
“Assalamu’alaikum” sapa Budi, sesampainya di kamar rawat Putri.
“Loh. Vani kemana?” lanjutnya, tanpa menunggu jawaban atas salamnya.
“Wa’alaikum salam” kat Putri menjawab salamnya.
“Vani udah diijinkan pulang, mas”
Zulfikar, yang sedang menunggui Putri, menjawab pertanyaan Budi tentang Stevani. Dia juga menerima uluran tangan dari Erika.
“Oh. Ya syukur, alhamdulillah” komentar Budi.
“Di kontrakan situ, berarti?” tanya Budi.
“Di galery, mas” jawab Putri.
“Ha? Di galery?” seru Erika kaget.
“Iya, mbak. Putri yang minta” jawab Putri. Erika menoleh ke arah Budi, meminta penjelasan.
“Kontrakan Vani udah nggak aman, mbak. Percuma Putri begini kalo pada akhirnya ada yang berhasil nyelakain dia. Putri pikir, galery mas Budi adalah tempat teraman buat dia” lanjut Putri, menjelaskan maksudnya.
“Apa nggak malah rawan, Put? Kan galeri kita jauh dari tetangga” tanya Budi.
“Pak Paul bilang, mau nugasin Mike sama Brandon, buat jaga bergantian di galeri” jawab Putri.
Budi terdiam beberapa saat. Dia merasa bingung dengan keadaan sekarang.
“Kenapa, mas? Mas Budi nggak rela, galerinya Putri pinjem buat ditempatin Vani?” tanya Putri, menaggapi keterdiaman Budi.
“Bukan masalah nggak rela, Put” sahut Budi.
“Terus?”
“Hem”
Budi tidak menjawab. Dia hanya memberi isyarat dengan menonjolkan pipi kanannya dari dalam, menggunakan lidahnya. Erika yang melihat isyarat itu, mendelik pada Budi.
“Mbak Rika” panggil Putri.
“Jangan marah sama mas Budi, ya! Ini semua idenya Putri” pinta Putri.
Erika tidak segera menjawab. Dia menghela nafas dulu, meski hanya pelan.
“Putri yang tanggung jawab, mbak. Kalo mas Budi ganjen sama Vani, biar Putri yang getok kepalanya pake centong” lanjut Putri.
“Wuhuu. Jadi legenda baru, Put” seru Budi.
“Gunung tangkuban trayfoam” lanjut Budi.
“Hempf. Cemen banget mas, trayfoam. Enteng banget. Bocah TK juga kuat, nendang tray foam, sih” komentar Zulfikar sambil tergelak.
“Lah. Coba aja isiin keting empat puluh kilo! Kuat apa lu, nendang?” kilah Budi, sambil tergelak juga. Yang lain ikut tertawa melihat perdebatan mereka.
“Ngomong-ngomong soal keting, tadi istrinya mas Eko kemari, mas” kata Zulfikar,beberapa saat kemudian.
“Ha? ngapain?” tanya Budi kaget.
“Marah-marah sama ibu”
“Marah kenapa?” Erika ikut bicara.
“Ya, masalah suaminya. Dia masih nyalahin mas Budi. Dia marah-marah, karena kasus itu, hidupnya jadi kocar-kacir. Nggak ada yang ngasih nafkah. Dia jualan juga cuman dapet cacian. Terus, ya, semacam itulah” jawab Zulfikar.
Budi mengernyitkan keningnya. Cukup dalam juga kata-kata itu. Pikirannya malah luput dari hal sesederhana itu.
*Apa mas Eko itu sebenernya nggak tahu apa-apa? Apa dia cuman dimanfaatin Sandi? Apa semua fasilitas dari Sandi itu hanya alat untuk menjerat mas Eko, agar mau ngelakuin semua yang dia mau? Tapi dia sendiri mencurigakan. Aaah, kenapa jadi begini, sih*?
“Mas?” tegur Erika. Budi tergagap.
“Ibu kemana?” tanyanya kemudian.
“Ibu lagi sholat isya’ mas” jawab Putri.
“Oh. Sama Madin?”
“Sendiri, mas”
“Madin kemana?”
“Pulang, mas”
“Sama siapa?”
“Sendiri”
“Sendiri?” tanya Budi bingung.
Pertanyaan itu sontak mendapat reaksi cemburu dari Erika.
“Tadi pagi itu, sebenernya Madina udah pulang, mas” kata Zulfikar membantu Putri menjawab pertanyaan Budi.
“Terus siang kembali ke sini. Tapi abis maghrib tadi, sebelum istrinya mas Eko dateng, Madin dapet telepon dari Tati. Katanya di rumah lagi keos”
“Ya Alloh. Kebakaran lagi?” tanya Budi semakin terkejut. Erika juga sama tegangnya.
“Bukan, mas” jawab Zulfikar.
__ADS_1
“Mbak Adel masuk rumah sakit, mas” lanjut Zulfikar.
“Loh. Di sini, dong? Masih di IGD?”
“Bukan, mas. Di tangerang”
“Tangerang? Kok bisa nyampe sono?”
“Eem” Zulfikar merasa tidak enak dengan Erika, kalau harus bercerita tentang Adel.
“Mbak adel lagi nyamperin suaminya, mas” kata Putri, menjawab pertanyaan kakaknya. Perhatian Budi dan Erika teralihkan padanya.
“Kok bukan ke solo?”
“Awalnya juga ke solo, mas. Tapi di sana nggak ketemu. Mas Lukinya lagi di tangerang”
“Oh. Dia punya kantor di sana? Hebat” komentar Budi. Erika bingung mendengar ucapan itu.
“Tapi kok bisa masuk rumah sakit?” tanya Budi.
“Itu yang belum jelas, mas. Kata Madin, mbak Adel cuman cerita kalo dia ketemu si Luki itu bukan di kantor, melainkan di sebuah hotel. Dia baru aja keluar kamar dengan Sofia”
“Sofia?”
“Iya”
“Adel dihajar Luki?” tanya Budi penuh emosi.
“Bukan, mas”
“Lalu?”
“Itu yang belum jelas. Madin belum paham sama apa yang dibilang mbak Adel. Dia cuman nangkep, ada polisi yang nggrebek hotel itu, dan ngejar si Luki sama Sofia”
“Luki?” tanya Erika.
“Iya” jawab Putri.
“Si Luki nyandera satu orang. Sempet tembak-menembak, dan si Luki kena tembak. Sekarang masih dirawat intensif”
“Kenapa Luki dikejar-kejar? Dan, kok si Luki bisa punya senjata api?” tanya Erika bingung.
Di sini Budi merasa aneh dengan pernyataan Erika. Dia merasa kalau Erika tahu banyak tentang kasus ini, dan dia seperti kecolongan sesuatu.
“Itu yang Madin nggak nangkep dari apa yang dibilang mbak Adel. kata Madin, mbak Adel lagi kacau”
“Terus sekarang Madin masih di rumah?” tanya Budi. Gantian Erika yang menatap Budi tajam.
“Madin di puskesmas, mas. Bu Lusi pingsan, denger kabar itu”
“Belum, mas. Tapi ibu udah merintahin Hanin buat nengok ke sana”
“Terus?”
“Terakhir, sebelum mas Budi dateng ini, Hanin bilang, bu Lusi masih pingsan. Tapi dia masih di sana sih, mas”
“Ya udah. Kalo gitu kita nengok ke sana yuk, Ka!” ajak Budi.
“Kan udah ada Hanin, mas” tolak Erika. Hatinya penuh dengan kecemburuan.
“Ka. Aku ke sana bukan soal Adel. Tapi bu Lusi dan Madina. Dia udah bantuin aku sejak awal sampe sekarang. Masa iya, sekarang dia kesusahan aku nggak nengok?” kata Budi mulai jengkel.
“Ya kan, “
“Aaaah. Udah. Terserah mau ikut apa enggak” sergah Budi, sambil beranjak keluar kamar rawat.
“Mas”
Erika memanggil, namun Budi tidak menghiraukan. Akhirnya Erika keluar, mengejar Budi.
“Mas. Maafin aku!” pinta Erika, sambil terus berjalan menyejajari Budi. Budi masih tidak menjawab.
“Maas. Jangan marah dong! Iya, aku salah. Seharian aku jealous liat mas dideketin cewek-cewek ganjen. Senewen aku jadinya” lanjut Erika. Budi masih tidak menghiraukannya.
“Mas” Erika masih merengek.
Budi masih tidak menjawab. Dia hanya merangkul pundak Erika, dan merengkuhnya agar lebih dekat ke tubuhnya.
Tanpa bicara, dia terus berjalan menuju parkiran. Erika jadi tambah ciut nyalinya. Dia merasa takluk oleh pesona Budi. Sampai tidak berkutik saat Budi marah. Dia ikut saja, saat Budi mengajaknya ke puskesmas tempat bu Lusi dirawat.
“Din. Ibu gimana?” tanya Budi, setelah sampai di puskesmas tersebut.
“Baru aja siuman, mas. Masih diperiksa sama dokter” jawab Madina.
“Terus, embakmu gimana?”
“Mbak Adel masih syok, mas. Tapi dia aman. Dia dijaga sama polisi sana”
“Tunggu, tunggu! Aku masih nggak ngerti deh, sama yang diceritain Putri. Ada kasus apa sama si Luki, kok sampe digrebek polisi?” tanya Budi lirih.
“Narkoba, mas”
“Apa?” pekik Erika.
Budi yang sebenarnya juga terkejut, merasa semakin aneh dengan gelagat Erika. Tapi dia masih mencoba tenang dan seolah-olah tidak merasakan keanehan apapun.
“Madin juga nggak begitu nangkep sama ceritanya mbak Adel. Tapi yang jelas, pertemuan mbak Adel sama mas Luki itu cuman kebetulan aja. Kebetulan mbak Adel liat mas Luki baru keluar kamar bareng si Sofia. Mbak Adel mau pergi, dikejar sama si Luki itu sampe ke lift. dari tangga darurat, ada yang ngelempar granat asap. Terus si Luki kabur sama si Sofia. Dia nyeret resepsionis hotel buat dijadiin tameng. Terus kata mbak Adel terjadi tembak-menembak, dan si Luki kena tembak sampe nggak sadar” cerita Madin.
__ADS_1
“Cuman, soal narkobanya, Mbak Adel nggak jelas ceritanya. Kaya meracau gitu, mas. Madin cuman nangkep satu kata, bos Daniel ” lanjut Madin.
“Apa? Bos Daniel?” tanya Erika terkejut.
“Iya. Luki, bos Daniel. Gitu yang Madin denger” jawab Madina. Erika termenung.
*Bang\*\*\* si Fatoni. Gimana bisa dia kasih foto lain buat orang yang disebut bos Daniel? Ada main apa lu? Awas aja lu, kalo ternyata elu orang dalemnya! Bang*\*\*\*
“Ka?” tegur Budi.
“Hem? Apa?” saut Erika tergagap.
“Kamu tahu sesuatu tentang bos Daniel itu?” tanya Budi. Madina bingung mendengar pertanyaan Budi itu.
“Ya. Sephia pernah sebut nama itu sekali. Tapi nggak aku tanggepin. Udah masuk PRAM, sih. Aku udah nggak mau mikirin Sandi lagi. Bodo amat dia mau cerita apa juga” jawab Erika. Madina semakin bingung.
“Emang dia bilang apa?” telisik Budi.
“Cuman cerita kalo bos Daniel itu rekanan baru Sandi. Rekanan luar kota. Cuman dalam bidang apa, aku nggak nanya”
“Nggak dikasih liat fotonya?”
“Enggak. Cuman nyerocos aja sih, dia”
Budi termenung memikirkan jawaban Erika. Tapi pikirannya buntu. Dia sendiri sudah terlalu muak kalau mengingat si Luki ternyata benar-benar si bos Daniel. Tepat seperti yang dia lihat di atas kapal tempo hari.
“Mas? Mas nggak percaya sama jawaban aku?” tegur Erika.
“Hem? Bukan. Bukan soal jawabanmu. Banyak yang terlintas. Tapi nggak fokus apa-apa” jawab Budi.
“Oke. Terus, sekarang gimana?”
“Kita nunggu dulu ya, sampe bisa nengok bu Lusi”
“Oke” Erika memberikan persetujuannya.
Cukup lama juga buat mereka menunggu untuk bisa melihat kondisi bu Lusi. Waktu menunggu itu dia pergunakan untuk berbincang dengan Tati dan juga Hanin. Tapi tidak ada informasi yang lebih berharga. Budi juga menanyakan kebutuhan apa yang harus ada, jika bu Lusi harus menjalani rawat inap. Tati menyebutkan beberapa barang yang belum tersedia.
“Mas. Nggak usah! Biar Madin aja” cegah Madin, saat Budi hendak beranjak mencarikan barang-barang kebutuhan yang disebut Tati.
“Din. Kamu mau masuk surga sendirian?” sahut Budi.
“Maksud mas Budi?” tanya Madina bingung.
“Udah. Kamu itu pahalanya udah banyak. Kamu di sini aja jagain ibu! Ini kesempatanku cari pahala. Oke?” jawab Budi.
“Tapi mbak Rika keliatannya capek, mas”
Seketika Budi menoleh ke arah Erika. Dan memang benar, wajah Erika mulai tampak pucat.
“Oke” jawab Budi.
Budi tampak menelepon seseorang. Ya, dia menelepon kang Supri. Dia minta kang Supri untuk mencarikan apa yang diminta Tati. Sementara menunggu, Budi pergi ke bagian administrasi. Dia selesaikan urusan administrasi perawatan bu Lusi.
“Ka. Kamu belum makan lagi ya, dari siang?” tanya Budi, setelah selesai dari bagian administrasi.
“Udah, mas”
“Kok pucat gitu?”
“Udah kok, bener. Cuman capek aja”
“Ya udah. Aku anter pulang dulu, ya?”
“Tanggung, mas. Liat kondisi bu Lusi aja, dulu” tolak Erika.
Budi tersenyum. Dia mengerti makna tersembunyi dari jawaban itu.
“Aku nggak mau bikin mas marah lagi. Serem tahu” kata Erika, menjawab tatapan penuh tanya Budi. Budi tersenyum.
“Ya udah. Merem dulu, gih! Rehatin badan!” saran Budi.
Erika hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia lantas memejamkan matanya, duduk bersandar pada tembok di depan ruang unit gawat darurat puskesmas itu. Pikirannya melayang tak tentu arah.
Ya Alloh. Ternyata aku udah salah langkah sedari awal. Tolong aku ya Alloh! Orang yang aku anggap suci, ternyata dia busuk.
“Ka. Udah boleh nengok”
Teguran Budi sukses menariknya dari angan-angannya. Dia lantas membuka matanya. Sempat dia tidak tersambung dengan apa yang dia lihat. Dan senyum Budi membawanya kembali sadar sepenuhnya.
“Oke” jawabnya.
Diapun beranjak dari duduknya. Menyejajari Budi, yang hendak masuk ruang UGD.
“Assalamu’alaikum” sapa Budi
“Wa’alaikum salam” jawab bu Lusi.
“Bud”
Bu Lusi menangis setelah menyebut namanya. Budi tahu, bu Lusi sebenarnya hendak mencurahkan isi hatinya, tapi tidak jadi karena keberadaan Erika. Bu Lusi lantas bercerita seperti apa yang diceritakan Madina.
Sungguh memilukan keadaan bu Lusi. Dia benar-benar terpukul. Dia tidak percaya, orang yang dia ambil menantu, sampai harus membuang Budi, ternyata adalah seorang penjahat. Dan sekarang Adel harus berurusan dengan polisi lagi, karena keterkaitannya dengan Luki. Tanpa Budi ketahui, di belakangnya, Erika sedang berlinang air mata.
*Bu. Yang tabah ya, bu! Rika yakin, ibu pasti kuat. Adel juga, pasti akan baik-baik saja*.
***
__ADS_1