
Setelah Adel selesai mandi dan siap, mereka lantas berpamitan pada bu Lusi dan Madina. Sempat Tati berlagak merajuk, karena sudah jauh-jauh datang malah mau ditinggal pergi.
Namun itu hanya bercanda saja. Karena dia sendiri ternyata sudah punya janji akan rekaman untuk channel youtube mereka. Dan hampir saja kelupaan kalau saja Adel tidak pamitan.
Madina bilang, nanti akan menyusul setelah mengerjakan tugas kuliah. Adel mengiyakan saja. Jadilah mereka seperti pergi bersamaan, meski dengan tujuan akhir yang berbeda.
Budi mampir dulu ke rumah sepupunya. Dia kabarkan kepada iparnya kalau sepupunya akan bebas hari ini. Tangis keharuan pecah diikuti sujud syukur. Istri sepupunya itu langsung bersiap dan mengajak anak-anaknya untuk ikut serta.
Di parkiran polres, seperti arahan Budi, mereka tetap tinggal di mobil, ditemani Adel. sedangkan Budi masuk sendirian untuk berkoordinasi dengan pihak kepolisian. Rupanya pihak polisi yang berjaga tahu maksud kedatangan Budi. Dan seperti diaminkan, petugas itu setuju dengan idenya Budi.
Budi dipersilakan untuk masuk ke ruang tunggu. Dia agak terkejut, melhat siapa yang sedang duduk menerima tamu di pojok kiri ruang tunggu. Ya, Sandi. Dia sedang duduk menghadapi seorang wanita. Mendengar wanita itu memanggil Sandi dengan panggilan ‘sayang’, membuat Budi tergelak. Saat Sandi menatap Budi dengan lekatnya, wanita itupun menoleh ke arah Budi.
“Udah ganti lagi, Ndi?” tanya Budi, menggoda. Wanita itupun tampak cemburu.
“Yang polwan itu, kemana?” lanjut Budi.
“Lah, kok malah temenan sama polwan?” tanya wanita itu setengah merajuk.
Braakkk
“Heh. Nggak usah banyak bacot, lu! Mending siapin aja kuburan lu!” gertak Sandi.
“Oh. Oke” jawab Budi. Seolah mengalah, namun masih cengengesan.
“Besok pagi, lu nggak bakal liat matahari lagi. Gua bakal pastiin itu” ancam Sandi.
“Terus? Lu mau ngawinin Adel? Udah nggak sama Luki kan, dia?”
“Apa?” seru wanita yang bersama Sandi.
“Jadi gitu lu mainnya, ha?” bentak wanita itu sambil menggebrak meja.
Petugas jaga berdatangan dan mengusir wanita itu. Budi sendiri masih cengengesan.
“Bang*** ”
Sandi berseru sambil melayangkan tinju ke arah Budi.
Pletak
“Aah”
Tapi tangan Sandi tidak sampai ke wajah Budi. Ada sesuatu yang menyambit tangannya.
Rupanya ada salah satu petugas jaga yang memainkan ketapel. Sebuah batu sebesar jempol sukses menyasar tangan Sandi.
Dan Sandipun digiring kembali masuk ke dalam tahanan. Tak seberapa lama kemudian muncul sepupunya Budi.
“Mas Eko. Apa kabar?” sapa Budi.
“Mau apa kamu kesini?” sahut mas Eko dengan nada kesal.
“Ada titipan dari mabes” jawab Budi sambil menyerahkan amplop coklat pada mas Eko.
Mendengar kata ‘mabes’, sepupunya itu langsung menerima amplop pemberian Budi. dia lantas mengambil isinya, lalu membacanya.
“Serius ini, Bud?” tanyanya.
“Ya serius, mas”
“Silakan berganti pakaian!”
__ADS_1
Suara seorang petugas, yang berada di belakangnya, membuat sepupu Budi itu menoleh.
Satu stel pakaian lengkap diacungkan petugas itu padanya. Dengan mata berkaca-kaca, sepupunya itu menerima pakaian pemberian sang petugas.
“Jangan lama-lama, mas! Sipir ini suka bercanda” kata Budi menggoda petugas itu.
“Oke” jawab mas Eko.
Keduanya langsung kembali ke balik tembok. Tak lama kemudian, mas Eko kembali muncul dengan pakaian bebas.
Diapun diantar ke depan, untuk mengurus berkas kebebasannya. Budi mengikuti dari belakang.
Proses pengurusan berkas itu tidaklah lama. Hanya tinggal tanda tangan saja. Setelah itu, mas Eko dipersilakan untuk pulang.
“Bapaaak”
Terdengar teriakan anak kecil dari arah parkiran.
“Ngger”
Mas Ekopun berlari menyongsong seorang bocah laki-laki yang berlari ke arahnya. Merekapun berpelukan.
Istrinya mas Eko juga sama. Dia berlari menyambut sang suami. Mereka bertiga berpelukan penuh keharuan. Budi dan Adelpun membiarkan mereka menumpahkan kerinduan.
“Mau makan dulu atau mau langsung pulang?” tanya Budi, setelah mereka selesai menumpahkan keharuan.
“Kamu mau kemana?” tanya mas Eko.
“Eh. Tapi kok sama mbak artis? Cewekmu kemana, Bud?” lanjut mas Eko, merujuk pada Erika.
“Eeem. Panjang ceritanya, mas. Yang pasti, Erika gugur saat bertempur ngelawan kartel narkoba itu” jawab Budi.
“Yap”
“Oh. Terus, sekarang balik sama mbak artis lagi?” kali ini mas Eko bertanya dengan gaya menggoda.
“Iya, mas. Kami udah nikah”
“Loh, kapan?”
“Kemarin lusa malaem, mas” jawab istrinya mas Eko.
“Dadakan. Aku pikir mbak Adelnya hamil. Eh, ternyata emang udah kesepakatan” lanjutnya.
“Wah. Perlu diinterogasi, ini. Kok mbak Adel main mau aja kamu nikahin malem-malem. Mencurigakan” komentar mas Eko sembari tergelak. Artinya dia hanya bercanda.
Mereka semua tertawa. Lantas mereka masuk ke dalam mobil dan langsung pergi menuju rumah mas Eko.
Sempat terjadi kehebohan sehubungan kedatangan mas Eko bersama Budi. tentunya juga karena ada Adel di sebelah Budi. Jadi ada dua topik pertanyaan yang membuat mereka berkerumun di depan rumah.
Sampai-sampai, ada petugas dari kelurahan yang datang membubarkan mereka, karena dilarang membuat kerumunan. Terlebih, ada yang tidak memakai masker.
Budi dan Adelpun langsung pamit, karena memang mereka ada acara di arjosari. Mas Eko sempat tidak mengerti apa yang Budi katakan. Karena memang banyak yang dia lewatkan selama berada di dalam tahanan. Namun dia mengiyakan saja saat Budi pamitan.
Tiba di gang menuju rumahnya, mobil yang mereka kendarai harus terhenti perjalanannya karena adanya kerumunan orang yang menutupi jalan. Mereka terlihat sedang ribut.
“Kaya pakde Kusno, Bram?” komentar Adel.
“Iya, Ta. Kenapa, ya?” sahut Budi. Budipun mengajak Adel untuk turun.
Rupanya pakde Kusno mengusir istrinya dari rumah. Dengan kata lain, pakde Kusno telah menalak bude Kusno. Keadaan riuh itu terjadi lantaran beberapa orang telah terlanjur setuju dengan ide bude Kusno untuk berinvestasi bahan bangunan.
__ADS_1
Sejumlah nominal cukup besar telah mereka transfer ke bude Kusno sebagai tabungan untuk dikemudian hari dibelanjakan bahan bangunan.
Namun disaat uang itu akan ditukar dengan bahan bangunan, barang yang dimaksud tidak boleh dikeluarkan. Karena pak Kusno tidak pernah diberitahu tentang tabungan mereka itu.
Pakde Kusno mengatakan kalau itu semua menjadi tanggung jawab bu Kusno. Dan kata pakde Kusno, wanita itu sekarang berganti nama kembali ke nama asalnya, Hetty. Karena pak Kusno sudah tidak menganggap si Hetty ini sebagai istrinya. Artinya, dia tidak mau mengganti sepeserpun uang yang telah dihabiskan si Hetty ini.
Sempat Hetty ini menuntut harta gono-gini. Dan pak Kusno mengatakan kalau tanah dan rumah yang ditempati orang tua Hetty, yang sekarang turun ke adik-adik Hetty, adalah miliknya. Kalau mau minta harta gono-gini, maka tanah dan rumah itu sudah cukup untuk membayar gono-gini tersebut.
Selanjutnya, pak Kusno masuk ke dalam rumah, dan tidak mau tahu dengan keadaan wanita yang kini telah diceraikannya itu. sekalipun banyak orang yang ingin memukulinya.
Beruntung ada petugas polisi yang datang melerai mereka. Saat petugas itu mengusulkan untuk berdiskusi di polsek, semuanya setuju.
Sesampainya dirumah, terlihat kesibukan yang lain dari biasanya. Ada Hanin dan juga Fitri yang membantu ibunya.
Adel sempat bercerita tentang bude Kusno tadi. Dan bu Ratih tampak terkejut mendengar berita itu. Sempat dia ingin menjenguk bude Kusno alias Hetty itu ke mapolsek, tapi saat melihat Budi, dia menjadi bimbang.
Dia berpikir, Budi pasti akan melarangnya. Tak ingin berdebat dengan putra sulungnya, bu Ratih mengurungkan keinginannya untuk menengok itu.
Budi sendiri sempat canggung saat bertemu dengan ibunya. Dia merasa bersalah, telah terlalu mengikuti egonya sendiri. Sempat beradu pandang, namun Budi segera menunduk. Dia merasa tidak berani menatap ibunya.
“Udah, nggak usah begitu!” tegur bu Ratih, sembari mendekati Budi. Sontak Budi langsung salim.
“Tolong ke rumah pak RT, ngger! Ibu belum kasih tahu pak RT, kalo kita akan kedatangan tamu”
“Urusan rumah udah aman, bu?” tanya Budi.
“Aman. Kan cuman silaturohmi biasa, ngger. Bukan tunangan yang pake upacara” jawab bu Ratih.
“Kenapa nggak sekalian pake upacara, bu? Kan Budi bisa panggilin si Hind, biar dibawain meriam” goda Budi.
“Dih. Dijawab serius malah selengehan” sungut bu Ratih.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa merasa berhasil menggoda ibunya.
“Ya udah. Budi ke pak RT dulu ya, bu?” pamit Budi sambil beranjak pergi.
Dia pergi ke arah barat dengan percaya dirinya. Bu Ratihpun beranjak kembali menuju rumah. Namun saat baru menginjak tangga pertama, Budi muncul lagi.
“Pak RT nya sekarang siapa ya, bu?” seru Budi. Sontak bu Ratih balik kanan.
“Ya masih pak Bejo lah, ngger. Baru juga setahun” seru bu Ratih heboh.
“Oh” respon Budi sambil tertawa geli.
Dari teras rumah, terdengar juga orang menertawai Budi. Ya, Stevani, Putri, Fitri dan Adel tertawa melihat kelakuan Budi. Bu Ratih ikut tertawa.
“Semalem kamu cekokin ya, Del? Oleng gitu?” goda Stevani pada Adel.
“Cekokin apa?” kilah Adel.
Stevani mendekatkan bibirnya pada telinga Adel, lalu membisikinya sesuatu.
“Dih” seru Adel heboh.
“Ha ha ha ha”
Stevani tertawa lepas sambil berlari kecil menuju ke dalam rumah. Sedangkan Budi sudah berjalan menuju rumah pak RT.
Beruntung pak RT sedang berada di rumah, walaupun nampaknya sudah bersiap untuk pergi.
Langsung saja, walau di tepi jalan, Budi menyampaikan amanah dari ibunya. Pak RT memberikan ijinnya, dengan beberapa catatan mengenai pembatasan jumlah orang di dalam rumah. dan skenario pengaturan posisi tamu. Sukses mendapatkan ijin, Budi berjalan kembali menuju rumah.
__ADS_1