
Hari dengan cepatnya berlalu. Entah untuk keberapa kalinya Budi terpikirkan tentang kekasihnya. Sampai stand dibongkarpun, dia sama sekali tidak muncul menemuinya.
Beberapa pesan singkat berupa teks dan video, memang cukup meredakan rasa gelisahnya. Tapi dia merasa belum puas. Masih ada yang mengganjal di hatinya. Sekalipun dia juga kebingungan, apa yang terasa mengganjal itu.
Setelah mengantri cukup lama, akhirnya dia selesai juga mandinya. Ya, dia memang tidak di rumahnya. Dia menginap di pabrik, malam ini. Setelah membongkar, mengangkut, dan merapikan barang-barang pasca ekspo di kabupaten.
Di kubik bekas milik PPIC, yang telah sebulanan dialih fungsikan sebagai ruang meetingnya tim ekspo eropa, Budi sedang menikmati secangkir kopi hitam. Bertemankan pisang goreng yang masih mengepul uapnya. Tapi matanya fokus menatap laptopnya.
Banyak foto dan video bertebaran di dunia maya. Menceritakan perkembangan terkini dari virus yang dibilang berbahaya itu. negara tiongkok sudah memberlakukan pengetesan dan karantina terhadap ribuan orang yang berada di Wuhan. Bahkan sudah berencana melakukan karantina wilayah.
Di negara lain juga tak kalah hebohnya. Satu temuan saja sudah membuat geger satu negara. Dan video-video liar yang bertebaran ini sudah termasuk meresahkan. Karena belum terbukti kebenarannya, tapi mereka yang membuat video-video itu sudah memframing kalau penderita yang terjangkit virus itu terlihat sangat menderita. Dan virus itu bisa menyebar lewat udara, dan bertahan lama di benda padat.
“Weis, bagi dong! Diem-diem aja”
Sebuah seruan sontak mengalihkan perhatiannya.
“Iya. Aku juga laper, nih. Sarapan dulu kenapa, Bud?” terdengar sahutan dari orang yang baru masuk.
“Ki, si Aldo mana?” tanya Budi tanpa menghiraukan seruan mereka.
“Lagi ke polres” jawab Riki, dengan suara agak tidak jelas. Karena dia sambil mengunyah pisang goreng panas.
“Lah. Kenapa tuh anak? Ketilang?” tanya Budi penasaran.
“Nemuin si Vani” jawab orang satunya.
“Nemuin Vani?” kali ini wajah Budi berubah menjadi merah. Mendengar nama itu disebut, tiba-tiba emosi budi serasa dibakar.
“Bud. jangan marah, dong! Kan kamu nanya. Kita ngejawab”
Budi terkesiap mendapat teguran itu. Perlahan-lahan dia berusaha mengendalikan emosinya. Dia berusaha menekan sekian banyak bayangan menyakitkan yang berseliweran di angan-angannya.
“Iya, mbak Farah. Maaf” jawab Budi beberapa saat kemudian.
“Kamu mau tanya apa, Bud? Aldo nitipin beberapa hal sama aku. Barang kali bisa ngejawab pertanyaan kamu” tanya Riki dengan hati-hati.
“Huuuuffft. Enggak. Entar aja” jawab Budi. Helaan nafasnya membuat Riki takut. Tandanya Budi masih marah.
“Bud. Kamu jangan marah sama Aldo, ya! Dia memang masih nyimpen rasa buat Vani. Dia masih berharap bisa dapetin hatinya Vani” kata Farah pelan. Budi menatapnya lekat. Terasa tajam tatapan itu bagi Farah.
“Huuufft. Iya, mbak. Aku kan nggak ada masalah sama Aldo” jawab Budi.
“Kalo entar mereka beneran nikah, embak minta, kamu jangan balas dendam, ya!” pinta Farah. Budi mengernyitkan keningnya.
“Hempf. Ha ha ha ha. Bisa juga ternyata si Aldo, naklukin Vani. Salut gua” Komentar Budi sambil tertawa.
Tawa itu malah terdengar menakutkan bagi Riki. Farah juga merasakan kalau tawa Budi kali ini lain dari biasanya. Seperti seringai hantu rimba yang siap menyergap musuh.
“Ya, lagian itu masih lama. Bisa jadi aku udah punya anak, dan udah lupa sama masalah ini” lanjut Budi.
Tak ada yang menyahut. Malahan wajah Farah dan Riki terlihat bingung. Sejenak mereka saling memandang.
“Kenapa?” Pertanyaan itu akhirnya muncul. Mereka berdua malah semakin bingung.
“Embak minta, kamu yang legowo ya, Bud. kayaknya nggak bakal selama itu” jawab Farah.
“Maksud mbak Farah?”
“Kamu nanya apa ngetes?” Farah malah balik nanya.
“Ya nanya, lah” jawab Budi agak sewot.
“Ada banyak orang yang udah diamanin polisi, Bud” kata Farah.
“Ya. Dari kemarin-kemarin juga banyak. Tapi belum ada yang nyatain kalo mereka nggak terkait sama Stevani” sahut Budi. Farah dan Riki kembali saling pandang.
“Ya udah. Kita sarapan dulu, yuk! Di warung soto sana, kalo pagi ada yang jualan nasi uduk. Ke sono yuk! Ajak Farah mengalihkan pembicaraan.
“Huuufft. Pinter kamu, mbak. Udah pantes jadi ibu” komentar Budi sambil berdiri.
“Maksud lo?” tanya Farah bercanda.
“Ha ha ha ha”
Budi hanya tertawa saja. Mereka pergi dari kantor, menuju warung soto di belakang pabrik tempat mereka bekerja. Karena sudah merasa kenyang, Budi hanya memesan secangkir kopi lagi. ketika yang lain fokus pada makanan, dia fokus pada ponselnya. Dia mencari berita mengenai Stevani.
Ternyata benar. Dari Putri dia mendapatkan info. Kata Putri, semalam Zulfikar bilang kalau direktorat tindak pidana siber telah melokalisir jaringan yang dipakai si otak intelektual. Dan semakin dipersempit berdasar ciri-ciri umum atau kebiasaan si otak intelektual ini dalam melancarkan aksinya. Bahkan beberapa orang yang diperiksa memberikan keterangan tentang situasi saat dia ditelepon dan diteror si otak intelektual.
Suara-suara seperti suara burung, suara dump truk, klakson bis, memberikan petunjuk tambahan tentang lokasi si otak intelektual. Tidak lama lagi, si otak intelektual ini pasti tertangkap.
Dan kemungkinannya, tertangkapnya orang itu akan meringankan bahkan bisa membebaskan Stevani. Jadi, Putri mengatakan kalau Zulfikar meminta Budi untuk tidak bertindak subyektif.
Mendengar penjelasan Putri, Budi berinisiatif untuk memberi tahu Adel. Dia mengirimkan pesan untuk bertemu secepatnya. Saat ditanya ada apa, Budi hanya bilang kalau dia ingin segera bertemu. Karena penasaran, Adel mengatakan kalau dia akan menemuinya pagi ini juga. Budi mengiyakan saja, sekalipun tidak yakin akan kesampaian.
Di rumahnya, Adel sudah bersiap untuk pergi. Tas selempangnya sudah bersandar manis di bahunya. Di pikirannya dia sudah menyiapkan satu alasan yang dia yakin tidak akan ditolak oleh bapaknya. Dengan langkah cepat setengah berlari, dia berjalan menuruni tangga. Terlihat Madina dan ibunya sudah terlebih dahulu sarapan.
“Mau diambilin mbak,sarapannya?” sapa Madina.
“Nggak usah, dek. Embak mau pergi” jawab Adel.
“Sarapan dulu, nduk! Mau kemana, sih? masih pagi banget, lho. Jam enem juga belum genap” sahut bu Ratih.
“Abram mau ketemu, bu” jawab Adel.
“Ya kamu suruh dia ke sini, lah! Ora becik anak gadis nyamperin cowok”
“Emang Adel larang ke sini, Bu. Kalo ketahuan bapak, bisa ribut”
“Ya sarapan dulu, lah! Nggak bisa entar-entaran, apa?”
“Kedengerennya ada yang penting banget, bu. Kayaknya Abram ada update tentang kasusnya si Vani” jawab Adel. Bu Lusi terkesiap. Dia bingung mau menjawab bagaimana.
“Ya udah, diminum dulu susunya! Ibu yang bikinin itu” perintah bu Lusi.
__ADS_1
“Oke”
Adel duduk dan meminum susu buatan ibunya. Seperti sudah tidak ada waktu lagi, Adel meminum susu itu dengan cepatnya.
“Adel pergi dulu ya, bu?” pamit Adel.
“Ati-ati, sayang! Jangan ngebut!” jawab bu Lusi. Adel mengangguk dan tersenyum.
“Embak berangkat dulu ya Dek?”
“Iya, mbak. Ati-ati” jawab Madina.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Adelpun pergi meningalkan ibu dan adiknya. Dia mainkan kunci motornya. Berputar-putar di jari telunjuknya.
“Permisi”
Terdengar sapaan dari arah pintu depan. Tepat sesaat sebelum Adel muncul dari ruang tengah.
“Ya” jawab Adel.
Seorang laki-laki seumuran bapaknya, tersenyum. Dari penampilannya, Adel bisa menebak kalau orang itu adalah karyawan sebuah toko.
“Cari siapa, pak?” tanya Adel.
“Pak Fajarnya, ada?” jawab laki-laki itu dengan pertanyaan.
“Loh. Iya, ya. Bapak kemana? Kok mobilnya nggak ada” gumam Adel.
“Eem. Kayaknya bapak lagi keluar, pak. Ada pesen?” jawab Adel.
“Oh. Saya cuman mau nyampein pesen dari juragan Kadir. Nanti ketemuannya nggak jadi di rumah. Juragan Kadir udah di Teleng. Jadi nanti bapak diminta langsung saja ke teleng” jawab laki-laki itu.
“Loh. Emang juragan Kadir udah pulang kampung?” tanya Adel.
“Sudah. Sudah semingguan”
“Oh. Wah, ngomongin apa nih? Bisnis nih, pasti” tebak Adel.
“Bukan. Ngomongin pinjaman”
“Pinjaman?”
“Iya. Pinjaman pak Fajar ke juragan Kadir”
“Loh”
Raut wajah Adel seketika berubah. Baru kali ini dia tahu kalau ternyata bapaknya punya utang banyak. Tapi dia tidak tahu untuk apa.
“Emang berapa pinjaman bapak ke juragan Kadir?” tanya Adel pelan.
“DUA RATUS JUTA?”
Adel berseru kencang saking kagetnya. Saking kerasnya seruan itu, sampai bu Lusi dan Madina yang berada di ruang makan mendengar seruan itu. Merekapun beranjak ke depan, untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, nduk?” tanya bu Lusi, sesampainya di ambang pintu. Tapi Adel masih tertegun karena syok.
“Maaf, bu. Saya orangnya juragan Kadir, mau memberitahukan kalau nanti pak fajar diminta ke teleng saja. Bukan di rumah juragan Kadir” kata laki-laki itu.
“Oh. Iya. Baik. Nanti saya sampaikan” jawab bu Lusi.
Sontak Adel menatap ibunya. Dia terkejut mendapati ibunya langsung paham dengan apa yang dikatakan laki-laki itu.
“Kalau begitu saya pamit dulu, bu. Permisi”
“Iya. Silakan” jawab bu Lusi.
Sampai orang itu keluar dari halaman rumah, Adel masih menatap ibunya. Membuat bu Lusimengernyitkan dahinya.
“Buat apa bu, dua ratus juta? Perasaan bengkel kayu bapak baru kali ini goyang” tanya Adel pelan.
Bu Lusi tidak segera menjawab. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Lalu bu Lusi tersenyum.
“Bapak memang tidak pernah menceritakan keluh kesahnya, selain sama ibu. Itu bagian dari strategi bapak” jawab bu Lusi.
“Bu. Modal bahan bapak itu nggak nyampe lima puluh juta, lho. Proyek paling gede aja dulu, cuman lima puluhan. Sisanya buat apa, bu?”
“Itu kamar kalian” jawab bu Lusi.
“Apa? Kamar kita?” tanya Adel tak percaya.
“Iya”
“Kenapa maksa sih, bu? Kita aja dulu enjoy aja di kamar bawah” tanya Adel lagi.
Bu Lusi tidak segera menjawab. Dia menatap lekat mata putri sulungnya. Dalam hati dia tergelak. Putri sulungnya sudah dewasa. Sudah kritis. Sekritis dirinya semasa kuliah.
“Masa depan siapa yang tahu, nduk? Bapak berani ambil pinjaman karena prospek pekerjaannya menjanjikan”
“Ya kenapa nggak ke bank aja, bu?”
“Bapak juga masih punya tanggungan di bank. Jadi nggak bisa”
“Terus, ?”
Sepertinya masih banyak pertanyaan yang ingin dia ungkapkan. Tapi dari jawaban-jawaban ibunya, Adel merasa kalau tidak pantas baginya mencencar ibunya. Bagaimanapun juga, bapaknya melakukan itu semua buat dirinya juga. Adel memijat-mijat keningnya. Bu Lusi merangkul dan mengusap-usap pundak kiri putri sulungnya.
“Bapak kemana, bu?” tanya Adel, beberapa saat kemudian.
Bu Lusi tidak segera menjawab. Dia merasa tidak mungkin dia memberitahukan kemana perginya suaminya. Tapi dia juga tidak yakin bisa berbohong kepada putri sulungnya itu.
__ADS_1
“Bapak ke solo, nduk” jawab bu Lusi kemudian.
“Ke tempat mas Luki?” tanya Adel lagi.
Lagi-lagi bu Lusi tidak segera menjawab. Dia hanya menatap lekat mata putri sulungnya.
“Huuuuffftt”
Keterdiaman ibunya sudah cukup menjadi jawaban bagi Adel. Dia duduk di sofa teras sambil memegangi kepalanya. Madina mendekat dan memeluk kakaknya itu dari samping.
“Semua akan baik-baik aja kok, nduk” kata bu Lusi menenangkan.
“Apanya yang baik-baik aja, bu?” tanya Adel. Bu Lusi terkesiap.
“Kalo bapak semakin banyak utang sama mas Luki, nanti bapak nggak akan bisa lepas dari rasa utang budi. Pasti bapak bakal ngerasa nggak enak kalo harus nolak permintaan mas Luki” lanjut Adel.
“Jangan mikir yang belum tentu terjadi!” sahut bu Lusi.
“Haduuuh”
Adel bersandar ke belakang sambil menutupi wajahnya.
“Kalo tahu bakal begini, mendingan Adel jadi orang jahat, bu” celetuk Adel.
“Kok Adel ngomongnya gitu?” tanya bu Lusi kaget.
“Bu. Orang yang ingkar janji, apa bukan orang jahat, namanya?”
“Janji apa?”
“Bu. Adel udah janji sama bu Ratih, buat nggak nyakitin hatinya Abram lagi. Kalo udah begini, apa yang lebih nakutin dari lamarannya mas Luki?”
Bu Lusi terkesiap. Dia menyadari, kondisi ini memang berat buat putri sulungnya itu. Dia bukan tipe orang yang gampang melupakan janji, apalagi mengingkari.
“Dulu Adel bisa nahan, bisa nunda. Tapi kalau udah begini, udah keliatan pengorbanan dia, bu. Dia udah nunjukin valuenya. Adel udah nggak bisa lari lagi” lanjut Adel.
“Apa kamu pikir bapak nggak bisa ngelunasin?” tanya bu Lusi.
Gatian Adel yang terkesiap. Dia terkejut melihat wajah ibunya berubah merah.
“Bantu bapak dengan doa, agar bapak bisa ngelunasih hutang-hutangnya! Biar kamu nggak terkekang sama rasa utang budinya bapak” pinta bu Lusi.
“Ibu”
Serta merta Adel bangkit dan bersimpuh di kaki ibunya.
“Maafin Adel, bu! Adel lancang” kata Adel meminta maaf.
“Nduk. Jangan bersimpuh gitu, dong! Ibu nggak marah kok. Bangun yuk!” jawab bu Lusi.
Adelpun berdiri seiring gestur tubuh ibunya yang seolah menariknya ke atas. Mereka saling menatap.
“Ibu marah sama diri ibu sendiri. Sakit hati ibu di masa lalu, ternyata berdampak sama anak ibu sendiri. Rasa ingin diakui, rasa ingin nunjukin, bikin ibu terus meminta sama bapak. Kalo Adel marah, marah aja sama ibu! Bapak nggak salah. Bapak cuman mau nurutin apa maunya ibu” kata bu Lusi.
“Ya Alloh, ibu”
Adel memeluk ibunya. Dalam kemarahannya, dia hanya bisa menangis. Dia merasa tidak mungkin dia marah sama ibunya.
“Ya udah. Adel berangkat dulu ya, bu? Takut kesiangan” pamit Adel lagi.
“Jangan putus asa ya, nduk! Kamu kan cerdik. Pasti bisalah, nego sama bapak” jawab bu Lusi sambil tersenyum. Adel tergelak mendengar kata cerdik.
“Iya, bu. Adel yakin, bakal ada keajaiban-keajaiban lain”
“Nyindir” komentar bu Lusi.
“Ha ha ha ha” Adel tertawa mendengar komentar pendek itu.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam” jawab bu Lusi dan Madina serempak.
Adel pergi dengan hati yang gundah-gulana. Pikirannya melayang jauh. Dia sudah mensimulasikan keadaan terburuk.
Bagaiamana seandainya dia memang tidak bisa mengelak dari lamaran Luki. Lamaran yang tidak bisa dia tolak, karena bapaknya merasa hutang budi. sekaligus masih ada hutang sekian ratus juta yang tidak bisa dia lunasi.
Tapi berkaca dari yang sudah terjadi, rasanya akan terlalu sulit untuknya menjelaskan keadaan itu. Mungkin dia akan mendapatkan penerimaan yang lebih buruk dari yang sebelumnya. Dan itu pasti lebih menyakitkan.
Tapi jauh di lubuk hatinya, Adel merasa, asalkan dia patuh dan taat pada kedua orang tuanya, pasti Gusti Alloh akan membantunya. Bisa jadi Alloh akan merubah jalan ceritanya, atau Alloh akan meringankan jalannya. Bisa saja Alloh membuat semuanya saling mengerti dan menerima. Sehingga, bertemunya baik-baik, berpisahnya juga baik-baik.
“Astaghfirulloh. Kenapa aku udah yakin aja bakal kaya gitu endingnya? Ibu aja bisa berubah jadi baik, pak Imam tiba-tiba meninggal, kenapa aku nggak minta buat dijauhin dari Luki? Kenapa aku nggak minta diridhoi hubunganku sama Abram? Atau, aku minta supaya mas Luki dijodohin sama si Sofia itu. Bukannya pak Imam juga punya hutang budi sama bapaknya Sofia? Ya. Aku bisa minta semua itu. Aku harus optimis. Mungkin ini cuman cara Alloh aja, buat bikin aku bangun malam dan bersujud padanya”
Di warung soto, Adel mendengarkan cerita Budi sambil menikmati gorengan. Dia cukup tercengang mendengar kabar itu. Seperti Budi, Adel juga terbakar emosinya. Terlebih, yang menjadi korban bukan hanya dia sendiri, melainkan orag tuanya juga. Tapi kalau sampai benar bukan Vani pelakunya, Adel belum bisa membayangkan, seperti apa perlakuannya pada pelaku sebenarnya. Dan dia malah jadi penasaran, siapa gerangan orang itu.
“Bud”
Perhatian mereka teralihkan oleh sebuah sapaan.
“Sori, ganggu. Mau ngasih tahu aja. Kontainernya udah datang. Tapi si Aldo belum balik. Boleh nggak si Riki back up si Aldo?”
Ternyata orang itu adalah Farah.
Mendengar nama Aldo disebut, Budi jadi terbakar lagi emosinya. semata-mata karena Aldo sedang menemui Stevani. Maunya dia berkata tidak, tapi dia juga pernah berhalangan dan diback up si Aldo. Dan dia juga sadar, kalau sebenarnya itu hanya bahasa halus untuk memintanya segera kembali ke pabrik.
“Huuuuffft. Oke. boleh, mbak” jawab Budi, setelah menghela nafas berat. Farah malah tertegun.
“Oke. Aku tunggu, ya! kita butuh persetujuan kamu” kata Farah lagi.
“Siap, mbak. Aku nyusul” jawab Budi.
Farahpun pamit undur diri.
Dia tidak seberani Erika saat berhadapan dengan Budi. Sekalipun dia juga lebih senior dibanding Budi.
__ADS_1
***