
Masakan dalam jumlah banyak, membuat waktu pengerjaannya juga lama. Tak terasa sudah jam tujuh lewat sepuluh menit. Sebagian sudah siap diantar.
Stevani diberikan tugas untuk mengantar makanan yang mereka kemas dalam kemasan kotak itu ke sanggar seni. Aldo yang kebetulan datang, rela mengantarkan Stevani dengan senang hati.
Putri bersama sang ibu, pergi membagikan makanan untuk para tetangga, ditemani oleh sang tuan rumah, bu Lusi. Sedangkan Madina, masih sibuk menyiapkan makanan untuk mereka sarapan sendiri.
“Sendirian aja, dek?”
Saat sedang asyik menata makanan di atas piring, Madina dikejutkan oleh sebuah suara. dan itu suara kakaknya. Karena sedang fokus mempercepat persiapan makanan itu, Madina seperti terlupa oleh cerita si Putri.
“Mbak. Tolong ambilin piring dong! Kurang satu” pinta Madina.
Tanpa menjawab, Adel langsung berjalan ke lemari piring. Sempat Madina kembali fokus pada makanan yang sedang dia tata. Namun saat menoleh, dia melihat ada yang aneh pada cara berjalan kakaknya. Adel bingung ditatap sebegitu rupa oleh sang adik.
“Kenapa, dek?” tanya Adel.
Bukannya menjawab, Madina malah tertegun. Membuat Adel bertambah bingung.
“Ada yang aneh sama embak?” tanya Adel lagi, sambil meletakkan piring itu ke atas meja.
“Dek?”
Tanpa Adel duga, Madina malah memeluknya. Tangisnya pecah, seolah sudah ditahan sedari tadi.
“Kamu kenapa, dek? Embak bingung, nih”
Namun pertanyaan Adel tidak mendapat jawaban. Madina hanya terus menangis sambil memeluk lebih erat. Detik demi detik berlalu tanpa ada penjelasan sepatah katapun dari sang adik.
“Kenapa, nduk?”
Suara bu Lusi, sontak membuat Madina terkejut. Buru-buru dia melepas pelukannya, dan menyeka air matanya.
“Adikmu kenapa, nduk?” tanya bu Lusi pada Adel.
“Adel juga bingung, bu” jawba Adel.
“Kenapa, Din?” bu Lusi bertanya lagi pada Madina. Namun Madina hanya tergelak.
“Lu laper ya, Din?” celetuk Putri. Madina menoleh.
“Makan aja, keles! Orang di rumah sendiri, juga. Pake nangis” lanjut Putri. Madina tergelak. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga kakaknya.
“Mas Budi lebih gede ya, mbak?” bisik Madina.
“Ha?”
“Sampe ngengkang” lanjut Madina.
Madina lantas berlalu sambil menggamit tangan sahabatnya. Dia mengajak Putri pergi dari dapur sambil tertawa, karena melihat sang kakak berkacak pinggang.
“Balas dendam nih, ceritanya? Ibu nggak dikasih tahu?” seru bu Lusi.
“Hempf. Ha ha ha ha” Madina tertawa lepas, mendengar ucapan ibunya.
“Nyebelin” seru bu Lusi lagi.
__ADS_1
“Ha ha ha ha” Madina semakin kencang tertawanya.
Adel juga tertawa mendengar tawa adiknya. Namun matanya berkaca-kaca. Dia terharu sekaligus bahagia.
Dia teringat momen dimana sebelumnya, pagi setelah dia pecah perawan bersama Luki, sang adik juga melihat keanehan di dalam gerakan berjalannya. Dan Madina sampai menangis sedih, melihatnya sudah tidak perawan, tapi tidak bersama Budi.
Pagi ini, walau sempat menangis juga, tapi ada tawa lepas penuh kebahagiaan yang ditunjukkan Madina. Melihatnya berjalan aneh, setelah melewati malam pertama bersama Budi.
Dan seperti di momen sebelumnya, Adel kembali memeluk ibunya. Tapi kali ini, yang dia tumpahkan di pundak sang ibu, adalah tangis haru penuh kebahagiaan.
***
Setelah sarapan dan sempat ceng-cengan, bu Lusi mengajak semuanya untuk berziarah kubur. Yang pertama akan mereka kunjungi adalah makam bapaknya Adel, pak Fajar.
Di makam pak Fajar, bu Lusilah yang banyak berbicara. Seolah-olah suaminya akan mendengar semua ucapannya. Bu Lusi mengungkapkan permintaan maafnya pada sang suami, karena pernikahan Adel yang sangat dia dambakan harus berakhir menyedihkan. Karena ternyata menantu yang dia idam-idamkan itu tak lain adalah pengedar narkoba, yang diam-diam memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadinya. Sampai pada akhirnya si Luki mati ditembak polisi.
Tak lupa bu Lusi juga mengabarkan kepada sang suami, bahwa semalam dia telah menikahkan putri sulung mereka dengan kekasih yang sedari dulu sangat dia cintai.
Bu lusi juga menceritakan bagaimana bahagianya keluarga mereka saat ini. Tak hanya Adel, Madinapun turut merasakan kebahagiaan atas menikahnya Adel dengan Budi.
Adel, di samping ibunya, menyambung kabar tersebut. Secara tulus dia meminta maaf pada sang bapak, karena tidak bisa membahagiakan sebagaimana yang bapaknya inginkan.
Dia mengatakan, kalau dia sangat bahagia, pada akhirnya kebenaran telah terungkap. Yang busuk telah terlihat kebusukannya. Yang baik telah terlihat kebaikannya.
Adel juga menceritakan bagaimana Budi harus berjuang untuk menyelamatkannya, menyelamatkan ibunya, juga menyelamatkan adiknya, dari amukan komplotan si Luki.
Dan dengan segala kerendahan hati, Adel meminta restu dari sang bapak. Karena mulai tadi malam, dia telah resmi menjadi istrinya Budi.
Budi, dia juga mengatakan hal yang sama. Dia meminta maaf atas semua drama yang pernah terjadi antara mereka. Budi meminta ijin sekaligus restu, untuk menjadi imam bagi bagi wanita yang sangat dicintainya. Anak sulung dari pak Fajar.
Selepas dari makam pak Fajar, bu Lusi mengajak semuanya untuk berziarah ke makam pak Rouf. Namun bu Ratih punya pendapat lain. Posisi makam pak Rouf terlalu jauh dibanding posisi makam Erika. Bu Ratih berpendapat, akan lebih baik kalau makam Erika didahulukan untuk diziarahi. Rupanya semuanya setuju. Dan ke sanalah mereka menuju.
Budi, yang sedang memegang kemudi, mendadak berubah raut mukanya, kala mobil yang dia kemudikan memasuki wilayah kota. Ada kesedihan yang perlahan menggelayutinya.
Bukannya tak tahu, Adel paham akan perubahan raut wajah suaminya. Memang dia cemburu, tak bisa dia memungkirinya, namun dia juga mengerti, perasaan itu bukan suaminya yang mengundang, namun lebih pada datang dengan sendirinya. Dia hanya menyentuh pundak sang suami, mengusapnya beberapa kali.
Mendapat usapan itu, buru-buru Budi menghela nafasnya. Dia berusaha mengusir rasa sedih yang mulai berlebihan itu. Tapi dia kesulitan.
Sesampainya di depan taman makam pahlawan, Budi tampak ragu untuk memasuki gerbang makam. Dia menatap sang istri, saat sang ibu bertanya ada apa.
Berbagai rasa berkecamuk di dadanya. Rasa sedih, sudah pasti itu yang paling mendominasi. Ingatan momen gugurnya Erika, masih sangat jelas berputar di pelupuk matanya. Rasa marah yang meledak-ledak juga ikut merebut kesadarannya.
Namun rasa tidak enak hati juga berusaha muncul ke permukaan. Mengingatkannya bahwa dia sudah menikahi seorang wanita. Dan diapun sudah mereguk manisnya madu kebahagiaan bersama wanita itu, tadi malam.
“Nggak usah dilawan, Bram!”
Suara halus nan lembut itu, sukses membawanya kembali dari lamunannya. Seulas senyum tersungging di bibir Adel. Membuatnya bertambah kikuk dan tidak enak hati.
“Tata juga ngerasain hal yang sama kok, Bram” kata Adel lagi. Budi memberikan perhatiannya.
“Tata juga ngerasa sebagian dari nyawa Tata hilang, saat denger si Luki meninggal. Sekalipun kalau pas sadar begini, Tata benci sama dia” lanjut Adel.
“Ma, ma, maafin Abram, Ta!” sahut Budi.
“Abram belum pernah kehilangan seperti ini. Ditinggal nikah aja, Abram hampir gila. Ini, ini, “
__ADS_1
“Sssttt, udah!” potong Adel. Lirih. Dia meletakkan telunjuknya di depan bibir Budi.
“Jangan dilanjut, Bram! Tata nggak kuat dengernya” lanjut Adel. Budi tertegun mendengar ucapan istrinya.
“Masuk yuk! Mbak Rika pasti udah nungguin” ajak Adel. Budi hanya mengangguk saja.
Sambil mengucapkan salam, mereka melewati gerbang taman makam pahlawan. Mereka langsung menuju makam, dimana jasad Erika dibaringkan untuk selama-lamanya.
Bu Lusi langsung menangis begitu sampai di makam Erika. Ucapannya terdengar lebih menyayat hati.
Bu lusi mengabarkan kepada Erika, bahwa permintaan terakhirnya, yang membuatnya sampai harus masuk ke dalam mimpi, telah dipenuhi. Budi telah menikah dengan Adel. Bu Ratih berharap, setelah ini, Erika bisa beristirahat dengan damai.
Adel juga mengatakan hal serupa. Dia meminta maaf, pernah menghardiknya sebegitu kasarnya, padahal Adel merasa Erika telah begitu kalem menghadapinya. Dia juga meminta ijin kepada sang kakak, untuk menjadi makmum, dari lelaki yang pernah begitu spesial di hati sang kakak.
Budi, dia hanya tertegun di tengah kesedihannya. Dia tidak tahu, kata mana yang mesti lebih dulu dia ungkapkan. Karena ada begitu banyak kata yang berebut ingin diungkapkan. Hanya helaan nafas yang terdengar, mengiringi semilir angin pagi ini.
*Aku datang, Ka. Gimana kabarmu? Semoga istanamu semakin megah, tak kurang suatu apa*.
Mata Budi berkaca-kaca, seiring hatinya yang mulai mengungkapkan perasaannya.
*Aku udah nikah, Ka. Aku udah penuhi apa yang kamu mau*.
Budi menggamit tangan Adel. Dia ingin menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis Adel.
Sempat Adel bingung dengan apa yang dilakukan suaminya itu, namun dia tidak bertanya. Dia bisa menebak maksud Budi, dari arah kemana Budi menatap.
*Jujur, aku malu, Ka. Semalam, aku sama sekali lupa sama kamu. Aku nggak tahu, apakah kenyataan semalem itu nyakitin buat kamu, atau malah nyenengin. Dan landscape kota ini kembali ngingetin aku tentang kamu. Aku berasa kehilangan sebelah kaki, Ka. Walaupun udah ada kaki baru, tapi rasa sakitnya masih sangat terasa, Ka*.
Air mata Budi meluncur begitu saja. Pertempuran waktu itu, terasa seperti dia rasakan kembali. Terjangan peluru dan tusukan pisau itu, seperti dia ikut merasakan sakitnya. Butuh beberapa lama buat Budi menguasai kembali keadaannya. Entah sudah yang keberapa kalinya Adel mencium tangan Budi untuk menenangkannya. Masih sambil terisak, Budi menatap kuburan Erika sambil mencium tangan Adel.
*Ka. Kamu yang memintaku untuk menikahi Adel. Artinya, sekarang aku punya tanggung jawab besar padanya. Mungkin waktuku akan tersita banyak untuk membahagiakannya. Aku nggak tahu, apakah aku masih bisa rutin menjengukmu apa enggak*.
Tiba-tiba ingatan Budi melayang pada pertemuannya dengan bapaknya. Dan kesedihannya memuncak lagi. Dia merasa dilema. Di satu sisi, dia mengerti bagaimana kesepiannya penghuni kubur tanpa ziarah dari sanak keluarga. Tapi di sisi lain, sebagai orang yang masih hidup, dia masih bisa merasakan lapar. Dan semua yang hidup harus bekerja agar tidak kelaparan. Artinya, yang masih hidup tidak akan bisa setiap hari mengunjungi keluarga yang sudah menjadi penghuni alam kubur.
*Aku akan berusaha meluangkan waktu untukmu, Ka. Walau mungkin nanti, rasa cinta di hatiku perlahan akan berubah. Menjadi cinta seorang adik kepada sang kakak*.
Tangis Budi pecah lagi. Kali ini dia terbayangkan akan kematiannya sendiri. Tentang ilmu ikhlas dari bapaknya, yang hingga kini masih menjadi tanda tanya besar buatnya.
Entah, apakah dia bisa sebegitu ikhlasnya meninggalkan dan mengikhlaskan semua yang dia punya untuk dimiliki oleh orang lain. Paling berat, adalah mengikhlaskan wanita yang paling dia cintai, dimiliki pria lain yang masih hidup.
*Aku yakin, setiap doa yang aku panjatkan untukmu, akan sampai ke kuburmu. Aku akan berusaha selalu menyelipkan namamu di setiap doaku*.
Budi melepaskan tangan Adel. Dia meminta kembang yang dipegang Madina. Dia mengajak semuanya untuk menaburkan kembang itu.
“Pimpin doa, mas!” pinta Adel.
Budi memimpin doa masih dengan terisak. Terasa lebih khidmad doa kali ini. Karena budi masih berderai air mata, dalam setiap kalimat doa yang dia ucapkan.
Semakin menyayat hati saat sampai doa tentang sakarotul maut. Putri yang paham dengan doa itu, seketika berderai air mata. Belum lagi saat Budi mendoakan semua ahli kubur, termasuk almarhum Abdul Rouf, bapak mereka. Dan ditutup dengan doa khusus untuk sang ahli kubur, Erika Tungga Dewi.
“Amiin”
Doapun selesai dipanjatkan. Sekali lagi, mereka menaburkan kembang yang masih tersisa. Budi malah tertegun, menatap pusara bertuliskan nama mantan kekasihnya itu.
*Aku pamit ya, Ka? Aku minta ijin, untuk memulai hidup baru. Semoga kita bisa berjumpa lagi. Selamat jalan sayang. Selamat jalan Erika*.
__ADS_1