
“Silakan duduk, Bud!” pinta pak Paul.
“Sengaja aku ajak Budi buat ikut meeting ini, karena kita akan bahas rencana kita ke depan” lanjut pak Paul.
Dari sini, semua kepala dvisi sudah siap dengan buku catatan mereka masing-masing. Termasuk catatan-catatan yang sudah mereka siapkan jika sewaktu-waktu pak paul menanyakannya.
“Kita semua tahu, progress kita belakangan ini menurun. Saya pengen dengar, laporan dari masing-masing kepala divisi. Kenapa? Apa yang jadi hambatan? Kita kan udah naik signifikan, tiga minggu yang lalu. Singkatnya, kita langsung ke divisi marketing saja. Coba, Farah, apa yang bisa kamu laporin?” kata pak Paul mengawali meeting kali ini.
“Baik, pak” sahut Farah.
“Memang, cukup mengejutkan, dan mengecewakan. Kita sudah susah payah menarik calon pembeli, calon pelanggan. Begitu kita dapat calon yang istimewa, kita malah memble. Mohon maaf bapak-bapak, bukannya saya merasa paling baik di sini, tapi terus terang saya kecewa. Kenapa ngurus satu dua orang aja nggak bisa, gitu? Kao emang terlalu susah, apa nggak bisa gitu, ditahan barang beberapa jam. Kan kita juga udah kasih tahu, mau ada tamu yang berkunjung. Gara-gara segelintir orang, kita yang udah pasang muka tembok di luaran, jadi ngerasa nggak ada gunanya. Kita jadi harus ngerayu mereka lagi. Kita harus mati-matian lagi buat ngeyakinin mereka, bahwa kita bisa memenuhi permintaan mereka. Harus pake entertain lagi. Harusnya dengan modal kemarin, kita bisa dapetin proyek sepuluh milyar. Dari satu tipe. Belum dari tipe yang lain. Keuntungan bersih kita, tadinya kita proyeksikan bisa mencapai lima puluh persen. Dengan adanya kejadian kemarin, kalaupun kita bisa dapetin lagi proyek itu, paling pol, kita proyeksikan keuntungan kita hanya dua puluh persen. Sisanya habis buat entertainment, sama cadangan untuk penalty. Itu juga kalau tim produksi benar-benar siap. Begitu, pak Paul” lanjut Farah menjelaskan.
“Pak Supri, gimana pak? Kenapa bisa begitu?” tanya pak Paul pada pak Supri.
“Saya mohon maaf, pak. Saya memang gagal menjalankan perintah. Bukannya saya tidak bisa tegas. Tapi ketegasan saya, membawa konsekuensi tersendiri, pak”
“Konsekuensi apa?”
“Anak saya yang menjadi korban”
“Maksud bapak?”
“Empat hari lalu, Dino sama geromboannya meneror rumah saya, pak”
“Apa?”
“Ya. Mereka mengobrak-abrik rumah saya. Mereka menghajar semua yan ada di rumah. Nggak peduli yang mereka adepin itu istri dan anak-anak. Yang juga perempuan”
“Jadi, yang bapak bilang jatuh itu?” potong Budi.
“Iya” jawab pak Supri.
“Kalau yang dia sasar hanya saya sendiri, saya tidak gentar, pak. Tapi kalau sudah menyangkut keselamatan istri dan anak saya, saya pilih mengalah, pak. Saya siap, jika harus dipecat” lanjut pak Supri.
“Nggak, nggak, nggak. Bukan itu yang ada di pikiran saya. Tapi, itu bener, kan, ceritanya?” sahut pak Paul.
“Kalau bapak tidak percaya, saya teleponkan istri saya” jawab pak Supri.
Pak Supri meenelepon istrinya, dengan panggilan Video. Dan benar, ternyata istri dan anak pak Supri sedang dirawat di rumah sakit. Terlihat memar di sekujur wajahnya.
“Banci!” umpat Budi pelan.
“Budi. tunggu Bud!”
Erika berseru memangil Budi, karena Budi langsung bangkit dari kursinya, dan berlalu keluar dengan penuh kemarahan.
“Bud, sabar dulu! Kamu nggak bisa gegabah gini! Ini bukan terminal” tegur Erika lagi. Budi menghentikan langkahnya, setelah Erika menghalangi jalurnya.
“Gua nggak terima, Rik. Gua juga pernah jadi preman. Tapi gua nggak pernah nyolek perempuan, apalagi anak-anak” kata Budi. suaranya berat, menggeram. Matanya sudah tampak memerah.
__ADS_1
“Tapi kamu nggak bisa berbuat semaumu gitu. Ini kerja tim, bukan kerja kamu saja. sabar dulu!” pinta Erika.
“Bud”sebuah suara memanggilnya. Dia menoleh ke belakang.
“Masuk dulu!”
Orang yang memanggil itu, memintanya untuk masuk kembali. Walau masih memendam amarah, tapi Budi mengikuti juga perintah itu. dia kembali masuk ke dalam ruang meeting, dan duduk di samping Erika lagi.
“Baik, terimakasih, pak Supri. Mengenai keluarga Bapak, saya akan berikan perlindungan. Dan, sebagai bentuk tanggung jawab, kami akan tanggung semua biaya pengobatan keluarga bapak. Saya pribadi juga akan membantu memulihkan kondisi rumah bapak. Mungkin, itu tidak seberapa, dibanding rasa takut yang bapak dan keluarga rasakan. Tapi paling tidak, ini yang bisa saya lakukan untuk bapak” kata pak Paul.
“Itu saja sudah terlalu banyak pak. Terimakasih banyak atas pengertiannya” jawab Pak Supri.
“Mengapa kita tidak berangus mereka sekalian, pak? Mereka sudah keterlaluan. Percuma juga mbak Farah dan tim bekerja keras, tapi benalu satu ini tidak kita singkirkan. Kalau memang mereka mencari ribut, kita layani sekalian” tanya pak Beni, kepala divisi maintenance.
“Jangan sembarangan ngomong kamu, pak! Dulu kan pernah mau kaya gitu. Tapi apa yang terjadi? member saya hampir mati karena disabotase” tolak pak Tanto, kepala divisi ekspedisi. Semuanya terdiam.
“Gimana pendapatmu, Bud?” tanya pak Paul kepada Budi. Budi menarik nafas terlebih dahulu, sembari memperbaiki posisi duduknya.
“Ketegasan, memang selalu butuh pengorbanan” jawab Budi.
Dari matanya yang masih memerah, memang bisa dibaca, kalau Budi memendam amarah. Semua masih menunggu kelanjutan kalimatnya.
“Kalau mau frontal, memang, kita butuh orang-orang yang siap berkorban. Karena yang kita hadapi, orang-orang nekat. Ya, walau goblok, tapi jumlah mereka, cukup berbahaya juga”
“Dari mana kamu tahu?” tanya Erika.
Budi menghela nafas berat. Terlihat sekali dia menahan amarahnya agar tidak meledak.
“Dino?” tanya Erika bingung.
“Ya, semua yang dia katakan, menunjukkan siapa yang ada di belakang mereka”
“Siapa? Santos, Herman, Toro, Joned, Sandi benteng?” tanya Erika.
Budi tersenyum. Dalam hati dia mengakui kemampuan Erika dalam mengumpulkan informasi.
“Terlalu dini buat dikatakan. Tapi yang pasti, ancaman terhadap keluarga kita, pasti akan muncul”
“Ya terus, buat apa kita menang di sini, kalo kita kehilangan keluarga? Kan kita di sini juga buat keluarga, Bud” sahut pak Tanto.
“Ya, itu poin pentingnya. Kalau masih pada kepikiran keluarga, cara ini tidak cocok. Terkecuali pak Paul mau menghubungi orang yang ahli dalam bidang ini” jawab Bui.
“Siapa?” tanya pak Paul.
“Bapak lebih tahu mengenai hal itu” jawab Budi merendah.
“Apa nggak ada cara lain, Bud?” tanya pak Supri. Dia terlihat masih ketakutan, ketika mendengar ide tentang kekerasan.
“Ada, sih. Main cantik”
__ADS_1
“Main cantik?” tanya pak Paul.
“Ya, main cantik. Korbannya cukup uang saja”
“Nah, boleh itu, kayaknya” sahut pak Supri.
“Coba jelaskan!” pinta pak Paul.
“Kita biarkan saja Dino dan kawan-kawannya asyik dengan kesenangannya. Perlahan, kita pisahkan mereka dari jalur produksi. Biarkan saja mereka makan gaji buta. Asal tidak mengacaukan jadwal produksi. Itung-itung, bayar uang keamanan” jawab Budi.
“Enak amat. Aku juga mau. Nggak ngapa-ngapain, digaji gede” protes Farah. Nadanya cukup tinggi. Cukup jelas untuk menggambarkan kekesalannya.
“Kalo mbak Farah mau ikutan Dino CS, silakan aja!” jawab Budi.
“Kok kamu gitu, sih?”
“Normalnya orang, dia akan merasa risih kalo diberi gaji, tapi tidak boleh melakukan pekerjaan seperti yang lainnya. Kalo orang normal, pasti akan merasa kalau keberadaannya itu tidak ada artinya” jawab Budi. Farah masih belum menerima jawaban itu.
“Kira-kira, kalau mbak farah tetap digaji, tetap boleh masuk kantor, tapi tugas dan kewenangan embak, sepenuhnya dilimpahkan ke Stevani, apa mbak Farah masih ngerasa kalau kantor marketing itu nyaman?” tanya Budi. Farah belum menjawab.
“Yang lain sibuk, ada yang telepon, ada yang bikin laporan, ada yang mondar-mandir. Mbak Farah nggak dapet tugas apa-apa, dan nggak menjadi bagian dari tim manapun. Mau?” tanya Budi lagi.
Lagi-lagi farah tidak menjawab. Dia hanya menarik nafas panjang, lalu memejamkan matanya. Antara logika dan perasaan, sedang terjadi pergolakan di dalam dirinya.
“Tebakan Budi, mbak Farah hanya nyaman sampai seminggu aja” lanjut Budi. Farah menganggukkan kepalanya. Dengan sikap kesatria, dia mengakui kebenaran pemikiran Budi.
“Terus, gimana caranya?” tanya pak Paul. Dia tampak tersenyum.
“Em” Budi memperbaiki posisi duduknya.
“Dari produksi, saya minta ke pak tanto, untuk menyiapkan beberapa orang yang bisa diberikan dua atau tiga jenis pekerjaan sekaligus. Kita akan bina, kita akan set lagi seperti tempo hari. Dan kita persiapkan untuk memback up pekerjaan dari Dino CS”
“Apa itu mungkin? Sekarang aja, mereka udah keliatan over kapasitas” tanya Erika.
“Bisa. tapi mungkin akan butuh bantuan dari timnya pak Beni, untuk membuatkan alat bantu produksi” jawab Budi.
“Siap. Bilang aja, apa yang perlu dibantu!” sahut pak Beni.
“Terus, kalo Dino tahu, gimana?” tanya Farah.
“Tidak apa-apa. Kalau dia usil, biar saya yang hadapi” jawab Budi.
“Itu saja?” tanya pak Paul.
“Dari HRD, tolong panggil mereka satu per satu! Tolong tanyakan kepada mereka, sebab dari mereka malas-malasan begitu! Mereka semua sudah punya keluarga, kecuali Dino. Itu narasi yang bagus untuk memberikan tekanan pada mereka. Tidak perlu takut kalau mereka mengancam begini dan begitu! Dino itu karakternya opportunis. Dia akan mengambil setiap kesempatan yang ada. Tapi bukan tipe orang yang setia kawan. Kalau mbak Erika punya info tentang ketidak-setiakawanan Dino, itu bisa menjadi narasi yang tepat, buat menyadarkan mereka. bahwa Dino, tidak akan menolong mereka mati-matian”
“Oke” jawab Erika. Dia tampak mencatat apa yang disampaikan Budi.
“Segera bahas ini di level divisi! Kalo memang butuh bantuan divisi lain, segera meeting bersama lagi! Saya pengen kamu bikin laporan secepatnya” kata pak Paul.
__ADS_1
“Baik pak” jawab Budi.
Tak lama kemudian, meeting itupun selesai. Masing-masing kembali ke tempat kerja semula. Tapi Budi malah pergi ke kantin. Dia ijin ke Erika untuk menenangkan pikiran sebentar. Dan Erika memberi ijin khusus.