Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
mulai terkuak


__ADS_3

Rupanya kang Sukron mengerti apa yang dimaksud Budi. Dia langsung mengajak Alligator untuk menyiapkan perangkat komputer yang dibutuhkan Sephia.


“Apa semua itu, remote operated?” tanya Sephia.


“Excuse me ?” Budi sempat tidak tersambung.


“Gattling gun” sahut Sephia.


“Keliatannya. Ada optroniknya, tuh” jawab Budi.


“Oke” komentar Sephia, singkat.


“Mas”


Sebuah sapaan mengalihkan perhatian Budi. Ternyata Putri yang menegurnya. Pergerakan Putri sempat luput dari perhatian Budi.


“Kenapa, Put?” tanya Budi. Dia berjongkok di depan Putri.


“Aku mau bicara bentar, mas” pinta Putri.


Budi jadi teringat dengan Zulfikar. Dia berpikir, Putri seperti punya sesuatu untuk disampaikan. Dan dia mengerti, Putri ingin menyampaikan sesuatu itu berdua saja dengannya. Diapun menoleh ke Sephia. Sephia menganggukkan kepalanya sekali. Dia memberi ijin untuk Budi memisahkan diri.


“Yuk!”


Budi bangkit dari duduknya. Dia mendorong kursi roda Putri ke arah luar. Sempat dia ditegur oleh Erika. Dengan bahasa isyarat, Budi meminta Erika untuk tidak ikut.


“Mas” panggil Putri, saat sudah di halaman depan. Budi kembali jongkok di hadapan putri.


“Ada apa, Put?” tanya Budi.


“Mas Budi yakin, sama Sephia? Dia kan pacarnya Sandi, mas” tanya Putri.


“Apa yang Putri tahu?” Budi malah balik bertanya.


“Eem. Ya, Putri belum tahu apa-apa sih, tentang dia. Cuman khawatir aja. Masa musuh malah dibawa ke markas sendiri?” jawab Putri. Budi tersenyum. Dia menatap Putri beberapa saat.


“Makasih ya Put, atas warningnya. Mas akan lebih berhati-hati lagi” kata Budi, menanggapi ucapan Putri.


“Oke. Putri tahu, mas Budi belum mau berbagi sama Putri. Tapi Putri harap, informasi yang mas Budi punya, akurat” kata Putri. Tatapannya lekat menatap kakaknya.


“Lebih akurat dari yang di Indo****” jawab Budi. Mata Putri melebar.


“Itu testpack, mas” seru Putri lirih, sambil menepuk lengan Budi. Budi tergelak.


“Mas. Mas Budi tuh belum nikah, sama mbak Rika. Jangan aneh-aneh dulu, deh!”


“Aduh aduh aduh, sakit Put”


Budi mengaduh kesakitan, mendapati lengan kirinya dicubit Putri. Tapi dia juga tertawa, melihat ekspresi kesal adiknya itu. Terlebih disaat Putri menggerakkan kursi rodanya untuk balik kanan dan kembali ke dalam bengkel kayu.


“Put” panggil Budi.


Tapi Putri tidak mengindahkan panggilan kakaknya itu. Dia terus melaju, bahkan melewati Erika begitu saja, dengan tatapan kesal. Membuat Erika bertanya-tanya.


“Putri kenapa, mas?” tanya Erika, saat Budi masuk.


“Hempf. Hi hi hi” Budi malah tergelak. Terlebih saat Putri balik kanan dan menatapnya kesal.


“Enggak. Cuman bercanda aja. Eh, dianya kesel” kata Budi menjawab pertanyaan Erika.


“Nggak mungkin. Kok sama aku juga gitu, ngeliatinnya?”


“Hempf” Budi tergelak lagi.


“Ya. Dia berharap info yang aku punya, akurat. Ya aku jawab, lebih akurat dari yang di indo****. Eh, dia kesel” jawab Budi.


“Astaga. Pantesan. Berarti Putri tadi mikir kalo kita udah ngapa-ngapain, mas?”


“Iya” jawab Budi sambil tergelak.


“Mas Budi, ih. Orang Putri lagi sepaneng, malah dibercandain kaya gitu”

__ADS_1


“BOS”


Perhatian mereka teralihkan pada panggilan dari tengah-tengah bengkel kayu. Ternyata kang Sukron yang memanggil. Dan tampak pula instalasi komputer yang diminta Sephia telah selesai dikerjakan. Budi mengajak Erika untuk mendekat.


“Apa yang mas pengen tahu?” tanya Sephia, saat mereka sudah mendekat.


Dari sudut matanya, Budi bisa melihat, kalau kang Sukron menatap Erika dengan tatapan tidak suka.


Apa yang terjadi antara kang Sukron sama Erika? Kayaknya kang Sukron tahu sesuatu.


“Aku pengen tahu tentang ekspedisi ini” kata Budi.


Dia mengetikkan sebuah nama ekspedisi di ponselnya, lalu menunjukkannya pada Sephia. Sephia tampak tertegun setelah membaca nama ekspedisi itu. Dia juga menatap mata Budi dengan lekatnya.


“Kenapa?” Erika menegur Sephia.


“Gitu amat lu ngeliatinnya?” lanjut Erika dengan perasaan cemburu.


Sephia tersentak, dan menatapnya sesaat.


“Oke” kata Sephia, menjawab permintaan Budi.


Diapun mulai memainkan keyboard komputer itu. Tak butuh waktu lama, Sephia telah mendapatkan apa yang Budi cari.


Seperti yang dikatakan oleh orang yang mereka sandera tadi, perusahaan itu terhubung dengan suplier yang memasok rotan itu ke PRAM, dan juga terkoneksi dengan kelompoknya Bejo.


Keterkaitan mereka dengan Bejo, terdeteksi dari kepemilikan lahan penanaman rotan itu, yang merupakan terpidana kasus narkotika.


Ada beberapa nama lain yang juga terkait. Termasuk beberapa perusahaan yang bergerak dibidang obat-obatan dan kimia, yang terdeteksi sebagai pemasok pupuk untuk rotan-rotan itu. Dimana beberapa bahan baku pupuk itu, terdeteksi berasal dari salah satu perusahaan farmasi besar di negeri ini.


“Bisa retas pemilik pabrik obat itu?” tanya Budi.


“Bisa” jawab Sephia.


Menggunakan Software lain, Sephia mencoba meretas beberapa perangkat komunikasi dari pemilik pabrik obat itu. dan mulai bermunculan, jejak komunikasi dari orang yang dituju itu.


“Wow wow wow. Gimana kamu bisa mencegat sinyal itu, tanpa ada perangkat keras di dekatnya?” tanya Alligator.


“Rata-rata komunikasi dia, normal. Seperti pebisnis pada umunya. Tapi sepertinya dia punya perangkat komunikasi lain, yang susah disadap” kata Sephia, menjabarkan temuannya.


“Maksudnya?” tanya Budi.


“Aku menemukan sebuah sinyal, yang berbeda besaran gelombangnya. Tidak hanya memainkan frekuensi, tapi juga memainkan amplitudo” jawab Sephia, tanpa menatap Budi. Dia terus fokus untuk menemukan apa yang dia cari.


“Nah. Ini dia” kata Sephia, beberapa saat kemudian. Budi dan Erika mendekat ke layar monitor Sephia.


“Mereka pakai telepon satelit” kata Sephia lirih. Seolah-olah takut terdengar si Alligator.


“Siapa yang dia telepon?” tanya Budi. Kini dia duduk di sebelah Sephia.


Sephia kembali memainkan komputernya. Banyak sekali rangkaian huruf, angka dan tanda baca dia ketikkan sebagai perintah.


“Heem”


Suara mulut Sephia menarik perhatian Budi dan Erika. mereka berdua menoleh ke wajah Sephia.


“Aku nemuin enkripsi suara” kata Sephia sambil menunjukkan barisan kata dalam bahasa inggris.


Walau ada kata encription, voice, dan change, tapi tetap saja Budi tidak mengerti arti dari barisan kata itu.


“Itu barisan perintah untuk mengganti suara asli penelfon dan penerima, agar suara asli mereka tidak terdeteksi” kata Sephia menjelaskan barisan kata yang dia tunjuk itu.


“Emangnya percakapan mereka direkam?” tanya Erika.


“Officially, enggak. Tapi namanya operator luar negeri, siapa yang tahu” jawab Sephia.


“Terus?” tanya Erika lagi.


Sephia tidak segera menjawab. Dia masih sibuk mengetikkan barisan perintah. Berbagai tampilan di layar itu silih berganti dengan cepatnya,.


“Yap. Seperti yang aku duga. Mereka merekam semuanya” kata Sephia, menjawab pertanyaan Erika, tadi.

__ADS_1


“Alhamdulillah” Budi mengucapkan Syukur.


“Ada banyak banget, mas Bud” kata Sephia.


“Eeem. Pertama, bisa nggak dikelompokkan, sama siapa aja dia berkomunikasi? Dari yang sering, sampai yang jarang” tanya Budi.


“Bisa” jawab Sephia.


Suara keyboard kembali memenuhi rongga telinga. Kemudian, sekian baris kata bermunculan dan bergerak menggulung ke atas. Cukup lama Sephia mengetikkan barisan perintah.


“Yang sering banget, ada tiga orang, mas. Tapi ya itu, nggak ada identitas” kata Sephia.


Budi meminta Sephia untuk membuka satu persatu rekaman suara itu. Dan dari beberapa yang mereka buka, Budi sudah mendapatkan gambaran, tentang keempat orang itu.


Dari rekaman percakapan itu juga, mereka mengetahui kalau pemilik pabrik obat itu dipanggil ‘camat cerbon’, atau ‘pak camat’. Sempat juga di rekaman yang lain, dia dipanggil ’Dracko’.


Ada nama ‘Karto Marmo’. Dengan orang itu, camat cerbon sering membicarakan soal vitamin untuk anggur dan vermentasi anggur.


Tapi dari detil percakapannya, Budi bisa menebak kalau vitamin untuk anggur yang mereka maksudkan adalah perminyakan.


Sephia juga sependapat. Dia berasumsi kalau vitamin anggur itu maksudnya adalah bahan bakar. Dan vermentasi anggur yang mereka bicarakan itu, adalah uang.


Sedangkan Karto marmo sendiri, mereka menilai kalau orang ini adalah orang penting di sebuah institusi yang berhubungan dengan perminyakan atau bahan bakar.


“Apa jangan-jangan itu papanya Vani, mas?” tanya Erika.


“Sepertinya” jawab Budi.


“Nama aslinya, Handono” kata Erika, lirih. Tepat di telinga Budi.


Budi menganggukkan kepalanya. Erika juga memberitahukan Budi, dimana papanya Vani ditahan. Budi agak terkejut, mendengar penuturan Erika. Karena berita tentang papanya Vani belum tersebar luas. Tapi kalau mengingat Erika masih mencurigai Vani, Budi merasa apa yang diketahui Erika menjadi wajar.


Ada nama ‘Sekar’, yang berhubungan dengan perkebunan anggur. Dari percakapan mereka, Budi dan Erika bisa menebak, kalau perkebunan anggur yang mereka bicarakan, memang ada. Dan lokasinya ada di dekat perbatasan utara kota ini.


“Setahuku, yang punya kebun anggur di utara itu, emang cewek, mas” kata Sephia.


“Siapa?” tanya Budi.


“Aku belum sampe situ, mas”


Sephia lantas mengetikkan kembali barisan peritah. Tak lama kemudian, muncullah sebuah foto dengan beberapa keterangan yang menjelaskan tentang foto itu.


“Namanya Frida. Sekarang dia terpidana kasus narkoba. Harusnya mas Budi sudah merantau, saat dia dipenjara”


“Wow. Siapa dia? Apa perannya?” tanya Budi.


“Di sini disebutin, dia adalah anak dari Ruslan. Bos kartel narkoba penguasa hampir seluruh jawa timur. Ruslan tewas dalam penggerebekan polisi, dan kartelnya tumbang” jawab Sephia.


“Apa dia berkoalisi sama camat cerbon itu?” tanya Budi lagi.


“Eeem”


Sephia tidak segera menjawab. Dia sendiri tampak mencari jawaban dari pertanyaan Budi. Beberapa saat kemudian, dia menemukan rekaman dari tangkapan satelit, yang menunjukkan sebuah bentrokan besar dari dua kelompok berbeda.


“Loh. Itukan bentrokan yang di giri belah?” seru Budi terkejut.


“Ya. Ini si Frida” jawab Sephia, sambil menunjukkan gambar si Frida.


“Sepertinya mereka berseberangan kubu” komentar Budi.


Sephia tidak segera menjawab. Dia kembali mencari jawaban atas komentar Budi, yang mengandung pertanyaan tersembunyi itu.


“Ya. Mereka berseberangan kubu” kata Sephia sambi menunjukkan layar monitornya. Lambang intel kepolisian terpampang di monitor itu.


“Camat cerbon, di sini disebut sebagai pemimpin kartel. Dia menguasai setengah lebih, pulau jawa. Dia juga punya jaringan di sumatra dan kalimantan. Dan juga punya jaringan internasional” lanjut Sephia.


“Heeem” Budi seperti menemukan korelasi antara orang ini dengan kasus rotan di PRAM.


“Nama aslinya, Andra Dika Moreno. Pemilik pabrik obat itu. Dia disebut sangat licin. Dia selalu selangkah di depan dibanding sat narkoba. Selalu bisa lolos, dan selalu bsia membuat Polisi kehilangan jejak dan bukti, untuk menyeretnya ke meja hijau” lanjut Sephia lagi, masih dengan menunjuk pada layarnya.


“Andra Dika Moreno, Camat cerbon. Sebagai pemimpin kartel. Ada Karto Marmo sebagai anak buahnya. Bergerak di bidang perminyakan. Ada Frida, bergerak di bidang perkebunan anggur. Ada lagikah, anak buahnya yang lain?”tanya Budi.

__ADS_1


“Kita cek lagi” jawab Sephia.


__ADS_2