
Di tempat terpisah, seorang wanita paruh baya sedang gelisah juga. Dia mondar-mandir di sebuah kamar. Tampaknya dia sedang menantikan seseorang. Berkali-kali dia mencoba menelepon, tapi tak juga mendapatkan sambutan.
*TOK TOK TOK*
Sebuah ketukan di pintu menyita perhatiannya. Seulas senyum mengembang di bibirnya. Dia menghampiri pintu dan membukanya.
“Kamu kemana aja sih? lama banget, ke sini aja?” tanya wanita itu.
“Maaf, bu. Adi harus ngelarin kerjaan dulu” jawab tamunya. Ternyata wanita itu adalah bu Kusno, ibunya Adi.
“Kerjaan apa? kamu nggak tahu, ibu udah ngebet dari tadi? Malah mampir-mampir dulu”
“Udah, ngga usah marah-marah, ibuku yang cantik. Adi bawain duit banyak, nih” kata si Adi sambil membuka tas jinjingnya.
“Wuih. Kamu ngerampok, ngger?” tanya wanita itu.
“Enggak, lah. Ini bayaran atas kerja Adi barusan”
“Kerja apa?”
“Kerja yang simple dan juga nyenengin”
“Kerja apa tuh?”
“Nabrak si Budi”
“Ha? nabrak si Budi?”
“Iya. kerjaan yang gampang banget, duitnya banyak. Seneng banget lagi, ngeliat si Budi terkapar di jalanan. Hampir kelindes bus, lagi. Ha ha ha ha”
“Kok nggak ngajak ibu sih?”
“Ha? ibu pengen liat?”
“Ya iya, lah. Pasti seru banget tuh, liat si Budi guling-guling di jalan”
“Tapi nggak sempet, bu. Momennya harus pas”
“Yah, sayang. Tapi nggak papa deh. Yang penting kamu udah di sini. Cepetan buka!”
“Dih, ibu ngebetnya, kaya apa aja. Perasaan tadi pagi sama bapak terus, deh”
“Ah, bapakmu cuman bikin kentang doang bisanya”
“Ha ha ha. Kasihan. Ya udah, ya udah. Sini ibu sayang! Adi manjain” pinta Adi.
Dan terjadilah apa yang tidak seharusnya terjadi. Sekali lagi, don’t try this at home!
Tak perlu waktu lama untuk meringkus keempat pelaku pembakaran bengkel kayu pak Fajar. Gudang tua, tempat Sandi menginterogasi pelaku sabotase pada motor Adel tempo hari, kembali menjadi tempat menginterogasi.
Keempatnya diikat tangannya dan dikaitkan ke rangka atap gudang. Walau tidak digantung, tapi mereka juga tidak bisa duduk. Dan harus tetap berdiri sekalipun mereka sudah kepayahan merasakan sakit di perut akibat hantaman tinju para anak buah Sandi.
“Keras kepala banget sih, mereka. Udah kaya tentara aja lagaknya, segala rahasia disembuyiin sampe mati” komentar Adel kesal.
Ya, seluruh keluarga pak Fajar ikut serta ke gudang itu, menyaksikan proses interogasi yang masih berlangsung. Hanya Madina yang tidak terlihat. Bukannya tidak ikut, tapi dia menyingkir karena tidak tahan melihat kekerasan demi kekerasan yang tak kunjung berakhir. Budi tersenyum mendengar komentar kekasihnya itu.
“Bagi mereka, mati ditangan siapa juga sama aja. Nggak mati sama Sandi, mungkin besok mereka mati sama yang nyewa mereka” kata Budi.
“Kok gitu?”
“Kalo rahasianya kebongkar” jawab Budi.
“Terus, gimana dong?”
“Kita tunggu aja. Paling juga bentar lagi ngaku”
“Tahu dari mana?”
“Feeling aja sih” jawab Budi.
Adel tak membantah lagi. Dia fokus memperhatikan keempat orang yang sedang dihadapi belasan orang. Tapi apa yang dikatakan Budi, nyata adanya. Tak berapa lama kemudian salah satu dari mereka mulai mengatakan sesuatu. Sontak pak Fajar dan bu Lusi bangkit dari duduknya dan beranjak mendekati kerumunan orang itu. Adel ikut mendekat dibantu Budi.
“Dominic” kata lelaki itu lirih.
“Ponsel” lanjutnya.
“Hei, mana tadi ponsel orang-orang ini?” seru Sandi.
Sontak seseorang mendekat dengan membawa beberapa buah ponsel. Satu per satu ponsel itu digeledah. Di salah satu ponsel itu, muncul nama Dominic di daftar panggilan. Dan nomernya sama persis dengan nomor orang yang menjadi body guardnya Stevani.
“BIADAAP” teriak Budi. Matanya merah menyala menahan marah.
*BUUUAAKKK*
Budi meninju wajah lelaki itu sekuat tenaganya, sampai ada gigi lelaki itu yang patah dan terpental. Giginya sendiri gemeretak, menahan kemarahan yang tak bisa dia lampiaskan lagi. Keburu Adel memegangi tangannya, dan menariknya ke pelukan Adel.
Sementara ini langkah mereka seperti menemukan jalan buntu. Karena orang yang mereka cari, justru sudah berada di dalam sel tahanan. Seperti anti *******. Pak Fajar hanya bisa terduduk lemas.
***
__ADS_1
Pagi ini Budi hanya bisa terbaring di tempat tidur. Badannya terasa sakit semua, setelah kemarin memaksakan diri melakukan banyak hal. Tapi dia menolak saat ibunya ingin membawanya ke rumah sakit. Dia hanya meminta adiknya untuk menggantikan perbannya.
Atas inisiatif pak Paul, yang mendengar berita kecelakaannya, seorang dokter datang memeriksanya. Beberapa obat juga dokter itu berikan agar tubuh Budi bisa segera pulih. Dan dokter itu menyarankan agar Budi beristirahat total selama satu atau dua hari ini.
“Mas, kok kemarin nggak bilang Putri sih, kalo mas Budi kecelakaan?” tanya Putri sewaktu menyuapi Budi. Budi hanya tersenyum dan melanjutkan mengunyahnya.
“Ya kan pikiran mas Budi ada ditempat mbak Adel” jawab Budi.
Putri terdiam, matanya menatap penuh arti ke mata Budi. Membuat Budi mengernyitkan dahinya, pertanda dia bingung dengan maksud tatapan adiknya itu.
“Kenapa?” tanya Budi.
“Ah, enggak. Putri cuman iri aja sama mbak Adel. Dapet cowok yang mau berkorban apa aja” jawab Putri.
“Apaan, sih? Nggak ada hubungannya kali. Mas jatuh kan itu urusan di jalan”
“Ya. Tapi mas Budi tetep nekat maksain badan buat pergi ke tempat mbak Adel. Apa mas Zul bisa ya, kaya mas Budi gini?”
“Hempf. Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar komentar adiknya.
“Kok malah diketawain, sih? Emangnya mas Zul sepayah itu, apa?” seru Putri merajuk.
“Loh, siapa yang bilang gitu?”
“Ya itu, ketawanya”
“Ye, mas Budi tuh malah ngetawain kamu, Putri. Bisa-bisanya nanya sekonyol itu”
“Maksud mas Budi?”
“Setiap orang tuh hebat, dengan versinya masing-masing. Nggak bakal bisa disamain” jawab Budi.
“Iya sih mas. Putri terlalu kagum aja sama mas Budi. Andai aja,”
“Hais. Ngayal mulu. Kasihan noh, si Panjul” potong Budi.
“Ih, mas Budi ih. Panjul panjul mulu. Sebel deh” sungut Putri sambil berlalu pergi.
“Put, buburnya belum abis” seru Budi memanggil.
“Bodo” jawab Putri sambil meleletkan lidahnya. Lalu dia menghilang di balik tembok.
Budi tertawa saat ibunya muncul sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian bu Ratih pergi menyusul Putri ke depan.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
“Astaghfirulloh, mas Bud”
Serta merta Putri berlari dan menyangga tubuh Budi yang oleng. Pagi ini Budi merasakan kaki kirinya serasa lemas dan tak kuat menyangga tubuhnya. Dia kembali duduk dengan menumpukan berat tubuhnya ke tubuh Putri.
“Alhamdulillah. Makasih ya, Put” kata Budi sambil meringis. Tubuh bagian kirinya terasa nyeri. Terlebih di bagian pinggulnya.
“Mas Budi tiduran aja, jangan bangun dulu!” saran Putri.
Dia memperbaiki bantal yang tadi dipakai Budi untuk bersandar. Dan kembali memposisikan Budi untuk bersandar ke bantal itu, membentuk sudut empat puluh lima derajad.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Telepon itu berdering lagi. Putri memberikan isyarat agar Budi diam saja. Dia ambilkan ponsel itu dan menyerahkannya kepada Budi. Adel, itulah nama yang terpampang di layar ponselnya. Panggilan video.
“Hemmff”
Budi menghela nafas. Dia tampak keberatan kalau harus menerima panggilan video itu. Dia tidak mau Adel tahu kondisinya. Dia tidak mau Adel kepikiran dirinya.
Putri juga menghela nafas. Dia tidak habis pikir, disaat seperti ini saja, kakaknya masih memikirkan perasaan orang lain. Sosok idaman sekali menurutnya.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Ponsel itu berdering lagi. Tapi kali ini panggilan telepon biasa. Budi tersenyum. Dengan panggilan telepon biasa, Adel tidak akan bisa melihat dirinya terbaring tak berdaya seperti ini.
“Assalamu’alaikum, Ta” sapa Budi, sambil melihat ke arah Putri.
Putri tahu, kalau kakaknya tidak ingin dia ikut mendengarkan pembicaraannya dengan Adel. Diapun pergi keluar kamar Budi.
“Wa’alaikum salam, Bram. Kok nggak diangkat video call tata?” tanya Adel.
“Hem? Mana? Notif doang yang nongol” jawab Budi berbohong.
“Hem, kebiasaan deh, kalo sinyal jelek” keluh Adel.
“Bapak gimana, Ta?” tanya Budi.
“Nyariin Abram sih, tadi” jawab Adel.
Budi menghela nafas pelan. Di dalam hatinya dia ingin sekali pergi ke sana, tapi kondisi tubuhnya sangat tidak memungkinkan.
“Sory ya Ta, ada yang mesti Abram kerjain” kata Budi pelan.
“Bram, nggak usah boong deh!” Kata Adel. Budi terkesiap.
__ADS_1
“Tata yang minta maaf. Tata nggak bisa ngerawat Abram” lanjut Adel.
Budi tak bisa lagi mengelak. Seseorang pasti telah memberitahu Adel tentang kondisinya.
“Kaya anak kecil aja pake dirawat” komentar Budi.
“Percaya, deh. Abram emang terbaik. Tapi masa depan Tata masih aman, kan?” tanya Adel.
“Hem, masa depan?” tanya Budi bingung.
“Ha ha” Adel tertawa kecil mendengar pertanyaan Budi.
“Oh, aman. Alhamdulillah, nggak kurang suatu apa” jawab Budi.
“Ha ha ha ha” Adel tertawa lagi mendapati kekasihnya sudah paham dengan maksudnya.
“Bapak gimana, Ta?” tanya Budi.
“Oh, iya. Bapak ngucapin terimakasih sama Abram” jawab Adel.
“Buat?”
“Buat bahan bangunan dan mesin-mesin yang Abram beliin”
“Loh, loh, loh. Tunggu! Kok Abram? Kapan Abram belanja?” elak Budi.
“Nggak usah pura-pura deh, Bram! Zulfikar aja bilang dari Abram, kok” kata Adel.
“Ah, si Panjul. Ember juga” seru Budi lumayan kencang. Tiba-tiba Putri muncul di depan pintu sambil berkacak pinggang.
“Bukan Zulfikar, Putri. Itu, kang Sukron” seru Budi mengelak dari tuduhan tatapan mata Putri.
“Hempf. Ha ha ha ha” Adel tertawa mendengar seruan Budi. Dia bisa membayangkan apa yang tengah terjadi di rumah Budi.
Putri menggunakan tangan kanannya untuk menunjuk kedua matanya, lalu dia arahkan jemari yang sama itu ke arah Budi. Sebagai isyarat kalau dia akan mengawasi Budi. Dan Budipun tertawa melihat tingkah adiknya.
“Hadeh. Kekencengan, Ta. Marah si Putri, cowoknya aku bilang Panjul” kata Budi.
“Ha ha ha ha ha” semakin kencang Adel tertawanya.
“Sukurin. Lagian, abram ada-ada aja. Manggil nama orang seenak jidat. Ngambekkan, ceweknya?” komentar Adel.
Mereka tertawa lagi. Untuk beberapa saat, mereka tenggelam dalam kelucuan itu. Sampai beberapa kali Budi menegur Adel karena tertawa terus.
“Bram” panggil Adel, saat tawanya sudah berhenti.
“Ya?” jawab Budi.
“Makasih ya, udah ngeringanin beban kami” kata Adel.
“Apaan, sih? Jangan ngomong gitu, ah! Bikin ge er, Ta” sahut Budi.
“He he. Ya, ge er juga nggak papa. Nyatanya emang gitu”
“Terus, Bapak gimana? Kasusnya dilanjut?”
“Ya, pengennya sih gitu, Bram. Tapi buat nyewa pengacara kita nggak ada biaya. Jadi, tadi Adel bilang sama Bapak buat ngiklasin aja. Toh dari kepolisian juga udah datang buat olah TKP. Artinya kan dari kepolisian udah otomatis nanganin kasus ini, tanpa kita laporin” jawab Adel.
“Iya, sih. Ini kasus yang bisa diusut polisi tanpa adanya aduan” komentar Budi.
“Adel juga bilang sama bapak, kalo nerusin usaha, jauh lebih penting dari nuntut balas. Toh dapet apa sih dari proses hukum? Paling pol juga orangnya dipenjara. Sekarang juga kan udah masuk tahanan”
“Hem? Tapi nggak bisa didiemin gitu aja, Ta. Paling enggak hukumannya berkali-kali lipat”
“Duitnya dari mana, Bram? Buat sewa pengacara aja udah bisa buat benerin bengkel. Buat bahan baku juga udah kepegang. Kalo semua uangnya diarahin buat nuntut bales, mau makan apa kita, Bram? Abram tahu sendiri kan, Tata belum bisa manggung lagi”
“Huuufftt. Kenapa mesti Tata sih, yang ngerasain ini semua?” keluh Budi.
“Ya Alloh, Bram. Emang Abram nggak ngerasa disakiti, apa? Kok cuman Tata yang Abram pikirin?”
“Ini yang Abram nggak suka dari dunia hitam” komentar Budi tanpa memperdulikan pertanyaan Adel.
“Mereka suka make keluarga buat maksa Abram nyerah” lajut Budi.
“Nyerah? Emang Abram ada urusan apa? dan sama siapa?” tanya Adel.
“Itu yang Abram nggak ngerti. Sumpah, sadis baget itu cewek. Nggak nyangka, Abram” jawab Budi.
“Tata juga mikir gitu, Bram” sahut Adel.
“Abram lebih suka dikeroyok puluhan orang, ketimbang liat Tata, bapak sama ibu diperlakukan kaya gitu”
“Makasih ya, Bram. Tata belum jadi istri Abram aja, udah Abram perjuangin sedemikian hebatnya. Tata cuman bisa berdoa, semoga Alloh segera nyembuhin luka-luka di tubuh Abram. Dan Abram secepatnya Pulih seperti sedia kala”
“Sama, Ta. Abram juga cuman bisa berdoa, semoga Alloh segera kasih kesembuhan buat Tata. Sedih rasanya, liat Tata Sakit” sahut Budi.
“Amin” kata Adel mengaminkan doa Budi.
“Amin” kata Budi menirukan.
__ADS_1