
Karena Salma hanya mengantarnya sampai di depan pintu gedung penyidikan, Budipun melanjutkan perjalanannya sendirian. Dengan pikiran masih mengembara, Budi berjalan mantap menuju parkiran motor.
“Mas?”
Budi terkejut mendengar teguran dari arah depan.
“Adel?”
Lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang menegurnya. Bukan orang yang dia harapkan untuk datang di saat ini.
“Udah selesai mas, atau diskors dulu?” tanya Adel. Budi paham, yang dimaksud Adel adalah tentang pemeriksaan terhadap dirinya.
“Udah, Del” jawab Budi pendek.
Mereka sempat saling terdiam beberapa saat. Terutama Budi, dia masih merasa belum siap berinteraksi normal dengan Adel. Rasa ingin memiliki itu masih terlalu besar.
“Ada yang penting? Eh, ibu gimana?” tanya Budi, menyentakkan angan-angan Adel.
“Oh. Ibu, ibu udah kelar kok, mas. Eh, maksud aku, Putri udah kelar diperiksanya. Terakhir tadi, dia lagi ngobrol sama Madin, sama ibukku juga” jawab Adel.
“Alhamdulillah. Nggak keliatan stress kan mereka?”
“Alhamdulillah, enggak. Putri masih bisa bercanda kok, tadi”
“Syukurlah” komentar Budi lega.
“Terus, ada yang pentingkah, sampe nungguin aku di parkiran gini?” tanya Budi, kini langsung pada intinya.
Adel terdiam mendengar pertanyaan itu. Membuat Budi berpikir ulang tentang apa yang dia pikirkan sebelumnya.
“E, eh. Adel lagi mau ketemu sama siapa? Aduh, kegeeran banget jadi orang” ralat Budi, setelah Adel tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“He he. Emang mau ketemu mas Budi, sih” jawab Adel sembari tergelak.
Budi terpana. Kali ini dia tidak mampu menghalau rasa itu. Dia terhanyut dalam senyuman yang masih teramat indah di matanya.
“Ini, ibu nitip makanan buat mas Budi” lanjut Adel.
“Ibu siapa?” goda Budi. Dia sudah mulai hilang kompas.
“Ibunya mas Budi, lah. Bu ratih” jawab Adel.
Dia tersenyum senang, mendapat godaan, seperti dulu saat awal mereka dekat.
“Tapi aku udah makan, Del” kata Budi.
“Feeling seorang ibu, jarang meleset, mas. Orang tampang mas Budi juga masih galak begitu” sahut Adel.
“Emang kalo udah makan, tampangku gimana, Del?” tanya Budi.
“Bego” jawab Adel singkat. Budi terbelalak.
“Weh. Berani?” seru Budi, semabri mengulurkan tangannya.
“Aww” Adel berlari menghindar dari cubitan Budi.
“Ha ha ha ha”
Diapun tertawa, merasa berhasil menggoda Budi. Budi sendiri hanya geleng-geleng kepala.
Dia membuka kotak plastik tempat makanan itu. Menu sederhana. Hanya nasi, sayurnya capjay, lauknya sosis dan otak-otak yang disambal balado. Seketika nafsu makan Budi mulai tergelitik.
“Aku tahu, siapa yang masak ini” komentar Budi.
“Siapa?” tanya Adel.
“Adel, kan?” jawab Budi.
Adel tersenyum melihat Budi langsung melahap masakannya, setelah menjawab pertanyaannya.
Senyum itu semakin melebar, saat melihat Budi mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai isyarat kalau masakannya itu terasa lezat. Budi tidak bersuara lagi sampai makanan itu tandas, masuk semua ke dalam perutnya.
“Ini minumnya, mas”
Adel menyodorkan sebotol air mineral kemasan tanggung.
“Alhamdulillah”
Budi mengucap syukur atas nikmat yang masih berlanjut itu. Pas lapar, pas ada yang mengantar makanan. Pas tenggorokannya seret, pas ada minumannya.
__ADS_1
“Makasih ya, Del. Sederhana, tapi sesuai dengan selera. Lezat banget” komentar Budi.
“Sama-sama, mas” jawab Adel.
Wajahnya full senyum, mendapat pujian dari Budi. Hatinya kembali berbunga-bunga.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Ponsel Budi berdering. Membuat perhatian Budi teralihkan. Ternyata telepon dari Farah. Budi diminta segera kembali ke kantor.
“Del. Wadahnya aku bawa dulu, ya? Aku cuci dulu” kata Budi seusai menerima telepon.
“Nggak usah, mas. Biar Adel aja” tolak Adel.
“Lah, orang aku yang makan, kok. Ya aku yang harus nyuci. Mana udah dibawain kesini juga”
“Belum saatnya, mas” tolak Adel.
Budi terkesiap mendengar ucapan Adel. pikirannya mengembara, membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya dia bayangkan saat ini.
“Emm, ya sudah kalo gitu. Tapi, aku harus balik ke pabrik” kata Budi mengalah.
“Iya, nggak papa. Adel juga mau balik ke rumah sakit” jawab Adel agak tergagap.
“Makasih ya Del, udah mau repot-repot bawain makanan buat aku”
“Sama-sama, mas. Ati-ati ke kantornya!”
“Kamu juga, ati-ati di jalan!” jawab Budi.
Merekapun berpisah di parkiran itu. Sengaja Budi tidak menyalami Adel, karena kesadarannya sudah mulai kembali berkuasa. Rasa sakit di hatinya mulai timbul.
Di pabrik, rupanya rencana pembuatan jalur masker sudah mulai dilaksanakan. Duo marketing vendor, Sumarni dan Ina kembali berkunjung. Bersama Budi dan pak Paul, mereka berbincang secara teknis.
Pak Supri menyerahkan data personel yang akan dilatih untuk menjadi operator pengawak jalur masker. Budi menyatakan setuju, saat pak Paul menanyakan pendapatnya.
“Bud. tolong kamu pantau progresnya, ya! aku mau ke rumah sakit dulu” pinta pak Paul.
“Siap, pak” jawab Budi sambil tersenyum.
“Dari kemarin aku sibuk mulu, Bud. Kalo nggak nyempatin waktu, nggak bakalan sempat” komentar pak Paul.
Senyumnya semakin lebar. Seolah menggoda atasannya itu.
Sepeninggal pak Paul, Budi langsung memeriksa kondisi tim anyaman. Bersama Riki dan bu Tami, dia mengkoordinasikan tim anyaman. Pengaturan ulang jalur, agar tetap bisa maksimal meski harus berbagi ruang dengan jalur masker.
“Udah ganteng, atletis, pinter lagi”
“Ngomongin Budi, ya?”
Yulfiana alias Ina, tersenyum tersipu, mendapati gumamannya didengar rekan kerjanya. Sambil terus mengkoordinasikan rekan-rekannya, Ina terus saja mencuri-curi pandang ke arah Budi. Dan sesekali dia pura-pura bertanya, sekedar untuk menarik perhatian Budi.
Karena merasa bertanggung jawab penuh atas jalur itu, sudah pasti Budi menjawab semua pertanyaan Ina. Dari yang sangat teknis sampai yang sangat sepele sekalipun. Semata-mata karena dia tidak ingin ada kegagalan dalam proses instalasi mesin produksi itu.
Saking fokusnya Budi mengawal instalasi itu, tak terasa bel tanda pulangpun berbunyi. Beruntungnya, instalasi mesin itu sudah selesai. Tinggal uji coba saja. Dan dengan persetujuan pak Paul, uji cobanya akan dilaksanakan keesokan harinya.
“Mbak Ina, mbak Marni, nginep dimana?” tanya Budi, saat hendak meninggalkan pabrik.
“Oh. Kami nginep di hotel itu mas, yang deket alun-alun” jawab Ina.
“Oh, di situ” komentar Budi, pendek.
“Deket ya, sama rumah mas Budi?” tanya Ina.
“Oh, masih jauh, mbak. Mau maen, emang?” jawab Budi sekalian menggoda.
“Kalo boleh” jawab Ina.
“Aduh”
Ina mengaduh, karena mendapat cubitan dari Sumarni.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
“Sayangnya kita masih di rumah sakit, mbak. Adikku belum diijinkan pulang”
“Eh. Maaf, mas. Bukan bermaksud lancang. Saya lupa” kata Ina, menyadari kekeliruannya.
“Nggak papa, mbak Ina” jawab Budi.
__ADS_1
“Kalo begitu, kami duluan ya, mas Budi” kata Sumarni, memotong pembicaraan Budi dan Ina. Sontak Ina melotot.
“Siap. Teriamakasih atas effortnya seharian ini” jawab Budi.
“Sama-sama, mas. Assalamu’alaikum” kata Sumarni.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Baru juga Ina melangkahkan kakinya, ponsel Budi sudah berdering. Membuat Ina menoleh ke belakang.
“Halo. Udah sampe, Ka?” tanya Budi, begitu dia menerima panggilan itu.
“Wa’alaikum salam” kata Erika dari seberang telepon.
“He he” Budi tergelak, sambil garuk-garuk kepala. Sindiran yang pas pada sasarannya.
“Assalamu’alaikum, cantik” kata Budi memberikan salam.
Sumarni tergelak mendapati rekan kerjanya tampak cemburu mendengar Budi memberikan salam manja pada seseorang yang berada di seberang telepon.
“Wa’alaikum salam, ganteng” jawab Erika.
“Udah nyampe rumah, ka?” tanya Budi.
“Udah. Capek banget, mas” jawab Erika.
“Yah. Baru juga jogja. Gimana kalo sampe bali?” komentar Budi.
“Asal sama mas Budi, hayu aja” sahut Erika.
“Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar jawaban Erika.
“Masih kerja, mas?” tanya Erika.
“Udah kelar. Tadi instal mesin buat produksi masker. Aku sih, mandor doang” jawab Budi.
“Wow. Cepet dong. Kapan running” komentar Erika.
“Rencananya sih, besok”
“Kalo ke rumahku?” goda Erika.
“Heem. Aku cek kondisi Putri dulu, ya? Tadi abis diperiksa penyidik”
“Oh. Terus gimana, mas? Eh. Kabarnya semalem Sandi ditangkap, ya? Aku lupa mau nanyain itu”
“Iya. Dia beritanya sih, gitu” jawab Budi.
“Terus, Putri gimana, mas?”
“Ya belum tahu. Kan tadi aku nggak bisa masuk ruang rawat. Makanya mau cek dulu”
“Oh. Ya udah kalo gitu. Aku rehat bentar ya, mas? Capek banget, bener”
“Iya. Jangan maksain. Bisa entar malem, apa besok, nengoknya”
“Mas Budi juga, jangan maksa, ya! Kalo emang Putri belum bisa ditinggal, besok aja maennya. Masih ada waktu lima hari, kok”
“Iya, Ka” jawab Budi.
“Ya udah, mas. Sori ya, udah bikin mas khawatir"
“Nggak papa. Istirahat yang cukup, ya! Kabarin kalo udah siap makan martabak!”
“Ha ha ha. Iya. Cocok tuh. Abis bangun tidur, kayaknya bakal laper. Boleh juga diganjel sama martabak”
“Ya udah. Aku ke rumah sakit dulu, ya?” pamit Budi.
“Iya, mas. Ati-ati, ya!” Sahut Erika.
“Iya. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
*Tuuut*
Selepas menerima telepon, Budi segera balik kanan. Dia kembali ke kantornya untuk beberes. Terlihat sudah lengang kantor utama ini. Berkas laporan yang belum selesai dia input dia bawa untuk dikerjakan di luar kantor.
__ADS_1