Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ketahuan sama adel


__ADS_3

Hari ini Budi benar-benar sibuk. Dia mengetatkan jadwalnya. Memaksa untuk lebih mendisiplinkan diri. Ibarat kata, tidak satu detikpun dia biarkan berlalu tanpa mengerjakan sesuatu.


Beberapa pekerjaan bahkan dia delegasikan kepada Aldo. Dia tak peduli apa tanggapan Aldo. Dia menargetkan untuk bisa menyelesaikan semua pekerjaannya tanpa harus over time.


Semua yang pekerjaannya terhubung dengan Budi, saling bertanya-tanya. Hampir tidak ada basa-basi semenjak pagi. Dimana Budi berada, inti masalahnyalah yang langsung dia katakan. Hanya Erika yang tahu. Dan dia hanya tersenyum saja saat yang lain kebingungan.


Sikapnya itu menimbulkan kasak-kusuk diantara karyawan kantor. Bukannya tidak tahu, Budi sebenarnya mendengar kalau dia diisukan ada sesuatu dengan Erika. Tapi dia cuek saja. Dia ingin pulang lebih awal, menghindari kejadian semalam terulang lagi.


Usaha memang tidak menghianati hasil. Disiplin ketat yang dia terapkan semenjak pagi, membuahkan hasil. Berbagai tugas yang dia emban bisa selesai nyaris bersamaan. Dia bersyukur, Aldo mau membantu menangani pekerjaannya, persis seperti apa yang dia instruksikan. Pun begitu dengan Riki, sesibuk apapun dia di lapangan, dia bisa menyelesaikan tugas papernya jauh lebih awal. Sehingga dia bisa mengerjakan bagiannya juga lebih awal. Bahkan setelah selalu direcoki Farah, berkaitan dengan progres tim Ekspo.


Begitu bel berbunyi, Budi langsung beres-beres. Dia meninggalkan catatan di meja kerja Erika. Dia langsung menuju watu karung untuk beristirahat melepas penat.


Tapi sesampainya di sana dia terkejut, ternyata sudah terparkir motor matic yang serupa dengan miliknya. Stiker berwarna putih di bagian depan motor itu menyatakan dengan jelas siapa pemiliknya.


“Eh, Bram. Udah pulang?”


Sebuah sapaan dari arah belakangnya, sontak membuatnya memutar tubuh. Dadanya bergemuruh saat wajah cantik tanpa make up itu tersenyum padanya.


“Ta?” sahutnya.


Rasa bersalah itu membuatnya takut untuk berdekatan dengan kekasihnya sendiri. Semakin bergemuruh dadanya seiring berkurangnya jarak dengan pemilik wajah ayu itu. Bahkan dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri.


“Tumben udah di sini? Udah pulang apa belum, sebenernya? Apa abis meeting?” tanya Adel sambil salim dan mencium tangan Budi.


“Udah pulang, Ta. Nggak seneng, ya? Kok ditumbenin” jawab Budi mencoba tersenyum.


“Ya seneng, lah. Seneng banget, malah. Akhir-akhir ini kan susah banget mau ketemu abram sore-sore begini” sahut Adel.


“Ha ha ha”


Budi tergelak mendengar jawaban Adel. Tapi tawanya terdengar aneh di telinga Adel. Dia merangkul Adel, lalu diajaknya dia naik ke galeri.


“Abram juga pengen kali, pulang normal. Pulang malem terus, horor” kata Budi. Adel menoleh sambil tersenyum.


*Iya, horor. Orang ada setan cantik sekantor sama Abram. Pasti dia ganjen deh. Belum lagi dia atasan Abram. Pasti Abram pulang malem terus juga karena akal-akalan dia aja*.


“Gimana progress hari ini?” tanya Budi.


“Ha?”


Adel terkejut mendengar pertanyaan Budi. Dia tidak sepenuhnya mendengar ucapan yang baru saja dikatakan Budi.


“Progress” kata Budi sambil menunjuk buku catatan harian.


*Tata tahu, ada sesuatu sama Abram. Nggak perlu cari momen, Bram! Kalo mau jujur, jujur aja sekarang! Toh dari tadi pagi Abram nggak berusaha boong*.


Melihat Adel tidak menjawab pertanyaannya, Budi yang awalnya fokus membaca catatan, jadi menoleh lagi.


Tatapan mata Adel, bagaikan laser pointer dari senapan sniper yang mengarah tepat ke jantungnya. Budi menyadari kalau sebenarnya Adel sudah membaca gelagatnya yang tidak biasa. Hanya saja belum berani untuk menanyakan secara gamblang.


“Ma, ma, maafin Abram, ta!” kata Budi memecah keheningan.


Wajah Adel berubah merah padam, dan matanya melotot. Budi semakin takut karena rasa bersalahnya itu. Dia sedang menyiapkan hati untuk menerima kemarahan Adel.


“Huufffttt”


Adel menghela nafas berat. Wajahnya yang memerah berangsur-angsur memutih. Kembali ke normalnya dia. Budi malah bingung, karena kemudian Adel malah tersenyum.


“Tata bikinin kopi dulu, ya?” tawar Adel. Dia sentuh lengan Budi, lalu balik kanan tanpa menunggu jawaban.


“Nggak usah!” seru Budi. Sontak membuat Adel berhenti dan memutar badan.


“Kenapa, Bram?” tanya Adel bingung.


“Oh”


Budi malah bingung sendiri. Dia ingin mengatakan kalau dirinya trauma dengan kopi. Karena sampai saat ini, kopi selalu mengingatkannya pada kekhilafan kemarin malam. Ditambah lagi ingatan tentang kekhilafan sebelumnya bersama Stevani.


“Eeem, teh aja” lanjut Budi.


“Oh” respon Adel pendek sambil tersenyum.


Dia lalu menghilang di balik dinding gedek galeri. Sembari menunggu, Budi kembali mengalihkan pikirannya dengan membaca catatan-catatan yang dibuat Adel. Dia mengangguk-angguk karena merasa kalau sejauh ini semuanya berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.


“Bram”


Sapaan itu mengalihkan perhatiannya. Adel datang membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.


“Sambil duduk di tangga, yuk!” ajak Adel.


Budi malah tertegun. Rasa takut kehilangan itu belum hilang. Masih terus membuat jantungnya berdegup kencang.


“Tata bawa kesitu, ya? Yuk!” tawar Adel, menyadari sodorannya tidak bersambut.


“Oh, ya” jawab Budi.


Senyum Budi sangat terlihat dipaksakan di mata Adel. Dia mendahului Budi berjalan ke tepi tangga. Budi mengikuti dan duduk di sebelah Adel.


“Diminum bulu, Bram, biar tenang!” saran Adel.


“Tenang?” tanya Budi. Adel bingung ditanya begitu. Tapi dia tersenyum.


“Ya. Jantung Abram kenceng banget degupnya. Tadi ampe kedengeran pas Tata nyender” jawab Adel.

__ADS_1


“Oh, iya” sahut Budi.


Dia menerima gelas yang disodorkan Adel. Sejenak dia memandangi gelas itu. dia kembali teringat dengan kopi buatan Erika. sudah dua kali dia merasakan panas dingin setiap kali minum kopi buatan Erika. Beruntung yang pertama dulu dia berhasil menahan diri.


“Makasih ya, Bram” celetuk Adel.


“Hem?”


Ucapan itu sontak mengejutkan Budi. Ucapan itu ambigu, ada dua makna yang terbaca oleh Budi. Satu makna diantaranya adalah makna yang sangat dia takuti, ucapan perpisahan.


“Terimakasih, Abram mau jujur sama Tata” lanjut Adel.


“A, a, a, abram, abram belum, belum, belum ngomong apa-apa, Ta” kata Budi tergagap.


“Sikap Abram udah nyeritain banyak hal, Bram” jawab Adel.


Budi tidak bisa menjawab. Hanya mulutnya membuka dan menutup. Tapi tak ada satu katapun yang terucap.


“Ya, Tata emang marah sama Abram. Abram tega sama Tata” lanjut Adel.


“Ta. Itu, itu, itu”


“Iya, Bram. Tata tahu”


“Tahu?”


“Ya. Tata udah bisa nebak, apa yang terjadi sama Abram” jawab Adel. Budi semakin speechless.


“Erika emang suka sama Abram” lanjut Adel.


“Hem?” Budi tersentak mendengar kalimat itu.


“Tata juga baru inget”


“Kapan dia bilang?” tanya Budi. Adel menoleh dengan tatapan tajam. Pertanyaan itu ternyata berarti lain buatnya.


“Maksud Abram, kan selama ini dia tahunya Abram ini cowoknya Tata. Sedangkan Tata sahabatnya dia. Segamblang itukah?” lanjut Budi menjelaskan maksudnya. Adel masih menatap tajam padanya beberapa saat.


“Udah lama, sih. Tata masih sekolah” jawab Adel.


“Eemm”


Budi tampak mengingat-ingat wajah Erika. Tapi dia tidak merasa pernah bertemu dengan dia sebelum di PRAM.


“Dia pernah cerita sama Tata kalo dia abis ketemu cowok. Dia bilang cowok itu ganteng, macho, powerfull, sampe yang vulgar-vulgar gitu” kata Adel. Budi tidak menyahut. Dia masih memposisikan diri sebagai pendengar.


“Tahunya itu Abram?”


“Tata udah sama Sandi, ya?”


“Ya belum, lah. Kan Tata kenal mas Sandi, Abram udah merantau”


“Iya, ding. Bego” komentar Budi mengatai dirinya sendiri.


“Sampe lupa, berapa bulan dia cerita begitu sama Tata. Dia liat Abram di jalan juga, dia ceritain. Liat Abram buka baju aja, fantasi dia udah kemana-mana. Abis Abram dulu buat bahan Fantasi dia”


“Hempf. Dia? Punya fantasi? Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar kata Fantasi disebut Adel.


“Emang kenapa, Bram?” gantian Adel yang bingung.


“Segalak itu, sejudes itu, yang cuek, yang nggak mau tahu, punya fantasi?”


“Nah kan, ketipu, kan” komentar Adel.


“Maksudnya?”


“Kalo orang yang belum kenal, emang dia terkesan begitu. Tapi aslinya dia itu badung banget, Bram. Liar”


“Ha ha ha ha. Nggak percaya” komentar Budi.


“Tata udah sering dulu, nginep di rumahnya. Jadi Tata tahu banyak tentang dia. Jarang banget dia pake baju. Tanktopan ada udah syukur”


“Nggak diomelin ortunya?”


“Yah, Bram. Di rumah juga cuman berapa jam. Mana liat aslinya Rika kaya apa”


“Heem. Pantes” komentar Budi.


“Nah, kan. Bener kan tebakan Tata?”


Tatapan mata Adel yang kembali tajam, sontak membuat Budi terkesiap. Dia masih bingung dengan perubahan sikap Adel yang begitu cepat. Belum sedetik dia tampak ramah, sekarang sudah marah lagi.


“Maksud Tata?” tanya Budi hati-hati.


Adel masih menatap tajam Budi. seolah ingin mendamprat atau bahkan memaki-maki Budi. Tapi tak ada satu patah katapun yang keluar dari bibir tipisnya. Perang batin seperti ini justru lebih memusingkan bagi Budi.


“Erika pasti copot baju di kantor” jawab Erika sambil mengalihkan pandangannya.


Budi terkesiap. Tebakan yang sangat jitu. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia belum punya gambaran, darimana Adel bisa menebak sejitu itu.


“Pastinya Tata kalah jauh kan, Bram?” tanya Adel.


“Ta, “

__ADS_1


“Belum lagi Abram kaya ketakutan pas Tata tawarin kopi” potong Adel. Tatapan itu masih saja tajam.


“Kok Abram segampang itu mau dicekokin sama dia? Apa Abram nyaman ada di dekat Erika?” lanjut Adel.


“Ta, kopi itu masih sebatas dugaan aja. Abram belum punya buktinya. Tahu bener, tahu salah. Abram kenal dia juga setelah masuk PRAM. Bedanya apa sama mbak Isma, mbak Farah, Marsya?” jawab Budi disambung pertanyaan. Gantian Adel yang terkesiap.


“Tapi Vani ternyata sejahat itu, Bram” kata Adel.


“Hem? Oh, ya. abram juga nggak abis pikir” jawab Budi. Dia baru menyadari, kalau siapapun sebenarnya bisa menjadi musuh dalam selimut.


“Berapa kali abram dibikinin kopi sama dia?” tanya Adel.


“Dua kali” jawab Budi.


Adel kembali menatap lekat mata Budi. Tapi tatapannya kali ini tidak setajam tadi. Lebih terkesan kosong, malah.


“Makasih ya Bram, Abram udah mau kerja keras demi ngehindar dari dia” kata Adel. Budi mengernyitkan dahinya.


“Makasih juga, udah nempatin Tata di posisi tinggi” lanjut Adel.


“Ta, mending tonjokin aja deh, muka Abram! Ketimbang ngomong begitu. Serem” sahut Budi.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Adel tergelak. serta merta dia majukan tubuhnya dam memeluk tubuh tubuh kekasihnya itu.


“Rasa takut yang Abram tunjukin, udah lebih dari cukup buat Tata” kata Adel setengah berbisik.


“Ta, please! Ini belum tuntas buat Abram. Abram ini spesialis kontak fisik, bukan perang batin”


“Ha ha ha ha” Adel tergelak lagi. Beberapa saat kemudian, dia lepaskan pelukannya.


“Oke, oke. Kalo emang itu yang Abram mau, siap-siap ya!” kata Adel.


“Oh, ya. Pasti. Lampiasin semuanya, Ta! Jangan ada yang nyisa!” jawab Budi.


“Bukan tonjokan, Bram. Tata cuman mau nanya satu hal. Tolong jawab dengan jujur!” sahut Adel. Sontak raut wajah Budi berubah tegang lagi.


“Kemarin udah ngapain aja sama Erika?” tanya Adel tanpa basa-basi.


*JEDEEERRR*


Bagai disambar petir, Budi terkejut mendengar pertanyaan itu.


“Paling pol, gini doang” jawab Budi. Dia membuat gerakan tangan naik-turun.


“What? Masa?”


“Mau disumpah model apa juga Abram siap” jawab Budi menunjukkan kesungguhan jawabannya.


“Apa perlu Abram bawa nama Tuhan di sini?” lanjutnya, karena Adel masih tertawa.


“Bram?” tata terkesiap melihat tatapan mata Budi yang berubah tegas.


“Bayangan Tata nongol saat Abram bener-bener lepas kendali. Abram jadi bisa mikir, sekalipun syahwat abram udah diubun-ubun. Kalo harus pergi sama sekali, semalam abram gagal. Rasanya berlipat-lipat kali lebih sangar dari pada sebelumnya, yang pas Tata maen ke rumah sama Madin. Rasanya kaya orang mau cepirit. Nggak bisa ditahan” kata Budi menjelaskan.


“Alhamdulillah” komentar Adel.


“Kok?” Budi bingung dengan reaksi Adel.


“Tata udah mikir aja kalo Abram udah sampe gituan sama Erika” jawab Adel.


“Demi apapun Ta, Abram nggak ngelakuin itu” sahut Budi. Dia membuat dua tanda swear dengan kedua tangannya.


“Iya, Tata percaya” jawab Adel.


Untuk beberapa saat, mereka saling memandang. Budi tampak mencari kebenaran dari kata-kata Adel di bola mata indah itu.


“Ada apa, kang?” seru Adel. Sontak Budi menoleh ke belakang. Tapi tidak ada siapa-siapa. Dia balik lagi menoleh ke arah Adel.


*PLAAAKK*


Tanpa dia duga, sebuah tamparan telak mendarat di pipinya. Belum sempat dia bertanya, Adel telah lebih dulu memajukan tubuhnya, lalu memeluknya lagi. Tangisnya pecah di pundak Budi.


Bukannya marah, Budi justru merasa lega. Akhirnya Adel mau juga melampiaskan emosinya. Tidak sekedar memaafkan tapi masih punya ganjalan di hatinya. Tangis itu semakin menjadi tatkala Budi merespon pelukan itu dengan pelukan pula.


Budi merasa, kalau Adel sedang memaki-maki dan merutukinya dalam tangis itu. Apapun itu, biarlah! Memang pantas rutukan dan makian itu dialamatkan padanya. Begitu pikir Budi.


“Entar dulu, Jo!”


Sebuah suara pelan mengejutkan keduanya. Kang Supri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saat keduanya menoleh ke arahnya. Di belakangnya, kang Bejo muncul dari balik pintu masuk.


“Eh. Udah mau balik, kang?” tanya Adel. Dia tidak berusaha menyembunyikan air matanya. Dia seka air mata itu dengan gerakan pelan.


“Ya begitu, mbak. Tadinya mau laporan, tapi,” kalimat kang Supri menggantung.


“Oh, iya” sahut Adel.


“Bram, liat dulu yuk! Kali ada masukan dari Abram” ajak Adel.


“Oke” jawab Budi.


Mereka berdua lantas berdiri dan berjalan masuk ke dalam galeri. Budi sempat memperhatikan produk-produk kerajinan tangannya yang sudah jadi. Yang sudah dipajang di rak dengan wadah pelindung dari akrilik. Tak ada yang salah sejauh ini. Tanpa berkomentar dia melanjutkan perjalanan menuju bengkel yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2