
Di kantor, Erika masih suka curi-curi pandang ke arah Budi. Tapi sebaliknya, Budi sangat fokus dengan layar monitornya. Tinggal satu jam menuju jam pulang, dan Budi belum sekalipun menoleh. Membuat Erika berkali-kali memijat keningnya. Dia merasa pusing dan menyesal, telah mengekspresikan kecemburuannya menggunakan kekuasaannya. Dan sekarang Budi tampak tidak suka dengan sikapnya.
*Tok tok tok*
*Ceklek*
Pintu kantor HRD dibuka seseorang dari luar. sontak mereka berdua menoleh ke arah pintu. Dan ada Aldo yang terlihat kepalanya.
“Bud. Bisa ikut bentar?” tanya Aldo.
Reflek, Erika melirik Budi. Budi sendiri tidak langsung menjawab.
“Bisa tunggu dulu, Do? Aku lagi nungguin datanya Budi. Harus segera aku submit” Kata Erika.
“Tapi ini darurat, mbak” kata Aldo.
“Ada apa?” tanya Budi.
“Material untuk pesanan ini, kurang” jawab Aldo.
“Ha?”
Budi langsung membereskan lembaran-lembaran kertas yang sedari tadi dia input datanya. Lalu bersiap untuk beranjak.
“Mbak. Udah aku submit, ya” kata Budi sembari berjalan menuju pintu.
Hem? Udah *disubmit*? Udah kelar?
Erika memeriksa emailnya. Dan ternyata benar, Budi telah menyelesaikan tugas yang dia berikan tadi.
*Gila. Udah kelar aja. Apa jangan-jangan dari pagi udah nyicil, dia*?
Di lapangan, Budi segera berdiskusi dengan pak Supri. Dia menanyakan perihal pengadaan stok material mentah. Tidak penting mencari siapa yang salah. Bagi Budi, lebih penting memikirkan bagaimana selanjutnya mengatasi masalah ini?
“Do. Kamu perlu temenin staf produksi buat ngajuin PR ke Resti. Aku koordinasi dengan tim logistik dan QC”
“QC?”
“Iya. Antisipasi kalo waktunya nggak keburu buat beli materialnya. Kalo kita ganti sama material yang ada, spek mana yang setara atau minimal banget mendekati spek yang ini”
“Oke. Soal material properties aku lumayan ngerti. Soal driver, pak Tanto nggak pernah nolak permintaanku. Tapi soal Resti, dia nggak kalah cerewet dari Isma. Pusing aku ngadepin dia. Kamu aja Bud, yang ke Resti!” kata Aldo bernegosiasi.
“Hadeeh” keluh Budi.
“Oke, deh. Mana orang tadi?” lanjut Budi.
“Udah ke office” jawab Aldo.
“Ya Udah. Kita gerak sekarang. Go go go!” ajak Budi.
Seperti orang sedang berlomba, mereka berdua segera mengerjakan tugas masing-masing.
Budi mencari staff produksi yang membuat purchase requestition. Ternyata dia sudah jalan ke kantor finance. Budi langsung mencarinya ke sana.
“Gimana?” tanya Budi saat menjumpai orang itu keluar dari kantor finance.
“Mbak Resti lagi meeting” jawab orang itu.
“Sama siapa?” tanya Budi.
“Nggak tahu”
“Yaa udah, sini!” kata Budi meminta lembar PR tersebut.
Dia lantas mencari Resti ke ruang meeting bawah. Dan benar, dia ada di sana. Langsung saja Budi mendekatinya.
“Assalamualaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam” jawab Resti dan para tamunya.
Dan betapa terkejutnya Budi. Saat dia lebih mendekat, ternyata tamu itu adalah Adel lagi. Bedanya, kali ini dia datang bersama suaminya.
Mereka sempat beradu pandang. Adel salah tingkah bertemu mantan kekasihnya lagi.
Mata Budi memerah saat pandangannya berganti ke arah Luki. Luka hatinya bagaikan disayat kembali. Dan amarahnya meninggi saat mengingat bagaimana kehadiran lelaki itu menjadi penyebab hancurnya kisah cintanya dengan Adel.
“Kenapa, Bud?”
Suara Farah menyentakkan angannya. Butuh beberapa detik untuk menguasai keadaan.
“Loh. Bisa barengan ama Resti?” Budi malah balik bertanya.
“Iya. Mr. Isaac minta satu kloter lagi. Ini lagi dibicarain soal harga dan tenggat waktunya. Soalnya harus bisa bareng sama pengiriman meuble kita yang pesanan bulan lalu. Menurut kamu, gimana?”
Budi kembali termenung. Dia teringat bagaimana perjuangannya membantu pak Fajar dalam memenuhi orderan itu. Tapi semua daya dan upayanya bagaikan angin lalu.
“Bud?” tegur Farah.
“Hem?” Budi tersentak lagi.
“Oh. Emm, kita bahas nanti aja, mbak. Ada yang lebih penting buat dibahas. Aku butuh Resti. Darurat” jawab Budi.
Sontak Adel dan Luki menatap Budi lagi. terdengar angkuh jawaban Budi di telinga Luki.
“Kenapa, Mas?” tanya Resti.
“Bisa ikut saya?”
“Oke” jawab Resti.
“Mohon tunggu sebentar ya, mbak Adel” pamit Resti.
__ADS_1
“Oh, iya. Baik, mbak Resti” jawab Adel.
Budi balik kanan tanpa pamit lagi, saat mengetahui Resti sudah beranjak. Di sisi lain, Luki tampak tersinggung, mendengar Budi mengatakan ada yang lebih penting untuk dibahas. Dia merasa kehadirannya dianggap tidak penting.
Sedangkan Adel menjadi bimbang. Apakah dia akan tetap mengambil orderan itu atau dia lepaskan saja.
Karena orderan ini bisa bapaknya dapatkan, tak lain karena ada Budi di perusahaan ini. Dan waktu itu Budi adalah kekasihnya. Sekarang, menerima orderan itu membuat rasa bersalah itu kembali mendera hatinya.
Tapi dia juga harus patuh terhadap suaminya, yang bersemangat untuk mendapatkan orderan itu.
***
Di rumah Putri, Madina masih saja menangis. Dia masih merasa sedih merasakan rumahnya tidak lagi senyaman dulu. Sedih karena kakaknya sudah tidak perhatian lagi dengannya. Semenjak kehadiran Luki di rumahnya. Dan tadi, Luki sempat datang menjemputnya. Tapi baginya, cara bicara Luki masih terlalu angkuh. Dan dia tidak suka itu.
“Din. Waktu ashar udah hampir abis, lho”
Suara teguran Putri sontak membuatnya memutar tubuhnya. Kini dia terlentang dan menatap Putri.
“Sedihnya dilanjut sambil sholat, yuk!” lanjut Putri.
Madina mengernyitkan keningnya. Dia agak bingung dengan kalimat Putri. Baginya, Putri seperti mengajaknya sholat ashar. Padahal dia tahu kalau Putri sudah sholat ashar.
“Sori ya, Put. Aku jadi ngerepotin. Besok aku cari kos-kosan, deh” jawab Madina.
“Ya Alloh, Din. Gitu amat kamu nanggepinnya? Aku cuman ngingetin waktu sholat” sahut Putri.
“Eemm”
“Hei. Ranjang aku segini gedenya, Din. Mas Zul juga masih lama buat pindah ke sini. jadi buat apa kamu nyari kos-kosan?”
“Ya takutnya, Put”
“Enggak. Malah seru tahu, ada temen ngeprank mas Budi. Hi hi hi”
“Emang pernah ngeprank mas Budi? Berani, gitu?”
“Ya belum. Kalo sendiri sih, ya ngeri juga. Ha ha ha”
“Hadeh. Capek deh” komentar Madina.
“Udah buruan gih, sholat dulu! Aku masakin air buat mandi”
“Eh busyet, Putri. Dikata aku jompo, pake dimasakin air”
“Udah mulai dingin, Din”
“Ha ha ha. Putri, Putri. Bisa aja, kamu. Mas Zul pasti bahagia ya, punya istri sebaik ini”
“Nggombal apa nggosip? Mas Zul belum nikahin aku, Madin. Istri dari mana?”
“Ha ha ha ha ha”
“Awas. Kalo ngomongin itu liat-liat tempat! Salah tempat, geger geden” lanjut Putri sambil menepuk paha Madina.
Madina tertawa lagi. Diapun bangkit dari tidurannya. Sejenak dia termenung. Dia merasa sangat bersyukur, mempunyai sahabat yang sudah seperti saudara sendiri.
***
Di tempat berbeda, Budi telihat tegang melihat perkembangan hasil produksi sore ini. Datangnya material yang dibeli tadi, tak lantas membuatnya tenang. Detik terus bertambah dan batas waktunya tinggal kurang dari satu jam.
Ditambah pertemuannya dengan Adel dan luki tadi, membuat emosinya jadi tidak stabil. Beberapa kali dia kelepasan menegur operator dengan suara yang lebih kasar dari biasanya. Terlebih saat ada operator yang tak hanya sekali mengambil ponsel dari saku bajunya. Budi sampai menggebrak meja operator itu.
“Bud”
“APA?”
Budi bereaksi keras saat mendengar sebuah sapaan dan tepukan di pundaknya. Sampai-sampai yang menyapanya terkejut dan mundur satu langkah.
“Kenapa, Da?” tanya Budi masih dengan suara kasar.
“Anu, Bud. Aku cuman mau nyampein pesennya Resti. Kamu ditunggu di ruang meeting bawah” jawab Hilda sedikit terbata-bata.
“Haaaaah. Kenapa lagi, sih? Nggak bisa entar aja apa sih, ngejelasinnya?” keluh Budi tanpa mengurangi kekasaran nada bicaranya.
“Eem, aku nggak tahu. Aku cuman dipesenin gitu” jawab Hilda.
“Oke” sahut Budi tanpa berterimakasih.
Hilda menganggukkan kepala sebagai isyarat pamit. Lalu balik kanan dan kembali ke kantor. Pak Teguh mengusap-usap punggung Budi, sebagai bentuk dukungan moralnya. Dan juga sebagai isyarat permintaan agar Budi lebih sabar.
“Bud. Mending kamu temuin dulu aja, sambil rehat! Lapangan, biar aku yang handle. Lagian udah tinggal lima unit lagi. Masih keburu sampe finish” kata Aldo.
Budi tidak segera menjawab. Emosinya masih bertengger di ubun-ubunnya. Hanya helaan nafasnya yang terlihat lebih panjang dari biasanya.
“Oke. Pastikan nggak ada yang mainan hape lagi!” jawab Budi.
“Siap” sahut Aldo.
Budipun balik kanan dan pergi dari lapangan, setelah pamit ke pak Teguh. Tanpa menanggapi sapaan rekan-rekan kerja di kantor, Budi langsung menuju ruang meeting bawah.
“Ckkk”
Budi mendecak saat melihat ruang meeting bawah kosong tak ada orang.
“Giliran disamperin malah ngilang” keluh Budi kesal.
Diapun masuk ke salah satu kubik. Dia langsung duduk di kursi yang membelakangi pintu masuk. Sejenak dia memejamkan matanya dan bersandar ke sandaran punggung. Kedua tangannya bertemu di belakang kepalanya, lalu dia menghela nafas berat.
“Eh, Bud”
Sebuah suara mengusik angannya. Tapi dia tidak segera membuka matanya.
“Resti kemana?”
__ADS_1
Suara lanjutan itu juga tidak lantas membuat Budi membuka matanya. Itu karena dia tahu kalau suara tadi adalah suara Farah. Sedangkan yang mencarinya adalah Resti.
“Tau”
Jawaban singkat itu tak mendapatkan respon. Hanya, terdengar di telinga Budi, suara orang melangkah masuk lalu duduk. Budi belum berhasrat membuka matanya. Amarahnya pada Luki membuatnya tidak mengetahui ada orang lain yang datang bersama Farah.
“Bud” Farah memanggil. Tapi Budi tidak merespon.
“Ada orderan dari Mr. Isaac yang harus kita penuhin bersamaan dengan pesanan mebel kita. Menurutmu, baiknya gimana, Bud?” tanya Farah.
*Ini orang nanya beneran apa formalitas doang? Apa pengaruhnya keputusanku dalam kontrak itu? apa sebenernya Farah udah ngerasa EFA meubel udah nggak achived lagi, tapi dia mendapat ancaman di luar sana*?
“Huuffftt”
Budi menghela nafas lagi. Tapi dengan tetap tidak membuka matanya.
“Lanjutkan aja, mbak! EFA meubel still the best” kata Budi menyampaikan pandangan teknisnya.
Di pintu masuk, dengan masih berdiri, Adel yang sedari tadi diam tak bersuara, tersenyum mendengar jawaban Budi.
Matanya berkaca-kaca mengetahui kalau mantan kekasihnya itu tidak serta merta menutup jalan rejekinya.
“Beneran?” tanya Farah lagi.
“Iya” jawab Budi.
Saat itu, Resti masuk juga nyaris tanpa suara. Dia terkejut melihat Farah dan Adel sudah ada di ruangan itu. Dia menduga kalau sedang terjadi ketegangan antara Budi dan Adel.
“Ya udah kalo gitu. Berarti kamu support penuh ya, dengan jadwal kita?” tanya Farah.
“Ya” jawab Budi singkat.
“Oke. Kalo gitu, kita langsung urus legalitasnya. Makasih, Bud” kata Farah sambil beranjak.
Tanpa menunggu jawaban darinya, Farah langsung berjalan pergi, mengajak serta Adel dan Resti. Barulah saat mereka pergi itu, Budi merasa curiga, kalau sebenarnya ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. Tapi saat dia menoleh, tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Budipun kembali bersandar dan memejamkan matanya. Cukup lama dia memejamkan matanya.
“Eh, mas. Nungguin siapa?”
Sebuah suara mengejutkannya. Reflek Budi membuka mata dan menoleh ke kanan.
“Nungguin Resti” jawab Budi.
Yang bertanya mengernyitkan keningnya, tanda tidak mengerti.
“Tadi bilangnya pengen ketemu di sini, minta penjelasan sih kayaknya, soal material tadi”
“Terus?”
“Nggak tahu” Jawab Budi singkat.
Beberapa saat mata mereka beradu tatap. Dan tampak kebingungan di keduanya.
“Kamu kenapa sih, mas? Sampe kacau gitu, mukanya?”
Budi terkesiap mendapati rambutnya disisir dengan jari.
“Nggak papa, mbak” jawab Budi singkat. Tapi helaan nafasnya seolah bercerita jauh lebih banyak.
“Ngopi, yuk! Biar plong, pikirannya”
“Emang mbak Rika udah kelar, kerjaannya?” Budi ganti bertanya.
“Udah” jawab Erika cepet.
“Kalo udah ada janji, buruan ditepatin, mbak! Itu lebih penting” saran Budi.
“Janji apa?” tanya Erika bingung.
“Lah, tadi. Bilangnya mau pulang cepet? Nyuruh aku udah kaya orang kebelet aja. Kalo nggak punya janji, kapan mbak Rika ngebet kaya gitu?” jawab Budi.
Erika terkesiap. Dia bingung harus menjawab apa. Terlebih Budi bicara dengan mata yang masih memerah.
“Jangan bilang cuman ngeprank, cemburu buta!” lanjut Budi.
Erika semakin tak tahu harus menjawab bagaimana.
“Haih. Ternyata” keluh Budi.
“Ya, sori. Eeem, aku, aku, “
“Mas Bud”
Suara pangggilan dari arah pintu masuk, mengalihkan perhatian Budi. Serta-merta Erika ikut menoleh.
“Kenapa, Na?” tanya Budi.
“Mbak Liza mau pamit. Bisa temuin bentar, nggak?” jawab Ratna.
“Aduuh. Nggak bisa kamu aja, na? Aku lagi kacau, nih. Nggak liat rambut aku kusut begini?”
“Emang kalian abis ngapain?” tanya Ratna menggoda.
“Wah. Geger kalo aku jawab” jawab Budi.
“Jangan fitnah!”
“ADOOW” Budi memekik mendapat cubitan di tangannya.
“Ayo deh, Na. Di sini malah dapet KDRT” kata Budi sambil beranjak dari duduknya.
“Weh, kok aku malah ditinggal?” protes Erika.
Budi tergelak mendengar protes Erika. Ratnapun ikut tergelak melihat ekspresi lucu Budi. Dan tawanyapun tidak bisa dia tahan, karena Erika hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1