Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
berasa seperti time traveler


__ADS_3

Di ruangan ini, Budi menunjukan perhatiannya lagi. Saking seriusnya, dia sampai tidak mendengar ada yang memanggil. Ratna menatakan kalau Budi sedang serius. Orang itu sampai geleng-geleng kepala.


“Aku ngerasa nggak ada bedanya, antara Budi yang sebelumnya sama Budi yang ini”


“Iya, bu Tami. Seminggu lagi, kayaknya ruang yang pojok juga diacak-acak sama dia” jawab Ratna.


“Ha ha ha ha. Emang cuman dia yang berani. Semoga perngorbanannya, bernilai jariyah” doa bu Tami


“Amin” jawab ketiganya.


“Eh, kok amin? Lagi pada doa apa, pak?” tanya Budi. Mereka semua terkejut, Budi bereaksi.


“Ini, bu Tami, lagi doain kamu. Semoga kamu cepet pulih” jawab pak Teguh, sedikit berbohong.


“Bu tami? Beliau yang ini, pak?” tanya Budi.


“Iya, Bud. Kepala departemen anyaman” jawab pak Teguh.


“Oh, salam kenal, Bu Tami. Saya Budi” kata Budi sambil menyalami bu Tami. Sekalian dia cium tangan.


“Iya, bud. Kalo kamu butuh bantuan, butuh info, butuh member, jangan sungkan! Ngomong aja!” jawab bu Tami.


“Siap. Mohon bimbingannya ya, bu”


Bu Tami mengangguk.


Pak Teguh menjelaskan mengenai ruang finishing ini. Ada ruang poles dan juga painting. Saat diceritakan sejarah tempat ini, Budi tampak terbelalak. Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala.


“Saya merasa seperti time traveler. Baru juga masuk, sudah ada prestasi yang dialamatkan kepada saya” komentar Budi.


Mereka semua tertawa mendengar kelakar Budi. Dan perjalanan berlanjut ke ruang yang paling pojok. Karena Budi menanyakan tentang ruangan itu.


Ratna terlihat kurang nyaman saat Budi mengajaknya ke depan ruangan tersebut. Dia juga hanya menatakan kalau ruangan itu, adalah ruangan kosong yang belum dimanfaatkan.


“Loh, itu siapa?” tanya Budi. dia menunjuk ke arah jendela kaca.


Ruangan ini, kalau dilihat betuknya, lebih menyerupai kantor, daripada ruang operasional. Mungkin akan cocok dipakai sebagai kantor lapangannya departemen anyaman, kalau pintu sekat di depan ruang itu dibuka. Sehingga ada akses untuk masuk ke ruang anyaman.


“Siapa? Aduh, bener-bener itu bocah. Dikata gua takut, apa?” gumam Ratna.


Dia bergegas membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu tidak dikunci, hanya agak susah dibuka karena seret.


“Siapa, Bud?” tanya Ratna.


Dia tidak menemukan siapapun di ruangan ini. Tanpa permisi, Budi juga ikut masuk. Diikuti pak Teguh dan Stevani. Budi masuk hingga ke ruang belakang. Bentuk ruangan itu mirip seperti kontrakan tiga ruang. Hanya saja, ruang tengahnya memanjang sampai dinding belakang.


“Iya, Bud. Nggak ada siapa-siapa” ujar Stevani.


Tapi Budi tidak segera menjawab. Dia tampak penasaran dengan lemari yang terletak di pokok kiri belakang. Bukan pada umumnya ada lemari kayu besar di sebuah pabrik. Lumrahnya pabrik, akan menggunakan lemari dari bahan metal. Budi membuka lemari itu dengan gerakan siaga. Terlihat oleh ketiganya, kalau Budi mencurigai lemari itu.


*Krieet*


“Haa”


Ratna dan Stevani memekik tertahan, saat Budi membuka kedua pintu lemari itu dengan tiba-tiba. Tapi ternyata kosong, tidak ada siapapun maupun apapun di dalam lemari itu.


“Huufft”


Budi menghela nafas. Dia tampak malu, sudah salah menduga. Tapi ketiganya tersenyum. Mereka tampak maklum dengan kekeliruan Budi.


“Maaf mbak, pak. Kayaknya, yang saya liat tadi, bukan orang” kata Budi, dengan wajah bersalah.


“Bukan orang?” tanya Stevani.


“Ya. akhir-akhir ini, saya seperti bisa ngeliat makhluk halus. Buat saya sih, kaya sama aja sama manusia. Abisnya saya belum bisa ngebedain, mana manusia, mana makhluk halus” jawab Budi.


“Ih, seriusan, Bud? Jangan bikin takut ah!” kata Ratna. Dia tiba-tiba merinding.


“Jangan-jangan, mbak kunti, tuh?” celetuk pak Teguh.


“Kunti?” tanya Budi berlagak bingung.


“Ha ha ha. iya kali pak, ya? Kan kata pak Paul, Budi pernah dikelonin sama mbak Kunti” sahut Ratna. Sekarang dia malah tertawa. Padahal sebelumnya dia merinding.


“Yang bener, mbak? Ih amit-amit. Emang udah nggak ada cewek jomblo apa?”sahut Budi.

__ADS_1


“Mbak kuntinya yang suka sama kamu Bud. Ha ha ha” jawab Ratna.


“Ya kalo dianya secakep Vani sih, boleh-boleh aja”


“Dih, aku disamain sama kunti. Cakepan aku, lah” sahut Stevani.


Dia berlalu menuju ruang depan, dengan bersungut-sungut. Pak Teguh dan Ratna tertawa melihat Stevani merajuk. Pak Teguh juga beranjak menuju ruang depan. Ratna mengikuti di belakangnya.


Budi juga mengikuti langkah kaki mereka. Tapi dia terlebih dahulu membuka lagi lemari itu. Tampak dia meletakkan sesuatu di dalam lemari itu.


Perjalanan tour itupun berlanjut. Ratna masih setia menemani, sedangkan Stevani sudah pergi entah kemana. Pak Teguh juga pamit untuk memeriksa hasil kerja anak buahnya. Dan tinggallah sekarang mereka hanya berdua saja.


Tapi tidak sepenuhnya berdua. Karena di departemen anyaman, mereka bertemu Riki dan Bu Tami. Ada Aldo juga rupanya. Dia terlihat berdiskusi dengan bu Tami dan Riki.


Seperti awal dulu saat pertama masuk, bu Tami menjelaskan alur produksi anyaman. Termasuk juga menjelaskan sejarah ruangan di departemen anyaman ini, yang dirombak habis oleh Budi.


Lagi-lagi Budi tertawa. Dia masih berlagak tidak percaya, dan berseloroh kalau dia itu seperti penjelajah waktu.


“Kayaknya, lebih baik saya melaju lagi, beberapa tahun ke depan. Barangkali saya udah jadi direktur, pegang PRAM 2. Punya istri dua, rumah dua” seloroh Budi.


“Ngayal. Semua serba angka dua” tukas Ratna.


“Hmpf. Ha ha ha ha” yang lainnya tertawa mendengar kelakar mereka berdua.


Terlepas dari insiden tadi, kini Aldo sudah bersikap biasa terhadap Budi. Bagaimanapun, menurut dia, akan lebih mudah kerja dia, kalau ada Budi di pabrik.


Tadi saja, dia langsung membuat gebrakan. Budi dengan telaten mendengarkan semua penjelasan. Baik itu dari bu Tami, Riki, maupun Aldo. Terjadi diskusi juga di sana. Ketiganya terlihat antusias menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Budi. hingga mereka tidak sadar, kalau sudah terlalu lama mereka di sana. Dan mereka memutuskan untuk menyudahi dahulu diskusi mereka. Ratna hanya bisa geleng-geleng kepala, saat bu Tami tersenyum kepadanya.


“Andai aja dia mau ibu kenalin sama anak ibu” celetuk bu Tami.


“Lah, saya juga mau, bu” jawab Ratna.


“Hmpf. Ha ha ha ha”


Mereka berdua tertawa, menyadari kalau mereka sudah berhayal. Ratnapun pamit untuk kembali ke kantor. Di dalam kantor, budi sedang bercanda dengan Riki dan Aldo. Mereka sempat menyapa Ratna, saat dia memasuki kantor dari pintu di depan kubiknya PPIC.


“Kompak selalu, ya!” kata Ratna.


“Eh, iya. siap mbak Ratna. Kita juga lagi ngobrolin kerjaan, kok. Biasa Budi kan suka ngebanyol” jawab Riki.


“Hmpf. Ha ha ha ha”


Ratna tertawa melihat ekspresi Riki. Dia hanya geleng-geleng kepala, lalu pergi tanpa menjawab Riki. selanjutnya, terdengarlah tawa Aldo dan Budi. Mereka juga merasa lucu dengan sikap Riki yang terlalu polos.


Saat Budi mengikuti kepergian Ratna dengan pandangannya, di waktu yang sama dia melihat Stevani keluar dari kubiknya marketing. Di tangannya, ada sebuah botol air minum. Tampaknya dia ingin mengisi ulang botolnya yang sudah kosong itu.


Bersamaan dengan dia, ada Isma, finance dan purchasing manager. Mereka terlihat saling membuang muka. Tampak kalau mereka berdua sedang tidak akur.


“Kebetulan. Pak Tanto, ada driver, nggak?” tanya Isma.


Pak Tanto yang sedang jongkok, mengambil mingum, tersentak mendengar namanya dipanggil.


“Wah, lagi pada keluar, mbak. Ada si Udin, tapi mau nganter pak Paul” jawab pak Tanto.


“Biasanya juga nyetir sendiri” sahut Stevani. Suaranya terdengar ketus.


“Mobil gua lagi masuk bengkel. Ada juga mobil manual. Nggak bisa gua, makenya” jawab Isma tak kalah ketus.


“Itu ada Budi” tunjuk pak Tanto.


“Kamu bisa bawa mobil manual kan, Bud?” lanjutnya tertuju pada Budi.


“Bisa, pak” jawab Budi.


“Serius, Bud. Sori, maksud aku, “


“Masih, mbak. Tadi pagi juga, aku abis dari trenggalek. Gantiin supir bosnya ibu, bawa ikan”


“Eh, kamu udah inget sama ibu kamu, Bud?” tanya pak Tanto setengah terkejut, mendengar Budi menyebut kata Ibu.


“Emm” Budi menggelengkan kepala, dengan raut wajah sedih.


“Beliau nganggep saya anak, boleh kan saya nganggep beliau ibu?” lanjut Budi.


Seketika, suasana menjadi hening. Ada kesedihan di hati semua yang mendengarkan kata-kata Budi.

__ADS_1


“Ya udah. Tugas pertama kamu, nganterin Isma, ya!” suara pak Paul mengalihkan perhatian semua orang.


“Siap, pak” jawab Budi.


Isma keluar kantor diiringi Budi. Dia mengajak Budi ke bank. Di tangannya ada koper cukup besar. Saat Budi bertanya isinya apa, Isma menjawab kalau koper itu isinya uang tunai. Budi sempat bingung, karena dia belum pernah mendapati transaksi secara langsung, menggunakan uang tunai, di pabrik ini.


Tapi kata Isma, ada banyak pelanggan perorangan yang membayar dengan uang tunai. Dan itu lewat perantara marketing atau sales. Budi mengangguk-angguk tanda mengerti.


Saat sampai di parkiran bank yang dituju, Budi meminta Isma untuk tetap berada di mobil untuk beberapa saat. Dia yang akan membukakan pintu, setelah dia merasa kalau keadaan sekitar aman untuk Isma keluar.


Isma tergelak mendengar kata-kata Budi. Namun dia mengiyakan. Di dalam hati dia merasa, kalau dia sudah seperti bos besar, yang sedang diantar oleh bodyguard. Benar saja, Budi keluar dari mobil. Lalu dia berjalan menuju pintu kiri belakang, sambil memindai keadaan sekittar dengan kedua matanya.


“Silakan, mbak!” kata Budi.


Dia membukakan pintu untuk Isma, saat dia merasa tidak ada ancaman. Isma keluar dengan tersenyum. Budi tidak membalas senyum itu. Dia terus memindai keadaan sekitar, dan memastikan kalau Isma selalu dalam keadaan aman.


Dan terus begitu, sekalipun Iama sudah berada di dalam bank. Dia ikut masuk ke dalam bank, sekalipun tidak ikut masuk ke jalur antrian. Dia berdiri di pojok ruangan, sambil terus mengawasi Isma. Ada scurity yang mendekat dan menanyakan keperluannya. Budi menjawab apa adanya. Dan scurity itu mengerti dengan tugas yang disampaikan oleh Budi.


“Gokil, kamu keren banget sih, Bud?” komentar Isma, saat sudah kembali berada di dalam mobil.


“Keren apanya, mbak?” tanya Budi.


“Sumpah, aku berasa kaya punya bodyguard pribadi, tahu. Yang di sebelah aku tadi, ternyata bos toko emas, lho. Tapi dia dateng sendiri. Dia bilang iri tahu, sama aku. Tahu ada bodyguard yang stand by di pojokan”


“He he. Abisnya bawa uangnya nggak kira-kira. Ilang selembar juga, nangis pasti” komentar Budi.


“Ya, itulah kenapa, pak Paul Cuman percaya sama aku. Sekalipun aku manager, tapi urusan duit cash, sama sekali nggak boleh aku delegasiin sama orang lain”


“Mantap. Abis ini, kita mau kemana lagi, mbak?” tanya Budi.


“Kita makan, yuk! Aku yang traktir” ajak Isma.


“Ke lesehan di atas laut aja! enak tuh, makanannya”lanjutnya.


“Siap, bos” jawab Budi.


Segera saja, dia melajukan mobilnya menuju ke arah yang ditunjuk Isma. Tidak mebutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai. Untuk beberapa saat, Isma tidak keluar dari mobil. Itu mengundang tanda tanya bagi Budi.


Tapi kemudian dia mengerti. Sambil tergelak dia keluar dan membukakan pintu belakang sebelah kiri. Saat hendak memasuki rumah makan itu, tanpa Budi duga, dia bertemu dengan Adel. Hampir saja mereka bertabrakan.


“Eh, maaf” kata Budi. Dia terkejut, karena memang dia habis menunduk.


“Iya” jawab Adel sambil tersenyum.


Sambil menganggukkan kepala, Adel langsung pergi meninggalkan Budi. Budi yang tadi sedang mengetik pesan singkat, melanjutkan kembali aktivitas mengetiknya. Dan menuju meja Isma tidak memperhatikan Adel sama sekali.


“Kenapa nangis, mbak?” tanya Budi heran.


“Enggak” jawab Isma singkat. Dia menyeka air matanya.


“Aku sedih aja. Liat sepasang kekasih, udah nggak saling kenal lagi” lanjut Isma.


“Kekasih? Mana?” tanya Budi bingung.


Dia melihat ke sekeliling. Tapi setiap pasangan yang dia temui, sedang makan denan romantisnya.


“Ya kamu, Budi. Malah liatin sana-sini”


“Ha? emang kita pernah pacaran, mbak?” tanya Budi.


“Bukan sama aku. Tapi sama cewek barusan, yang hampir kamu tabrak. Itu pacar kamu”


“Yang bener aja, mbak? Anak orang kaya, itu. Pakaiannya aja, elegan begitu”


“Ih, Bud. Beneran. Baru bulan kemarin aku liat, kamu pelukan sama dia di depan pabrik. Dia masih pake baju kebaya. Baru pulang campur sarian, kayaknya. Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba dia datang, terus ngajak kamu ngejauh dari gerbang. Abis itu, langsung peluk”


Perlu beberapa saat untuk Budi mencerna apa yang dikatakan Isma. Tapi dia masih tetap pada pakem awal. Dia menggelengkan kepalanya. Tanda tidak ingat apapun.


“Ya Alloh, tolong dong, kembaliin ingatan mereka! sedih saya ngeliatnya” kata Isma seraya menengadahkan tangannya.


Setelah mengucapkan doa itu, Isma dikagetkan oleh suara ponselnya. Sebuah pesan singkat masuk. Wajahnya terlihat memerah, setelah membaca pesan singkat itu. Dia meletakkan ponsel itu dengan setengah dilempar ke atas meja.


“Pesen gih, Bud! Apa kek” peritah Isma dengan nada marah.


Tak jauh dari tempat Budi, Adel sedang berdiri sambil memainkan ponselnya. Dia sedang memesan ojol, tapi belum ada satu ojolpun yang berada di dekatnya. Dia mencoba dengan aplikasi lainnya, juga belum ada yang menyambut pesanannya.

__ADS_1


__ADS_2