
“Ndi, masih punya akses ke eagle eyes?” tanya Budi.
Sontak pandangan mata Sandi, Adel, dan Sephia tertuju padanya. Termasuk dengan Madina. Sandi mendongakkan kepalanya. Kemudian dia melihat ke arah jam tangannya. Beberapa detik kemudian, Sandi ganti memandang ke arah Sephia. Seperti paham apa arti pandangan itu, Sephia mengangguk kepada sandi.
“Din, boleh pinjem laptop?" tanya Sandi kepada Madina.
“Oh, boleh” jawab Madina.
Dia lalu berlari menuju ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah laptop.
“Phia?” tegur Sandi.
Sephia mengerti. Dia mengambil alih laptop itu dari tangan Madina. Dia langsung duduk bersandar tembok samping rumah Adel, dimana Budi sudah terlebih dulu duduk kembali di situ, karena kakinya kembali pegal. Sandi ikutan duduk di sebelah Sephia. Jadi terlihat mengapit wanita itu di tengah-tengah.
Sephia langsung membuka sebuah website yang menghubungkan laptop itu dengan sebuah satelit.
Ya, eagle eyes adalah sebuah kode bagi mereka untuk sebuah satelit pencitraan beresolusi tinggi. Satelit yang menyediakan layanan tangkapan gambar maupun video real time. Seperti mempunyai CCTV di atas langit kalau punya akses pada satelit ini.
Cakupannya yang luas dan resolusi sampai empat meter di atas tanah, membuat siapapun tertarik untuk mendapatkan akses itu. Walau untuk mendapatkannya harus merogoh kocek cukup dalam.
“Ini, ada” kata Sephia.
Sontak Budi menoleh ke arah laptop yang dipegang sephia. Adel bahkan sampai berusaha turun dari kursi roda, demi ikut melihat apa yang mereka bertiga lihat. Tapi Madina melarangnya.
“Nah, itu, itu, itu. Bisa di zoom lagi, nggak?” tanya Sandi.
Sephia memperbesar gambar yang dia dapatkan. Dia buat sudut pandangnya agar lebih mudah untuk dilihat. Dan tampaklah empat orang berboncengan menggunakan dua motor. Orang yang di belakang melemparkan bom molotov dengan kuatnya ke arah begkel kayu pak Fajar.
“Astaghfirulloh”seru Budi.
Seruan itu praktis membuat semua perhatian tertuju padanya. Sephia memperbesar lagi tampilan gambarnya, fokus pada salah satu pelaku yang tidak mengunakan masker penutup wajah.
“Siapa itu, Bud?” tanya Sandi.
“Eeemm” Budi sedang memikirkan kata yang tepat untuk menjelaskan.
“Gua nggak tahu dia itu temennya apa suruhannya, tapi yang jelas dia pernah sama sepupu gua” jawab Budi.
“Adi?”tanya Sandi.
“Ya, Adi” jawab Budi.
“Cari mati tu bocah” komentar sandi. Dia langsung berdiri dan hendak pergi.
“Mau kemana?” seru Sephia, sambil memegang tangan Sandi. Mencegah Sandi pergi.
“Ya nyari keparat itu, lah?” jawab Sandi.
“Nyari kemana?” tanya Sephia. Sandi terdiam.
Sephia kembali mengetikkan perintah pada satelit itu. Dia mengurutkan gambar demi gambar. Menyusuri kemana pelaku pembakaran itu pergi. Cukup lama Sephia menelususri jejak itu.
“Ini, mereka menuju ke sini” kata Sephia.
Sandi dan Budi langsung memperhatikan layar laptop Madina. Kali ini Adel memaksa untuk turun dari kursi rodanya.
Karena berbahaya, Budi berinisiatif mengajak semuanya mencari tempat yang lebih memungkinkan. Madina mengusulkan untuk ke ruang tamu teras saja. Adel setuju. Tak hanya Adel, pak Fajar dan bu Lusi juga ikut ke teras karena penasaran juga.
“Temukan mereka demi kami, ngger!” pinta pak Fajar.
“Tentu, pak. Nggak usah hawatir. Kami akan nemuin mereka” jawab Sandi.
“Kita butuh kaleng sama Palu” kata Budi. Semua mata tertuju padanya.
“Rita juga” lanjut Budi.
Mereka masih terdiam. Sandi dan Sephia merasa kalau Budi mau mengutarakan sebuah rencana.
“Temukan rumah mereka berempat! Datengin, bikin ibu mereka pingsan! Tapi jangan disakiti!” kata Budi mengutarakan rencananya.
“Tata nggak setuju” seru Adel. Sontak perhatian mereka teralihkan.
“Yang jahat itu mereka, ngapain ibunya dibawa-bawa?” tanya Adel.
“Mereka bukan orang sembarangan. Tata inget, pas malem-malem abram mau nganterin Tata pulang, kita dicegat gerombolannya Adi” sahut Budi.
“Terus?”
“Tata tahu kan, gimana gesitnya mereka? Sampe heboh gitu. Sekalipun udah berkali-kali Abram jatohin, mereka masih bangun lagi. Untungnya ada pakde Kusno”
“Apa ngurus mereka berempat aja mas Sandi nggak sanggup?”
“Kalo ketahuan polisi, urusannya jadi panjang” jawab Budi.
__ADS_1
“Kenapa nggak langsung nangkep si Adinya?”
“Deket sama Adi, belum tentu mereka melibatkan Adi. Kita nggak bisa nuduh tanpa pegang bukti. Kita kejar dulu yang udah jelas ada buktinya” jawab Budi. Adel terkesiap.
“Terus, apa maksud kamu sama ibu mereka? tanya bu Lusi.
“Pancingan saja, bu”
“Pancingan?”
“Ya. Mereka yang deket sama Adi, punya orientasi **** yang menyimpang”
“Incest?” celetuk Madina.
“Yap. Incest” jawab Budi.
“Kita pancing dengan menggunakan ibunya. Aku pikir Rita bisa lakuin itu. Pakai sumpit untuk bikin mereka nggak sadar. Kaleng ahli dalam hal itu. Tugasin Palu sebagai pengecoh! Dan kita bawa target saat perhatian warga teralihkan” lanjut Budi.
“Maling teriak maling” komentar Sandi.
“Yap” jawab Budi.
Sandi tersenyum. Di dalam hati dia merasa senang, karena Budi yang dulu dia kenal masih ada di Budi yang sekarang.
Sandi meminta ijin untuk mengkoordinasikan teman-temannya. Dia berdiskusi dengan Sephia di dalam rumah pak Fajar. Mereka tampak menghubungi seseorang.
“Sementara menunggu, kita ke rumah sakit aja dulu, Bud!” ajak Sandi, setelah memerintahkan anak buahnya.
“Siapa yang sakit?” tanya Budi.
“Ya lo lah. Pake nanya, lagi” jawab Sandi.
“Gua udah dirawat, Ndi. Nggak liat nih, perban dimana-mana?”
“Come on, Bud. Jangan bikin ibu sedih!”
“Ibu malah sedih kalo liat gua terkapar”
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Ponsel Budi berdering, mengalihkan perhatian mereka. mengetahui nama Zulfikar terpampang jelas di layar ponselnya, Budi langsung berdiri dari duduknya. Agak kepayahan dia berdiri, sampai Sephia yang dekat dengannya reflek mengulurkan tangan untuk membantunya.
Budi ijin menerima telepon dulu. Di halaman depan, agak jauh dari semuanya, Budi menceritakan tragedi yang baru saja terjadi. Zulfikar mengatakan kalau sedari pagi belum ada yang menemui Stevani. Bahkan selama beberapa hari terakhir juga belum ada. Termasuk orang tua Vani. Begitu juga dengan pengacaranya.
Budi menghela nafas berat. Apa yang dikatakan Zulfikar masuk akal juga baginya. Zulfikar berjanji akan membantu Budi mengusut kasus kebakaran ini. Dia juga berjanji akan mengunjungi rumah Adel setelah menyelesaikan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
Satu hal yang Zulfikar sarankan, Budi segera membuat laporan pengaduan kepada kepolisian, agar cepat ditangani. Budi hanya mengiyakan saja.
Dalam percakapan itu, Budi juga meminta Zulfikar untuk mencarikan bahan bangunan untuk memperbaiki bengkel kayu pak Fajar yang terbakar. Juga beberapa peralatan pertukangan untuk menggantikan peralatan pak Fajar yang hangus terbakar. Zulfikar menyanggupi permintaan Budi.
Di tempat lain, Stevani sedang gelisah. Dia tidak berhenti memikirkan kata-kata Budi. Kemarahan yang baru pertama kali dia lihat. Sangat menakutkan dan menyiksa batinnya.
Dia tidak habis pikir, siapa yang sebenarnya bermain di balik semua ini. Siapa yang sebenarnya membenci dirinya. Seolah, membuatnya sudah mendekam di balik jeruji besi ini belum cukup memuaskan. Masih ditambah fitnah dan fitnah lagi. Belum jelas mengenai kecelakaannya Adel, sudah ada bencana lain. Entah apa itu, tapi Stevani yakin, fitnah yang terakhir ini tidak kurang dahsyat dibanding sabotase pada motor Adel.
“Vani”
Sebuah panggilan menyentakkan lamunannya.
“Ada tamu” lanjut orang yang memanggil.
“Loh, emang boleh, bu?” tanya Vani.
“Mumpung aku lagi baik hati” jawabnya.
“Cepet!” perintah orang itu.
“Oh, ya. Baik” jawab Stevani.
Stevani segera keluar dari selnya dan berjalan mengikuti petugas penjaga sel. Dia bertanya-tanya, siapa lagi yang akan menemuinya kini. Dia berharap sekali, buka Budi lagi yang datang.
Walau Budi tidak akan memukulinya di tempat ini, tapi kata-katanya sangat menyakitkan. Baginya, Budi yang sekarang bukanlah Budi yang sebelumnya dia kenal. Dia adalah Budi yang sudah termakan fitnah.
“Mas Hendra?”
Stevani menghela nafas lega. Ternyata yang datang adalah pengacaranya. Dia berharap, pengacaranya itu membawa kabar baik.
“Mbak, ada kabar buruk” kata Hedra tanpa basa-basi.
“Adel kecelakaan” lanjutnya.
“Ya. Aku udah tahu. Tadi Budi abis dari sini” jawab Stevani.
“Apa? Terus dia ngapain?”
__ADS_1
“Ya marah, lah. Dia pikir aku yang merintahin ortu aku buat nyabotase motor Adel” jawab Stevani.
“Astaga”
“Emang kapan dan gimana sih, kejadiannya”
Hendra menceritakan kronologi kecelakaannya Adel. Dia menceritakan kalau ada tiga orang yang sengaja mengganti brake pad Adel dengan yang sudah habis. Jadinya rem Adel blong sama sekali.
Hendra juga bilang kalau Budi dan teman-temannya udah menemukan ketiga orang itu. Saat diinterogasi, salah satunya menyerahkan sebuah kartu ponsel. Dan satu-satunya panggilan yang masuk di nomor itu, adalah nomor bodyguradnya Stevani.
“Apa?”
“Ya. Bodygurad yang mbak Vani bilang setan itu. Yang nggak pernah keliatan, tapi selalu di dekat mbak Vani. Nomornya dia yang ada di kartu itu. Dan itu terkonfirmasi juga oleh penyidik, setelah ketiganya ditangkap. Sama seperti nomer yang mbak Vani kasih nama bodygurad, di ponsel mbak Vani”
“Lah, aku kan nggak pegang hape. Dan aku ketemu juga cuman sama mas Hendra. Gimana aku bisa komunikasi sama orang itu?”
“Itu juga yang saya bingung. Terlebih, orang itu udah ketangkep di makassar”
“Makassar?”
“Ya. Dan dia mengatakan kalau dia diperintah oleh orang tua mbak Vani”
“Papa? Nggak mungkin. Aku aja nggak ditengokin. Masa malah nyuruh orang buat nyelakain orang yang menjarain aku? Sama aja pengen aku nggak keluar dari penjara, dong? Nggak, nggak mungkin itu papa”
“Saya juga berpikir begitu, mbak. Tapi yang jelas, sekarang papanya mbak Vani lagi diperiksa polisi”
“Astaghfirulloh” keluh Stevani.
Dia menyandarkan kepalanya di meja, beralaskan lengannya.
“Tapi masih ada celah, dimana papa mbak Vani nggak ngenalin orang itu” kata Hendra.
“Apa?” sontak Stevani menegakkan kepalanya.
“Ya. Papa mbak Vani bilang kalau orang itu bukanlah si bodygurad setan. Dia memberikan data-data yang berhubungan dengan si bodygurad setan itu”
”Terus?”
“Sementara masih dipelajari”
“Syukurlah. Semoga berkas dari papa bisa menjadi game changer” kata Stevani penuh harap.
“Tapi ada satu kejadian lagi mbak” kata Hendra.
“Ha? Apa lagi?” tanya Stevani.
“Oh, iya. Tadi juga Budi dapet telepon dari Adel. Ada apa lagi sama dia, mas?” lanjut Stevani.
“Bengkel kayu bapaknya Adel, kebakaran” jawab Hendra.
“Ha? Kok bisa? Maksud aku, hubungannya sama aku, apa?”
“Eem. Ada saksi mata yang mengatakan kalau bengekel kayu itu kebakar karena ada yang ngelempar bom molotov. Ada empat orang, pake motor”
“Astaghfirulloh” keluh Stevani lagi. Dia kembali menyandarkan kepalanya di meja, beralaskan lengannya.
“Eh, tapi apa hubungannya sama aku? kan bisa aja itu saingan bisnis bapaknya Adel” tanya Stevani.
“Ya. Untuk kasus kebakaran ini, memang belum dilaporin ke polisi. Tapi di media sosial sudah ramai membicarakan hal ini. Dan banyak yang berspekulasi kalau ini adalah perbuatan mbak Vani”
“Dari mana bisa begitu?”
“Ya, karena Budi kecelakaan”
“Astaghfirullohal’adzim. Kapan?”
“Tadi. Sejaman yang lalu”
“Loh, itu kan pas dia ke sini. Apa pas pulang dari sini?”
“Sepertinya begitu, mbak”
“Ya tapi, namanya di jalan kan bisa aja kecelakaan”
“Ya. memang ada yang berkomentar begitu. Tapi saksi mata yang melihat, Budi bukan serempetan atau senggolan, tapi ditabrak kencang dari belakang”
“Apa? Kok bisa? Ya Alloh. Ada aja sih” komentar Stevani.
“Siapa sebenernya kamu, manusia laknat?” umpat Stevani pelan tapi penuh penekanan.
“Aku cuman mau ngabarin itu, mbak. Biar mbak Vani siap. Mengenai rekaman itu, polisi masih mengidentifikasi jenis alat perekam yang dipakai. Harusnya di minggu ini udah ketahuan hasilnya” kata Hendra.
“Ya. Semoga. Aku tersiksa banget sama tuduhan-tuduhan ini, mas” jawab Stevani.
__ADS_1