
Saat mereka kembali ke kamar rawat Putri, terlihat ada beberapa orang berbincang di depan kamar. Budi segera menyapa dan menyalami mereka. Ada Hanin, kang Supri, kang sukron beserta Fitri. Mereka berbincang.
Budi juga mengajak mereka berbincang-bincang selayaknya tuan rumah. meskipun dia merasa aneh, karena Aldo juga berada di luar bersama Zulfikar.
“Zul. Makan dulu gih, sama Aldo!” saran Budi sambil menyerahkan bungkusan di tangannya.
“Ibu kemana?” tanya Budi, saat Aldo menerima bungkusan itu.
“Di dalem. Sama pakde Kusno, sama pak Paul. Ada Erika juga” jawba Zulfikar.
“Waduh” seru Budi pelan. Dia menyebar pandangan ke segala penjuru.
“Tenang, mas! Bu Kusno nggak ikut” kata Hanin. Sontak perhatian Budi tersita padanya.
“Alhamdulillah” komentar Budi lega.
“Kayaknya jadi, mas” celetuk Zulfikar.
“Jangan rebutan ya, bos!” sahut kang Sukron menggoda.
Budi hanya tergelak dan garuk-garuk kepala. Dia juga geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar, merasa geli dengan percintaan Ibunya dengan bosnya. Para tamu Budi tertawa melihat ekspresi lucunya.
“Ini banteng apa T-Rex?” tanya Aldo.
“Ha?”
Hanin bingung mendengar pertanyaan Aldo saat mengacungkan bungkusan sate pilihannya.
“Badak bercula satu” jawab Budi.
“Edan. Mau anggar?” komentar Aldo.
“Noh, Madin yang mesen” jawab Budi.
“Sembarangan” tolak Madina sambil menepuk pundak Budi. Sontak semuanya tergelak.
“Kenapa nggak badak bercula dua?” tanya Zulfikar sambil tergelak.
“Halah, satu aja ngeri, Zul. Dua, lagi. Masih boc, ”
“Adoww”
Budi memekik sebelum menyelesaikan jawabannya, karena mendapat cubitan dari Madina. Semua tamunya tertawa melihat kelakuan keduanya.
“Mas. Nimas laksamana kumbang lagi ada di dalem, lho. Mau dikremus kamu, godain Madin?” kata Madin lirih.
“Hempf, apa? Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar julukan yang diberikan Madina untuk Erika.
“Bilangin ah”
“Eh eh eh”
Madina panik melihat Budi berlalu menuju pintu masuk.
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa lagi merasakan bajunya mendapat tarikan dari belakang. Makin lepas lagi tertawanya melihat Madina melotot sambil berkacak pinggang.
Walau sempat mundur juga, tapi Budi tetap masuk ke dalam ruang rawat Putri, setelah meminta ijin pada para tamunya.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam” jawab semua yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
Dan ternyata Erika berada di seberang sana bersama Stevani. Tampak wajahnya cemberut dan menatap Budi tajam.
“Apa kabar, de?” tanya Budi sambil salim.
“Alhamdulillah, baik, Bud. Kamu sendiri gimana, sehat, kan?” sahut pakde Kusno.
“Alhamdulillah de, sehat” jawab Budi sambi tersenyum.
“Ada yang lagi sidang fit and propert test, nih?” goda Budi pada ibunya dan pak Paul.
“Sidang?” sahut pakde Kusno tergelak.
“Pakdemu lho, pengen kenal sama pak Paul” kata bu Ratih menjawab pertanyaan Budi.
“Pakde kenapa nggak bilang dulu kalo mau ke sini? Tinggal satu, de” tanya Budi sambil mengacungkan bungkusan sate di tangannya.
“Belum makan, Tih?” seru pakde Kusno. Bu Ratih menggelengkan kepalanya.
“Sambil makan saja, mbak Ratih” sahut pak Paul sambil balik kanan, mengambilkan piring di nakas. Terdengar Stevani tergelak. Terdengar pula suara tepukan tangan Erika di lengan Stevani.
“Kok malah kesini, mas?” tanya Stevani, melihat Budi menghampiri ranjangnya.
“Takut” jawab Budi.
“Takut kenapa?”
“Takut pada ngeluarin pantun. Kan kita generasi tik-tok” jawab Budi.
“Hempf”
Erika tergelak mengingat pantunnya Farah, sebelum tragedi ini terjadi.
“Kerupuk ketabrak honda” celetuk Erika.
“Remuk, nda” jawab Erika melengkapi pantunnya.
“Bisa ae, Erik tohir” seru Budi.
“Aduh”
Budi mengaduh, mendapati kakinya diinjak Erika. Sontak semuanya tertawa melihat kelakar keduanya.
*Madina bilang apa, mas*?
“Ha?”
Budi bingung melihat Erika menggerakkan bibirnya tanpa suara. Tapi seolah berbicara padanya.
“Oh. Hi hi hi”
Budi yang akhirnya pahampun tertawa geli, mengingat julukan yang diberikan Madina untuk Erika. Sontak Erikapun melotot dan berkacak pinggang.
“Udah, udah, udah, diluar gih!” perintah Stevani sambil mendorong punggung Erika pelan.
“Ngusir, nih?” tanya Erika.
“Iya. Bikin pusing aja” jawab Stevani.
“Mari Nimas!” ajak Budi. Sontak perhatian mereka teralihkan.
“Biarkan Nyai Jantur beristirahat! Puser Angin masih mengincar kita” lanjut Budi bersandiwara.
“Hempf. Ha ha ha ha”
__ADS_1
Bu Ratih tertawa geli mendengar kelakar Budi. Ternyata dia masih ingat karakter di serial Angling Darma itu. Sontak tawa itu menular pada yang lain. Dan Erikapun beranjak dari ranjang Stevani.
“Terus, aku Nimas siapa?” tanya Erika saat hendak melewati pakde kusno dan yang lain.
“Nimas Laksamana Kumbang” jawab Budi lirih. Sontak jawaban itu membuat Erika terhenti langkahnya.
*Laksamana kumbang? Macan, dong*?
“Mas?” seru Erika.
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa saat mengetahui Erika telah menyadari arti dari julukannya. Erikapun pamit keluar, menyusul Budi yang telah terlebih dahulu sudah berada di balik pintu.
Hari beranjak malam. Para tamu sudah pulang semua. Menyisakan Madina, yang sedang menemani bu Ratih beristirahat. Ada Zulfikar, yang malam ini diberikan kesempatan menjaga Putri di dalam.
Aldo masih seperti biasa, menemani Stevani. Dan juga Erika, yang ternyata sedang ditinggal bapaknya menemani ibu dan adik-adik tirinya bermalam di sebuah resort. Dan kini mereka duduk lesehan di depan kamar rawat Putri, beralaskan tikar.
“Tadi ngapain mas, makannya pake di tempat? Kenapa nggak dibungkus semua?” tanya Erika memecah keheningan.
“Ibu yang nyuruh” jawab Budi singkat.
Erika termenung. Dia menatap mata Budi dengan sorot mata penuh rasa cemburu.
“Oke. Emang aku nggak ngebantu sih, dari kemarin” kata Erika, menyadari kesalahannya.
“Kok gitu?” tanya Budi tergelak, mengetahui kekasihnya cemburu berat.
“Tadi itu aku ngajakin rame-rame. Semuanya aku ajak. Aldo sama Zul juga. Eh, Aldo sama Zul malah minta dibungkus aja. Aldo bilangnya mau ada Riki. Si Zul bilangnya, mumpung ada waktu libur. Pengen deket Putri gitu. Kalo aku tahu kamu mau ke sini, ya pasti aku ajak, lah” lanjut Budi.
“Pasti modus, kan? Si Madin?” tanya Erika, masih belum terima.
“Modus?”
“Iya. Pasti, tuh. Pasti dia cerita derita dia deh, yang nggak cocok sama Luki. Tadi aja udah berani nepok-nepok mas Budi”
Budi tersenyum melihat kecemburuan Erika. Dia senang, dicemburui sebegitu rupa. Menandakan kalau benar-benar sayang padanya.
Tapi bayangan wajah papanya, yang mirip sekali dengan orang dalam foto yang ditunjukkan Fatoni, kembali mengganggu pikirannya.
“Mas?” tegur Erika.
“Hem?” Budi tersentak dari lamunannya.
“Salah ya, kalo aku cemburu?” tanya Erika. Budi tersenyum.
“Enggak. Aku malah seneng” jawab Budi.
“Terus? Kok wajahnya kaya kurang suka gitu, pas ngeliat aku?”
“Eem” Budi bingung harus menjawab bagaimana.
“Selintas aku kepikiran temuan kemarin, Ka. Aku kan belum cerita sama kamu. Dan kayaknya aku bakal butuh bantuan kamu” jawab Budi berbohong.
“Temuan apa? Pencurian?” tanya Erika penasaran.
Budi menceritakan temuannya tentang rotan yang dipotong sendiri di jalur persiapan. Juga tentang rencana pengintaian seperti yang sudah dia sepakati dengan Aldo dan Riki.
“Oke. Di timur alun-alun situ kayaknya ada deh, kamera pengintai kecil gitu, mas. Besok aku coba mampir ke sana dulu” komentar Erika.
“Oke. kabarin ya, kalo udah dapet! Masangnya juga mesti hati-hati” sahut Budi.
“Oke” jawab Erika.
__ADS_1
***