok, aku minta Riki buat ambil sampel yang udah dikupas. Kita bawa ke lab itu”


“Oke” jawab Erika.


“Sekarang, gimana?” lanjut Erika.


“Pulang” jawab Budi singkat.


“Mau dianter pulang?” tanya Budi.


“Ke rumah sakit aja dulu, mas. Pengen ketemu ibu” jawab Erika.


“Hihi hi. Takut kecolongan ya?” goda Budi.


“Mas Budi iiih” rengek Erika.


“Hi hi hi”


Merekapun pergi dari parkiran mushola. Selama perjalanan, pikiran Budi melayang pada apa yang baru saja dia lihat.


Dia sedang memikirkan keterkaitan antara supplier, purchasing, QC, dan juga pemesan dari eropa.

__ADS_1


Kalau sampai terbukti ada narkotikanya di dalam rotan itu, berarti ada permainan kelas kakap yang tanpa dia sadari telah memanfaatkannya juga. Lamunannya begitu dalam, sampai-sampai ketika sudah tiba di rumah sakit sekalipun dia masih saja termenung.


Erika membiarkan Budi terdiam. Dia merasa yakin kalau saat ini Budi sedang memikirkan PRAM.


__ADS_2