
tempat berbeda, keluarga Adel baru saja datang setelah sekian jam Adel dirawat. Karena mereka baru saja pulang dari perjalanan bisnis ke jogjakarta. Bu Lusi langsung histeris melihat luka-luka di tubuh Putrinya. Madina juga hanya bisa menangis. Sedangkan pak Fajar terdengar berbincang dengan beberapa orang di ruangan sebelah.
“Bapak ojol yang nganter anak saya?” tanya pak Fajar pada seorang laki-laki.
“Iya, pak. Betul” jawab laki-laki itu.
“Bapak jemput anak saya dimana?”
“Di kebunagung, pak. Situ, deket bale desa karanganyar”
“Loh, anak saya kan ngejobnya nggak di situ?”
“Mana saya tahu, pak. Orang saya dicegat sama mbaknya”
“Dicegat? Bapak kan ojol”
“Iya, memang. Cuman tadi itu, mbaknya nggak pake aplikasi. Saya juga nggak tahu, awalnya. Orang saya abis nganterin penumpang, terus mau pulang. Eh, ada yang manggil saya. Ya saya berhenti”
“Anak saya, sama siapa sebelumnya?”tanya pak Fajar menyelidik.
“Wah, nggak tahu, pak. Saya tahunya, mbaknya sendirian. Tapi emang kaya lagi marah, gitu”
“Terus, kenapa bisa sampe ke situ? Kenapa lewat jalan itu? kenapa nggak lewat sedeng?”
“Awalnya, mbaknya itu cuman minta dianterin ke masjid Agung”
“Masjid Agung?"
“Iya, pak”
“Sholat, gitu?”
“Ya ngapain lagi, pak? Masa dangdutan?"
“Ih, ditanya bener-bener, juga. Terus?”
“Terus, mbaknya minta dianterin ke watu karung”
“Ngapain ke watu karung?”
“Bilangnya sih, mau ke salah satu home stay. Apa sih tadi bilangnya, saya nggak begitu denger”
“Nyampe ke sana?”
“Enggak. Pas di pertigaan, mbaknya minta dianter pulang”
“Terus, bapak lanjut aja? bapak nggak tahu, kalo ada begal yang suka keliaran di sekitaran situ?”
“Tahu. Saya udah puter arah, pak. Tapi mbaknya ngomel-ngomel. Udah deket ngapain balik arah? Muter lagi, lama lagi. Gitu bilangnya”
“Nggak kamu jelasin soal preman-preman itu?”
“Udah, pak. Tapi mbaknya ngeyel terus. Malah ngancam nggak akan bayar, lagi. Segala bilang bapaknya punya bodyguard. Ya saya ngalah aja. Daripada nggak dibayar”
“Tapi kan nyawa anak saya taruhannya”
“Sama aja kali, pak. Nyawa saja juga jadi taruhan”
“Nyawa anak saya jauh lebih penting buat diamanin. Nyawa kamu sih, bodo amat”
“Bapak!” madina menegur bapaknya. Suaranya lantang, terdengar sampai ke luar.
“Bapak nggak bisa jaga omongan dikit, apa ya? Bapak ini kan juga lagi sakit. Dibayar juga belum, udah diomelin aja” lanjut Madina.
“Berapa?” tanya pak Fajar.
“Kesepakatannya, dua ratus, pak” jawab ojol itu
“Nih, lima ratus. Sekalian buat benerin motornya. Sama biaya pengobatannya” kata pak Fajar sambil menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.
__ADS_1
“Makasih, pak” kata ojol itu senang.
“Preman yang nyerang kamu, ada berapa orang? “
“Banyak, pak. Saya nggak sempet ngitung”
“Tiga orang?”
“Lebih, pak. Lima orang juga, kayaknya lebih”
“Terus, anakku diapain sama mereka?”
“Enggak diapa-apain, pak. Mbaknya kan jatuh ke got, tadi, di bawah”
“Kamu juga nggak disakitin?”
“Cuman kena pipa aja nih, di punggung. Kena sabet sekali”
“Katanya banyak orangnya?’
“Saya lompat ke bawah, ngejauh dari mereka”
“Motor kamu?”
“Ya gitu, pak. Tahu, masih utuh apa enggak”
Pak Fajar tidak berkomentar, juga tidak bertanya lagi. Dia keluar begitu saja dari kamar rawat bapak ojol itu. Di depan puskesmas, seseorang sedang merokok sambil duduk di rerumputan.
“Mas”
Pak Fajar memanggil orang ini. Seketika orang ini mematikan rokonya, lalu berdiri menyejajari pak Fajar.
“Saya, Fajar, bapaknya adel” kata pak Fajar memperkenalkan diri.
“Oh, saya Dino” jawab Dino. Dia menerimauluran tangan pak Fajar.
“Sama-sama, pak. Kebetulan aja, pas saya lewat, bapak ojol itu, teriak-teriak minta tolong. Kasihan aja, pak. Apalagi, dia blang ada penumpangnya di bawah. Ya, saya bantu, sampai sini”
“Sekali lagi, terimakasih, mas Dino. Saya nggak tahu, mesti balas dengan apa”
“Tidak perlu, pak Fajar. Saya iklas, kok” jawab Dino.
Sedang asyiknya berbincang, Madina datang memberitahu kalau kakaknya sudah siuman. Tanpa pamitan, pak Fajar langsung berjalan cepat menuju kamar unit gawat darurat. Saat diperiksa, Adel mengalami gangguan dengan ingatannya.
Pak Fajar terkejut mendapati anaknya sendiri, tidak ingat dengannya. Bukan hanya dengan bapaknya, dengan ibunya, adiknya juga, dia tidak ingat. Termasuk apa yang terjadi dengannya, dia juga tidak ingat. Dia hanya ingat tentang hajatan. Itu juga ibaratnya hanya sekeping saja.
Dokter yang menangani Adel mencoba menenangkan pak Fajar. Dokter itu bilang, kalau Adel mengalami amnesia ringan. Nanti ingatannya akan pulih seperti sedia kala. Merekapun diminta menunggu diluar, agar Adel bisa istirahat.
***
Paginya, Adel dibawa pulang, karena oleh dokter, dia sudah bisa menjalani rawat jalan. dengan berhati-hati, Tati membantu Adel berjalan.
Sepagi ini Tati sudah sampai di puskesmas, setelah mendapat kabar dari Madina. Dia juga ikut sedih, mendapati sahabatnya tidak ingat siapa dirinya. Dia berdoa, semoga penyakit yang diderita Adel, segera diangkat, dan diganti dengan kesembuhan.
Sampai di rumah, ternyata sudah ada beberapa tamu yang berkunjung, hendak menjenguk Adel. Ada pimpinan grup campursari, tempat Adel bernaung, ada rekan-rekan musisi dan penyanyi juga.
Mereka semua ikut sedih, mendapati Adel kebingungan melihat mereka. Sama sekali tidak ada yang teringat oleh Adel.
Kepada om Diki, pak Fajar menceritakan kronologis kejadian, seperti yang disampaikan bapak ojol semalam. Om Diki merasa janggal dengan penuturan pak Fajar.
Tapi Tati mengedipkan matanya, meminta kepada Om Diki untuk tidak berkomentar. Pak Fajar juga menceritakan rencananya untuk membawa Adel berobat ke solo atau jogja, setelah kondisi fisiknya memungkinkan untuk diajak berjalan jauh.
Om Diki hanya menyampaikan rasa prihatinya, dan mendoakan agar Adel secepatnya bisa mendapatkan kembali ingatannya. Pak Fajar mengaminkan.
Dia pamit untuk masuk ke dalam rumah dahulu, tapi meminta pada om Diki dan yang lain untuk tinggal lebih lama. Karena Madina sedang membuatkan minum untuk mereka.
“Ti, ada apa sih, sebenernya?” tanya omDiki, selepas pak Fajar masuk ke dalam rumah.
“Tati juga nggak tahu, om” jawab Tati.
__ADS_1
“Terus, kenapa kamu ngedipin om?”
“Iya Ti. Jangan disembunyiin lah! Kamu kan paling tahu tentang Adel” imbuh Nike.
“Tati juga ngerasa ada yang aneh, sih. Tapi Tati belum berani berkomentar, sebelum Tati ngobrol sama mas Budi"
“Udah kamu telepon?” tanya om Diki.
“Nggak aktif hapenya” jawab Tati.
“Nomer ibunya Budi?”
“Tati nggak punya”
“Semuanya nggak aktif. Tapi semalem, Putri nelpon Madin berkali-kali” Madina muncul dari dalam rumah. Di tangannya ada nampan berisi beberapa gelas teh.
“Jangan kenceng-kenceng dulu, Din!” tegur Tati.
“Iya, mbak. Madin tahu, kok” jawab Madina. Dia menyuguhkan teh yang dia bawa.
“Kalo Madin boleh minta tolong, Madin pengen minta tolong mbak Tati pergi ke rumahnya mas Budi” lanjut Madina.
“Barusan kamu bilang, Putri nelponin kamu berkali-kali?” tanya Nike pelan.
“Iya, mbak. Semalem. Tapi karena semalem lagi sepaneng, Madin nggak mikirin hape”
“Kayaknya ada sesuatu yang pengen dia omongin, deh” kata Nike.
“Itu dia, mbak”
“Oke, deh. Abis dari sini, aku langsung ke rumahnya mas Budi, deh”
“Kabarin Madin, ya mbak!” pinta Madina.
“Iya” jawab Tati.
***>>>
Pagi ini Budi terlihat lebih segar. Dia juga sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Hanya saja, untuk berjalan, dia masih mengeluhkan sakit di pergelangan kaki kanannya.
Dokter memintanya untuk tidak memaksakan diri. Demi kesembuhannya, dia harus mengistirahatkan tubuhnya. Akan lebih baik kalau memakai kursi roda saja.
Stevani masih setia menemaninya. Membantu Putri memapah Budi jika hendak berjalan. Dia sengaja mengambil cuti, agar bisa membantu keluarga ini. Bu Ratih mengucapkan rasa terimakasihnya atas perhatian dan bantuan yang diberikan Stevani. Putri juga mulai melunak. Dia yang awalnya tidak suka dengan kehadiran Stevani dalam kehidupan kakaknya, kini mulai bisa menerima.
“Adel belum bisa dihubungi, nduk?” tanya bu ratih.
“Belum, bu” jawab Putri.
“Coba telepon Dina lagi! Barangkali udah bisa dihubungi”
“Baterai Putri abis, Bu. Baru juga dicas”
“Hem, sama” kata bu Ratih
“Pake hapeku aja, Put” tawar Stevani.
“Putri nggak hafal nomornya, mbak”
“Yaa”
Budi memperhatikan ketiganya. Ada senyum merekah di bibirnya. Membuat ibunya heran.
“Kamu, kenapa senyum, ngger?” tanya bu Ratih.
“Siapapun saya, rasanya saya adalah orang paling beruntung di dunia ini” jawab Budi. senyumnya sukses menular kepada ketiga wanita itu.
“Kamu bener, Bud. Kamu adalah orang paling beruntung. Semoga kamu cepet sembuh, ya” sahut Stevani.
Budi tersenyum lagi. Dia menerima suapan bubur dari tangan Stevani.
__ADS_1