Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
perjalanan menuju sasaran


__ADS_3

Nungki mundur dari meja komando. Dia keluar dan tampak menelepon seseorang. si Cobra kembali berdiskusi dengan rekan-rekannya. Sedangkan Budi, kembali menatap Erika.


Erika bingung ditatap sebegitu rupa oleh Budi. Seakan-akan banyak sekali pertanyaan yang akan dilontarkan Budi padanya. Tak lama kemudian, Nungki kembali lagi.


“Yang udah fix, lima orang. Bantuan dari densus delapan-delapan”


“Wow” komentar Budi.


“Buat yang satu SSK, masih terganjal ijin. Banyak banget orangnya Bejo di mabes” lanjut Nungki.


“Hem. Boleh juga tu orang. Mafia, tapi otaknya politikus. Gokil” komentar Hind.


“Terus, gimana?”


“Orangnya dimana? Bisa dipanggil kemari?” tanya Cobra.


“Bisa”


“Sip. Panggil kemari! Kita satukan pikiran” perintah Cobra.


“Oke”


Nungki melakukan panggilan lagi. Dia bilang butuh lima atau sepuluh menit untuk bisa sampai di tempat ini. Semuanya memaklumi.


Jeda waktu itu dimanfaatkan si Cobra untuk memantau kondisi di tempat tujuan. Dia meminta Sephia untuk memindai lalu lintas komunikasi dari tempat itu.


Ternyata belum ada peningkatan kewaspadaan yang signifikan. Itu yang membuat si Cobra bingung. Apa si Bejo tidak tahu, kalau Zulfikar sedang dalam perjalanan menyerangnya, atau dia merasa jauh lebih kuat, sehingga tenang-tenang saja? Apa si Zulfikar berbohong, saat mengatakan akan menyerang si Bejo.


Si Cobra meminta Sephia untuk memantau keberadaan Zulfikar. Memang, mereka masih bergerak ke tempat tujuan. Dan masih akan lama lagi sampai ke sananya.


“Kita nggak punya banyak waktu, mas” celetuk Erika. Budi menoleh.


“Kita harus berangkat sekarang. Kita nggak mungkin masuk di saat matahari udah terbit” lanjut Erika.


“Itu. Mereka datang”


Suara Nungki beserta tunjukan tangannya, membuat mereka menoleh ke arah pintu. Dan muncullah lima orang laki-laki berpakaian biasa. Namun potongan rambutnya, khas sekali abdi negara. Merekapun berkenalan.


“Oke. Dengan orang yang terbatas, kayaknya kita leboh cocok pakai opsi pertama” kata si Cobra. semua orang menoleh padanya.


“Mumpung si Panjul juga belum sampai tujuan. Kita bisa manfaatin momen mereka masuk. Biar penjagaan di sana nggak sempet ngerapetin barisan lagi” lanjut si Cobra.


“Setuju” sahut Alligator.


si Cobrapun memaparkan strategi yang dia katakan sebagai opsi satu. Kelima anggota densus delapan-delapan itu sempat bertanya dan mengajukan pandangannya. Diskusi berjalan seru namun tetap humanis. Sampai pada akhirnya, mereka sama-sama mengerti dan sepakat.


“Oke. Lebih baik kita bergerak sekarang juga” kata si Cobra, menutup briefing.


“Ada yang bisa nganterin kita, Nung?” tanya si Cobra kepada Nungki.

__ADS_1


“Ada. Aku udah siapin” jawab Nungki.


“Good” komentar si Cobra.


Merekapun membubarkan diri. Masing-masing bersiap dengan perlengkapan pribadi mereka. Budi dan Erika, sudah pasti pamit pada ibu mereka. Putri memeluk kakaknya erat sekali. Dia merasa sedih, banyak sekali bayangan buruk berkelebat di kepalanya. Tapi Budi terus meyakinkan Putri, kalau dirinya hanya ingin jalan-jalan bersama Erika. Dengan segala drama saat pamitan, pada akhirnya mereka berangkat juga.


Budi satu mobil dengan Erika, ditemani seorang sopir. Di dalam mobil, Budi tampak termenung. Dia memejamkan matanya, karena banyak sekali bayangan berkelebat di pelupuk matanya. Terutama tentang son of pegassus, yang ternyata dimiliki oleh Sephia dan kekasihnya.


Tanpa bertanyapun, Erika seperti sudah tahu apa yang sedang dipikirkan Budi. Serta merta dia memeluk Budi lagi. Budi tersentak mendapat pelukan itu. Tapi kali ini diam saja. Mengingat luka yang Adel derita, saat motornya disabotase dulu, membuat hatinya terasa sakit.


“Apa kamu juga, yang nyabot motor Adel, dulu?”


Pertanyaan Budi menyentakkan Erika. Seketika dia langsung duudk tegak menatap kekasihnya itu.


“Demi apapun, kalo itu bukan aku, mas” jawab Erika.


Budi mengernyitkan keningnya. Dia tak langsung percaya dengan jawaban itu.


“Aku tahu, kamu nggak akan percaya, mas. Tapi demi apapun, aku nggak akan pernah nyakitin adik aku sendiri”


“Terus, kenapa kamu nggak nengokin Adel, malam itu?” tanya Budi.


“Ya aku kaget lah, mas” sahut Erika. Budi menatapnya lekat.


“Hari itu, dari pagi, aku udah pusing banget mas, denger kabar dari Sephia, kabar dari Nungki. Si Bejo bener-bener bikin sibuk. Dia bikin pengecoh banyak banget. Dari mobil pick up mas Eko, transaksi di TPI, sampe rencana buat nyelakain mas Budi”


“Nyelakain aku?”


“Makanya, beberapa hari sebelum kejadian itu, aku suka sepaneng, bukan semata-mata aku kepusingan karena kerjaan. Tapi karena si bejo udah mulai masukin narkobanya ke bengkelnya pak Fajar. Belum lagi kalo menjelang magrib, suka ada yang nongkrong di sekitaran pabrik. Sebenernya aku malah seneng kalo mas Budi pulang sebelum gelap. Masih banyak kesempatan buat ngelawan, kalo ada yang mau nyelakain. Tapi pas abis magrib mas Budi masih di kantor, saat itulah aku jadi was-was. Makanya sengaja aku tahan, biar Sephia sama Nungki ada waktu buat nyingkirin mereka dulu”


“Termasuk di malam Adel kecelakaan?”


“Ya”


“Tapi kenapa jejak kecelakaan justru mengarah pada son of pegassus?”


Erika terkesiap mendengar pertanyaan itu. Dia tertegun beberapa saat.


“Dari nomor telepon yang tertera, itu jelas dari nomornya Stevani. Yang ketangkep, juga bodyguardnya Stevani”


“Kita emang sepakat buat bikin skenario seperti itu. Biar si Bejo ngira, pengalihan itu perbuatan si Nungki”


“Maksudnya?”


“Pelaku sebenernya sih, bukan orang yang kalian temuin, mas. Pelaku sebenernya, orang dari kepolisian”


“Apa?”


“Ya. Temennya Fatoni”

__ADS_1


“Oh”


“Sebenernya bisa aja, kita ngumpanin orang itu ke mas Budi. Tapi itu bakal jadi pertanda buat si Bejo, kalo di sekitar mas Budi, ada orang-orang yang ngelindungi mas Budi. Dan kita nggak mau si Bejo tahu. Makanya sengaja kita pasang orang, seolah-olah mas Budi tuh ngejar jejak yang salah. Dan jejak yang salah itu, dibuat oleh Nungki. Kan si Bejo tahunya si Nungki itu anak buah dia. Padahal, Nungki itu kaya pak Rouf”


“Soal bodyguard itu?”


“Yang di Makassar itu, orangnya Nungki semua, mas. Bermain peran aja, mereka”


“Hem?”


“Intinya. Si Bejo itu pengen banget nyelakain mas Budi, biar mas Budi bisa dia rekrut jadi kurirnya dia. Dia nyuruh Sandi buat jebak mas Budi, gagal. Dia nyuruh orang lain buat nyelakain mas Budi, gagal. Malah amnesia. Makanya dia ambil cara lain, memakai Adel buat jalan masuk”


Budi masih belum paham. Dia masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Erika.


“Harusnya, dari awal Adel kecelakaan, udah ada yang ngasih tahu mas Budi. Biar mas Budi langsung bergerak, dan memakan umpan yang udah mereka siapin. Mas Budi ngejar pelaku aslinya, orang kepolisian itu, pada akhirnya, mas Budi akan dikeroyok, dan akan diperdaya. Mas Budi akan dikasih foto-foto yang nunjukin kalo Adel udah berada dalam kekuasaan mereka. Kalo mas Budi pengen Adel selamet, mas Budi harus nurut apa kata mereka. Di sisi lain, Adel juga akan diperlakukan serupa. Jadi kalian berdua akan sama-sama jadi kurirnya si Bejo. Selamanya”


“Terus?”


“Untungnya, Sephia lagi lewat TKP pas Adel kecelakaan. Dia bilang, dia liat sendiri gimana Adel nggak bisa ngerem dan bablas nabrak toko parfum itu. Dari situ dia noticed. Ada yang nggak beres. Dia langsung pulang, dan ngecek lalu-lintas komunikasi mas Budi. Ada nomer nggak dikenal kan, yang nelpon?”


“Eh, iya sih. Sekali. Cuman nggak aku angkat. Orang cuman sebentar doang, deringnya”


“Itu karena langsung di blok sama Sephia. Berasa ilang sinyal nggak, sore itu?”


“Iya, bener. Aku pikir kartuku keblokir. Udah lama juga belum isi pulsa utama”


“Itu dia. Untungnya nggak sampe keangkat sama mas Budi. Kalo aja sampe keangkat, bakal beda ceritanya”


“Kok kamu kaya kaget, waktu aku bilang Adel kecelakaan?”


“Ya karena Sephia belum bilang. Dia langsung ambil langkah antisipasi. Dia konteknya sama Nungki. Ya mas tahu kan, si Bejo itu kan ternyata papa aku. Mereka udah tahu dari awal, dan nggak boleh kasih tahu aku. Mungkin itu juga sebabnya, aku dikasih tahunya belakangan”


“Huuuffft. Ruwet banget” komentar Budi.


“Aku nggak berharap mas Budi percaya sama apa yang aku sampein” kata Erika. Budi menoleh.


“Ijinin aku nuntasin misi ini dulu, mas!” pintanya.


“Maksudnya?”


“Kalo mas Budi udah nggak mau lagi sama aku, karena kesalahan-kesalahanku yang lalu, aku nggak akan ngelak kok mas. Abis misi ini, aku akan kembaliin kepercayaan yang udah mas Budi kasih selama ini sama aku. Mas Budi mau pergi, balik sama Adel, aku nggak akan ngalangin, mas” jawab Erika.


“Kok ngomongnya gitu, sih?”


“Ya terus?”


“Ya kalo emang apa yang kamu bilang itu bener, kenapa harus ngomong gitu segala?”


“Maaf, mas. Aku baper. Aku takut aja dibenci sama kamu, mas. Belum pernah aku jatuh cinta sebesar sama mas Budi” jawab Erika.

__ADS_1


“Oke. Aku minta maaf. Aku masih kepikiran aja, sama son of pegassus itu. Aku cuman butuh penjelasan lebih aja. Aku juga udah terlanjur nyaman sama kamu, Ka. Nggak usah ngomongin perpisahan! Cuman Gusti Alloh, yang berhak ngomongin itu”


Erika tak kuasa menahan harunya. Dia memeluk Budi serta-merta. Tangisnya pecah, mengiringi kelegaan hatinya, karena masih mendapatkan cinta yang begitu istimewa dari orang yang sangat dia cintai.


__ADS_2