
Setelah cukup lama tak sadarkan diri, Erika mulai membuka matanya. Rasa sakit di kepalanya membuatnya memegangi keningnya.
Perlahan dia mulai mengenali sekitarnya. Dan dia kebingungan saat menyadari kini dia tidak berada di kantornya. Dia masih merasa asing dengan tempat ini. Dia juga sempat bingung dengan selang yang menancap di lengan kanannya, dan masker oksigen di wajahnya. Tapi kemudian dia sadar, kalau sekarang ini dia sedang berada di rumah sakit.
*Siapa yang bawa aku, ya? Scuritykah? Syukurlah*
Erika berusaha mengingat-ingat suasana kantornya terakhir sebelum dia pingsan. Dia merasa sudah tidak ada siapa-siapa lagi sore tadi. Diapun menoleh ke kanan.
*Eh. Mas Budi*?
Erika terkejut melihat Budi tertidur di kursi di sebelah ranjangnya.
*Kok dia bisa tahu? Apa ditelepon sama scurity*?
Dia tersenyum. Dia senang merasa dipikirkan oleh Budi. Bahkan, kenyataan bahwa Budi sedang menungguinya adalah bukti kalau dirinya mulai mendapatkan tempat di hatinya Budi.
*Itu dia tidur apa semedi, ya? Bisa tegak begitu, tidurnya? Mana masih ganteng lagi, tidur juga*.
Seperti ada yang menyenggolnya, Budi tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
“Mbak” sapanya.
Erika tergelak melihat Budi belum sepenuhnya sadar.
“Eh. Mbak Rika siluman? Eeeh, siuman?” tanya Budi kaget, sampai salah bicara.
“Aku panggilin dokter dulu” lanjutnya sambil beranjak dari duduknya.
“Eeeh”
Erika sempat memekik kaget, karena Budi sempat sempoyongan, jalannya. Dia tertawa lirih. Dia merasa lucu dengan sikap spontan Budi.
Tak lama kemudian, Budi kembali bersama dokter jaga. Setelah diperiksa, dokter itu menyatakan kalau Erika sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat.
Sembari diurus perpindahannya, Budi diminta pergi ke apotek untuk mengambil obat-obatan untuk di ruang perawatan. Budipun pergi memenuhi permintaan dari dokter itu.
Tak butuh waktu lama untuk mengambil obat-obatan itu. Diapun pergi ke ruang perawatan. Dia serahkan obat-obatan itu kepada perawat yang berjaga di blok ruang perawatan tersebut.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi saat masuk ruang rawat. Hanya ada Erika, dari dua ranjang yang ada di kamar itu.
“Wa’alaikum salam” jawab Erika. Terdengar merdu di telinga Budi, saat Erika menjawab salamnya.
“Gimana keadaannya, mbak? Apa yang embak rasain?” tanya Budi sambil duduk.
“Masih lemes, mas” jawab Erika pendek.
“Mikirin apa, sih?”
*Mikirin kamulah, mas. Kamu pikir aku nggak cemburu? Cemburu juga pake kuadrat. Udah liat kamu ceria banget ketemu Liza, pake ketemu Adel, lagi. Pasti kamu masih ada keinginan buat balik sama dia. Mana Adel juga keliatannya juga gitu*.
__ADS_1
“Hei. Malah bengong” tegur Budi.
“Eh, eee”
Erika tidak tahu harus menjawab bagaimana. Budi tersenyum.
“Maafin aku, ya? Aku emang lagi kacau semenjak siang” kata Budi. Erika terkesiap.
“Aku sampe nggak peduli, mbak Rika udah jalan apa belum. Eh, ternyata balik lagi ke kantor. Ada perintah apa dari pak Paul?” lanjut Budi.
“Ee. Enggak. Nggak ada, kok” jawab Erika.
“Lah, terus? Ngapain?”
“Eee”
“Nangis, ya? Mikirin aku, ya?” tebak Budi.
Erika terbelalak mendengar tebakan Budi. Bisa tepat begitu.
“Ha ha ha. Jangan bikin ge er, deh! Masa iya, seorang Erika mikirin Budi sampe masuk rumah sakit. Mikirin pak Paul, kali”
“Jangan gosip! Aku sih ikhlas kalo pak Paul jadi bapak kamu. Kamunya gimana, ikhlas nggak jadi anaknya pak Paul?” sahut Erika sambil mencubit lengan Budi.
Budi awalnya tertawa geli. Tapi mendengar akhir kalimat itu, tawa Budi jadi berubah kesenduan. Dia jadi teringat almarhum bapaknya. Dan dia merasa belum bisa terima kalau posisi bapaknya digantikan orang lain.
“Mas. Aku cuman bercanda, kok. Maaf, ya? Aku nggak bermaksud nyinggung perasaan mas” kata Erika, sambil menggenggam telapak tangan Budi.
Air matanya meluncur tanpa bisa dia bendung. Buru-buru dia menyekanya.
*Kenapa aku jadi ngerasa bersalah banget gini sama dia? Aku belum pernah ngerasain ini sebelumnya*.
“Oh, iya. Emangnya abis makan siang tadi, kamu nggak makan lagi?” tanya Budi.
Erika malah tertegun. Ada yang berbeda dari sapaan Budi. Dan dia senang, Budi mulai menghilangkan kata ‘mbak’ dalam sapaannya. Itu artinya, dia sudah mau mendekatkan diri kepadanya.
“Enggak” jawab Erika singkat.
“Lah. Nggak makan sore?”
“Enggak”
“Beneran nangis nih, di kantor?” tanya Budi lagi.
Kali ini raut wajahnya terlihat serius.
Erika tidak segera menjawab. Dia bingung, apakah harus jujur sekarang atau harus bohong dulu.
“Nggak pake baju, ya?” tanya Budi lagi.
__ADS_1
Erika kembali terperanjat. Keterkejutan Erika sudah seperti jawaban buat Budi. Diapun geleng-geleng kepala.
“Tadi si Aldo yang kebagian liat. Besok?” lanjut Budi.
Erika masih terperanjat tanpa bisa menjawab.
“Kalo ibu sampe tahu, abis aku, kena veto” lanjut Budi lagi.
Erika mengernyitkan keningnya. Dia masih menerka-nerka, apa yang Budi maksud dengan Veto itu.
“Naluri ibu tuh, kuat banget. Ibu bisa tahu, sekalipun kamu pinter acting”
“Acting?” tanya Erika terkejut.
“Yap” jawab Budi singkat.
Erika masih menatap Budi dengan tatapan penuh tanya. Dia seperti mencari sesuatu di raut wajah Budi.
*Astaga. Apa mungkin? Enggak. Nggak mungkin*.
“Detik ini kamu marah-marah di depan banyak orang, menjalankan tugasmu sebagai atasan, lima menit kemudian kamu malah mau meluk kaki aku segala, buat minta maaf. Aku belum bisa lho, ngelakuin itu” lanjut Budi sambil tersenyum.
*Astaga, mas. Kamu bikin aku jantungan kalo kaya gitu caranya*.
“Kamu udah nyimpen satu point di hati ibu. Sekali kena veto, tahun depan juga belum tentu dapet lagi” lanjut Budi lagi.
*Astaga. Kalo sampe itu terjadi, sia-sia dong? Haiih. Kenapa aku jadi takut begini? Kemana keberanianku selama ini*?
“Aku lebih suka liat kamu pake seragam. Keliatan elegan dan berwibawa. Ketimbang tanktopan doang. Cuman keliatan seksi, tapi nggak elegan” kata Budi.
Erika terkesiap. Dia merasa tersanjung, mendapat pujian dari Budi. Tapi dia juga merasa, kalau itu adalah permintaan secara halus, agar dirinya mulai merubah kebiasaan.
“Masa sih, mas?”
“Yap. Aku nggak mau kamu jadi kaya Vani”
“Hem? Vani?”
“Ya. Dia pernah menggoda aku dengan tubuhnya. Terus terang aja, aku sempet tergoda. Tapi yang elegan, jauh lebih memikat perhatianku”
*Astaga. Kapan itu terjadi? Dimana? Kenapa aku nggak tahu? Dan gimana caranya Vani bisa berduaan sama Budi? But, whatever. Paling enggak, sekarang aku tahu apa yang kamu mau, mas. Emang nggak gampang sih, bukan aku banget. Tapi paling enggak, aku bakal coba. Aku yakin aku bisa*.
“Hei”
“Hem? Ee, anu, eee”
“Ha ha ha ha” Budi tertawa melihat Erika tergagap.
“Bener-bener bikin ge er kamu. Masa pendapat aku, kamu pikirin segitu dalemnya? Emang segitu gantengnya, aku?”
__ADS_1
*Kamu masih ngerasa jelek? Ngerendah. Tampang udah kaya Dylan Carr masih ngerasa jelek. Bedanya cuman potongan rambutmu pendek. Selebihnya, kamu nggak kalah ganteng dari dia, mas*.