
Si Bejo berpikir keras bagaimana caranya menyembunyikan kenyataan itu dari istrinya. Karena dia tidak mau membuat istrinya sedih.
Kebetulan ada seorang wanita yang juga baru saja melahirkan anak hasil kumpul kebo. Menurut petugas rumah sakit, bayi bau lahir tadi, sedianya mau dibuang. Tapi karena si Bejo tahu, si Bejo meminta pada wanita yang baru melahirkan itu untuk bisa mengadopsi anak itu.
Bagai gayung bersambut, permintaan itupun dikabulkan. Jadilah si Bejo merawat anak dari wanita yang melahirkan hasil dari kumpul kebo. Wanita itu bernama ‘Lusiana Fitri’.
“Bu” panggil Budi.
“Ya?”
“Ibu inget nggak, pas ibu cerita sama bu Lusi? Yang ibu bilang, pas Putri lahir, ibu minta bapak buat nyari bu Lusi ke bekasi?” tanya Budi.
“Iya, inget. Kenapa?”
“Beneran bu, nggak ketemu?” Budi balik bertanya.
“Iya”
“Dan bapak nggak bilang, bu Lusi ada dimana?”
“Ya darimana bapakmu tahu? Orang belum pernah ketemu”
“Oh” respon Budi singkat.
Bu Ratih merasa aneh dengan respon putranya. Dia merasa kalau Budi mendapatkan sesuatu dari apa yang dia baca di jurnal itu.
“Apa di jurnal itu tertulis, kalo bapak itu sebenernya udah tahu, kalo sebenernya bulekmu Lusi ada di Pacitan?” tanya bu Ratih.
“Ya. Di sini tertulis begitu” jawab Budi.
“Apa?”
“Di sini tertulis, kalau kalau bayi yang diaopsi si Bejo, adalah anak dari seorang wanita yang melahirkan akibat kumpul kebo”
“Ish. Gitu amat sebutannya?”
“Ya. Tertulisnya gitu, bu” jawab Budi.
“Dan wanita itu, bernama Lusiana Fitri” lanjut Budi.
“Lah. Kok bapak nggak bilang, sih? Padahal ibu sampe nangis-nangis kaya gitu”
Budi tidak menjawab pertanyaan itu. Karena dia sendiri belum punya jawabannya. Dia kembali membaca jurnal itu. Beberapa kali dia menganguk-anggukkan kepalanya. Seolah mengerti akan sesuatu.
“Kenapa, ngger?” tanya bu Ratih.
“Ternyata, pas ibu histeris, liat bapak terluka di UGD, bapak tuh tahu, ada yang ngintip dari sudut jauh. Jendela paling ujung, di sini ditulisnya. Pikiran bapak langsung tertuju ke si Bejo. Makanya, pas ibu bilang kalau Lusiana Fitri itu sahabat yang udah ibu anggep sebagai adik sendiri, bapak malah khawatir. Bapak nggak mau, pertemuan ibu dengan Lusiana Fitri itu, malah berbuah petaka. Makanya bapak nggak bilang” jawab Budi, menjelaskan apa yang dia baca.
“Oh. Gitu” komentar bu Ratih, pendek.
“Tapi sekarang malah kebuka semua. Pada akhirnya, ibu ketemu juga sama bulekmu Lusi. Gimana, dong?”
“Ya. Saat pertemuan itu terjadi, sudah ada Erika, Sephia, “ jawab Budi, dengan menggantung kalimatnya.
“Ada Isma juga”
“Isma? Kan dia yang memfitnah kamu, ngger? Kok malah kamu setarakan sama mbak Rika?” tanya bu ratih bingung.
“Terlalu ruwet buat diceritain, bu”
__ADS_1
Ekspresi Budi berubah, dia seperti memendam amarah.
“Ya, apapun itu, itu cara mereka buat ngelindungi kita, bu” lanjut Budi.
“Kalo mbak Rika, sephia, mereka polisi. Si Isma itu?”
“Kopassus, bu” jawab budi, sambil menoleh ke arah ibunya.
“Ha?”
Bu Ratih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia memindai wajah putranya, mencari kebenaran akan jawaban itu.
“Oke. Ibu serahin urusan berat itu sama kamu. Ibu nggak ngerti soal begituan. Terus, ?” kata bu Ratih, dengan menggantung kalimatnya pula.
“Sejauh ini, Budi belum nemuin, apa yang bisa kita pakai untuk melawan si Bejo dan Moreno. Baru sejarah, yang pasti juga butuh usaha tak sebentar untuk meringkus mereka dari jalur hukum” jawab Budi.
Budi mengambil isi dari amplop terakhir. Ternyata isinya adalah selembar kertas berukuran A0. Ukuran terlebar dalam standar resmi ukuran A series.
“Masya Alloh. Itu kertas apa sprei?” tanya bu Ratih.
Budi tidak menjawab. dia menggelar kertas itu di atas ranjang. Ranjang king size itu masih punya banyak ruang tersisa dan ideal untuk membaca isi kertas itu. Ternyata kertas itu memuat peta lokasi dan juga denah bangunan.
“Nah. Ini yang kita cari, bu” seru Budi, lirih.
“Apa sih ini? Ibu nggak ngerti” sahut bu Ratih.
Budi tidak menjawab. Dia menyusurkan telunjuk kanannya mengikuti peta berukuran A3 di sudut kiri kertas itu.
“Pabrik obat, rumah itu” gumam Budi.
Dia sudah paham, tentang dua bangunan yang ditandai merah. Gantian sekarang dia memusatkan perhatiannya pada sepuluh bangunan, yang juga ditandai merah.
Di sebelah peta itu, dijelaskan kalau kesepuluh bangunan yang ditandai itu adalah bangunan anak buah Moreno berada. fungsinya adalah untuk mengamati potensi ancaman yang masuk kawasan dimana pabrik obat itu berada.
Di sebelahnya, diperinci kekuatan dan karakteristik masing-masing bangunan penjagaan atau pengamatan itu.
Di bagian bawahnya, ada sebuah denah dari bangunan bawah tanah. Dimana bangunan itu berada tepat di antara pabrik obat dan rumah utama. Dan tertulis di denah itu, ternyata bangunan bawah tanah itu adalah laboratorium riset dan pabrik pembuatan narkoba.
Tertulis juga keterangan, bahwa bangunan bawah tanah itu, justru sudah lebih dulu dibangun, bahkan sejak awal berkuasanya orde baru. Jauh sebelum pabrik obat itu dibangun.
Dijelaskan juga jalur masuk, jalur keluar, terowongan jalur pelarian yang melewati labirin yang menyesatkan. Kantor dan ruangan pribadi si Bejo, Handono dan Moreno ada di bawah tanah itu. Dimana ruangan-ruangan kantor dan pribadi itu tahan peluru bahkan tahan ledakan bom.
Dari ruangan mereka itulah jalur kereta api bawah tanah untuk pelarian bermula. Digambarkan pula, jalur yang benar, saat melewati banyak sekali cabang rel yang akan menuju labirin pengecoh.
Penjagaan di bangunan bawah tanah itu, tak kalah ketatnya dengan bangunan rumah di atasnya. Bahkan lebih rapat penjagaannya daripada blok ambalat.
Dijelaskan juga titik-titik penjagaan dan kekuatan penjagaannya. Juga senjata-senjata yang dipakai para penjaganya. Tentunya senjata yang dituliskan, sesuai dengan waktu dibuatnya denah ini. Yaitu di akhir dekade delapan puluhan.
Budi membaca denah itu dengan seksama, sambil mensimulasikan, bagaimana caranya bisa mengalahkan Handono, hanya dengan kekuatan seadanya.
Dia merasa, kekuatan yang ada sekarang masih terlalu kecil. Hanya ada empat pasukan khusus, selebihnya, hanyalah orang biasa. Entah, apakah akan mampu melawan sebegitu banyak orang apa tidak. Budi menghela nafas berat.
“Kenapa, ngger?” tanya bu Ratih, sambil menyeka keringat di kening Budi.
“Budi perlu diskusi sama yang lain, bu” jawab Budi.
“Memang harus begitu, cah bagus. Ilmumu belum setara dengan keempat kawanmu itu. Mintalah saran dari mereka!”
“Iya, bu” jawab Budi singkat.
__ADS_1
“Apa masih ada lagi?” tanya bu Ratih.
Budi melipat lagi kertas itu, dia ambil amplopnya dari klip, lalu memasukkan denah itu ke dalam amplop. Ada sebuah kotak kecil yang mengisi bagian paling dasar. Budi mengambil kotak yang lebar tapi tipis itu. Saat dibuka,
“Kartu?”
Ternyata isinya hanyalah selembar kartu. Tak jelas, kartu apakah itu. Seperti kartu remi, dengan huruf A, di salah satu pojoknya. Tapi gambarnya berupa siluet burung garuda. Kalau dibilang kartu ATM, bukan. Tapi terlalu tebal untuk dibilang kartu remi.
“Itu, ada kertas lagi” kata bu Ratih, menunjuk ke kotak tipis yang dipegang Budi. Budipun mengambil lembaran tipis berwarna coklat itu.
“Hati-hatilah dalam melangkah! Pergilah ke rumah di koordinat ini! Tunjukkan kartu itu pada penjaga di sana! Tapi jangan kasihkan pada orang itu! Tanyakan tentang pintu ‘jati kobeng’! ketika kamu melihat retakan di tengah-tengah pintu, sisipkan kartu itu di retakannya! Tepat pada huruf A!” kata Budi, membaca tulisan pada kertas itu.
“Kok kaya ATM, ngger?” tanya bu Ratih.
“Iya, ya. Emang di era delapan puluhan, sudah ada ATM, bu?” sahut Budi.
“Ya belum ada, lah. Tapi nggak tahu kalau di luar negeri”
“Hemm. Jangan-jangan, Budi punya kakak bule, nih” gumam Budi.
“Apa?” seru bu Ratih.
“Adoow. Ha ha ha ha”
Budi memekik karena mendapat cubitan dari sang ibu. Tapi dia lantas tertawa, merasa godaannya mengena di hati ibunya.
“Iya. Ampun, bu” seru Budi, saat bu Ratih masih mencubitnya.
“Ibu ih. Nyubitnya beneran” protes Budi, saat cubitan itu telah dilepaskan.
“Biarin. Siapa suruh godain ibu?”
“He he”
Budi masih tergelak, saat melihat ekspresi ibunya. Diapun membenahi semua yang ada di dalam kotak itu. Dia kembalikan ke posisi semula.
“Itu mau di simpan di sini lagi, apa mau dibawa, Bud?” tanya bu Ratih.
“Budi juga bingung, bu. Jadi parno, abis tahu isinya” jawab Budi.
“Ya udah, kita bawa aja. Ibu yang akan jaga kotak ini” kata bu Ratih, mengeluarkan idenya.
“Nggeh. Budi pikir, kotak ini memang cocok dipegang sama ibu” jawab Budi.
“Tuh, kan godain lagi. Cubit, nih” seru bu Ratih.
“Ha ha ha. Ampuun”
Budi hanya tertawa saja, saat ibunya mengulurkan tangan untuk mencubitnya. Dia juga tidak menghindar, saat satu cubitan kecil mendarat di pahanya.
“Enak nggak? Mau lagi?” seru bu Ratih sembari berdiri.
“Ha ha ha. Ibu ah. Dikata Budi masih bocah” sanggah Budi.
“Biarin” sahut bu Ratih pendek.
Budipun bangkit dari duduknya. Dia bawa serta kotak berbentuk mirip koper itu. Di tangan kirinya, ada amplop cokelat tadi. Plus kartu as aneh juga di dalamnya.
Bu Ratih telah lebih dulu keluar dari dalam kamar. Saat Budi hendak menyusul, dia melihat foto yang tadi dibuang sang ibu. Budi tersenyum tulisan yang ada di balik foto itu.
__ADS_1
‘Mahening Suci’, begitulah tulisan itu terbaca. Mengingat apa yang diucapkan bapaknya sore tadi, Budi mengerti, tulisan itu merujuk pada janin yang masih ada di dalam kandungan Gita Shella Syarifah.
Dia kantongi foto itu, lalu keluar kamar, menyusul ibunya yang sudah terlebih dahulu berpamitan.