Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tikus tikus kecil hampir membuat tragedi


__ADS_3

Minggu ini, ada kesibukan yang berbeda dari biasanya. Terjadi perombakan ruangan di area produksi. Ruangan yang semula digunakan oleh tim maintenance elektronik dan electrik, dialih fungsikan. Mereka pindah ke gedung belakang.


Sedangkan ruangan yang mereka tinggalkan, oleh tim maintenance gedung, diisi dengan peralatan untuk finishing. Dari empat ruangan yang ada, ruangan paling ujung, tidak disentuh sama sekali. Dan tak tanggung-tanggung, peralatan baru diinvestasikan di sini. Nyaris mirip dengan ruang finishing yang sudah ada.


Dari divisi produksi, pak Supri langsung melakukan pengaturan ulang posisi para anggotanya. Tak pandang gender, ibu-ibu yang sudah senior, dan dinilai mampu mengerjakan tugas di departemen frame, dipindah tugaskan.


Bersama rekan-rekan mereka yang sudah lebih dulu bergabung, ibu-ibu pilihan itu langsung menjalani pelatihan. Mereka menempati posisi para karyawan laki-laki, yang dipindahkan ke bagian finishing, di lokasi yang baru.


Bukannya tidak tahu, Dino sudah menyadari, bahkan sejak sebelum perombakan itu dilakukan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa marah-marah dan mengumpat. Sudah barang tentu, ada satu orang yang menjadi favoritnya untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi sejauh ini, belum ada keributan berarti seperti terakhir kali.


Lain lubuk-lain ilalang. Jika di area finishing masih berlum terjadi keributan, lain halnya dengan yang terjadi di kantor. Hari sudah beranjak gelap, tapi pertemuan dan diskusi antar divisi di dalam kantor masih terus berlanjut. Bahkan semakin seru.


Suara perdebatan mereka bahkan terdengar sampai ke luar kantor. Walaupun mereka tidak bertengkar. Ya, ada Stevani dari divisi marketing yang sedang menjadi terduga penyelewengan dana entertaintment. Ditemani Farah, manager yang masih setia membelanya. Sebagai pihak yang menuduh, ada Isma dan dua bawahannya, dari divisi finance & purchasing.


Mereka sedang seru-serunya beradu argument, mengadu data. Stevani dituntut untuk bisa menunjukkan setiap bukti yang relevan dengan pembelaannya.


Sampai jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam, perdebatan mereka masih sangat seru. Karena merasa sudah terlalu malam, mereka sepakat untuk melanjutkan pembahasan ini esok hari.


Di awal diskusi, mereka telah sepakat untuk meletakkan ponsel mereka di atas meja. Di tengah-tengah meja, dengan posisi layar menghadap ke bawah, serta suara dimatikan. Hanya boleh diambil jika benar-benar diperlukan. Ini dilakukan semata agar fokus pada pembahasan. Ada hal unik di sini, ternyata ponsel Stevani dan ponselnya Isma sama persis. Bakan corak warnanya juga sama.


Saking serunya perdebatan mereka, diakui ataupun tidak, emosi mereka ikut bermain di sini. Sehingga tanpa sadar, ketika mereka hendak membubarkan diri, Isma yang lebih dulu melangkah pergi, salah mengambil ponsel. Yang dia bawa bukanlah ponselnya sendiri, melainkan ponselnya Stevani.


Stevani sendiri, karena kepusingan mendapatkan gempuran pertanyaan dari Isma, tidak memperhatikan ponselnya. Saat keluar ruang meeting, dia langsung mengambil ponsel yang tersisa, dan memasukkannya ke dalam saku.


Di dalam kubiknya, Stevani tampak masih mencari sesuatu. Tampak mencari sebuah berkas yang seingatnya dia letakkan di tumpukan berkas penawaran. Saat sudah ketemu dan hendak dia ambil, tanpa sengaja ada sebundel penawaran yang ikut tertarik.


Penawaran dari sebuah villa, dimana dia melihat Budi sedang bermesraan dengan Adel di villa itu. Sudah suasana hatinya memang sedang penuh emosi, melihat penawaran itu, seolah dia diingatkan pada kenangan yang dia sendiri muak mengingatnya. Sontak rasa cemburunya menggelegak.


Dia keluar dari kantor, menuju lapangan. Sorot matanya tajam, seolah dia menuju ke sebuah tempat yang pasti. Tapi dia terlihat kecewa, saat yang dia tuju tidak terlihat. Lalu dia meneruskan langkahnya, menuju sebuah ruangan di belakang area departemen anyaman. Dimana ada segerombolan orang sedang duduk-duduk di depan ruangan yang paling pojok.


***


Dino benar-benar sudah tidak takut-takut lagi untuk duduk-duduk dan menikmati kopi, di luar jam yang telah ditentukan, meskipun pak Paul ada di depan matanya. Bagi Budi, itu seperti sinyal yang diberikan Dino, bahwasannya dia dan kawan-kawannya, punya dukungan kuat di belakang mereka.


Pak Paulpun hanya tersenyum melihat kelakuannya. Dalam hatinya, sekarang Dino bukanlah tumpuan harapan mereka. Ada tim baru yang akan menggantikan mereka. Jadi, terserah saja, mau duduk-duduk seharian juga.


Sorot mata Dino semakin terlihat memancarkan kebencian saat melihat Budi ada di sekitar area kerjanya. Sepertinya, lama kelamaan, keributan besar akan segera terjadi. Tapi sudah sejak tiga hari kemarin, Dino seperti menahan diri. Karena pak Paul selalu turun ke lapangan. Menyaksikan langsung perombakan ruangan itu.


Sesekali Budi tertawa melihat Dino seperti macan ompong. Bisanya mengaum saja, tapi tidak berani menerkam. Hal itu membuat Dino semakin memendam amarah kepada Budi.


Puncaknya di hari ini. Karena ada kepentingan dengan customer, pak Paul tidak terlihat masuk kerja. Dino dan kawan-kawannya sudah terlihat bersiap ingin melakukan pengeroyokan terhadap Budi.


seperti tidak menyadari, Budi terlihat tenang. Dia bekerja seperti hari-hari yang lain. Padahal, beberapa senjata tajam sudah dipersiapkan untuk menghajarnya.


“EH, BANG***. SINI LO!”


Budi yang sedang fokus memeriksa Frame yang sudah di las, terkejut, merasakan ada yang menarik pundaknya ke belakang.


“Eh, ompong. Nungguin pak Paul encok, apa?”


Budi malah cengengesan saat kerah bajunya dicengkeram, dan diancam dengan kepalan tinju. Dimana ada benda dari metal berbentuk gerigi, yang melingkar di jari-jemari Dino.


“KEPA***”


WUUKKK


PRATAK.... BUUUKKK


Dino benar-benar melayangkan tinjunya ke arah wajah Budi. Dia sengaja mengarahkan bagian tajam dari cincin metalnya agar mengoyak kulit wajah Budi.

__ADS_1


Tapi naas. Rupanya dia tidak mengenal Budi dengan baik. Dalam keadaan dicengkeram kerah bajunya, Budi masih bisa berkelit. Dengan satu gerakan tangan kanan, dia menangkis pukulan Dino. Dan dengan waktu yang bersamaan, tangan kirinya meninju perut Dino dengan kerasnya.


BRUKKK


“HOUK... UHUK, UHUK, UHUK”


Senasib dengan sapta beberapa waktu yang lalu, Dino terpental, melayang di udara. Dan dia mendarat tepat di tembok belakang gedung ini. Dia terbatuk-batuk, walau tidak sampai muntah darah.


“HYAAAAA”


Tanpa aba-aba, Sapta ternyata sudah melayang di udara. Mengayunkan sebuah pedang samurai ke arah Budi.


“AAAAAAA”


Semua yang melihat adegan itu berteriak histeris. Mereka menyangka, akan terjadi tragedi di pabrik ini.


PRAANG


BUUUKK


“AAAKKK”


Budi melempar sebuah frame setengah jadi. Frame berbentuk lingkaran itu melayang di udara, dan menabrak tubuh Sapta. Sontak dia memekik, dan laju tubuhnya terhenti.


WUUUSSS


GRATAAKK


“OUKK”


PRAAANGGG


WUUSSS


BUAAAKKKK


Budi menambahi dengan gerakan memutar. Dia berikan tendangan kaki kirinya, tepat di kepala Sapta. Membuat Sapta terpelanting sampai berputar ke kiri. Dia langsung pingsan, karena kepalanya membentur lantai.


“HAAAAAA”


Pujo, Erik, dan Dirman, maju secara serempak. Mereka membawa tongkat kasti, pipa besi, dan juga celurit besar. Tapi buat Budi, senjata-senjata itu bukanlah masalah besar.


Hanya butuh beberapa gerakan untuk berkelit, menghindari pukulan tongkat kasti Pujo. Lalu hanya butuh dua gerakan untuk merebutnya, dan membuatnya terpental. Bergabung dengan pemimpinnya.


Mendapat senjata panjang dan berat, Budi dengan mudah menangkis tongkat besi Erik. Tak perlu memisahkan senjata tumpul itu dari pemiliknya. Cukup gebuk pemiliknya, dengan satu gebukan di kelapa, tumbang sudah senjata itu.


Dan clurit yang tampak mengerikan itu, tak sedikitpun bisa menggores kulit Budi. Hanya butuh beberapa kali menghindar, sebuah lemparan jitu, sukses mengakhiri sabetan membabi-buta itu.


Dengan cepat Budi meraih pedang samurai yang tergeletak di lantai itu. sedetik kemudian, ujung dari pedang itu sudah tak berjarak lagi dengan leher Dirman. Tanpa perlu meminta, Dirman melepaskan genggamannya pada clurit besar itu. Dan diangkatnya kedua tangannya ke udara.


“HUUUUUU”


Semua karyawan, yang semula ketakutan, bersorak riuh. Mereka mengolok-olok dino dan kawan-kawannya. Terutama kepada Dino, yang hanya besar omong saja.


Sempat dia emosi, dan hendak menyerang lagi. Tapi sebuah gerakan kecil pada pedang samurai itu, tak pelak membuat Pujo menghalangi niatan Dino untuk melangkah. Karena, satu gerakan saja dia lancarkan, leher Dirman yang menjadi taruhan. Dinopun hanya bisa mengumpat-umpat, tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Udah, Bud!”


Sebuah suara membuyarkan amarah Budi. Walau tanpa menoleh, dia tahu itu suara siapa. Budi menarik pedangnya dari leher Dirman.

__ADS_1


“Kalian berempat, ikut saya ke kantor!”


Perintah ini justru mampu membuat Budi menoleh. Telunjuk tangan orang itu, sama sekali tidak mengarah ke Dino.


“Pak Supri, bantu mereka berdiri!” perintahnya lagi.


“Baik, pak Paul” jawab pak Supri.


Pak Supri memerintahkan empat anak buahnya untuk membantu Dirman, Pujo, Sapta dan Erik untuk berdiri. Bahkan sapta harus ditangani satu orang tambahan, karena dia pingsan.


Saat menoleh lebih ke belakang, Budi baru tersadar, kalau ternyata di belakangnya, sudah berdiri Erika, Ratna, Farah, Stevani, Aldo, Riki, dan dua orang laki-laki yang belum pernah Budi lihat sebelumnya.


Perawakan mereka tinggi tegap, dan berambut cepak. Mereka berjalan mengikuti langkah kaki pak Paul. Semua karyawan diperintahkan untuk kembali bekerja. Mereka bubar, kembali ke pos masing-masing.


“Aldo. Aman semua, material?” tanya Erika.


“Oh, iya, mbak. Masih ada satu truk lagi, belum dibongkar” jawab Aldo tergagap. Dia seperti tahu, apa maksud Erika dari pertanyaan itu.


“Oke, pastikan semua seusai prosedur, ya!” kata Erika.


“Baik. Permisi, mbak” pamit Aldo.


Erika mengangguk. Riki juga mengikuti langkah Aldo untuk kembali ke tempat kerjanya. Tinggallah Erika, Farah, Stevani, dan Budi. Ratna sudah kembali ke kantornya, bersamaan dengan perginya pak Paul, tadi.


Erika mengernyitkan keningnya, mendapati Stevani masih berdiri di tempatnya, sambil memandangi Budi.


“Van. Sudah beres semua, yang kita butuhkan?” tanya Erika.


“Oh, ee, anu” Stevani tergagap.


“Apa?” tanya Erika pelan.


“Itu, masih nunggu keputusan mbak Isma” jawab Stevani.


“Oke. Kapan dapet jawaban?”


“Oh, iya. Saya follow up lagi, mbak” jawab Stevani masih tergagap.


“Makasih” kata Erika. Wajahnya masih saja datar.


Stevanipun pergi dengan bersungut-sungut. Dia kesal pada Erika. Padahal menurutnya, ini momen yang tepat untuk menunjukkan perhatiannya. Ini malah diusik.


“Kamu nggak terluka, Bud?” tanya Erika.


“Alhamdulillah, enggak mbak” jawab Budi.


“Yuk, kita ke kantin dulu!” ajak Erika.


“Loh, kan saya harus follow up ruang finishing baru” tolak Budi.


“Ya Alloh, Budi. kamu baru aja hampir celaka, masih kepikiran kerjaan?” komentar Erika.


“Ya emang aku ke sini buat kerja, kan? Sama kaya yang lain”


“Allohu Akbar. Oke, oke, oke. Kita ke kantin, juga dalam rangka bekerja. Karena tugasmu, bukan cuman mantau, tapi juga melaporkan” jawab Erika.


“Oke”


Budipun setuju. Sebenarnya dia juga ingin istirahat barang sejenak. Pikirannya agak kacau setelah mendapatkan serangan beruntun tadi. Tapi dia tidak enak dengan karyawan lain.

__ADS_1


Dia lebih memilih berlelah-lelah ria bersama mereka, tapi mereka selalu menerima target yang dia berikan. Daripada bersenang-senang sesaat, tapi menimbulkan bara dalam sekam.


__ADS_2