Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
final battle


__ADS_3

Dar dar dar dar


Klikk


“Hem?” Erika menatap senapannya. Dia juga meraba kantong magazinenya.


“Mas. Amunisiku abis” kata Erika.


Budi langsung meraba rompi amunisinya.


“Astaga. Tinggal dua” gumamnya.


Dia berikan satu magazine pada kekasihnya itu. Mereka kembali menyerang. Beberapa tembakan setelah mereka maju dua palet, peluru Budi habis. Dia lantas mengganti magazinenya dengan yang terakhir.


Sialnya, para musuh yang tumbang tak dibekali dengan magazine cadangan. Peluru yang ada di senjata mereka juga tinggal hitungan beberapa butir. Tapi lumayan untuk menyambung nafas. Erika memunguti magazine itu.


Walau seolah tak ada habisnya, namun satu persatu pengawal moreno bertumbangan. Mereka hampir sampai di ujung depan gerbong barang ini. Sedikit lagi, mereka akan sampai di gerbong dimana para pengawal moreno tinggal.


Setelah beberapa orang terakhir yang masuk tumbang, tak ada lagi perlawanan. Bukannya senang, Budi malah curiga. Dia berpikir, Moreno sedang menyiapkan kejutan untuk mereka.


“Ayo maju, Ka! Ati-ati!” ajak Budi.


Mereka merangsek maju menuju pintu sambung ke gerbong depannya. Ternyata gerbong depannya kosong. Tak ada lagi pengawal yang tersisa.


Tapi Budi tak langsung tenang. Karena gerbong depannya lagi masih cukup panjang kalau hanya untuk ditempati lima sampai sepuluh orang.


Perlahan Budi mengajak Erika maju. Pandangannya masih fokus meskipun langkah kakinya kadang terseok oleh rasa sakit di perutnya. Saat pintu sambung dia buka, muncullah sebuah pemandangan yang luar biasa.


Moreno, bersama dengan Respati alias Bejo, berdiri di tengah gerbong yang cukup mewah dengan beberapa sofa panjang. Di belakang mereka hanya ada dua masinis yang sedang bekerja. Moreno tersenyum menyambut kedatangan Budi dan Erika.


“Hebat juga anakmu, Jo” komentar Moreno. Respati tergelak mendengar komentar bosnya itu.


“Anaknya Rouf juga hebat” komentar Respati.


Pastinya pujian itu hanyalah ledekan. Mereka tertawa sambil mengangguk-angguk. Entah apa maksud mereka, Budi tak mau memikirkannya.


“Mau apa kalian sekarang, hem?” tanya Moreno dasih engan senyum mengejeknya.


“Mau menggal kepala kalian” jawab Erika.


“Ho ho ho” saahut Moreno dengan tawa mengejek.


Dia menatap ke arah Respati. Respati juga tergelak sambil geleng-geleng kepala.


“Dia mau menggal kepala papanya sendiri. Bisa durhaka kamu, nduk” kata Moreno.


“Papaku udah mati” kata Erika. Dia tetap mengarahkan senjatanya pada Respati.


“Oh, ya?” ejek Moreno.


“Papaku adalah seorang penyayang. Bukan setan haus darah, yang makan dari jualan narkoba” lanjut Erika.


“Wow wow wow. Narasi yang bagus, cantik” puji Moreno. Pastinya itu hanyalah ledekan.


“Cepat menyerah, atau kulubangi kepalamu!” ancam Erika pelan tapi mantap.


“Ha ha ha ha” Moreno malah tertawa lepas.


Daaarrr


Erika melepaskan tembakan tepat di depan kaki Respati.


Ciiiiittt


Tiba-tiba masinis mengerem kereta ini.


“AAAA”


Erika dan Budi terlempar ke depan.


Kraak blatak


Saat terlempar itu, Moreno dan Respati merebut senapan serbu Erika dan Budi, juga menendang mereka.


Bukk


“Aduuh”


“Heeeeekk”


“Mas?”


Budi mendarat pada tubuh sisi kanan. Membuat luka di perutnya terasa sangat menyakitkan. Erika berusaha membantu Budi untuk berdiri lagi.


Ngguuuung


“Awas!”


Masinis tadi menambah kecepatan lagi secara mendadak, menjadikan Budi dan Erika oleng. Beruntung mereka bisa saling menopang.


“Ternyata kamu lemah, anak muda” ledek Moreno.


“Nggak lebih dari seorang banci jalanan” lanjutnya.


“Hempf. Baru keserempet aja, udah sempoyongan” timpal Respati.


“Banyak bac*t” sergah Budi.


“Mas?”


Budi berlari menyasar moreno.


“Hyaaat”


Dia melompat dan memutar badannya dua kali di udara.


Buaaakkk


Walau sudah bersiaga, namun tendangan Budi di kepalanya membuat Moreno terpental ke belakang.


“MATI KAU BANG***” teriak erika.


Erika melompat ke leher Respati


Wuss


Wuss

__ADS_1


Wuss


Erika melakukan gerakan berputar-putar di tubuh Respati, lalu melemparnya ke arah Moreno.


Gubraakk


Respati mendarat di tepian sofa kayu jati.


“HYAAAAT”


Budi berlari lagi, kembali menyasar Moreno. Tapi kali ini Moreno lebih siap.


Bakk bakk bakk


Terjadi jual beli pukulan. Perut Budi yang terluka menjadi incaran Moreno. Di dekatnya, Respati sudah kembali berdiri dan bersiap untuk duel.


“Harusnya kubiarin aja kamu mati di tempat sampah” kata Respati.


“HYAAAT”


Bakk bakk bakk buuk


Respati menyerang Erika. Erikapun meladeni.


Bakk bakk bakk buuk


“Aaah”


Perut Erika terkena pukulan.


“HYAAAT”


BUAAAKKK


“ERIKAA”


Brukk


“Aduuh”


Erika terkena tendangan berputar Respati. Dia terpental sampai hampir mendarat di kursi masinis.


“Kamu nggak papa, sayang?”


Budi meninggalkan gelanggang sesaat, membantu Erika berdiri.


“Nggak papa, mas” jawab Erika.


“Matiin mereka, Ka!” perintah Budi.


“HYAAAAT”


Budi kembali berlari menghampiri musuhnya. Kali ini dia disambut berdua, bersenjata pisau lagi.


Sriing


Budi juga mencabut belatinya.


Triiing


Dua pisau beradu.


Syuut syuuut syuuut


Daakk duukk syuuut


Daakk duukk syuuut


Bakk bakk bakk buuk


Tak bisa menyayat, siku dan lutut yang berbicara.


Bakk bakk bakk buuk


Ciiittt


Tiba-tiba keretanya mengerem mendadak lagi.


“AAA”


Moreno dan Respati terlempar.


“Erikaaaa”


Budi berteriak memperingatkan Erika.


“HYAAAT”


Erika paham maksud Budi. Dia melompat masih dengan pisau terhunus.


Clep sraaakk


“AAA”


bruukk


Pisau Erika, yang masih basah oleh darah kedua masinis tadi, berhasil menancap di tubuh Moreno. Dan juga berhasil membuat sayatan cukup panjang.


“AAAAHH”


Moreno mengeluh kesakitan. Sayang memang, Moreno berhasil berkelit walau sedang melayang di udara. Lehernya berhasil luput, mengorbankan paha kirinya.


“Hyaaat”


Bakk bakk bakk buuk


Dalam posisi tersungkur, Respati masih gigih berusaha menjatuhkan Erika. Namun posisi Erika masih lebih menguntungkan.


Syuut syuuut syuuut


Bakk bakk bakk


Duaaakkk


“Aaaah”


Brukkk

__ADS_1


“Ka?”


Respati berhasil menendang Erika sampai terpental jauh. Budi dengan sigap menolong kekasihnya itu.


“HYAAAAT”


Budi tak membiarkan Respati menolong Moreno.


Buaak


Sebuah tendangan memutar tak lantas membuat Respati tumbang.


Pakk pakk pakk pakk


Dia bahkan bisa langsung menyerang balik Budi.


Buaakk


Kali ini justru Budi yang terpental terkena tendangan Respati.


“Hyaaat”


Erika maju menggantikan Budi. Dan terjadilah duel mantan papa dan anak angkat.


Di momen kereta yang telah berhenti itu, Moreno hendak melarikan diri, namun Budi berhasil mencegahnya.


Dalam keadaan kesakitan, Moreno tak begitu saja mau menyerah. Dia tetap melawan dengan sengit.


Pakk bukk baaak pakk pakk pak


Buuukk


“Aaah”


Luput pisan keno pisan, itulah pepatah jawa yang tepat untuk menggambarkan kondisi mereka. Sesekali berhasil menyarangkan tinju dan tendangan, tapi sesekali juga terkena serangan musuh.


Moreno yang rupanya masih sanggup berdiri lagi, membuat Respati semakin semangat. Dia semakin membabi-buta dalam menyerang Erika.


Sudah tak terhitung berapa kali mereka jual beli sayatan. Seperti sama-sama tidak merasakan sayatan demi sayatan itu.


Sedangkan Moreno menjadi bulan-bulanan Budi. Pisau yang Moreno pegang tak lantas mampu menumbangkan Budi. Hanya mampu meninggalkan sayatan, sama seperti Respati. Itupun bukan sayatan lebar. Justru dirinyalah yang terus menerus mendapatkan sayatan lebar dari pisau Budi. Membuatnya semakin lemah dan tak bisa bertarung lagi.


Melihat Moreno sudah tak sadarkan diri, membuat Budi beralih membantu kekasihnya. Dua lawan satu ternyata tak lantas membuat Respati mudah dirobohkan. Dia masih saja gesit mengelak dari serangan keduanya.


Tapi usia memang tak bisa berbohong. Lama-kelamaan Respati kelelahan. Meski begitu, sabetan pisaunya masih sangat berbahaya.


Beberapa kali Budi terkena sabetannya. Bahkan ada yang mengenai perutnya, tepat di luka serempetan peluru tadi. Membuat lukanya semakin panjang, dan menurunkan kesadaran situasional Budi.


Pakk pakk pakk pakk


Buaakk


“Maass”


“HYAAAT”


Respati mengincar kelengahan Erika.


Tiingg


Namun Erika masih sugap. Dua pisau bertemu dan berdenting.


Pakk pakk bakkk


Bakk bukk syuuut


Syuut syuuut


“HYAAAT”


Budi kembali masuk gelanggang.


Bakk bukk syuuut


Syuut syuuut


Pakk pakk bakkk


Buaakk


“AAA”


Respati melayang terkena tendangan memutar Budi.


“HYAAATT


Erika melompat dengan pisau siap menghujam ke arah Respati.


Duaarrr


Suara senapan menyalak.


“AAAAHHH”


“ERIKAA”


Erika urung menyerang Respati. Dia jatuh terkapar.


“BANGS***”


Ternyata Moreno yang melepaskan tembakan.


“HYAAAAT”


Budi melempar pisaunya.


Jlebb


“Akhh”


Pisau itu menancap tepat di leher Moreno. Tak hanya sekedar menancap. Hampir seluruh panjang pisau itu menancap di tenggorokan Moreno.


“HYAAAAT”


Respati melayang ke arah Erika, seperti katak melompat.


“ERIKAAAA”

__ADS_1


Pisau di tangan Respati membuat Budi panik. Diapun melompat ke arah Respati, berniat menghalau serangan pisau yang di arahkan ke badan Erika.


Jleebbb


__ADS_2