Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kabar dari erika


__ADS_3

Masih dengan perasaan galau, Budi meneruskan makannya. setelah selesai makan, Budi mencoba menghubungi Erika, tapi masih saja tidak bisa dihubungi. Dia mencoba mengirimkan pesan singkat, tapi hanya centang satu. Yang berarti pesan itu tidak langsung terkirim ke nomor tujuan. Bu Ratih berusaha membangun pikiran positif, saat Budi berpamitan untuk pergi bekerja.


“Bu Ratih. Boleh minta alamatnya bu Maryati, bu?”


Suara Stevani mengalihkan perhatian semua orang, yang terpaku pada kepergian Budi dan Aldo.


“Boleh. Buat apa, mbak Vani?” sahut bu Ratih.


“Begini, bu. Kalo misalnya setelah dongle itu mereka ambil, mereka berhenti ganggu Vani, Vani mau sowan ke rumah bu Maryati. Mau ngucapin terimakasih, atas petunjuk putri beliau” jawab Stevani.


“Oh. Boleh. Biar dianter Budi aja, entar. Agak serem sih kalo buat orang yang bukan asli sana”


“Loh. Kenapa, bu?”


“Hutannya angker, mbak. Kalo udah abis isya’, jarang ada yang mau lewat hutan itu” sahut Putri.


“Udah enggak, keles” celetuk Madina.


“Tahu dari mana?” tanya Putri.


“Kan macannya udah dijinakin mas Budi. Hi hi hi” jawab Madina.


“Bilangin, aah”


“Eeeh. Jangan rese, deh!” seru Madina panik.


“Ha ha ha. Aduuh”


Putri tertawa lepas melihat sahabatnya panik. Tapi hanya sebentar saja. Karena kepalanya masih terasa berdenyut saat tertawa.


Sesampainya di pabrik, Budi menyempatkan diri menengok ke garasi belakang, barangkali Erika parkir di belakang. Tapi tidak dia temukan mobil itu di sana. Artinya Erika belum masuk kantor. Saat dia hendak bertanya pada Farah, malah Farah bertanya duluan. Yang artinya Farah juga tidak mendapat kabar, Erika ada dimana.


Budi memberanikan diri bertanya kepada pak Paul lewat telepon. Barangkali ada tugas dari pak Paul. Tapi pak Paul sendiri malah bingung ditanya soal Erika. Karena setahu dia, Erika ada bersama Budi di rumah sakit.


Walau masih dilanda galau, Budi tetap melaksanakan tugasnya di lapangan. Pagi ini ada pesanan dalam jumlah lumayan banyak. Sample yang kemarin dikirim ke eropa via udara, telah di terima. Dan tim marketing telah menerima pembayaran uang muka untuk pesanan hari ini. Artinya, pesanan ini menjadi prioritas utama Budi. Bersama Aldo dan Riki, Budi mengatur strategi.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Di saat sedang sibuk mengawasi jalannya produksi, ponsel Budi berdering. Dengan agak malas, Budi mengambil poselnya.


*Erika*?


Terpampang nama Erika dalam pemberitahuan panggilan video masuk.


“Halo assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam, mas”


Terlihat Erika sedang berada di sebuah tempat yang ramai.


“Kamu masih di bandara, Ka?” tanya Budi, langsung pada inti.


“Iya, mas. Sorry, aku nggak ngasih kabar. Kacau banget kemarin” jawab Erika.


“Emang ada apa?”


“Papa ngerubah jadwalnya tanpa ngasih tahu. Dia cuman pesen sama mama tiriku. Eh, nggak disampein ke aku”


“Maksudnya, dirubah gimana?”


“Iya. Kemarin tuh, ternyata papa dapet telepon dari salah satu customer besarnya. Diajakin meeting di jam yang seharusnya papa udah boarding. Ya udah, sama papa dicancel aja, pesawatnya”


“Terus, kamu nungguin di bandara, semalaman?” tanya Budi khawatir.


“Iya, mas” jawab Erika singkat.


“Kok nggak ngabarin? Bikin orang khawatir aja”


“Maaf, mas. Semalem, jam sebelasan, pas abis mama tiriku ngasih tahu, aku kan mau nyari penginapan. Pas jalan ke parkiran, hape aku jatoh. Pas banget ada mobil mau melintas. Kelindes deh sama mobil itu. Sampe ancur nggak bisa diapa-apain” jawab Erika, menjelaskan.

__ADS_1


“Tapi kok sempet bisa aku telepon, sekali?” tanya Budi belum percaya.


“Oh. Itu mas Budi yang nelepon?” sahut Erika.


“Nggeter doang, mas. Nggak bisa ngangkatnya. Layarnya aja ancur. Nih” lanjut Erika, sambil memperlihatkan ponselnya yang hancur.


“Ya Alloh. Sampe ancur gitu” komentar Budi.


“Itu dia, mas. Nah, aku nyari counter hape, udah tutup semua. Baru ini tadi, aku bisa beli hape baru” sahut Erika.


“Tapi kamu nggak papa, kan?” tanya Budi khawatir.


“Ya nggak papa. Kan yang jatuh hapenya”


“Maksud aku, kamu nggak keserempet mobilnya, kan?”


“Alhamdulillah, enggak”


“Terus, papamu dimana?”


“Belum landing, mas. Harusnya sih lima sampe sepuluh menit lagi”


“Oh. Oke. Semalem nginep di hotel, apa ada temen?”


“Di hotel, mas” jawab Erika sambil tersenyum.


“Seneng deh, liat mas cemburu gitu” lanjut Erika.


“Abisnya kamu nggak ada kabar sih, dari kemarin”


“Iya. maaf ya, mas?”


“Ya udah. Ati-ati ya, baliknya! Salam buat papa sama mama”


“Iya” jawab Erika.


“Eh, mas. Entar kalo ketemu sama papa, jangan nanya dulu kenapa ganti jadwal, ya!” pinta Erika.


“Papa lagi sensitif, mas. Kayaknya, pertemuan bisnis kemarin hasilnya mengecewakan. Aku aja yang anaknya, cuman sekedar basa-basi aja, kena marah sama dia. Aku takut kalo papa tersinggung, terus, “


“Oke. Aku ngerti, kok” potong Budi sambil tersenyum.


“Makasih buat warningnya. Aku bakal hindari percakapan kaya gitu. Jumpa pertama, memang nggak boleh mengecewakan” lanjut Budi.


“Emang Putri udah bisa ditingal, mas?” tanya Erika.


“Ya kan ada ibu. Ada Madin, barusan kang Supri juga bilang lagi nengokin. Kalo butuh yang lain, tinggal panggil aja, kan” jawab Budi.


“Oke. Semoga pas kita nyampe rumah, mas Budi bisa maen. Soalnya, papa nggak lama dirumah. Paling lama juga lima hari”


“Wow. Buru-buru amat?” seru Budi.


“Nggak tahu, deh. Tiap aku tanya, jawabannya selalu soal bisnis” sahut Erika.


“Oke. Aku usahain” jawab Budi.


“Just be your self, honey! Papa suka orang yang apa adanya. Papa bisa tahu kok, mas Budi punya apa. Nggak perlu promosi”


“Martabak?” tanya Budi.


“Hem?” Erika sempat bingung.


“Yap. Telur bebek. Yang di alun-alun. Enak, tuh” jawab Erika.


“Oke” Budi tersenyum lebar.


“Tapi jangan cuman sekotak, Mas. Ada adek tiriku juga”


“Lima kotak?”

__ADS_1


“Kebanyakan. Tiga aja” jawab Erika gemas.


“Sip. Kabarin ya, kalo udah nyampe rumah!”


“Oke. tolong back up kerjaan aku ya, mas!”


“Ya. Abis istirahat kayaknya, aku cicil” jawab Budi.


“Makasih, mas”


“Ya udah kalo gitu. Ati-ati! Assalamu’alaikum” tutup Budi.


“Wa’alaikum salam” jawab Erika.


*Tuuut*


Sambungan panggilan video itupun diputus Budi. Teguran dari pak Teguh mengalihkan perhatiannya.


Budipun kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Adanya masalah pada proses produksi menuntut fokus penuh darinya. Hingga menjelang makan siang, Budi masih sibuk memantau jalannya produksi. Melihat Aldo masuk ke dalam kantor, sontak Budi teringat dengan hasil auditnya kemarin. Dia belum sempat menanyakan soal rotan yang dipotong panjangnya itu. Budipun minta ijin pada pak Teguh untuk kembali ke kantor.


“Do. Masih sibuk?” tanya Budi, sesampainya di kantor mereka.


“Enggak, Bud. Ada apa?” sahut Aldo. Riki yang juga sedang ada di mejanya, tertarik perhatiannya.


“Aku mau diskusi soal material. Kemarin aku nemuin ada yang aneh dengan aktual di rak” jawab Budi.


“Oh. Ada yang miss, inputanku?” tanya Aldo kaget.


“Enggak. Kalo secara garis besar, inputanmu udah sesuai. Cuman ada yang aneh aja pada rotan yang baru”


“Kenapa?”


“Kemarin aku nemuin ada rotan yang potongannya kasar” jawab Budi sambil menunjukkan foto temuannya pada Aldo. Riki ikut mendekat untuk melihat.


“Terus aku cek ukurannya. Ternyata, yang potongannya kasar itu, panjangnya berkurang kisaran lima senti. Emang ada yang dipotong diawal, ya?” lanjut Budi.


“Nggak ada lah, Bud” sahut Riki. Budi menoleh padanya.


“Dari dulu juga yang motong orang anyaman sendiri. Kita yang ngupas sih, nggak pernah motong pas lonjoran begitu. Kan panjangnya juga udah diukur sesuai dimensi terpanjang produk kita” lanjut Riki.


“Iya. Emang begitu dari dulu juga” kata Aldo, setuju dengan jawaban Riki.


“Pernah ada temuan nggak, dimensinya kependekan? Dari tim anyaman mungkin?” tanya Budi. Aldo menoleh ke arah Riki.


“Belum ada, sih” jawab Riki.


“Kalo rotan yang baru itu?” tanya Budi lagi.


Riki tampak mengingat-ingat lagi. Beberapa saat kemudian, dia menggelengkan kepalanya.


“Belum ada, Bud” jawab Riki kemudian.


“Aku juga belum nemuin yang panjangnya beda. Rata-rata seragam, sih. Ya kalo ada kurang dan lebihnya sih, nggak sampe lima senti juga. Mencolok banget kalo segitu sih” tambah Aldo.


“Terus, siapa yang motong? Iseng banget, motong rotan cuman segitu. Mau buat apaan, coba?” tanya Budi.


Aldo dan Riki tidak segera menjawab. Mereka juga merasa aneh, tapi juga tidak tahu, siapa kiranya yang akan memotong rotan sependek itu.


“Aku pikir ini perlu diusut, Do. Rotan itu nggak bisa disambung. Kalopun emang itu direncanakan, motongnya nggak bisa ngasal. Apalagi kalo motifnya cuman iseng, karena kesel, insentif mau dikurangin. Yang rugi bukan cuman orang itu, Do. Kita semua bakal kena dampaknya” kata Budi.


“Iya, iya. Aku ngerti kok, Bud” jawab Aldo.


“Tapi gimana kita ngusutnya?” lanjut Aldo.


“Hem?” Budi belum mengerti apa yang dimaksud Aldo.


“Maksud aku, kalo kita bertanya secara terbuka sama pak Teguh, bu Tami, bisa jadi pelakunya bakal tahu. Anggep aja ekstrimnya ini tuh perbuatan iseng! Nah, gimana caranya biar kita bisa tahu siapa pelakunya, tapi dia nggak tahu, kalo kita lagi ngincer dia?” kata Aldo menjelaskan maksudnya.


“Good. Tadinya aku mau langsung begitu. Tapi aku nggak enak ngelangkahin kamu. Keren kalo kamu kepikiran sampai situ” komentar Budi.

__ADS_1


“Terus?”


Budi memaparkan rencananya dengan suara lirih. Seolah-olah ada orang lain di balik pintu kantor ini. Aldo dan Riki manggut-manggut mengerti. Mereka juga menyanggupi tugas yang dibagikan oleh Budi. Mereka bubar saat bel makan siang berbunyi. Aldo langsung pamit menuju rumah sakit. walaupun Budi juga sebenarnya akan pergi ke rumah sakit juga.


__ADS_2