
“Untuk yang helipad?” tanya Erika.
Si Cobra menatap rekan-rekannya yang lain. Seolah sedang meminta pendapat. Si Hind langsung merendahkan badannya, untuk memperhatikan monitor Sephia.
“Rumah sakit, dimana?” tanya Hind.
“Eeem”
Sephia kembali memainkan keyboardnya. Tak lama kemudian, muncullah apa yang dicari. ada beberapa rumah sakit di sekitaran lokasi. Tapi hanya satu yang menjadi kecurigaan si Hind. Agak jauh, tapi punya landasan helikopter juga.
“Lu mau bilang, si Moreno nerapin protokol kaya di film crank?” tanya Sephia.
“Yap. Bisa aja, kan?” jawab Hind.
“I hope you are right” komentar Sephia.
Dia masukkan sekian baris perintah pada komputernya. Banyak sekali tampilan yang berubah dengan sangat cepat. Barisan informasi tergulung ke atas dengan begitu cepatnya. Tapi belum juga Sephia menemukan apa yang Hind cari.
“You are lucky, Hind” kata Sephia.
“Tebakan gua bener?” tanya Hind.
“Yap. Mereka emang ada kerjasama keadaan darurat kesehatan. Rumah sakit yang ini punya fasilitas helipad, tapi nggak punya helikopternya. Biasanya mereka sewa, atau pake punya Moreno sendiri” jawab Sephia.
“Itu sih gampang. Masa perlu gua juga?” sindir si Hind.
“Gua tabok juga, lu. Ikut-ikutan aja, ngecengin gua” sungut Sephia.
“Hempf. Cakep juga lu kalo ngambek” goda Hind. Sephia melepas sandalnya.
*PLAKK*
“Adow. Busyet, nabok beneran” pekik si Hind setengah kaget.
“Oke. Berarti nanti harus ada orang dulu di rumah sakit itu, baru nelpon ke pihak rumah sakit, buat ngirim helikopter?”
“Ya nggak gitu dong, bos” sahut si Hind.
“Gimana?” tanya Budi.
“Kan si Panjul udah jalan ke sana. Nanti kita siapin petir di suatu tempat. Pas si Panjul udah nyerang, kita lukain salah satu dari orang yang ada di pabrik obat itu. Di crank kan kaya gitu”
“Oh, oke. Jadi kita mancing biar mereka nelpon rumah sakit secara alami?” tanya Budi.
__ADS_1
“Yap. Gator seneng kalo suruh begituan. Jadi penumpang gelap. Ha ha ha” kata Hind.
“Sekalian aja, masuk dari arah itu! Pasti ada lah, yang keluar masuk lewat jalur pabrik obat itu. Aku pikir, bisa kok kita dapetin kartu aksesnya” sahut si Cobra.
“Oke. Tapi target kita ini, apa? Matiin Moreno sama si Bejo, apa shut down pabrik mereka?” tanya Alligator.
“Target utamanya, nangkep mereka berdua. Kalo nggak bisa, terpaksa harus dimatiin, matiin aja!” jawab Budi.
“Kalo peta pabrik obatnya, nggak ada, bos?” tanya si Cobra.
“Sayangnya, nggak ada. Cuman ini yang aku dapet” jawab Budi.
“Ikutin pakem aja, Tor! Improve sesuai keadaan di sana!” perintah si Cobra.
“Siap” jawab si Alligator.
“Ada ide, buat matiin pos pantau ini bersamaan?” tanya Budi. Sontak semuanya menatap padanya.
“Saya bisa ngirim energi pada mereka semua sekaligus. Asal random, nggak khususon” kata kang Sukron.
“Jangan main gituan lagi deh, kang! Ngeri, aku. Aku pengen punya tempat istirahat yang nyaman kaya punya bapak” jawab Budi. Semuanya bingung mendengar jawaban itu.
“Sejauh mata memandang, cuman punya bapak sendiri” lanjut Budi.
“Weeeiiss” seru si Cobra dan yang lain.
“Loh, bener. Ini bukan kaya tenung apa santet, yang pake bantuan jin. Kalo tenung, dari sini juga bisa. Cara itu akurat, karena pake bantuan jin. Kalo saya, enggak. Saya murni ngelempar energi. Kaya lempar lembing aja, main apalan. Kalo targetnya di jarak satu kilo, berarti harus pake kemiringan berapa” kata kang Sukron penuh keyakinan.
“Wuih. Kaya rudal balistik, dong?” tanya si Apache.
“Ya kaya gitu, lah. Terus kalo hambatannya tembok bata, butuh energi berapa. Kalo dindingnya besi, kaya kapal, butuh energi berapa. Harus saya sendiri yang menentukan. Bukan manggil jin terus ngopi. Makanya nggak bisa jauh-jauh. Dan nggak bisa khususon. Random aja bisanya”
“Tapi bisa sepuluh target sekaligus?” tanya Nungki.
“Bisa, salvo. Tapi mungkin aku nggak bisa ikut maju. Bakal lemes pastinya” jawab kang Sukron.
“Bisa dikasih unjuk nggak, kang?” tanya si Cobra.
“Boleh” jawab kang Sukron.
Kang Sukron mengambil pena yang tergeletak di meja. Dia buka jendela samping. Dia letakkan pena itu di atas telapak tangan kanannya, lalu berkonsentrasi sambil memejamkan matanya.
*Clap*
__ADS_1
*DARRR*
“Aww”
Para perempuan yang ada di dalam rumah itu terkejut melihat kilatan cahaya dari telapak tangan kang Sukron, sekaligus terkejut dengan suara ledakan di tembok rumah Hasan.
“Wow” seru Alligator.
Semuanya mengomentari pertunjukan kang Sukron dengan komentar yang beragam.
“Oke. Kalo emang itu murni dari energi kang Sukron, bukan pake jin, aku setuju” kata Budi memberi keputusan.
“Saya jamin seratus persen, bos” jawab kang Sukron.
“Oke. jalan masuk sudah kita temukan solusinya. Tinggal strategi saat sudah masuk ke dalam bangunan bawah tanah ini” kata Budi.
“Ada saran?” lanjut Budi, merujuk pada si Cobra dan yang lain.
Tampak si Cobra berdiskusi terlebih dahulu dengan si Hind, Apache dan si Aligator. Budi membiarkan mereka beradu ide. Beberapa kata yang mereka pakai, dia sendiri tidak memahaminya. Makanya dia lebih memilih diam dan memberikan keleluasaan kepada para prajurit terlatih itu untuk merencanakan yang terbaik.
“Apa kita akan masuk tanpa peralatan, bos?” tanya Hind.
“Eeem. Sebelum matiin pos pantau ini, kita disaranin sama bapak buat pergi ke rumah ini dulu” jawab Budi, sambil menunjuk salah satu tempat di peta. Dekat dengan pos pantau yang dilingkari merah.
“Wah. Rumah siapa itu, bos?” tanya Hind.
“Aku nggak tahu, tapi bapak ninggalin kartu pengenal. Kayaknya akan ada perbekalan buat kita di sana” jawab Budi.
“Oke” sahut Hind.
“Ada beberapa strategi yang bisa kita terapin. Tapi yang mana yang cocok, tergantung dari bekal senjata kita, apa aja” kata si Cobra.
“Dan juga, apa cuman kita aja nih, bos. Kan aku sama Apache masuk dari Jonggol, Gator masuk dari pabrik obat, nah, yang tersisa cuman Cobra, bos, sama kang Sukron. Tambah Erika, sama Nungki. Paling ada Petir, satu apa dua” sahut si Hind.
“Nungki juga cuman kode” sahut Nungki. semua mata tertuju padanya.
“Ada Nungki lestari, ada Joko ‘Nungki' Priambodo, mau satu SSK, bisa. Nungki semua” lanjut Nungki.
“Joko Nungki? Hi hi hi. Joko Tingkir, ada” gumam si Hind sambil tertawa lirih. Alligator tergelak mendengar gumaman si Hind.
“Pastikan dulu, berapa orang yang bisa kamu dapat! setelah itu, baru kita tentukan, bisa pakai strategi yang mana” perintah si Cobra pada Nungki.
__ADS_1
“Oke” jawab Nungki.