Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
orang di balik kamera


__ADS_3

terimakasih buat kakak kakak yang masih setia menemani saya. semoga selalu terhibur dengan tulisan ini. mohon maaf kalau updatenya tidak menentu. kadang kalau udah keasyikan mikirin kelanjutannya, suka kelupaan updatenya. apalagi bulan puasa ini, cukup menantang juga. semoga puasa kakak kakak semua lancar tanpa halangan. dan diberikan kemudahan sampai idul fitri nanti. amin


_-------_-------_-----------------------------------------------


“Apa yang mas rencanain?” tanya Erika, lirih.


“Nanti kamu juga tahu” jawab Budi berteka-teki.


“Apache. Bisa kamu bikin sibuk, sayap timur?” tanya Budi pada Apache.


“Bisa” jawab Apache singkat.


“Bikin sibuk sampai dua jam dari sekarang! Kalau bisa, bikin mereka kapok! Tapi jangan ada korban jiwa!”


“Terus, buat apa ada senjata berat gini, bos?” tanya Apache.


“Nanti. Ada waktunya sendiri” jawab Budi.


“Siap”


Apache langsung bergerak mengambil peralatan.


“Tunggu!” seru Sephia. Sontak Apache menghentikan langkahnya.


“Ada apa?” tanya Budi.


“Aku nemuin beberapa sinyal telepon yang saling berkaitan. Dari jejaknya, mereka sempat saling menghubungi” jawab Sephia.


Sephia menunjukkan posisi orang-orang yang dia katakan. Beberapa orang tersebar di beberapa resort berbeda, dan beberapa lagi ditempat terbuka. Ada yang berpura-pura mencari rumput, ada yang berpura-pura menjadi kurir.


“Hind. Dimana posisi?” tanya Budi lewat handy talky.


Hind memberitahukan posisinya. Dia baru saja menyelesaikan tugas mengeliminasi mata-mata yang ditinggal Cobra. Budi memberikan posisi baru untuknya.


“Siap, bos” jawab si Hind.


“Gator. Bisa urus yang kurir itu?” tanya Budi.


“Hem. Hoki banget si Hind. Dapet cewek mulu” komentar si Alligator.


Dia mengangguk sekali, lalu pergi menjalankan perintah Budi.


Waktu terus berjalan, dan mereka yang ditugaskan, sedang menjalankan tugas masing-masing. Dari satelit, terlihat kelompok


nya Bejo terus mendekat. Sedangkan si Petir belum menginfokan posisinya saat ini.


“Bos. On position”

__ADS_1


Suara si Petir terdengar di handy talky. Tak kurang dari setengah jam untuk petir berpindah posisi.


“Oke. Bikin mereka sibuk!” perintah Budi.


“Oke, bos” jawab si Petir.


Dan tampak pada layar monitor si Sephia, si Petir menembakkan sebuah peluru. Tepat satu meter di depan gerombolan orang-orangnya si Bejo, peluru itu meledak dan memuntahkan butiran tungsten panas. Sontak para pemotor di barisan depan bergelimpangan, jatuh karena tubuh mereka diterjang tungsten panas.


Tabrakan beruntunpun tak terelakkan. Mereka yang terkena tungsten panas, langsung menggelepar di aspal. Sekalipun yang terkena hanya kaki-kaki mereka.


Tampak kepanikan dari yang lainnya. Mereka bersiaga mengacungkan senjata api yang mereka bawa. Membuat orang-orang di sekitar mereka lari ketakutan. Padahal awalnya warga sekitar datang untuk menolong.


“Bos. Kurir sudah diberesin” info si Alligator.


Budi tersentak dari fokusnya. Dia meminta Sephia melihat si Alligator. Dan tampak si Alligator sedang berjalan kembali ke bengkel kayu, setelah membuat si kurir tak sadarkan diri. Kurir itu dia ikat di sebuah pohon yang tumbang di dekat jalan.


“Yang di resort juga udah beres, bos”


Kali ini suara si Hind yang terdengar di handy talky.


“Kamu apain, Hind?” tanya Budi.


*Plakk*



*Fiuuu*


“M*ntok semua apa, Hind?” tanya Alligator.


“Enggak. Yang dua kerempeng. Ini doang yang berisi. Kaya Maria Vania” jawab Hind.


“Jangan dikasih lecet, Hind! Lumayan buat entar” seru Alligator.


“Apache. Bisa berangkat?” tanya Budi pada si Apache.


“Siap” jawab Apache.


Dengan pakaian seperti seorang pendaki gunung, dia keluar dari bengkel kayu Budi. Ranselnya memang ransel untuk mendaki gunung.


Budi kembali meminta Sephia untuk melihat perkembangan di front barat. Ternyata gerombolan itu masih kocar-kacir. Si Petir baru saja menambahkan satu peluru untuk gerombolan itu. Membuat korban bertambah banyak. Mereka semakin panik dan sibuk melarikan yang terluka ke puskesmas terdekat. Hebatnya si Petir, belum ada korban jiwa. Hanya melukai bagian tubuh mereka yang tidak berbahaya.


Polisi sektor terdekat terlihat mendatangi mereka. Sempat terjadi ketegangan, saat mereka ditanya hendak kemana. Mereka tentu saja dihadang kepolisian, sekalipun tidak mengaku mau kemana. Karena mereka membawa senjata api.


Fokus mereka benar-benar terpecah. Antara mengurusi yang terluka, dengan mengurusi kedatangan polisi. Cukup lama Budi memperhatikan gerombolan itu. hampir sejam sendiri.


“Polisinya kewalahan, mas” celetuk Erika.

__ADS_1


Karena jumlah motornya lebih dari seratus, dan masing-masing berboncengan, bisa sihitung berapa jumlah orang yang harus diurus polisi sektor itu. Sebagian dari mereka nekat melanjutkan perjalanan, menerobos barikade yang tak seberapa itu.


“Apa diantara mereka ada yang bawa kamera live streaming?” tanya Budi.


Sephia langsung bergerak melacak. Sekian baris perintah dia masukkan. Dan kotak hijau di layar monitornya berubah warna menjadi merah, dan mengikuti salah satu pemotor.


“Bisa dilacak, terhubung kemana kamera itu?” tanya Budi lagi.


Sephia kembali memasukkan sekian baris perintah pada komputernya. Sekian lama menunggu, akhirnya dapat juga. Kamera itu terhubung dengan salah satu perangkat ponsel. Letaknya di sebuah villa di daerah jawa barat.


“Bisa susupi kameranya, kan?” tanya Budi.


Kali ini Sephia tidak segera menanggapi. Dia menatap Budi terlebih dahulu. Ada keraguan dalam hatinya. Tak hanya Sephia, Erika juga terlihat tegang.


“Kenapa? Nggak bisa?” tanya Budi kesal. Butuh beberapa saat untuk Sephia merespon.


*Semoga kamu bisa kasih penjelasan sedetil-detilnya, tentang yang sebenarnya, Ka. Mau ngelak apa enggak, hasilnya akan sama aja*.


Sephiapun melakukan apa yang diminta Budi. Dia melakukan penyusupan ke dalam sistem ponsel itu. Perlu beberapa langkah untuk bisa menerobos barikade keamanan ponsel itu. Sampai pada akhirnya, Sephia berhasil mendapatkan apa yang Budi cari.


“Papa?” seru Erika kaget, dengan suara nyaris berbisik.


Budi menatap Erika tajam. Di pandangan matanya, Erika terlihat sangat syok. Air matanya meluncur begitu saja.


“ERIKA”


Sephia terkejut melihat Erika merosot dari berdirinya. Beruntung Budi sigap menangkapnya.


“Papa?” gumam Erika lagi.


“Mbak Rika kenapa, Ngger?” tanya bu Ratih, saat Budi membopong Erika ke arah kamar Putri.


“Ka. Istighfar, Ka!” perintah Budi pada Erika, tanpa menjawab pertanyaan ibunya.


“Papa?”


“Ka. Istighfar, ka!” seru Budi lagi. Tapi Erika masih tidak merespon.


“Bos. Tim bravo mendekat” seru kang Sukron.


“Ka. Istighfar!” seru Budi lebih kencang.


Dia mulai gusar, Erika tak kunjung meresponnya.


“Mas Bud, udah!” suara Adel terdengar menegut Budi.


“Biar Erika, aku yang ngerawat. Mas Budi lebih dibutuhin di meja komando” lanjut Adel.

__ADS_1


“Iya, Ngger. Mbak Adel benar. Kerjakan tugasmu! Biar mbak Rika kita yang ngerawat” sahut bu Ratih.


Dengan berat hati, Budi mengangguk dan melakukan apa yang ibunya perintahkan. Dia kembali ke meja tempat yang lain berkumpul. Layar monitor Sephia menunjukkan ada yang datang dari arah jalan biasa.


__ADS_2