
“Mereka kabur” teriak salah seorang yang berada di abang pintu balkon belakang.
Sontak ada kendaraan di depan rumah yang dinyalakan. Sang sopir terpaksa mencari jalan alternatif. Mereka harus memutari gunung guna menghindar dari kejaran kelompok penyerang itu.
“Mereka siapa, yang?” tanya Luki.
Tapi pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban. Adel lebih memilih tidak menjawab, daripada muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Yang penting baginya sekarang adalah selamat dari kejaran penyerang tadi.
“Merunduk!” peritah salah seorang dari penolong mereka.
*SYUUUUT*
Ternyata dia menggelar terpal sebagai penutup. Karena mereka harus melalui jalan yang berpotensi dilewati mereka juga. Terpal itu membuat Luki dan yang lain tidak tahu, mereka akan dibawa kemana.
*CIIIITT CIIIT CIIIIT*
Terdengar suara decitan dari kendaraan lain. Dan kendaraan yang membawa mereka menambah kecepatan dengan tiba-tiba. Terjadilah aksi kejar-kejaran diantara mereka. Berkali-kali mobil itu berjalan zig-zag, menyalip kendaraan-kendaraan lain di depan mereka.
*CIIITTT*
*GRUUUAK.... GABRUK BAGRUK GABRUK*
“Aduuh”
Adel mengaduh saat kepalanya terbentur plat kabin mobil ini. Mobil itu berbelok dari jalan besar, setelah sekian menit memacu kecepatan. Memasuki ladang yang sedang tidak ditanami.
Guncangannya memang membuat penumpangnya seperti terlempar ke atas. Luki mendekati Adel, dan memeluknya. Adel tidak protes.
*BRUUUUUSSSSHHH*
Mobil bak itu masuk ke dalam air. Ya, mereka sedang menyeberangi sungai. Agak dalam memang, airnya sampai masuk ke dalam bak. Tapi mesinnya masih sanggup berjalan.
Walau agak kepayahan, tapi akhirnya mereka sukses menyeberang. Berlanjut menaiki sebuah tanjakan. Orang-orang yang mengejar mereka tampak tidak mau menyerah. Mereka tampak memutar untuk mencari jalan lain. Sungai itu terlalu dalam untuk mobil mereka.
*CIIIITTT*
*GRUAAAAKKKK*
*CIIIITTT*
Setelah berbelok tajam, dan menerjang selokan, mobil itupun berhenti. Ketiga penolong mereka tadipun segera berdiri, membuka terpal penutup mereka. Saat terpal terbuka, betapa terkejutnya Adel, saat dia merasa familiar dengan tempat mereka berhenti ini.
“Lusi? Mbak Adel?”
Kedua wanita itu terkejut mendengar nama mereka disebut. Dan lebih terkejut, yang memanggil itu adalah bu Ratih.
“Madin?”
Madina juga ikut terkejut. Ada Putri di sebelahnya. Dia berlari mendekat dan membantunya turun dari bak mobil itu. Bu Ratih juga melakukan hal yang sama pada bu Lusi. Sedangkan Adel sudah pasti dibantu suaminya.
*DAR DAR*
Terdengar dua kali letusan senjata api. Sontak mereka semua terkejut. Suara mobil berdecit dan bertabrakan terdengar sangat dekat dan jelas. Terdengar juga suara orang kejar-kejaran entah dimana. Semuanya terdiam sekian lama. Sampai suara keributan itu pergi menjauh.
“Ada apa? Kok kalian bisa terlibat sama rame-rame ini?” tanya bu Ratih.
“Mbak. Pinjem hapenya, mbak. Boleh, kan?” bu Lusi malah balik bertanya.
Bu Ratih sempat bingung. Ditanya kenapa, kok malah pinjam ponsel.
__ADS_1
“Ini, bu”
Putri mengacungkan ponselnya pada bu Lusi. Dan langsung diterima.
“Telpon dia! Bicara baik-baik, ya!” pinta bu Lusi kepada Adel.
“Iya, bu” jawab Adel. Dia lalu menjauh.
“Telepon siapa, bu?” tanya Luki.
“Luki, diem!” kata bu Lusi tegas.
“Kamu tahu kan, betapa mahalnya harga cemburumu? Tahan sebentar, ngger! dan Adel akan sepenuhnya jadi milik kamu” lanjut bu Lusi.
“Astaghfirulloh, ngger” keluh bu Ratih.
Dia baru paham sekarang. Ternyata semua keributan tadi adalah ulah anak sulungnya. Dia baru tersadar, kalau luka di hati putranya jauh lebih dalam dari yang dia duga.
“Budi nggak salah, mbak” kata bu Lusi.
“Maafin aku, Lus. Aku pikir aku udah berhasil bikin dia paham. Ternyata”
“Udah. Aku paham kok. Emang, dateng baik-baik, pergipun harus baik-baik. Udah kewajiban Adel untuk pamitan dengan baik sama Budi” kata bu Lusi. Bu Ratih tidak menjawab.
“Aku yang minta maaf. Aku lupa hal itu. Baru tadi aku sadar” lanjut bu Lusi.
“Ya udah. Kita lihat, apa hasil obrolan mereka” jawab bu Lusi.
Di tempat lain, Budi sedang menikmati menu makan siang. Memang dia terlambat dari yang lain, dan hanya berdua dengan Erika saja. Walau begitu, tidak ada yang berani protes. Bagi yang lain, yang penting Budi tidak membuat kegaduhan lagi, itu sudah bagus.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Ponsel Budi berdering. Tapi disaat membaca nama yang terpampang di ponsel itu, Budi seperti ogah-ogahan. Dia biarkan saja ponsel itu sampai berhenti berdering.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
“Angkat, Bud! Barangkali itu ibu” tegur Erika.
Ratna terkesiap, dan memandangi Erika. Di dalam hatinya dia mengakui keberanian Erika menegur Budi. Padahal kalau Budi sampai menonjoknya, mungkin Erika akan terpental sampai ke koridor.
“Halo” sapa Budi masih ogah-ogahan.
“Bram”
Sapaan itu sukses mencuri seluruh perhatian Budi.
“Tata?”
Budi terkejut mendengar ada suara Adel di seberang telepon milik adiknya. Dia bertanya-tanya, bagaimana bisa? Erika juga tak kalah terkejutnya. Dia tidak menyangka kalau Adel akan menelepon Budi.
“Bram. Tata minta maaf. Tata harus ingkar sama janji Tata sendiri. Tata minta maaf” kata Ade sambil menangis.
Mendengar suara tangis Adel, seketika kemarahan Budi seolah luruh tanpa bekas. Air matanya kini meluncur dengan lancarnya.
“Bram” panggil Adel.
“Hem?” sahut Budi.
Kini di hatinya tinggallah rasa sedih yang mendalam. Sedih, karena suara itu sebentar lagi tidak akan bisa dia dengar lagi. suara manja yang sebelumnya selalu mewarnai hari-harinya, nanti hanya akan menjadi kenangan.
“Tata minta maaf. Tata nggak bisa apa-apa, bram. Tata nggak sanggup liat bapak menderita” kata Adel lagi.
Budi masih tidak menjawab. Beribu perasaan yang berebut ingin keluar, membuatnya hanya bisa menangis. Suara isaknya terdengar sampai ke telinga Adel. membuatnya semakin sedih.
“Makasih ya, Ta” kata Budi kemudian.
__ADS_1
“Makasih buat apa? Ya Alloh. Kalo Abram masih marah, marah aja sama Tata, Bram! Tata yang ambil keputusan. Tata yang mutusin buat pergi dari Abram”
“Makasih buat kesempatan yang sangat berharga ini. Besok, mungkin udah nggak bisa lagi” jawab Budi.
“Braam”
Adel merasakan hatinya seperti teriris-iris.
“Makasih juga, karena udah pernah cinta sama Abram. Pernah mewarnai hari-hari Abram. Abram ngerasa sangat terhormat pernah dicintai seorang Adelia Fitri” Lanjut Budi.
Tangis Adel semakin menjadi. Kata-kata yang dulu sangat dia takuti, sekarang benar-benar terjadi.
“Maafin Tata, Bram! Maafin Tata!” pinta Adel dengan suara lirih, nyaris berbisik.
“Iya, Ta. Abram juga. Abram terlalu cinta sama Tata, jadinya gelap mata”
“Enggak. Tata yang salah, Bram. Tata juga akan ngelakuin hal yang sama kalo Tata ada di posisi Abram” potong Adel.
“Katakan satu hal, Bram! Kasih Tata hukuman! Biar Tata lega” lanjut Adel.
“Udah. Tata udah ngejalani hukuman itu. Ini udah lebih dari cukup. Cuman ini yang Abram pengen”
“Bram” panggil Adel.
“Ya?” sahut Budi.
Tapi adel tidak segera mengutarakan maksudnya. Dia malah menangis. Butuh beberapa lama untuknya kembali tenang.
“Tata pamit ya, Bram?” kata Adel kemudian.
Suara tangisnya beradu dengan suara helaan nafas berat Budi. Butuh beberapa lama buat Budi menguasai kesedihannya.
“Iya, Ta. Abram juga pamit. Mohon maaf, kalo selama menjalin hubungan sama Tata, Abram banyak salah sama Tata”
“Tata juga, Bram. Maafin Tata” sahut Adel masih dalam tangisnya.
Sempat hening beberapa saat. Hanya isak tangis keduanya yang terdengar bersahutan.
“Assalamu’alaikum, Bram”
“Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuhu”
*Tuuuut*
Adel merasakan kakinya lemas, begitu sambungan telepon terputus. Tubuhnya merosot turun hingga berlutut, lalu bersimpuh.
Dengan sigap Luki mendekat dan memeriksa keadaan Adel. Bu Ratih berinisiatif meminta Luki untuk membawa Adel masuk ke dalam rumahnya.
Saking sedihnya, Madina memeluk Putri sambil menangis tersedu-sedu. Dia menanyakan, apakah Putri masih mau menjadi sahabatnya. Putri tersenyum. Dia tahu sahabatnya takut kehilangan dirinya, karena putusnya hubungan kakak-kakak mereka. Dan Putri menjawab, kalau persahabatan mereka tidak akan terputus, walau kakak-kakak mereka tidak berlanjut ke pelaminan.
Satu persatu mereka yang beraksi pada malam ini mendekat ke rumah bu Ratih. Ada Sandi, Sephia, dan para anak buah mereka. Sandi sungkem pada bu Ratih dan menceritakan semua kejadian itu.
“Loh. Mas Zul?” seru Putri.
Zulfikar datang bersama rekan-rekannya yang membawa senapan laras panjang. Sontak Madina melepaskan pelukannya. Zulfikar tersenyum kepada kekasihnya. Dia menyalami Putri, setelah sungkem kepada bu Ratih.
“Mas. Jangan dikasusin, ya!” pinta Putri.
“Oke. Tapi bilang sama mas Budi, jangan bercanda lagi! Pangkatku masih rendah. Kalo bapak udah pensiun, nggak ada lagi yang ngeback up” jawab Zulfikar.
“Iya, iya. Entar Putri bilangin” sahut Putri.
Buntut dari keributan tadi, memanjang sampai larut malam. Banyak pihak yang menanyakan asal-muasal kejadian itu. Termasuk rekan sejawat Zulfikar sendiri.
Di sisi lain, Budi langsung merendahkan kepalanya. Dia bersujud seraya mengucapkan syukur. Dia ucapkan terimakasih kepada Gusti Alloh, karena telah mengabulkan doanya. Walau hatinya masih sangat terluka, tapi paling tidak, dia sudah mendengar sendiri kata-kata perpisahan itu dari mulut Adel sendiri.
__ADS_1
***