Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
fishbed cafe, malam ini


__ADS_3

Malam ini, terlihat adel sudah bersiap untuk pergi. Tapi penampilannya malam ini terlihat berbeda dari biasanya. Dia memakai gamis hitam beraksen putih, lengkap dengan jilbab lebar dan cadar, yang jiga berwarna hitam.


Sayangnya ini bukan dimaksudkan untuk hijrah, atau ikut pengajian. Melainkan untuk menjalankan kewajibannya yang sudah hampir sebulan tertunda. Dia akan pergi ke kafe, tempat biasa dia perform di setiap malam minggu. Banyak yang menanyakan kabarnya di media sosial. Banyak yang mendoakan kesembuhannya. Dan banyak juga yang merindukan kehadirannya di atas pentas.


*Ya Alloh, maafkan hambamu ini. Hamba memakai pakaian kebesaran seorang muslimah, bukan untuk hijrah. Melainkan untuk menyembunyikan keberadaan hamba, untuk sementara waktu. Bimbing hamba ya Alloh, agar hamba bisa segera memakai pakaian kebesaran ini, untuk selamanya*.


Tanpa dia sadari, ada dua pasang mata yang mengawasinya dari ambang pintu kamar. Keduanya juga tertegun, melihat Adel memandang lekat dirinya sendiri, dari pantulan cermin.


“Amin”


Sebuah suara menyentakkan lamunannya. Dan kedua orang tadi, sudah berada di samping kirinya. Salah seorang diantaranya, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Adel di dalam hatinya, sehingga dia mengucapkan, amin.


“Kok amin? Assalamu’alaikum” tegur Adel. Orang yang ditegur, malah tersenyum.


“Aku tahu, kamu pasti sedang bicara dengan dirimu sendiri. Atau, kamu lagi bicara sama Gusti Alloh” jawab orang itu.


“Aku juga pernah ngerasain itu. Rasanya malu, mengaku-ngaku sebagai umatnya kanjeng Nabi, tapi memakai pakaian itu, hanya untuk keperluan tertentu. Selebihnya, kembali lagi ke pakaian kaya gini. Ini sih mending, agak longgar” lanjut orang itu, sambil menunjuk ke pakaiannya sendiri.


“Iya, Er. Malu, aku. Masih sayang sama urusan duniawi. Padahal, nyaman banget pake gamis begini”


“Semua bisa dikondisiin pelan-pelan. campursarian juga nggak harus pakai kebaya ketat mulu”


“Hem?”


“Udah, itu dipikir entar aja! perlahan sambil jalan. Mulai aja dulu, dari lagu-lagu yang kamu bawain!”


“Betul itu. Soal tampilan, kayaknya aku punya ide, deh” sahut yang satu lagi.


“Apa Ti?”


“Ya, mengenai kebayanya. Tapi, kita harus buru-buru berangkat, sekarang”


Merekapun menyudahi perbincangan itu. dan segera meluncur ke tempat yang dituju. Tiga orang wanita, dengan pakaian gamis, dan bercadar. Praktis tidak ada yang mengenali siapa mereka. Fungsi dari mereka berdua, adalah untuk back up Adel agar Adel tidak perlu berbicara, sebelum saatnya. Dan mobil Erika, adalah kamuflase, agar tidak ada yang tahu kedatangan Adel.


Saat mereka datang, live music di kafe itu sudah di mulai. Merekapun memilih meja yang posisinya sejajar dengan panggung. Erika bertugas untuk memesan makanan dan minuman. Tati yang bertugas untuk menuliskan kata-kata pada secarik kertas, untuk diberikan ke pembawa acara. Tapi ketika sudah beberapa lagu dibawakan penyanyi lain.


Lagu pertama ini, genrenya pop, dengan beat yang cukup asyik untuk berjoget. Membuat suasana ceria. Lagu ke dua, masih bernada ceria. Membuat Tati mengusulkan untuk mengubah lagu yang akan dibawakan Adel nantinya. Tapi Adel menolak. Dia tetap ingin membawakan lagu itu. Beruntungnya, penyanyi ketiga, membawakan lagu yang cukup melow.


Dia membawakan sebuah lagu dari Iwan Fals, sore di tugu pancoran. Karena sudah terkenal dari jaman dulu, dan rame di media sosial kalau lagu ini dicover suporter sepak bola, suasana mendadak menjadi haru. Terlebih saat para pengunjung bernyanyi bersama, tapi dengan versi sporter bola.


“Luar biasa. Satu lagu yang sangat membakar semangat. Terimakasih, mbak Ninik kamaratih”


Kata pembawa acara, begitu penyanyi tadi selesai membawakan lagunya. Riuh rendah suara pengunjung disertai tepuk tangan yang membahana. Sampai-sampai sang pembawa acara, tak kuasa menahan tangisnya.


“Lu kenapa To?” tanya salah satu musisi kepada sang pembawa acara.


“Iya, lu. Jenggot doang panjang. Nangis juga. Anto, Anto” sahut musisi yang lain.


“Malam ini, aku nggak nyangka banget, bakal seheboh ini. Aku nggak dikasih tahu sama mas Bian, kalo akan ada lagu ini. Beneran” kata si pembawa acara.


Sorak sorai dari penonton kembali membahana. Beberapa juga sudah mulai ikutan melow.


“Jujur aja, malam ini sebenernya aku nggak yakin buat manggung”


“Kenapa, to? Honor lu kurang?”


“He he. Bukan mas Bian”


“Terus?”


“Aku ngerasa, entah di lagu yang ke berapa, aku pasti bakal pecah nih, nangis nih. Karena terus-terang aja. Aku bisa ada di panggung ini, itu berkat jasa seseorang. Dan orang itu, “


Pembawa acara itu tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Dia membalikkan tubuhnya, menyembunyikan tangisnya. Di sini, Adel ikut merasa tersentuh.


“Bukan kamu aja, To. Kita semua. Kita semua ngerasa kurang, dengan absennya Adel. Tapi kita tetep harus ada di panggung ini. Biar nggak absen semua” kata musisi yang dipanggil Bian.


“Eeemgghh”


Pembawa acara itu mendehem. Berusaha meredakan kesedihannya.


“Oke. Kita lanjut ya mas Bian?” tanya pembawa acara.


“Lanjut Dong!”


“Ini kita selingin dari pengunjung yang hadir, ya?”


“YAAAA” jawab para pengunjung kompak.


“Oke, malam ini, kita kedatangan tiga ukhti, pas banget di depan panggung. Iya. Bisa di shoot dulu, kamera? Iya”


“Aku juga penasaran dari tadi, To. Dia yang mau nyumbang lagu?” tanya Bian.


“Betul, mas Bian. Aku ke sana dulu ya mas”


“Jangan lama-lama, To!”


Pembawa acara itu turun dari panggung, dan menghampiri ketiganya. Dia memberikan satu mikrofon kepada Erika.


“Monggo, silakan”


“Terimakasih, mas Anto” kata Erika, menerima mikrofon itu.


“Boleh perkenalan dulu, ukhti. Namanya siapa, dan kedua temannya ini, siapa saja?”


Para pengunjung bersorak-sorai mendengar kata kenalan dari pembawa acara itu. suara riuh itu dominan suara lelaki.


“Apalah arti sebuah nama, mas Anto?” jawab Erika berkelit. Ketiganya tertawa, tapi tanpa suara.


“Loh, tak kenal maka tak sayang” kata pembawa acara itu, tak mau menyerah.


“Biar tambah penasaran, gimana kalo kita sholawatan dulu?” tanya Erika. Terdengar lagi suara riuh dari para pengunjung.


“Wah, makin gemes aku, mas Bian” kata pembawa acara itu.


“Tapi nggak papa, To. Kita sholawatan aja dulu. Pas banget kan, momennya. Yang lagi sendu, lagi syahdu. Kita bersholawat bersama”


“Oke. Karena mas Bian sudah memutuskan begitu, dari pada nggak dapet honor, iya aja deh”


“Ha ha ha ha” para pengunjung tertawa mendengar kata-kata itu.


Suara musik pembukapun mulai mengalun syahdu. Membuat suasana kembali melow. Tapi warna musiknya kali ini, kental dengan nuansa religi.


“Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallam. Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallim” Erika menjadi pembuka.

__ADS_1


“Mari semua” ajak Erika.


“Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallam. Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallim” semua pengunjung bersholawat bersama.


“Anta syamsun anta badrun. Anta nurun fauqo nuri”


“Anta syamsun anta badrun. Anta nurun fauqo nuri”


“Anta iksiru wa gholi. Anta misbakhussuduuri”


Kembali musik bermain dengan indahnya. Mengalun menyentuh setiap jiwa yang masih ingat dengan Tuhannya, yang masih ingat dengan Rosulnya.


“Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallam. Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallim” masih Erika lagi yang melantunkan sholawat.


“Mari semuanya” ajak Erika lagi.


“Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallam. Shollalllohu ‘ala Muhammad, shollallohu ‘alaihi wasallim”


Saat semuanya bersholawat, Erika memberikan mikrofonnya kepada Adel. Tidak banyak yang melihat perpindahan mikrofon itu. Dan lagian mereka tidak peduli. Para pengunjung itu masih asyik bersholawat.


“Ya habibi ya Muhammad, ya ‘arusal khofiqoini”


Sontak semua mata tertuju kepada orang yang memegang mikrofon. Tak terkecuali si pembawa acara, yang masih berada di sebelah Erika. Mereka semua tersentak, terkejut, karena mereka hafal dengan suara itu.


“Adeeelll....”


Para penggemar Adel, terutama yang perempuan, berteriak histris menyebut namanya.


“Ya habibi ya Muhammad, ya ‘arusal khofiqoini”


Sontak si pembawa acara, merendahkan tubuhnya. Lalu melakukan sujud syukur.


“Ya muayyad ya mumajad, ya imamal qiblataini”


“Shollallohu ‘ala Muhammad, shollallohu.... “


Adel tidak sanggup meneruskan lirik sholawat itu. dia tidak sanggup menahan tangisnya, saat dia merasakan, ada seorang penggemar wanitanya, memeluknya dari belakang. Sembari mengucapkan alhamdulillah, berulang-ulang.


Saking terharunya, baik Erika maupun Tati, juga tidak sanggup meneruskan Sholawat itu. untungnya, ada salah satu penyanyi, yang berkenan melanjutkannya hingga usai.


Setelah usai sholawatan tadi, Adel didaulat untuk naik ke atas pentas. Sang pembawa acara memberinya jalan, dengan sikap sangat menghormatinya. Tidak menyentuhnya sama sekali, bahkan tidak bersalaman seperti biasanya. Dia memberikan salam dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


Saat di atas panggung, Adel membuka cadarnya. Dan betapa riuhnya para penggemarnya, melihat dirinya tersenyum dengan indahnya. Beberapa penggemar bahkan sampai histeris. Karena sudah benar-benar percaya kalau yang tadi membawakan lagu sholawat, adalah Adel.


“Jangan diviralin, ya! Aku lepas cadar” celetuk Adel.


Para pengunjung itu tidak menjawab apa yang diucapkan Adel. Mereka masih riuh dengan komentar masing-masing.


“Gimana kabarnya mbak Adel?” tanya Bian, sang musisi. Adel memutar tubuhnya.


“Alhamdulillah, mas Bian. Aku diberikan kesembuhan oleh Gusti Alloh. Terimakasih doanya, mas Bian. Terimakasih doanya, semuanya” jawab Adel, termasuk kepada penggemarnya.


“Mbak, “ panggil si pembawa acara. Dia tampak masih terharu. Kalimatnya terputus.


“Tumben banget mas Anto melow, ya? bener nggak sih?” sahut Adel.


“Kamu kok bisa nyusruk? Biasanya kan suka road race?” tanya si pembawa acara.


“Emang aku suka road race, ya?” tanya Adel pada para pengunjung.


“Masa? Nggak inget, aku”


“Kamu, udah inget kenapa kamu sampai accident?” tanya Bian.


“Belum” jawab Adel.


“Sama sekali?”


“Iya”


“Allohu Akbar. Tapi kok inget Anto?” tanya Bian.


“Ha ha ha. Ya kalo ingatan yang ilang, itu hanya partial aja. Beberapa memori, ada yang ilang. Beberapa juga, terpendam jauh banget”


“Ada yang ilang, dan ada yang terpendam jauh banget?” tanya Anto.


“Ya”


“Yang hilang itu, kaya gimana?”


“Ya, kaya kejadian malam itu. Apa benar, aku dibegal? Apa benar aku naik ojek? Semuanya aku belum ingat. Aku cuman tahu, katanya”


“Ya Alloh” komentar Anto.


“Kata ojol yang bawa aku, kita abis dibegal sama sekawanan preman bermotor. Kata dia, aku abis marahan sama pacarku. Emang aku punya pacar, ya?”


“Huuuuuu” para pengunjung malah riuh.


“Serius, nanya. Ada yang bilang punya. Ada yang bilang, enggak”


Pembawa acara itu tertawa mendengar pertanyaan Adel. Tapi matanya terlihat masih berkaca-kaca.


“Udah, nggak usah dipikir. Kalo ada yang ngaku-ngaku pacar kamu, bilang sama Bian!” kata Bian.


“Huuuuuu” sorak para pengunjung, rame.


“Eh tapi, kalo sama bapak, sama ibu, udah inget?” tanya Anto.


“Lu gimana sih, to? Masa sama ortu sendiri lupa?” sahut Bian.


“Emang lupa” jawab Adel.


“Ha? serius, Del?”


“Beneran. Aku sempet blank. Sempet nggak inget sama siapapun. Termasuk sama ortu, adek, bahkan sama diriku sendiri, aku nggak inget”


“Ya Alloh” komentar Bian.


“Butuh waktu cukup lama. Hampir dua minggu, untuk bisa inget kembali, siapa aku sebenernya”


“Selama itu?” tanya Anto.


“Iya. Itu juga, masih banyak banget yang aku belum inget” jawab Adel.

__ADS_1


“Kaya sekolah. Sampe sekarang kalo aku liat ijazahku sendiri, aku malah pengen ketawa lho” lanjut Adel.


“Kok bisa?”


“Aku kaya nggak punya ingatan sama sekali tentang SMK dua. Kaya aku tuh, nggak ngerasa pernah sekolah di sana, gitu loh. Tapi aku lulusan terbaik, coba. Ha ha ha ha”


“Lah, emang kamu lulusan terbaik. Nomer duanya kan aku” sahut Bian.


“Masa?”


“Huuuuu” kembali sorak-sorai para pengunjung membahana.


“Kebayang nggak sih, hidup tanpa ingatan masa lalu?” tanya Adel. Membuat suara riuh itu mereda.


“Aku sampe hampir nyerah, mas Bian”


“Jangan Dong!” sahut Bian.


“Sampai tadi pagi, aku belum ingat apapun. Dan aku sudah mulai mencoba memasrahkan semuanya. Pasrah menerima takdir ini. Dan bersiap untuk membuka lembaran baru. No more Adelia Fitri like you know. May be you can see me in the same body, but with different identity”


Tak ada yang mengomentari pernyataan Adel itu. Anto dan Bian hanya saling memandang, tapi keduanya tidak tahu harus berkomentar apa.


“Tapi, alhamdulillah. Walau harus menahan sakit di kepala, beberapa ingatan itu kembali. Walau baru sedikit yang bisa aku sebutkan, paling tidak, aku menjadi yakin, bahwa rumah yang aku tempati, memang rumahku. Dua orang yang selalu memperhatikanku setiap waktu, adalah orang tuaku. Dan yang paling cerewet, adalah adikku”


“Alhamdulillah” sahun Anto dan Bian bersamaan. Diiringi tepuk tangan dari segenap pengunjung.


“Masih banyak yang perlu aku ingat lagi. Jadi kalo ada yang tadinya akrab sama aku, terus aku lupa, mohon maaf banget. Bukannya ngelupain, tapi emang lagi eror” kata Adel.


“Iya. Buat sobat-sobat semua. Mohon dimaklum ya! jangan dimasukin hati!” kata Anto.


“Iya, bener. Akan lebih baik, kalo memperkenalkan diri lagi. Kasih momen-momen indah, yang mungkin bisa membangkitkan lagi ingatan mbak Adel” sahut Bian.


“Betul, kaya aku pernah diceburin ke got, sama mbak Adel” kata Anton.


“Ha? dimana?” tanya Adel.


“Di samping sanggar campursari” jawab Anton.


“Ha ha ha ha. Kirain aku doang. Kamu juga? Ha ha ha” sahut Bian.


Tapi Adel terlhat bingung dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Hal itu membuat keduanya merasa aneh.


“Mas Anto, mas Bian” panggil Adel.


“Ya?” jawab Anto.


“Kalian juga jangan marah, ya!”


“Tenang! Kita udah hapal sama sifat kamu. Emang jail dari dulu” tanya Bian.


“Poll” sahut Anto.


“Aku juga sebenernya belum ingat tentang kalian”


“HA?” seru mereka bersamaan.


Mereka terkejut bukan rekaan. Bahkan mereka sampai tidak sadar kalau mereka berseru di depan mikrofon. Banyak orang terkejut karena suara keras mereka.


“Aku inget pernah manggung di sini. Aku inget kalo aku punya penggemar. Tapi aku belum inget tentang kalian”


“Loh, kok bisa numbenin Anto melow?” tanya Bian.


“You tube” jawab Adel.


“Dari siang aku nonton video live music ini, sepuluh episode, maraton. Makanya, aku jadi bisa memahami karakter dari mas Anto gimana, mas Bian gimana” lanjut Adel.


Untuk beberapa saat, keduanya terpaku. Mereka tampak masih berpikir keras, apakah semua yang dikatakan Adel ini benar, atau hanya akal-akalan semata.


“Oke. Aku nggak berharap kalian percaya. Jangankan mas Anto sama mas Bian. Sama Tati aja, aku belum inget.” kata Adel menanggapi keterdiaman mereka. Mereka masih belum merespon.


“Tati kan sahabat kamu?” kata Anto.


“Menurut semua yang ada di sekitarku, Tati itu sahabat terbaik aku. Bahkan udah kaya saudara. Tapi kenyataannya, tadi sore dia sampe nangis. Aku udah inget sama bapak, ibu, Dina. Tapi belum inget sama dia. Tanya aja sama orangnya!” jawab Adel. Dia menunjuk ke arah teman bercadarnya.


“Loh, emang itu Tati?” tanya Anto.


Tati melepas cadarnya. Dan para pengunjung, menjadi riuh karenanya. Tati diundang ke atas panggung, untuk bercerita mengenai Adel. Air matanya adalah jawaban yang paling jujur. Jawaban yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sambil masih sesenggukan, dia menceritakan apa yang dialami dan dirasakannya, selama dua minggu terakhir.


“Ya Alloh, kok ada ya,orang yang segitu teganya? Pak Polisi, tangkep tuh, berandalan jalanan! Udah ada korban nih. Nunggu apa lagi?” komentar Anto geram.


“Semoga cepet diringkus ya, para geng motor itu” kata Bian


“Amin” sahut Tati dan yang lain.


“Terus, kita bawain lagu apa lagi nih, mas Bian?” tanya Anto mencoba menyemarakkan lagi suasana.


“Gimana kalo kita sholawatan lagi?” tanya Adel.


“Setujuuuu” seru mereka bersamaan.


Adelpun bersiap membawakan lagi sebuah sholawat.


“Lir-ilir, lir-ilir, “


“Tandure wus sumilir”


Adel memulai penggalan pertama dari baris pertama. Lalu mengarahkan mikrofonnya ke arah penonton.


Tanpa meminta, para pengunjung kompak mengikutinya bernyanyi bersama. Di pertengahan lagu, dia sambungkan lagu itu dengan sholawat badar. Salah satu sholawat khas Indonesia, yang sudah pasti semuanya hafal.


“Alhamdulillah” kata pembawa acara, saat sholawat badar itu telah selesai dibawakan.


“Terimakasih, mbak Adel” lanjutnya.


“Terimakasih kembali, mas Anto”


“Rasanya kaya pengen denger suara mbak Adel terus, malam ini”


“Betuuulll. Lanjuuuuttt” seru para pengunjung.


“Tapi, berhubung mbak Adel masih dalam masa pemulihan. Satu lagu penuh tadi, sudah cukup melegakan kerinduan kita, betul”


“Betuuuull” jawab para pengunjung.

__ADS_1


Adelpun turun panggung dengan diiringi tepuk tangan riuh dari para pengunjung. Banyak juga yang meminta dia untuk bersalaman. Dengan telaten, dia turuti satu per satu ajakan untuk bersalaman itu. Tanpa dia sadari, seseorang mengikutinya menuju mejanya. Baru juga dia duduk, orang itu menyapanya.


__ADS_2