Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ajakan liburan dari orang tua luki


__ADS_3

Setelah sambungan telepon terputus, Adel langsung bangkit dari duduknya, dan langsung melakukan sujud syukur. Dia tumpahkan semua perasaan yang masih tersisa. Rasa syukur, lega, bahagia, dan juga sedih. Cukup lama dia bersujud, sampai semua perasaan itu lepas semua. Lalu kembali bangkit, dan mengerjalan aktivitas paginya.


Saat turun dari lantai dua, dia melihat ada tamu yang berkunjung. Dia melihat ada Luki di antaranya. Dia hanya menyapa saja, dan melanjutkan perjalanannya menuju dapur. Dia mengambil roti tawar dan selai sebagai sarapan. Madina tampak sudah berangkat sekolah.


Saat sedang menikmati sarapannya, bu Lusi menyusulnya ke dapur. Dia mengatakan kalau Adel diminta bapaknya untuk bergabung ke ruang tamu. Adel sebenarnya ingin menanyakan, apa tujuannya. Tapi ibunya sudah langsung kembali ke ruang tamu setelah menyampaikan pesan itu. kalau sudah begitu, artinya tidak boleh dibantah atau tidak dituruti. Dia merasa mulai ada tantangan baru dalam episode awal kisah cintanya dengan Budi.


Setelah selesai sarapan, dia beranjak meninggalkan meja makan. Walau sebenarnya dia malas untuk bergabung. Tapi bayangan kemarahan bapaknya kalau perintahnya diabaikan, membuatnya berpikir ulang. Terlalu malas untuknya mendengarkan suara keras dengan nada tinggi dari ceramah bapaknya. Apalagi dia sudah bisa menebak apa isinya. Dia memutuskan untuk menuruti perintah itu.


“Assalamu’alaikum” sapa Adel kepada tamu-tamu itu.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka.


Adelpun menyalami mereka satu persatu. Kemudian duduk di antara bapak dan ibunya.


“Nduk, ini pak Imam Pratama, papanya mas Luki” kata pak Fajar memperkenalkan tamunya.


“Dan ini, bu Susan, ibunya mas Luki” lanjut pak Fajar lagi.


Adel tersenyum dan membungkukkan badannya sedikit, sebagai tanda hormat dan sapaan ulang.


“Beliau ini, mau ngajakin kamu buat liburan ke lombok, nusa tenggara barat” kata bu Lusi.


“Oh, dalam rangka apa pak?” tanya Adel.


“Begini, mbak Adel. Kita mau ada acara launching toko mebel kita yang baru di sana” jawab pak imam.


“Iya, di deket sirkuit mandalika” sahut bu Susan.


“Oh” respon Adel pendek.


“Kami pikir, nggak ada salahnya buat ngajak mbak Adel. Sekalian biar kita bisa lebih saling mengenal” lanjut pak Imam Pratama. Adel tidak segera merespon.


“Udah, kamu siap-siap gih!” perintah pak Fajar.


“Tapi pak” tolak Adel.


“Belum ada lho, cewek yang dapet kehormatan setinggi kamu, dari keluarga pak Imam Pratama. Udah, buruan!” potong pak Fajar.


“Oke, Adel telepon om Diki dulu ya, pak. Nanyain jadwal. Adel belum minta kopiannya” jawab Adel.


“Buat apa?” tanya pak Fajar.


Tapi Adel tidak menjawab. Dia langsung berdiri setelah meminta ijin dengan menganggukkan kepala. Dia lantas pergi ke kamarnya. Dia meminta rincian jadwal manggung untuk sebulan ini.


Ternyata hanya senggang pas di hari-hari dimana dia harus kuliah. Dengan kata lain, jadwalnya penuh untuk sebulan ini. Tidak bisa ditinggal karena sudah deal. Dia kembali ke ruang tamu sambil membawa ponselnya.


“Emm” dia mengawali jawaban atas ajakan pak Imam tadi.


“Mohon maaf pak, bukannya Adel bermaksud untuk menolak, tapi jadwal Adel sudah padat untuk sebulan ini” lanjut Adel.


“Maksud kamu apa, nduk?” tanya pak Fajar dengan raut wajah tidak suka.


“Rencana jadwal kemarin, sudah deal semua, pak. Sudah dibayar penuh, lagi. Artinya, Adel tidak bisa mangkir dari kesepakatan” jawab Adel.


Dia berikan ponselnya untuk menunjukkan jadwal yang sudah disepakati. Suasana jadi hening untuk beberapa saat.


“Kalo boleh usul, gimana kalo beberapa diataranya, Adel cancel? Aku siap kasih ganti ruginya” Luki angkat bicara.


“Nah, bener itu. Setuju” sahut pak Fajar.


“Iya, nduk. Orang cuman seminggu. Nggak papa dicancel juga” sahut bu Lusi.


Adel tidak segera menjawab. Dia berpikir sejenak. Menimbang-nimbang, apa keputusan yang paling tepat.


Memang, bisa saja dia membatalkan beberapa job yang sudah disepakati. Itu ada mekanisme yang diatur dalam kesepakatan.


Tapi dia juga mempertimbangkan kenyataan, bahwa dia bisa bertahan, itu karena orang-orang tahu, kalau Adel tidak pernah menolak undangan. Dimanapun tempatnya, dalam bentuk campursari maupun genre musik yang lain.


Berbeda dengan penyanyi lain. Yang merasa sudah terkenal, seenaknya membatalkan kesepakatan. Adel belum pernah membatalkan kesepakatan, apapun yang terjadi.

__ADS_1


Dia baru akan membatalkan kesepakatan, kalau dia tidak bisa bangun dari tempat tidur, atau suaranya hilang sama sekali. Dan itu hanya terjadi dua kali sepanjang karirnya sampai saat ini.


“Maaf mas Luki, sepertinya saya tidak sependapat dengan mas Luki” jawab Adel.


“Maksudnya apa, nduk?” tanya ibunya.


“Iya. Apa susahnya membatalkan satu atau dua kesepakatan? Toh mereka dapet ganti ruginya” sahut bapaknya.


Adel tersenyum. Dia melihat ke arah Luki, bu Susa, lalu ke pak Imam Pratama.


“Di dunia hiburan, sekalipun masih lokalan, Adel sudah mulai mendapat nama” kata Adel.


“Terus?” tanya bapaknya.


“Bapak pasti masih inget, gimana Adel membangun karir. Nggak peduli panas, nggak peduli ujan. Dari modal motornya bapak, yang jadul itu. Dan itu bukan cuman sehari/ dua hari”


“Iya. lalu?"


“Adel bisa bertahan sampe sekarang, bahkan bisa sampe di uandang ke luar kota, itu cuman karena Adel nggak pernah nolak undangan. Dan nggak pernah batalin undangan. Kecuali Adel nggak bisa bisa bangun dari tempat tidur, dan hilang suara. Hanya dua itu alasan Adel mangkir dari kesepakatan. Adel diundang lagi, karena orang tahu, mau ujan badai sekalipun, Adel tetep dateng. Nggak seenaknya batalin kesepakatan” jawab Adel panjang lebar.


Semuanya terdiam. Tidak ada yang menjawab. Semua seperti terkena panah, yang tepat menyasar jantung. Membuat mereka tak berkutik.


“Aku ngerti kok, Del. Aku hanya kasih masukan. Ibaratnya orang berubah pandangan tentang kamu, kamu juga nggak perlu hawatir. Kalau kamu nikah sama aku, kan nggak perlu nyanyi lagi” kata Luki memecah keheningan.


Adel tidak segera menyahut. Sejenak, dia memandang ke arah ibunya. Sorot mata itu membuat ibunya bertanya-tanya.


“Apa ibu dulu juga langsung berhenti menyanyi, saat bapak bilang begitu?” tanya Adel.


Bu lusi hendak menyahut, tapi dia urungkan. Jadi hanya seperti gerakan mulut membuka, lalu tertutup lagi. Dia mengerti arah pertanyaan putri sulungnya itu.


“Kamu nggak perlu hawatir, nduk. Sejarah bapak berbeda sama mas Luki” sahut bapaknya. Adel ganti menatap ke arah bapaknya.


“Ya, emang beda sih” jawab Adel.


“Nah, terus? Apa lagi?” tanya bapaknya.


“Tapi Adel nggak pernah lihat bapak batalin pesanan. Nggak pandang siapa, pasti bapak penuhin. Apalagi udah bayar lunas”


“Em, saya mau minta pendapat pak Imam. Apakah sikap seperti itu pantas buat dilakuin seorang pengusaha?” tanya Adel.


“Del, jangan asal ngomong, kamu!” tukas pak Fajar. Sedangkan pak Imam sendiri, malah tersenyum.


“Adel bukannya mau nolak undangan dari pak Imam. Adel juga nggak ada maksud lain dengan bicara begini. Selain karena job yang sudah Adel sepakati. Kalo menurut pak Imam itu pantas dilakuin, Adel akan lakuin, pak” lanjut Adel. Pak Imam Pratama semakin lebar senyumnya.


“Jadi inget mama waktu kuliah” celetuk pak Imam Pratama. Semua mata tertuju padanya.


“Mama kan mau sama papa, kan karena mama liat ada value dalam diri papa” lanjut pak Imam. Bu Susan tersenyum tersipu malu.


“Papa bukan anak orang kaya, tapi punya semangat juang tinggi, juga punya progres yang menjanjikan. Juga ngerti anggah-ungguh. Sopan sama orang tua” lanjutnya lagi.


Senyum bu Susan makin lebar lagi. Dia bahkan benar-benar tersipu malu mengenang sejarahnya itu,


“Kalo kita maksa, kayaknya kita yang nggak punya anggah-ungguh, pa” kata bu Susan.


“Ya. Saat ini, mbak Adel sedang dalam posisi seperti mama waktu pertama kali papa deketin” sahut pak Imam. Bu Susan tertawa kecil.


“Karena belum nemuin value itu, mama masih susah didapetin. Sekalipun dibantuin Fajar juga, tetep aja cuek”


“Ha ha ha” bu Susan tertawa.


“Berarti mbak Adel setipe dong, sama mama?” tanya bu Susan.


“Kayanya gitu, ma” jawab pak Imam.


“Kayaknya sejarah terulang, Jar. Cuman ini antara anak-anak kita” lanjut pak Imam Pratama.


“Maafin anak saya, mas Imam” sahut pak Fajar.


“Nggak papa. Aku malah seneng. Aku bangga sama mbak Adel. Dia mewarisi kejelianmu. Kan kamu, yang ngajarin aku buat nunjukin value”

__ADS_1


“Tapi kan, mas, ... “


“Udah, nggak usah ngerasa nggak enak. Bener apa kata mbak Adel. Nggak pantas buat seorang pengusaha, atau siapapun itu, buat ngebatalin kontrak yang udah disepakatin, tanpa sebab yang sangat bisa diterima” potong pak Imam.


“Lagipula ini hanya soft launching saja. Toh sirkuitnya juga belum jadi. Baru diratain tanahnya. Pemandangannya belum sempurna. Belum tentu juga langsung dikunjungi banyak turis” sahut bu Susan.


Semuanya haya mengangguk-angguk. Tidak ada yang langsung menyahut.


“Lain waktu kan bisa” lanjutnya.


“Kamu, udah punya segalanya” sahut pak Imam pratama. Tertuju langsung kepada anaknya.


“Kamu pakai semua sumber daya yang udah papa kasih! Pakai semua kemampuanmu! Bangun jati dirimu, dan tunjukkan valuemu! Biarkan mbak adel melihat nilai lebihmu! Biarkan mbak Adel menilai, apakah kamu sudah pantas atau belum, untuk mendapatkan kepercayaan dan juga hatinya!” lanjut pak Imam.


Adel tertegun, dia memandang ke wajah ibunya. Ibunya juga sama tertegunnya. Tidak tahu harus berkomentar apa.


“Sekali lagi, Adel mohon maaf, pak, bu. Adel nggak bisa ikut” kata Adel meminta maaf.


“Iya, nggak papa, mbak Adel. Lain waktu, kita susun jadwal dulu, ya!” jawab pak Imam.


“Monggo, diminum! Maaf ya mas, seadanya” sahut pak Fajar.


“Bisa aja kamu, Jar. Semuanya dikeluarin, bilang seadanya” jawab pak Imam.


Mereka bertiga lantas meminum teh hangat yang disuguhkan. Tak lama kemudian, pak Imam pamit undur diri. Untuk kesekian kali pak Fajar meminta maaf atas penolakan Adel. Dan lagi-lagi pak Imam memakluminya.


“Apa maksud kamu nolak ajakan pak Imam, ha?” tanya pak Fajar sambil mendorong Adel.


“BAPAK?”


Bu Lusi memekik kaget melihat anaknya didorong suaminya sampai terjengkang jatuh ke lantai. Dia membantu putrinya untuk berdiri lagi lalu duduk di sofa tamu.


“Kamu nggak usah sok pinter jadi anak! Baru punya karir tiga tahun aja gayanya udah kaya puluhan tahun aja” maki pak Fajar sambil menunjuj-nunjuk wajah putri sulungnya itu.


“Kenapa kamu nolak, ha? punya maksud apa? ngomong!” lanjutnya.


“Kan Adel udah bilang, pak. Adel udah punya jadwal yang harus Adel penuhin. Kenapa masih nanya lagi sih?” jawab Adel.


“Jadwal, jadwal. Persetan sama jadwalkamu itu. Kamu bapak sekolahin tinggi-tinggi, nyanyi lagi, nyanyi lagi dibela-belain. Kamu itu mau nikah sama pengusaha. Ngapain bela-belain nyanyi kamu itu? Dapet berapa kamu dari nyanyi, ha? Abis kamu nikah sama Luki, sepuluh kalinya honor kamu nyanyi juga bisa kamu dapetin dalam sehari. Kalo kaya gini sikapmu. Kamu sama aja bunuh bapakmu pelan-pelan. Mau ditaruh dimana muka bapak, ha?”


Adel tidak menjawab. Dia belum tahu harus menjawab apa. Bu lusi tahu putrinya ketakutan. Dia tarik tubuh Adel ke dalam pelukannya.


“Lagian, artis lokal cuman kamu aja, apa? nggak ada kamu juga hajatan tetep jalan. malah untung mereka kalo dapet ganti rugi. Mereka minta tiga kali lipat juga dikasih sama luki”


“Bapak nggampangin banget, jadi orang. Ini anakmu, pak, bukan buruh bapak. Bapak aja nyari karyawan syaratnya banyak banget. Segampang itu bapak jodohin anak sendiri sama orang yang belum jelas gimana orangnya”


“Itu anak temen bapak, Adel. Udah jelas banget. Dia tampan, kaya, apalagi, ha?”


“Ya mana Adel tahu dia anak baik atau enggak. Kenal juga baru. Adel setuju sama kata-kata pak Imam. Value, itu yang selama ini Adel cari, pak. Adel pengen ada cowok yang bener-bener ngarep sama Adel, terus berjuang banget buat dapetin hatinya Adel. Nggak peduli siapa dia. Kalo emang orang itu ternyata mas Luki, ya nggak papa. Tapi tunjukin dulu kalo dia emang pengen banget dapetin Adel. Tunjukin dulu nilai lebih yang bisa bikin Adel mau nyerahin hati Adel buat dia. Bukan sekedar harta kekayaan doang. Kalo cuman karena harta, banyak yang mau, pak. Bukan cuman Adel. Pasti yang ngantri buat dapetin perhatian dia juga udah ngantri. Terus apa artinya status istri, kalo di luaran sana, dengan gampangnya dia dapet cewek lain?”


“Itu, apa lagi yang kamu pikirin, ha? yang lain ngantri dari kapan tahun nggak dapet-dapet. Kamu nggak pake ngantri langsung disamperin. Jangan belagu jadi anak! Anak itu pasti gimana bapaknya. Bapaknya aja setia, anaknya udah pasti setia”


“Kata siapa, pak? Udah banyak temen-temen bapak, sesama pengusaha yang terang-terangan mau booking Adel”


“Apa kamu bilang?”


“Mau Adel absen satu-satu? Adel screenshoot, ya. Adel kirim ke bapak nih. Kelakuan orang-orang yang udah kaya dari lahir”


Lalu Adel memainkan ponselnya. Dia sibuk mengumpulkan bukti percakapan dari orang-orang yang tidak tahu malu.


“Dengan gampangnya mereka godain Adel. Padahal istrinya nungguin di rumah. Pas Adel tanya kenapa godain Adel, jawabannya hampir sama. Bosan sama yang di rumah. Yang dirumah cerewet, udah nggak asik, udah nggak menarik. Yang terang-terangan mau jadiin Adel sebagai istri simpanan juga ada. Tuh, udah Adel kirim. Bapak pasti kenal sama mereka”


Pak Fajar terdiam. Dia membuka ponselnya dan terbelalak melihat apa yang dikirimkan putrinya itu. Raut wajah marah semakin terlihat jelas.


“Tahu dari mana kalo Luki itu orang baik, kalo yang bapak bilang baik banget aja ternyata bajingan? Sekarang aja dia keliatan baik, nurut, perhatian. Dia kaya pak, punya banyak duit. Adel perlu mastiin dulu kalo dia itu beneran baik. Beneran suka sama Adel, bukan cuman nurut sama bapaknya. Kalo cuman nurut sama bapaknya, ancur,pak. Jangan-jangan entar kalo lagi marahan, langsung pergi cari selingkuhan. Atau kalo engak, Adel yang diusir dari rumahnya”


Pak Fajar tidak bisa menjawab. Dia masih tidak habis pikir, kalo orang yang selama ini dia jadikan tolok ukur dalam hal kesuksesan, ternyata telah lancang mengoda dan merendahkan putrinya sedemikian rupa. Dan itu menjadi bahan pertimbangan pertimbangan yang logis bagi Adel untuk membantah.


“Segalak-galaknya bapak, Adel masih melihat ada value dalam diri bapak. Bapak sayang sama keluarga. Yang paling penting, bapak itu orangnya setia. Dulu saat belum punya apa-apa, bapak berjuang sepenuh hati buat ibu, Adel sama Dina. Sekarang, udah punya segalanya, bapak tetap setia sama ibu. Sekalipun ibu itu orangnya cerewet banget. Tapi apa pernah bapak cari perempuan lain? Enggak kan? Yang kaya gitu yang Adel pengen, pak” lanjut Adel.

__ADS_1


Pak Fajar tidak menjawab. Dia pergi begitu saja meninggalkannya dengan ibunya. Bu Lusi semakin erat memeluk putri sulungnya itu. Dalam hati dia tidak menyangka kalau putri kecilnya, sekarang sudah dewasa. Sudah bisa berpikir jauh ke depan.


__ADS_2