
“Kamu yang nyetir!” perintah Budi.
“Hemm. Oke, deh” jawab Erika.
Budi tak menggubris nada keberatan dari Erika. Dia langsung mengambil posisi di kiri, dan menempatkan senapannya pada posisi yang nyaman.
Ciiiit
Erika langsung tancap gas. Mobil berguncang-guncang karena melibas semak belukar dan tanah tidak rata. Dia memutar menuju bagian belakang dari pasukan yang turun dari helikopter tadi.
Ngeeeenggg
DAR DAR DAR DAR DAR
Terdengar sara tembakan dari arah parkiran galeri. Ternayata si Cobra dan Hind telah beraksi.
Dengan motor mereka mencoba mengalihkan perhatian para pasukan itu. Bebrapa dari mereka yang bersembunyi di pepohonan langsung menyambut tembakan Cobra. Jual beli tembakan pun terjadi. Tapi belum ada yang tumbang.
TAAKK
“AAAA”
Senapan berperedam suara milik Budi langsung memakan korban. Satu orang tergeletak, setelah peluru Budi menyerang lehernya.
BRATAK BRATAK BRATAK BRATAK
“AAAAWW”
Mobil Adel langsung dihujani tembakan oleh rekan korban Budi. Erika membanting stir, masuk ke semak-semak dan pepohonan, menghindari tembakan gencar itu.
TAK TAK TAK TAK TAK TAK
Budi kembali menembakkan amunisinya. Tampak musuh mereka kocar-kacir mendapat sambutan dari berbagai arah.
“AWAS GRANAAT!” teriak Budi.
Ciiiiittt
DUAAARRR
“AAAWW”
Mobil Adel sempat terlempar beberapa meter dari tanah, karena granat yang dihindari Erika, ternyata mengenai sebuah batu besar dan justru masuk ke bawah mobil itu.
“Kamu nggak papa, Ka?” tanya Budi.
Ledakan granat itu membuat lantai mobil Adel bagian belakang berlubang.
“Nggak papa, mas” jawab Erika.
Ciiiitt
Erika melajukan lagi mobil Adel. Dan mereka kembali ke garis depan, membabat para tentara sewaan itu.
Sreet
“Hem?”
Budi kaget, merasakan ada yang tertarik dari saku celananya.
DARRR
Ternyata pistolnya yang hilang, ditarik Erika. Dengan tangan kiri, Erika mengarahkan pistol itu pada salah satu musuh. Head shot.
Breeemmmm ciiiitttt nguuuung
TAK TAK TAK TAK TAK
Budi mengumbar beberapa peluru ke semak-semak. Tapi tak kunjung ada teriakan.
“RPG” teriaknya.
SUOOOSS
Suara rocket propelled grenade meluncur dari selongsongnya.
NGUUUUUNNG CIIIIIITTT
Erika banting stir ke kiri dan drifting.
Ngiiikk
Erika menurunkan kedua kaca jendela pintu belakang.
Wussss
Berhasil. RPG itu hanya lewat begitu saja tanpa hambatan.
DUAARRRRR
Tapi naas buat galeri Budi. Seisi galeri hancur berkeping-keping, RPG itu menghantam tembok depan galery.
“Astaghfirulloh” keluh Budi penuh Emosi.
__ADS_1
Apa yang menjadi jerih payahnya selama ini hancur dalam hitungan detik.
BRUUUMMMM CIIIIIITTTT
Budi terkejut saat Erika tancap gas tanpa peringatan.
DAARRR
Erika mengarahkan pistol di tangan kirinya ke RPG gunner yang mengincarnya tadi. Walau tidak langsung mati, tapi prajurit itu tumbang. Dia harus ditarik rekannya bersembunyi di balik pohon.
NGUUUUUUNGG
DAR DAR DAR DAR
Erika melajukan mobil Adel menjauh dari kancah adu tembak. Dia ingin mengincar snipernya.
“Phia. Komputer lu masih nyala, nggak?” seru Erika.
“Ancur, Ka. Ini gua ama Gator dijalan buntu” jawab Sephia dari walky talky.
“Astaga” keluh Erika.
“Si kunyuk musuhnya petir dimana, ini?” lanjut Erika.
TAK TAK TAK TAK TAK TAK
TARRR
“AWW”
Erika terkejut, kaca pintu belakang-kanan, pecah dihajar peluru.
DAARRR
Erika membalas tembakan itu. Walau tak yakin juga dengan perkenaannya.
DAR DAR DAR DAR
TAK TAK TAK TAK TAK TAK
Tentara yang disewa itu masih gencar melakukan serangan. Begitupun dengan Cobra dan kawan-kawan.
Gesitnya pergerakan mereka memperlihatkan perbedaan kemampuan yang mencolok. Sudah setengah regu dari tentara itu yang tewas. Sedangkan Budi dan yang lain, masih belum ada yang terluka.
BEEEERRRRRRRTTTT
“AAA”
CIIIITTTTT
Nguuuuuung weeeerrr
“Astaga. Mas. helinya balik” seru Erika tak percaya.
“Jalan, Ka!” sahut Budi dengan berseru juga.
Cit cit cit cit
Ban mobil Adel berdecit, saat Erika tancap gas. Helikopter itu balik kanan dan mengejar mereka.
“Petir. Lu dimana?” tanya Budi.
“Ngincer helinya, mas” jawab Petir.
“Buruan! Dia ngincer gua” seru Budi.
BEEEERRRRRRRTTTT
Halikopter tanpa kanopi itu kembali memuntahkan pelurunya. Membuat Adel harus menyembunyikan tubuhnya di balik sandaran jok.
BRATAK BRATAK BRATAK BRATAK
“AWWW”
Beberapa bagian atap mobil Adel berlubang ditembus peluru.
“Ke selatan, Ka! Kita ke SMB belakang! Masih ada pelurunya”
CIT CIT CIT CIT
Grudak grudak grudak
Erika sudah tidak peduli lagi dengan bentuk mobil Adel. Tidak tersambar peluru kaliber tiga puluh mili itu saja sudah untung.
Dia terus melaju melewati jalan setapak menuju hutan kecil di belakang bengkel kayu. Di anatara pepohonan saja, helikopter itu masih bisa memantau pergerakannya. Dan terus mengejarnya.
“PETIRRR” teriak Budi.
“Engine covernya lapis baja bos. Ini pindah posisi dulu” jawab Petir.
BEEEERRRRRRRTTTT
CIIIIITTT
__ADS_1
Erika banting setir ke kanan, saat helikopter itu membuntuti sambil memuntahkan peluru.
Grudak grudak grudak
Jalan yang seharusnya hanya dipakai untuk jalan kaki, kini dia terabas dengan mobil. Tentu saja mobilnya berguncang-guncang tak karuan.
BEEEERRRRRRRTTTT
Pohon-pohon muda bukanlah halangan berarti buat peluru meriam tiga pulih mili meter milik helikopter serbu itu. Beberapa pohon langsung tumbang dan roboh diterjang beberapa butir peluru itu.
CIIIIITTT
Nguuuuuung
Grudak grudak grudak
Erika terus meliuk-liuk diantara pepohonan. Sedangkan Budi terus berusaha mengincar pilot helikopter itu, walau hampir mustahil untuk melakukannya.
“AWAAAASSS!” teriak Erika.
Nguuuuuung
Mobil yang mereka kendarai terbang melayang menuju halaman belakang bengkel kayu Budi.
BRUAAAKKK
“AWWW”
CIIIIITTT
Braakk
“Aauhhh”
“Ka. Kamu nggak papa, sayang?” tanya Budi, melihat Erika mengaduh.
“Buruan! Aku nggak papa” sergah Erika, saat Budi hendak memeriksa tangannya.
Budipun langsung keluar dari dalam mobil.
Nguuuuuung
CIIIIITTT
“KA?”
Budi kaget, tiba-tiba Erika tancap gas tanpa pamit.
“BURUAN! Malah bengong”
Suara Erika di handy talky mengejutkan Budi. Sekarang dia paham. Erika sengaja mengumpankan dirinya agar Budi bisa menyasar helikopter itu.
Budipun berlari ke senapan mesin berat yang ada di luar, pindahan dari gerbang kiri.
Dia lepaskan kabel fire control system, dan beralih ke kontrol manual.
Berat, itulah yang Budi rasakan. Karena dia belum terlatih untuk menggunakan senapan mesin itu. Tapi sekuat tenaga dia berusaha mentargetkan si helikopter serbu.
Debu tampak beterbangan di timurnya jalan buntu. Bersamaan dengan munculnya bunga api dari moncong meriam si heli serbu. Tak lama kemudian, muncullah mobil Adel dengan kecepatan tinggi. Budi mengambil nafas.
BEEEERRRRRRRTTTT
Sekali masuk dalam jaring bidiknya, tanpa ampun Budi menyasar kedua pilotnya.
BEEEERRRRRRRTTTT
Helikopter itu masih terus melaju, meski kini mulai oleng
BEEEERRRRRRRTTTT
DUAAAARRRR
Kali ini terdengar ledakan keras diiringi getaran yang terasa sampai ke badan. Helikopter itu diselimuti api, dan melayang turun sambil berputar-putar tak terkendali.
BRUUAAAAAKKKK
DUAAAARRRR
Ledakan yang lebih keras muncul setelah heli serbu itu menghujam tanah dengan kerasnya. Mungkin sisa bahan bakarnya masih cukup banyak, sehingga langsung meledak.
Bola api raksasa membumbung tinggi bagaikan ledakan bom berdaya ledak tinggi.
“Yuhuuu”
Terdengar suara Hind bersorak dari walky talky. Budi tersadar, masih ada musuh yang harus dibereskan.
“Ka” tegur Budi, sambil menghampiri Erika.
“Kamu nggak papa, sayang?” lanut Budi.
Erika yang tadi juga terpana dengan kejatuhan heli serbu itu, tersentak. Setelah tahu yang bertanya itu kekasihnya, Erika sontak memeluknya. Budi bingung dengan sikap Erika. Entah takut atau apa yang sedang dirasakannya.
“Masih ada yang harus kita basmi, sayang”
__ADS_1
BEEEERRRRRRRTTTT
“Astaga”